
Suara rintik hujan semakin mengecil, sejak pagi tadi hujan memang tidak berhenti. Banyak berita mengabarkan tentang kondisi Jakarta yang tak luput dari masalah genangan air.
Akibat masalah yang dibuat sendiri oleh aktivitas pembangunan manusia, meningkatnya air laut, dan isu perubahan iklim merupakan kombinasi ancaman yang harus segera diselesaikan oleh Jakarta, jika tak ingin Ibu Kota Indonesia itu tenggelam dan berakhir menjadi kota bawah air.
Sudah identik dengan banjir sejak dulu kala. Sejak era penjajahan, banjir sudah menjadi permasalahan di ibu kota. Saat jumlah penduduk masih sedikit dan sampah belum menggunung saja, Jakarta sudah berjibaku dengan bencana banjir.
Dira duduk di sudut kamar menemani sang adik yang masih asyik dengan tidurnya. Netranya beralih kearah gadis muda yang kini genap berusia 21 tahun. Sekarang Vira hanya rawat di rumah. Itu permintaan mama Dewi agar lebih fokus menjaga putri bungsunya.
Dira memperhatikan dokter memeriksa adiknya. Dokter tampan yang katanya sudah dua kali menikah dengan mantan istrinya. Itu yang Dira dengar dari suster yang menangani Vira waktu di rumah sakit.
Dokter Galih namanya, yang kata orang mirip Deva Mahendra.
Siapa itu Deva Mahendra? Dira kurang kenal. Karena sejak kerja dan akhirnya menikah, dia tidak pernah tahu dunia keartisan atau acara viral di televisi.
"Saya rasa dia tidak perlu memakai infus lagi. Karena kondisinya sudah membaik. Hanya saja dia belum bisa sadar karena efek dari traumanya saja. saya mau pesankan sama ibu Dewi jangan datang psikiater seperti yang anda bilang,"
kata dokter
"Tapi, dokter saya takut dia bangun efek traumanya semakin parah. Saya takut dia mengingat pada lelaki itu. Saya yakin lelaki itu juga terlibat dalam penculikan anak saya. Karena dia terobsesi dengan anak saya,"
"Ibu tenang saja, yang penting jangan buat dia ingat soal kejadian buruk. Saya yakin dengan di dekatkan pada Allah, hatinya akan terasa lapang, percaya akan kekuatan doa," kata dokter yang bernama Galih.
"Tapi saya tetap akan melakukan terapi penghapusan memori apapun caranya," batin Dewi.
"Mama mau melakukan apalagi?" Dira mendengar obrolan mamanya dan dokter.
"Mama mau ..."
"Dira mohon jangan melakukan apapun lagi pada Vira, Ma. Kalau memang jodoh Vira adalah Pandawa seberapa jauh mama memisahkan mereka pasti akan bertemu lagi. Kalau memang Vira sama lelaki lain tuhan akan membuka jalan. Selama ini Dira mencoba diam melihat sikap mama yang semakin aneh,"
"Mama cuma mau melindungi Vira, kamu lihat bagaimana mereka membahayakan adikmu. Kamu tidak perlu memusingkan apa yang bukan urusanmu. Urus saja kehamilanmu, bukannya kamu tidak boleh banyak pikiran. Biar jadi urus mama," Dewi masih ngotot dengan keinginannya untuk mencuci otak Vira.
"Ini bukan mama Dira, mamaku tidak seperti ini. Mana mama yang dulu demokratis sama anak-anaknya. Mana mama yang dulu Dira kenal. Kenapa mama seperti ini?" Dira meninggalkan kamar mama Dewi yang di sulap menjadi tempat Vira beristirahat.
Masih dalam suasana masa musibah. Semua yang ada di rumah itu ikut sedih dengan apa yang menimpa Savira. Karena masalah itu Feri pun meminta Tina sementara di rumah pakdenya. Ini demi kondisi kandungan Tina yang sudah memasuki empat bulan.
Dira hendak keluar dari kamar Vira, langkahnya terhenti melihat pergerakan tangan adiknya. Lagi-lagi dia mengecek penglihatannya.
"Ma, mama, lihat itu, Ma," ucap Dira menggoyangkan bahu mamanya. Dewi yang tadinya melamun tersentak karena guncangan bahu Dira.
__ADS_1
"Mas Juna, Kak Feri, yang lainnya. Vira sudah sudah sadar! Vira sudah sadar!" Dira berteriak membuat seisi rumah keluar dari tempatnya. Semua yang ada di rumah berlari menuju ke kamar mama Dewi. Dimana kata Dira kalau Vira sudah sadar dari tidurnya yang sudah masuk hari ketiga.
Pelan-pelan pemilik mata itu terbuka. Melihat sinar terang menyilaukan penglihatannya.
"Mama," lirih Vira.
"Alhamdulillah Vira sudah sadar," ujar Juna melihat arah Vira yang sudah jelas membuka matanya.
