
"Kakakmu, Yu? emang siapa kakakmu?" jawab Mia masih mencoba santai.
"Video yang kamu kirim di grup tadi malam itu adalah kakakku. Paham!" suara Ayu masih terdengar emosi.
"Ooo, jadi lelaki itu kakak Lo. Berarti yang di jodohkan dengan Delia itu kakak Lo, ya. Dan ternyata yang menikung Delia itu adalah Dira. Haissh, dunia ini sempit, ya."
"Kamu ngomong apa sih? tidak ada tikungan seperti yang kamu bilang. Saya minta kamu hapus video itu atau akan ditindak sebagai pelanggaran UU ITE sekaligus pencemaran nama baik. Pasal nya berlapis."
Selama ini Mia tahu kalau kakak Ayu di jodohkan dengan Delia. Tapi Mia tidak pernah tahu kalau kakak Ayu adalah Arjuna. Dia pernah mendengar konflik Delia dan tunangannya versi Eka. Bahkan Eka pun di penjara karena terlibat sebuah penculikan yang di dalangi oleh papanya Delia.
Di mata Mia, yang salah adalah perempuan yang masuk dalam hubungan Delia. Walaupun pada akhirnya Delia sudah punya kehidupan sendiri bersama anak dan suaminya.
"Jadi Dira orang ketiga dalam hubungan Delia dan tunangannya. Huh! aku dengar Dira sempat gagal menikah. Dira, karma itu nyata. Sekarang suami kamu yang katanya meninggal dunia ternyata punya keluarga baru. Sakit kan? makanya jangan suka masuk ke kehidupan orang." batin Mia.
"Lagian aku cuma kirim di grup WhatsApp. Bukan grup yang lain. Jadi kenapa kamu panik? toh di video itu fakta bukan editan. Kakakmu atau suaminya Dira punya wanita lain. Dan anak kecil yang bersamanya memanggil dengan sebutan ayah. Apa itu belum cukup bukti, hah!"
"Pokoknya kamu hapus video itu jangan sampai di salahgunakan. Kalau ternyata meluas kamu orang pertama yang saya cari!"
"Silahkan, Bu Ayu. Saya nggak takut. Lagian biar Dira tahu suaminya seperti apa. Biar dia terbuka pikirannya kalau suaminya punya istri lagi."
"Dengar, Ya, Namia Alatas. Wanita di video itu adalah saudaraku, bukan istri lain dari kak Juna. Makanya kalau melakukan sesuatu pikir dulu!"
Ayu menutup teleponnya. Mia pun meninggalkan handphonenya dan keluar dari kamar. Tampak seorang lelaki duduk di depan televisi sambil menyeruput secangkir kopi hangat.
"Kak Panji kapan datang? Kak Randy mana?" tanya Mia pada kakak sepupunya.
"Aku sampai disini bareng kakakmu, dia menemaniku ke acara relasi bisnis. Lagian kakakmu juga kenal sama keluarga relasi bisnis.
Tadi Randy pergi keluar katanya ada car free day di Monas. Dia ajak kakak tadi, cuma karena mikir kamu yang sendiri di rumah. Ya milih tinggal sampai kamu bangun."
"Oh, begitu. kak Panji sudah sarapan?" tanya Mia.
"Sudah, tadi bareng kakakmu" jawab Panji sambil main handphone.
"Ih, kalian curang. Sarapan nggak bangunkan aku."
"Salah sendiri kenapa bangunnya siang. Anak cewek malah kesiangan."
"Belum siang kali, kak. Baru jam tujuh pagi."
__ADS_1
"Anak perempuan itu bangunnya sebelum subuh. Bukan sesudah subuh."
Mia meninggalkan Panji yang masih asyik dengan gawainya. Terdengar suara kalau lelaki itu menerima telepon. Mia dan Panji bukan sepupu dekat. Mereka hanya sepupu jauh. Hanya saja Panji dulu tinggal dalam keluarga pakdenya, di sekolahkan hingga menjadi pengusaha sukses seperti sekarang.
Mia duduk menikmati segelas susu coklat hangat. Tangan membaca pesan-pesan dari teman-teman grup. Senyumnya mengembang ketika beberapa temannya heboh menggunjing Dira.
Salah seorang dari alumni nya tahu perjalanan Dira dan Juna. Dimana Dira pernah dekat dengan pria bersuami juga masuk dalam hubungan antara Delia dan Juna. Bahkan si pemberi informasi mengatakan bahwa papa Dira suka main perempuan.
"Namanya juga karma." batin Mia.
Sementara di kediaman Dewi Savitri, Dira sudah terbangun dari subuh. Udara dingin menyapa kulitnya. Membuat Dira malas untuk menyentuh air. Dira memakai sweater tebal.
