
"Selamat datang tuan Arjuna dan ..." Pak Suprapto melirik sekilas wanita yang berdiri di samping Arjuna.
"Istri saya, namanya Medhira." Juna menyambung ucapan pak Suprapto.
"Oh, iya. Nyonya Medhira. Silahkan masuk Juna dan mbak medhira." Juna dan Dira memasuki sebuah saung kecil di kediaman pak Prapto.
Dira melipatkan kakinya di lantai saung pak Suprapto. Jujur dia melihat ekpresi wajah klien suaminya membuat Dira sedikit risih. Sepanjang perjalanan Juna memberi gambaran kalau pak Suprapto punya anak perempuan. Dimana dulu anak kliennya pernah mencoba mendekatinya. Juna juga meyakinkan anak pak Suprapto tidak akan pernah mau mengganggunya jika tahu dia sudah beristri.
"Kalau dia pantang menyerah bagaimana?" Bukan tanpa alasan pertanyaan Dira. Sepanjang dia dekat sama Juna, beberapa wanita yang masih mencoba mendekati suaminya. Dari Maria, terus ada Naura, dan sekarang ada gadis anaknya pak Suprapto.
"Terus itu ngaruh? enggak kan? kamu kan tahu kalau aku cintanya sama satu wanita. Jadi please, buang pikiran buruk kamu tentang aku."
Mereka tiba di saung milik pak Suprapto di daerah kawasan ECO park. Sebuah daerah yang terkenal karena ada pesantren milik AA gym. Motor yang di bawakan Juna pun bertengger di depan rumah kediaman pak Suprapto. Saung yang berdiri tegak tak jauh dari rumah kliennya. Bak seperti pembalap, Dira dan Juna memakai style GP.
"Mas, emang tidak apa ketemu klien kayak gini?"
Setahu Dira bertemu klien harus berpakaian menarik. Tapi suaminya beda, mereka hanya memakai atribut pemotor seperti jaket kulit.
Kedatangannya sudah di sambut sama istri pak Suprapto. Mereka pun di tuntun ke saung yang hanya berjalan 5 menit.
"Jadi ini istrinya Arjuna. Wah, istrimu cantik dan manis. Beruntung kamu punya suami seperti Arjuna. Dia pintar, sopan dan pokoknya paket lengkap. Ya, tadinya kami pengen dia jadi mantu. Tapi, ya bagaimanapun lagi, kan yang menjalani nak Juna." cerocos bu Suprapto.
Pak Suprapto menyenggolnya istrinya. Dia tidak enak dengan ucapan istrinya pada tamunya. Meskipun yang di ucapkan istrinya semuanya benar. Johan pernah bilang anaknya baru putus dari anaknya Shahab. Johan pun menawarkan perjodohan antara Arjuna dan Tania, anak Suprapto.
"Eh, silahkan duduk, nak Juna."
Saung kecil dengan hasil yang cantik banget suasananya.Pohon kelapa dengan deretan pohon hiasan lain serta kembang atau pohon bunga menghiasi pemandangan yang ada di sekitar saung tempat makan.
Beberapa tempat nongkrong dan ngopi disiapkan oleh pemilik rumah makan, sehingga gak cuma makan dengan suasana saung atau pondokan, tapi menikmati alam terbuka sambil duduk-duduk ngopi pun asyik banget di tempat ini.
Mengunjungi tempat ini di malam hari pun cantik juga, dengan lampu temaram warna kuning khas rumah makan, lalu ada kolam di belakang, sebelum sampai ke mushola.
"Cantik, Mas tempatnya." ucap Dira takjub.
__ADS_1
"Iya, tapi kamu lebih cantik, sayang." Juna mengelus tangan istrinya. Udara sore semakin membuat keduanya saling menggandeng erat.
"Mas, aku jadi ingat sama rumah pohon yang dulu di daerah puncak. Apa kabarnya, ya? ingat kan, Mas waktu Ayu ulang tahun diadakan pesta outdoor."
"Apakah kamu mau aku buatin rumah pohon juga. Kalau yang di puncak udah di robohkan. Soalnya sudah rusak dan lapuk. Kalau kamu mau nanti aku akan buatin."
"Nggak usah, Mas. Toh sudah nggak lucu lagi naik rumah pohon. Yang ada rumahnya yang roboh. Di rumah saja sudah cukup. Hanya ada kamu dan aku."
"Ssst... kita ini sedang di rumah klien. Jangan sampai yang lihat malah kebaperan." Dira mencubit pinggang suaminya. Juna terkikik melihat ekspresi kesal Istrinya.
"Tania, ini tamunya sudah datang." panggil Bu Prapto.
Seorang gadis muda muncul menggunakan dress panjang selutut. Dira mengerjapkan matanya. Sosok wajah yang tidak asing dimatanya. Bukan hanya Dira, sosok cantik di depannya pun merasa tidak asing pada tamunya.
