
"Akhirnya kita pulang." Mama Dewi menuntun kursi roda Dira menuju pelataran rumah sakit.
Dokter meminta Dira untuk istirahat beberapa hari lagi di rumah sakit. Tapi Dira meminta pulang ke rumah. Dimatanya istirahat di rumah lebih nyaman di rumah sakit. Mama Dewi dan yang lainnya pun mengiyakan permintaan Dira. Vira pun membantu mamanya mempersiapkan keperluan kakaknya.
Dira meminta adiknya mengantarkan ke teras rumah sakit. Setelah hampir dua minggu tertidur indah, Dira ingin menghirup udara segar di sana. Di temani Vira, wanita itu tak berbicara sepatah kata pun. Netranya memandang langit yang sudah mulai gelap.
"Kau tahu Dira, ketika memejamkan mata anggap aku ada di dekatmu. Ketika aku di Lembang dan merindukanmu, melakukan ini sudah membuat rasa rinduku lepas. Meskipun tidak secara kasat mata, tapi yakinlah aku selalu ada di hatimu."
"Maafkan aku, mas. Kalau aku belum bisa ikut ke Lembang. Aku tahu kalau sejatinya istri harus ikut suami. Tapi kamu tahu, mas keadaannya lagi seperti ini."
"Iya, sayang aku ngerti."
Dira masih dalam lamunannya. Kenangannya bersama Arjuna selalu mengiringi langkahnya. Dira ingat sebelum kejadian, Juna mewanti-wanti dirinya agar meminta tolong pada siapapun di rumah. Juna selalu menjadi tangannya saat Dira melakukan sesuatu. Rela meninggalkan pabrik demi mendampingi Dira yang sedang mabuk. Rela menembus badai ketika malam-malam Dira ngidam sesuatu.
Sejak dulu Juna adalah pahlawan bagi Dira. Meskipun saat itu hati Juna masih terarah pada Delia. Sewaktu Juna mengajaknya menikah, Dira pikir lelaki itu hanya main-main saja. Apalagi saat itu Juna masih di gantung hubungan dengan Delia.
"Kak, mama sudah siap. Kita pulang ya?" bisik Vira.
Dira hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih sayu. Vira maklum karena kakaknya masih berduka. Dengan pelan mereka menuntun Dira masuk ke mobil. Lagi-lagi hanya isakan tangis kecil yang terdengar sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan area rumah sakit. Vira memandang kearah sang kakak yang masih membisu. Tepat sebelum ashar mobil sudah berhenti di depan pagar kediaman Dewi Savitri.
Dira masih dalam kebisuan. Netranya beralih ke rumah sebelah. Rumah yang memiliki banyak kenangan dari masa kecil hingga dewasa. Rumah yang membangun perasaan cinta seorang Dira pada Arjuna. Feri menuntun Dira turun dari mobil, di depan pagar tampak Tante Santi tetangga barunya ikut menyambut kepulangannya. Namun bukan hanya Santi yang menyambut kedatangannya.
Keluarga besar mertuanya pun sudah berada disana. Mama Salma memeluknya dengan erat. Matanya basah. Di ujung dua matanya meleleh.
"Ma..!"
Dira menumpahkan air matanya di balik tubuh mama Salma. Tangis kesedihan tak tertahan lagi. Tangis rasa kehilangan suami dan juga anak sulungnya.
"Maafkan mama yang baru bisa menengok kamu sekarang, nak. Lima hari yang lalu papa juga sudah berpulang ke Rahmatullah. Dia pasti sudah bertemu Juna disana. Tidak, Juna belum di surga, dia pasti masih ada di bumi."
"Maafkan aku, ma. Tidak bisa menjaga cucu mama. Maafkan aku, ma. Karena aku kak Juna jadi celaka. Aku ... aku ... bukan istri yang berguna."
Semua masuk ke dalam rumah. Dira memutar kepalanya melihat di sekeliling rumah. Perasaannya masih berkalut duka. Mama Dewi memasukkan barang Dira ke dalam kamarnya. Malam ini Dira akan tidur di kamar mamanya. Di samping tidak mungkin membawa Dira ke kamar lotengnya, karena kondisi Dira yang baru selesai operasi.