Hari ini tidak terlihat hujan. Tapi hawa dingin sangat menyergapnya. Terdengar suara alunan angin yang berhembus.
Kakinya melangkah menuruni tangga. Dari atas tampak suasana rumah masih sangat sepi. Tentu saja sepi, karena saat ini masih jam lima pagi. Suara cicitan burung terdengar di arah dapur.
"Kak Dira sudah bangun?" sapa Naura yang baru saja keluar dari kamar.
"Eh, Naura kamu sudah bangun?" Dira balik bertanya.
"Sudah, kak. Baru selesai subuhan. Kak Dira lagi ngapain?"
"Iya, terimakasih, kak." Naura mengambil satu sachet Milo lalu menuangkan dalam gelas kecil.
Dira melihat Feri keluar menuntun kursi roda. Sudah pasti yang akan keluar adalah Arjuna. Dira tahu apa yang harus dia lakukan, membantu kakaknya membawa Arjuna ke halaman depan. Tadinya Dira mau ajak Juna sarapan bersama. Tapi melihat belum ada aktivitas di meja makan, Dira membawa Juna melihat pergantian langit dari gelap menjadi terang. Langit yang tadinya hitam tanpa awan, perlahan menampakkan setitik cahayanya.
"Kamu tahu, matahari tetap membantu bulan menyinari cahaya penerangan tata Surya. Bulan bisa bersinar karena memantulkan cahaya matahari. Ketika pagi dan siang hari terlihat terang karena Matahari. Sedangkan ketika malam, Bulan pun juga menyinari Bumi.
Ketika aku berada di kegelapan, kamu datang menjadi penerang dalam hidupku. Bukan gombal sih, tapi kita ..." Juna menoleh ke arah Dira.
Tampak Dira tertidur kembali menyandarkan kepalanya di gagang kursi rodanya. Lama Juna memandang kearah wanita yang sudah dia halalkan satu tahun yang lalu. Sekarang dia harus kembali menikahi gadis kecilnya. Wanita yang selalu berlari mencari dirinya meminta perlindungan. Wanita yang saat itu tak pernah terbayangkan olehnya akan jadi istrinya.
Juna mencoba memaksa bangkit. Tak ingin terlalu bermanja-manja pada kakinya yang sakit. Pergeseran kursi roda membuat Dira terbangun. Melihat Juna memaksakan diri untuk keluar dari kursi roda.
"Mas, kenapa begitu? nanti kamu jatuh. Maaf aku ketiduran, kenapa nggak bangunkan aku tadi. Yuk, mas. kita kedalam saja," Dira menuntun kursi roda Juna untuk kembali ke dalam rumah.
"Sayang,"
"Iya, Mas."
__ADS_1
"Aku pengen kita makan di sini. Pengen di suap sama kamu."
"Dingin, mas. Di dalam aja, ya. Lagian kita lagi di pingit. Nggak boleh sering berduaan."
"Duh, kita nikahnya kapan sih? coba kalau kita kemarin langsung nikah. Pasti aku nggak akan kesepian di kamar."
Dira tergelak melihat ucapan Juna. Dia hanya mengelus pucuk kepala lelaki itu. Tangan Dira mendorong kursi roda itu kedalam rumah. Sungguh udara pagi ini membuatnya ingin kembali ke kamar.
"Juna, mama kamu sekarang sedang dalam perjalanan kesini." kata mama Dewi.
"Alhamdulillah." Juna sambil mengulum senyum kearah Dira.
"Kenapa Alhamdulillah? kan belum makan" kata Dira sambil memindahkan nasi ke dalam piring.
"Ih, kak Dira nggak peka. Alhamdulillah dia udah kebelet nikah lagi."
"Yang kayak gitu kamu cepat nyambung, Vira. Atau jangan-jangan kamu yang kebelet nikah." Feri ikut nimbrung.
"Aku ini masih muda,kak. Masih panjang perjalanan. Belum mikir kesana."
"Eh, Vira kamu dapat salam dari cowok ganteng." sahut Dira.
"Siapa? Song Joong Ki atau Robert Pattinson."
"Dari kang Somad yang jualan bakso keliling."
"Kak Diraaaaa!" Vira hendak mencubit Dira. Tapi sang kakak berlari dan bersembunyi di belakang mamanya.
"Ma, lihat kak Dira. Masa aku di sandingkan sama kak Somad. Seorang Savira Gayatri dapat kayak kang Somad. Iiiih,"
"Kamu ngebayangin kang Somad, ya, Ra?" goda Juna.
"Buuu ... ada cowok datang mau ketemu non Vira" kata Bi Inah.
"Cowok!" semua saling bertukar pandang.
"Assalamualaikum, semuanya."
Hayooo! siapa yang jemput Vira
__ADS_1