"Medhina"
"Tania,"
"Ya Allah, ini beneran kamu, Tan." Dira takjub perubahan pada gadis di depannya.
"Jadi kalian sudah saling kenal? ya ampun, dunia ini sempit, ya." kata Juna.
"Iya, Bu. saya dan Tania satu angkatan, satu kelas." jelas Dira tenang.
Salah satu asisten rumah tangga keluar membawa nampan berisi minuman jahe. Tania membantu sang asisten untuk menghidangkan minuman diatas meja. Setelah sang asisten masuk. Tampak beberapa orang pun membawa beberapa masakan khas Sunda.
"Aduh, Bu, pak. Nggak usah repot-repot." ujar Juna.
"Ah, Nggak apa-apa, nak Juna. Perjalanan kalian pasti jauh kan? ini ada masakan buatan istri saya. Di jamin maknyos. Mbak Dira kan dari Jakarta, pasti jarang ketemu masakan kearifan lokal."
"Iya, pak. Kalau sudah di bandung anda akan di hidangkan berbagai kearifan lokal. Dari budaya, alam segar, dan pasti makanannya."
Obrolan panjang berkisar keseharian mereka. Juna pun sedang mencari celah untuk membicarakan masalah kerjasama antara pak Suprapto dengan Tio. Ini juga dia lakukan agar tidak ada rasa tersisih dalam diri adik iparnya.
__ADS_1
"Pertama saya sangat berterimakasih atas undangan yang bapak berikan pada kami. Selama ini saya senang mengenal pak Prapto sejak dulu. Sejak papa masih ada. Bapak sudah seperti ayaj saya sendiri. Kedua saya juga ingin mengenalkan istri saya yang cantik ini. Sebagai tanda mempererat tali silaturahmi kita. Sekaligus saya membicarakan masalah kerjasama yang sudah adik saya jalin selama ini."
"Saya juga senang bisa mengenal anda dan pak Johan. Saya suka kinerja anda dan pak Johan selama bekerja sama. Kalian berdua tidak pernah mengecewakan relasi.
Hanya soal kerjasama dengan adik ipar anda. Saya masih sangsi. Dia belum punya pengalaman apa-apa. lagipula dia hanya menantu kan di keluarga anda. Untuk apa terlalu baik sama orang luar."
"Maaf, pak. Saya kira tidak perlu menjabarkan status adik saya. Disini saya datang dengan maksud baik. Saya datang kesini berdasarkan undangan anda. Saya pikir anda orangnya bijaksana. Ternyata saya salah menilai anda." kata Juna.
Tania mengajak Dira bicara berdua supaya Juna dan papanya bisa leluasa. Dira meminta izin pada suaminya. Juna mengizinkan Dira pergi bersama Tania.
Tania dan Dira berjalan di halaman rumah pak Prapto. Langkah mereka terhenti di gazebo teras depan. Rumah pak Prapto yang beraksen Jawa. Dira memandang patung Petruk yang berjejer di samping gazebo.
"Jadi kamu yang menikah dengan Arjuna?" tanya Tania.
"Iya," jawab Dira datar.
"Keren, ya. Mantan pelakor dapat cowok seperti Juna." Tania mulai mengeluarkan taringnya.
Dira yang tadi bersikap ramah juga mulai jenuh berpura-pura. Dia memang mengenal Tania, tapi bukan sebagai teman yang baik. Justru Tania lah yang menyebarkan rumor itu seantero kampus.
"Kenapa? kamu mau cerita sama suamiku. Silahkan! saya tidak takut."
"Kamu tidak perlu takut, sayang." Dira dan Tania menoleh kearah belakang mereka.
Tampak Juna sudah berdiri tak jauh dari posisi mereka. Bukan hanya Juna. Sepasang suami-istri itu pun berdiri tak jauh dari posisi Juna. Mereka bingung apa yang di bahas dua wanita muda itu. Bu Prapto melihat ekspresi Juna yang tidak suka pada anaknya.
"Mas,"
"Kamu tenang saja, sayang. Aku sudah berpikir panjang sejak tadi. Kalian tahu, setelah melihat cara berpikir anda pada adik ipar saya, setelah saya melihat sikap putri anda pada istri saya. Saya mulai berpikir ulang soal kerjasama kita. Soal peminjaman modal yang papa berikan kepada anda, pak Suprapto.
Mungkin alasan saya terdengar cengeng, tapi satu yang saya tekankan. Saya tidak bisa bekerja sama dengan orang yang tidak bisa menghargai orang lain."
"Nak, maafkan anak saya. Tapi saya mohon jangan cabut kerjasama ini. Saya akan menerima kerjasama adik ipar anda, saya akan meneruskan proyek bersama Tio." Mohon pak Suprapto.
__ADS_1
"Maaf, pak. Saya sudah tidak respect lagi dengan anda. Sayang, kita pulang, yuk." Juna mengajak Dira meninggalkan kediaman pak Suprapto.