"Kamu tidur dikamar mama dulu, ya, nak. Biar mama yang temani kamu disini." kata mama Dewi.
"Jeng Salma nginap disini, ya." tawar mama Dewi.
__ADS_1
Salma menggangguk. Dia juga ingin merenungkan diri setelah suaminya meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Jujur kepergian Johan terasa mendadak di mata Salma. Karena sebelumnya suaminya sudah di nyatakan membaik. Tapi Tio malah mengabarkan kalau Johan mengalami drop hingga di nyatakan meninggal dunia.
Hidup ini penuh misteri Hidup itu tidak selalu terjadi sesuai dengan harapan kita. Bahkan tidak jarang yang terjadi justru bertolak belakang dengan apa yang menjadi harapan kita. Betapa hasrat hati ini sangat mendambakan dapat mengubah keadaan secepat mungkin,tapi ternyata yang terjadi jauh dari harapan .
Setiap yang hidup dimuka bumi ini sudah ditetapkan oleh Allah jodoh, maut, rezekinya. Takdir ketetapan Allah ini sudah tertulis beribu-ribu tahun lalu di lauhul mahfudz. Kita tidak ada yang tahu dengan siapa kita akan menikah, kapan dan bagaimana kita meninggal. Karena sejatinya itu semua hanyalah hak prerogatif Allah. Itulah mengapa hidup disebut dengan misteri.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau dalam sekejap ada dua orang yang di sayang pergi begitu saja. Ya aku sudah berusaha ikhlas atas kepergian Juna dan mas Johan. Hanya saja yang masih tidak percaya suamiku yang tadinya sudah diminta dokter pulang malah benar-benar pulang pada sang pencipta. Mas Johan selalu menanyakan soal Juna. Bahkan sampai akhir hayatnya dia tidak tahu dengan apa yang menimpa Arjuna." tangis Salma, mengenang saat suaminya masih hidup.
Dewi pun mencoba menenangkan besannya. Dua wanita satu generasi itu saling berpelukan. Saling menguatkan satu sama lain. Dewi pernah di posisi Salma, dimana papanya tiba-tiba meninggal dunia saat dirinya kuliah di Belanda. Padahal dia baru saja menginjak semester kedua. Dewi yang saat itu diminta pulang oleh om Burhan dengan berat hati meninggalkan kota kincir angin tersebut.
Belum lagi setelah papanya di makamkan, Dewi diminta berhenti kuliah di Belanda. Pada akhirnya Dewi melanjutkan kuliah di Jakarta, dan di daulat untuk menjadi pengganti ayahnya yang sudah tiada.
Pertemuan Dewi dengan Andre karena perjodohan pilihan om Burhan. Andre yang tampan dan lincah dalam bekerja membuat Dewi jatuh hati. Setelah berbagai proses akhirnya mereka menikah.
Kebahagiaan mereka sebagai keluarga bahagia pun terlaksana. Andre sebagai suami termasuk idaman. Dia selalu ada di samping Dewi. Dia juga membantu mengembangkan perusahaan milih Wirya, papanya Dewi.
Tapi itu tidak bertahan lama, Andre mulai berubah. Dari yang suka pulang dalam keadaan mabuk. Suka main tangan hingga saat Feri mendapati Andre meminta Vira untuk membuka bajunya.
Dewi yang saat itu sedang di kantor kaget mendengar berita itu. Sayangnya air mata kekecewaan Dewi tidak mempengaruhi pemikiran suaminya. Andre di usir dari kediaman keluarga besar Dewi Savitri. Lelaki itu tidak memohon padanya agar tidak di usir. Feri masih SMA, Dira sudah SMP sedangkan Vira masih SD saat itu.
__ADS_1
Setelah kepergian Andre, Dewi mulai berbenah. Dia harus memperbaiki semua yang sudah di perbuat Andre. Bahkan dia baru tahu kalau suaminya memakai uang perusahaan untuk berfoya-foya dengan wanita malam.
Dewi mengenang masa-masa rumah tangganya bersama Andre. Rumah tangga yang penuh kepahitan. Dia tidak pernah menanamkan pada anak-anaknya untuk membenci papanya. Tapi dari semua anaknya hanya Feri yang begitu membenci papanya.