SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 126


__ADS_3

"Jadi bagaimana, nak Panji?" pertanyaan itu langsung mendarat dari seorang Dewi Savitri.


Panji memandang kearah gadis disampingnya. Jelas dan nyata gadis itu kaget atas pengumuman dari mamanya. Selama ini dia tidak gampang menyukai seorang gadis. Apalagi usia gadis itu setengah dari usianya.


Dulu, saat dia di jodohkan dengan Mia, sepupu jauhnya. Dia masih menerima, tapi Mia menolak dirinya karena masih ada hubungan saudara. Anehnya dia tidak marah dengan penolakan dari Mia. Alasan cukup di terima karena dia pun tak mau mencari pasangan yang masih ada hubungan keluarga. Tidak berkembang itu yang pernah Mia katakan padanya.


Tapi gadis ini, dia baru pertama kali merasakan benar-benar di buat penasaran. Setiap berada di dekat Vira, Panji selalu merasa diatas angin.


Savira Gayatri gadis cantik putri bungsu pemilik perusahaan PUTRA NUSA. Dia tidak akan pernah berada di lingkungan keluarga itu. Dia bisa berada di acara ini juga karena perasaannya pada Savira.


Walaupun sudah banyak beberapa kolega kerjanya mengenalkannya dengan anak mereka. Salah satunya kakaknya Vira, Medhira. Dulu dia dikenalkan oleh putri kedua ibu Dewi Savitri. Kata pak Burhan Dira itu sekarang janda karena suaminya meninggal dunia. Tapi nyatanya saat bertemu Savira dunianya teralihkan.


"Tante," ujar Panji mendekati calon mertuanya.


"Saya serahkan semuanya pada Savira. Semua keputusan ada pada dia. Saya tidak bisa memutuskan sepihak. Karena yang akan menjalani adalah saya dan Vira. Saya tidak mau menjalani hubungan dengan wanita yang tidak punya perasaan apapun pada saya."


Semua pandangan beralih ke Vira. Seakan meminta jawaban dari gadis itu. Dalam situasi ini Vira merasa di posisi terjepit. Langkah kakinya meninggalkan ruangan di mana acara berlangsung. Vira menghentikan langkahnya di ruang belakang. Di tempat kolam renang.


"Ra," Panji ternyata sudah mengikuti kemana langkah Vira.

__ADS_1


"Om, tolong tinggalkan aku sendiri." Tangan Vira menahan sesak yang sedari tadi menghimpitnya.


"Kalau emang ini penolakan dari kamu. Aku tidak bisa memaksa. Mungkin kamu punya seseorang yang dicintai. Atau mungkin kamu tidak punya perasaan apapun sama saya. Saya ikhlas. Saya ikhlas, Vira." nada berat dari suara Panji.


"Om, maaf. Kasih aku waktu untuk memahami semua ini. Rasanya begitu mendadak. Aku belum bisa kasih jawaban, om. Maafkan aku, Om." kepalanya menunduk tanpa menoleh kearah Lelaki itu.


"Oke. Itu tandanya kamu menolak. Deal kamu sudah menolak. Tidak apa-apa. Aku nggak masalah. Sekarang saya disini hanya tamu undangan. Bukan calon suami kamu. Saya ..." tangan mulus itu menahan lengan Panji.


"Tetap disini, Om. Anggap tidak ada apa-apa. Walaupun kita tidak berjodoh paling tidak om tetap antar aku pulang, ya. Bukankah seorang lelaki sejati akan bertanggung jawab pada temannya. Om kan tadi yang antar aku. Saya minta tolong yang terakhir kalinya untuk antar aku pulang." Panji menghirup nafas dalam-dalam.


Seolah masih ada beban di hatinya. Satu mobil dengan perempuan yang baru saja menolaknya. Sepintas dia membenarkan ucapan Vira. Bukankah yang menjemput Vira adalah dirinya. Jadi dia harus mengembalikan Vira dengan selamat untuk pulang ke rumah.


"Oke." Panji pun kembali seperti biasanya. Mengerlingkan matanya kepada gadis yang baru saja menolak dirinya.