Mama Dewi langsung memeluk putri bungsunya. Terdengar suara tangisan dari balik punggung Vira.
"Mama senang kamu melewati masa kritis. Mama senang kamu sudah kembali, nak," ucap mama Dewi masih memeluk Vira.
"Vira," Dira pun bergantian ingin memeluk adiknya.
"Tolong telepon dokter Galih, Feri,"
Feri langsung menelepon dokter yang baru beberapa jam meninggalkan rumah mereka. Setelah menelepon semua kembali fokus pada Vira. Semuanya senang Vira akhirnya bisa bangun dari tidurnya.
"Ma," Vira memandang ke sekelilingnya.
"Assalamualaikum," suara bariton muncul di belakang keluarga gadis itu.
Panji langsung berhambur memeluk Vira. Pelukan itu terasa erat membuat gadis itu sedikit sesak nafas. Suara tangis kembali dia dengar untuk kesekian kalinya.
"Kenapa kalian semua menangis?" ucap Vira melihat semua
"Tangisan kalian seakan aku baru bangun dari mati suri. Aku ini masih hidup, dan ini kak Panji, kakak makin kalau nangis,"
"Viraku sudah kembali!" Panji mencoba memeluk Vira. Sayang gadis itu memalingkan wajahnya. Pelan-pelan dia melepaskan diri dari Panji.
Wajah Vira masih terlihat pucat memaksakan senyum di depan Panji. Menghormati lelaki itu sebagai tamu.
"Terimakasih kakak sudah mau menjenguk aku," jawab Vira.
"Tentu saja, aku pasti datang, bukannya kita, ..."
"Kakak, aku mau istirahat. Badanku masih belum fit. Bisakah kakak tinggalkan aku sendiri dulu,"
"Kamu sepertinya masih belum bisa menerima aku, Vira. Apa karena seorang Pandawa? kamu sendiri lihat dia pun tak datang sekalipun menengokmu sejak di rumah sakit. Apa lelaki seperti itu yang kamu harapkan?
__ADS_1
Aku tidak masalah kalau harus berjuang dari awal lagi. Langkahku sudah jauh Vira, dan aku tidak akan pernah mundur mendapatkan kamu, Savira Gayatri," batin Panji.
...****...
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya seorang lelaki paruh baya. Di lansir usianya sekitar 65 tahun. Lelaki itu membungkuk lalu merosotkan tubuhnya di tiang semen rumah sakit.
"Kami sudah berusaha, pak. Anak bapak tidak bisa kami selamatkan," kata dokter di sambut dengan tangisan kuat dari lelaki itu.
"Fadiiil!" pekik seorang gadis muda yang berdiri di dekat ayahnya Fadil.
"Om, aku sudah bilang sama Fadil, aku sudah bilang sama dia jangan pergi kesana. Tapi ternyata dia malah diajak teman-temannya. Sekarang dia pergi, Om!" gadis muda itu malah semakin histeris. Di tenangkan oleh beberapa perawat.
"Pak Deka!" sapa Arjuna.
"Kamu Arjuna anaknya Johan bukan?" Juna menganggukkan kepalanya.
"Iya pak, saya anaknya Johan. Pak Deka apa kabar? terakhir saya bertemu bapak tiga tahun yang lalu. Alhamdulillah bapak sehat-sehat saja. Papa saya sempat mencari bapak, dan akhirnya saya bisa bertemu anda sekarang,"
"Maksudnya?" Deka tidak paham.
"Almarhum papa saya pernah bilang kalau dia punya hutang sama bapak. Saya sendiri tidak tahu hutang apa yang dimaksud.
cuma papa saya pernah bilang soal Sekar," kata Juna.
"Sekar? maksudnya mantan pacar saya?"
"Saya juga tidak tahu, pak. Sekiranya kalau bapak mau tahu nanti biar saya cari di rumah Lembang, atau bapak mau datang langsung ke rumah saya,"
"Nanti kalau ada waktu, saya akan kesana, saya saat ini sedang berduka. Anak saya meninggal dunia saat ikut demo mahasiswa,"
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, saya turut berdukacita, Pak kalau begitu saya pamit soalnya kami sedang antri periksa kehamilan istri saya,"
"Istri? jadi kamu beneran besanan sama Shahab. Sayang sekali kalau papa kamu benar-benar betah bekerjasama dengan orang seperti Abdullah Shahab,"
"Tidak, Pak. Saya menikah dengan teman sejak kecil. Alhamdulillah kami sudah di bukakan tentang om Shahab,"
Setelah Juna pamit, Deka pun di sibukkan mengurus pemakaman putranya. Putra dari pernikahan pertamanya.
"Setelah Fadil meninggal dunia, aku harus menemukan Sekar dan anaknya. Dia lah yang akan menggantikan aku duduk sebagai direktur perusahaan,"
__ADS_1