"Bersikap biasa saja di depan mereka. Karena aku akan mundur perlahan-lahan dari hidupmu, Vira." batin Panji.


"Nah, bagaimana Vira?" mama Dewi langsung menodongkan meminta jawaban dari anak bungsunya.


"Tante, saya dan Vira sepakat untuk berteman saja dulu. Saya dan Vira memerlukan waktu untuk mengenal satu sama lain. Memang usia Vira sangat jauh dari usia saya. Saya memang cari istri, tapi saya juga tidak mau mengekang Vira untuk mengejar cita-citanya.

__ADS_1


Biarlah semua mengalir begitu saja. Untuk Tante Dewi saya sangat berterimakasih karena mempercayakan saya sebagai calon menantu anda. Tapi untuk saat ini saya dan Vira belum bisa memenuhi permintaan anda. Kalau kami jodoh kemana pun kami pergi pasti akan di pertemukan."


Vira memandang kearah Panji ada rasa tidak enak karena sudah menolak lelaki itu. Dia juga salut pada Panji yang berjiwa besar meskipun sudah di tolak. Untuk pertama kalinya dia merasa di sentil. Padahal banyak suara yang mendukung dia dengan Panji. Vira masih mengandalkan egonya yang tinggi.


"Ehmm... ini acaranya masih bisa di lanjutkan tidak. Opa lapar, nih. Sedari tadi opa menunggu momen ini. Kalian malah sibuk dengan kegiatan sendiri. Kau juga Dewi, om merasa tidak mengundang temanmu. Tapi kenapa kamu mau bawa mereka? dan ada benarnya yang di bilang Panji, jalani saja secara alami. kalau mereka jodoh pasti akan bersatu juga." kata opa Han mencoba mencairkan suasana.


Acara dinner di kediaman opa Han berlangsung dengan baik. Rumah yang beraksen modern membuat Panji berdecak kagum melihatnya. Panji meskipun memegang perusahaan sendiri. Tapi dia masih tinggal sama orangtuanya. Masih menumpang pada keluarga yang mengadopsi dirinya sejak kecil.


Panji memang bukan anak kandung orangtuanya yang sekarang. Tapi masih ada hubungan keluarga dengan pihak pakdenya Mia dan Randi. Dia berasal dari tanah Jawa, tepatnya daerah Jogjakarta. Panji besar di desa kecil yang bernama Wonosari. Jika kesana melintas gunung kidul.


Sejak kecil Panji hanya punya eyang. Ibu nya sudah meninggal sejak dia bayi. Sementara ayahnya meninggal saat Panji masih dalam kandungan. Saat Eyangnya meninggal dunia usia Panji masih 9 tahun. Tak berapa lama Panji pun di boyong oleh keluarga ayahnya.


Dari sana hidup Panji memang terjamin. Di sekolahkan, di beri kasih sayang seperti anak sendiri. Hingga dia pun membuka usaha kecil sesuai dengan ilmu kuliahnya agrobisnis. Panji mendalami menjadi perternak lebah. Menghasilkan madu asli yang sukses tembus di pasaran.


Setelah acara makan malam. Panji mengajak Vira untuk pulang. Seperti janjinya tadi kalau dia akan tetap mengantarkan Vira pulang. Tapi mama Dewi meminta Vira menginap di rumah opa Han. Dengan berat hati dia pun pulang sendiri.


Panji berniat pamit pada Vira yang sedang asyik merenung di kolam renang. Entah apa yang menjadi pikiran gadis itu.


"Ra, saya pulang, ya. Kata Tante Dewi kamu menginap di sini. Jadi maaf saya tidak bisa mengantarkan kamu pulang." Masih tetap membisu. Panji pun meninggalkan Vira sendirian di dekat kolam renang.

__ADS_1


Setelah kepergian Panji, Dewi pun mendekati anaknya. Dia tahu kalau Vira masih kaget dengan pengumuman ini.


Maafkan mama, nak. Mama terpaksa melakukan ini. Mama mendapat kabar kalau Pandawa membatalkan pernikahannya dengan Kayla. Mama takut dia mendekati kamu, makanya mama harus mencarikan pasangan buat kamu.


__ADS_2