SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 54


__ADS_3

"Kalian mau kemana?"


Naura dan Jimmy terlihat terburu-buru sehingga lupa mereka memiliki tamu. Naura awalnya enggan memberi tahu soal Dira dan Awan. Pertama karena Naura tahu, Dira punya masa lalu bersama Sandi. Kedua karena ini masalah keluarga.


"Ayah sakit, Tante. Sekarang di rumah kakek."


Jimmy dengan polosnya menceritakan tentang keadaan ayahnya saat ini. Naura merasa kecolongan.


"Mbak nggak apa-apa tinggal kan?"


"Kami ikut." Awan ikut bersuara.


"Iya, om. Ikut saja. Nanti aku kenalin sama Bi Uti." sahut Jimmy.


Naura, Jimmy, Awan dan juga Dira berjalan beriringan. Awan melihat Jimmy seperti tidak semangat. Awan paham hari sudah malam membuat lelaki kecil itu seperti mengantuk. Awan menawarkan Jimmy untuk di gendong. Tentu saja Jimmy senang. Naura hanya tersenyum kecil melihat kebahagiaan putranya. Baru saja mereka memasuki gang kediaman Rohim, Jimmy sudah tertidur. Naura menawarkan gantian menggendong Jimmy.


"Tidak usah. Bukankah kamu mau menemui ayahnya Jimmy. Biarkan dia Istirahat saya yang akan jaga bareng non Dira. Ya, kan, Non." Dira hanya mengangguk kecil.


Setelah Naura masuk hanya tinggal Awan dan Dira di depan rumah pak Rohim. Awan terdiam melihat rumah kecil dengan aksen sederhana. Rumah yang tampak asri di penuhi tanaman obat.


Rumah menjadi tempat pulang dengan segala penat yang dirasakan dan itu membuat selalu nyaman. Bahkan, saat sedang jauh pun yang pasti dirindukan adalah suasana di dalam rumah bersama dengan keluarga.


Awan menitikkan air mata. Dia rindu rumahnya. Rindu kehangatan keluarganya. Rindu omelan ibunya. Semua tentang mereka sangat dia rindukan. Tangannya sambil mengelus punggung Jimmy yang sudah tertidur pulas.


"Kamu pasti capek menggendong Jimmy. Sini biar aku saja. Kamu duduk dan istirahat." Dira mengambil Jimmy dari Awan. Namun pergerakan Jimmy seakan menolak di pindahkan. Awan memberi kode pada Dira agar Jimmy tetap bersamanya.


Matanya memandang setiap sudut rumah pak Rohim. Di hari pertama kedatangannya sudah di beri kejutan hebat. Melihat Juna yang diakui ayah oleh Jimmy. Tapi saat orang datang mengabari Naura tentang ayahnya Jimmy yang drop saat dalam perjalanan.


"Maaf, mbak siapa?" tanya Siti salah satu warga desa Tulang Bawang.


"Saya Dira dan Ini asisten saya namanya Awan. Kami dari Jakarta mau liburan. Kebetulan saya tahu desa sini dari Bi Inah." jelas Dira.


"Oh, si Sarinah. Sudah lama dia nggak pulang kampung. Kabar Sarinah gimana, Sehat?"


"Alhamdulillah, Bu. Bi Inah, sehat wal Afiat. Dia juga titip salam sama warga sini."

__ADS_1


"Wan, kita bawa Jimmy ke dalam, Yuk. Kasihan nanti masuk angin. Bukannya ini rumah kakek neneknya. Bisa numpang tidurkan Jimmy."


Dira memasuki rumah milik ayahnya Jimmy. Setiap sudut ruangan tak pernah luput dari pandangannya. Dira masih menebak-nebak. Apa betul ini keluarga ayahnya Jimmy. Tapi bukannya suaminya keluarga di Lembang.


Dira menerobos beberapa orang di depan pintu. Sesaat dia mencoba menguasai diri saat Naura menangis, tangan Naura menggenggam erat jemari lelaki.


Sebagai perempuan dan juga sebagai istri sah Juna, perasaan hatinya terasa sakit. Melihat lelaki itu berbaring, tangan seorang wanita menggenggam erat seakan menguatkan diri. Seperti kata Armada band, Harusnya dia yang disana. Bukan Naura.


"Sebenarnya Sandi kenapa, Bu, pak?" tanya Naura dengan nada berat.


"Bapak nggak tahu, Nak Naura. Tadi kata pak Galih, Sandi seperti sakit kepala. Terus pingsan. Mereka tadinya mau ke Lembang, tapi karena Galih kurang sehat jadi mereka belok kearah pulang."


Deg!


Sandi!


Dira menoleh kearah sosok yang sangat mirip dengan suaminya. Dia ingin memperjelas apa yang di dengarnya.


"Namanya Sandi, ya, mbak?" tanya Dira.


"Bukan Arjuna Bramantyo?" lagi-lagi pertanyaan Dira membuat orang-orang sekitar heran.


"Maaf, Bu, bapak, Ini non Dira. Majikannya bi Inah dari Jakarta. Dia liburan karena belum lama keguguran dan suaminya meninggal. Tolong harap di maklumi." kata-kata Naura seakan menganggap kalau Dira sedang sakit.


"Saya tanya dia Sandi Kurniawan apa Arjuna Bramantyo?" Dira mengulangi pertanyaan pada orang-orang di sekitarnya.


"Dia Sandi, anak saya." jawab Bu Halimah.


Setelah mendengar jawaban dari Bu Halimah. Dira pun meninggalkan kamar Sandi. Hati kecilnya yakin itu bukan Sandi tapi suaminya.


Jantung Dira berdetak kencang saat mendengar ucapan Naura. Naura menyebut kalau dirinya sedang sakit. Seakan kata itu memancing rasa iba setiap orangnya. Atau mungkin seperti mengejek dirinya. Entahlah Dira enggan berspekulasi.


Ditambah sikap orangtua Sandi yang mulai sinis padanya. Dira hanya bisa pasrah pada kejadian yang baru saja menimpanya.


Perlahan Dira menjauh dari kerumunan keluarga Sandi. Kakinya terhenti saat Bu Halimah berkata pada Naura.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dengan wanita tadi." kata Bu Halimah.


"Bu, jangan gitu. Itu tamu saya. Dia kesini untuk menenangkan diri." kata Naura membela Dira.


"Pokoknya kamu harus hati-hati sama dia!" ultimatum Bu Halimah.


"Iya, Bu." Naura hanya tersenyum penuh arti.


Dira merasa tersudut. Perlahan-lahan langkah kakinya meninggalkan kamar Sandi. Hati kecilnya mengatakan kalau Sandi itu adalah Arjuna. Tapi dia perlu sesuatu sebagai bukti.


Dira sudah berdiri di depan rumah pak Rohim. Berjalan tanpa arah. Saling mengelus kalung bulan sabit miliknya. Kalung yang pasangannya ada pada suaminya. Kalung yang menjadi saksi perjuangan cinta mereka.


Sementara Sandi sudah mulai membuka matanya. Semua keluarga disana mengucapkan rasa syukur melihat Sandi membuka mata. Begitu juga Naura, wanita itu memeluk Sandi sebagai rasa bahagianya.


"Aku kenapa, Bu?" tanya Sandi.


"Kamu tadi pingsan waktu mau bawa mobil sama pak Galih. Sebenarnya ada apa,nak?" tanya Bu Halimah.


Sandi menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tak begitu ingat apa yang sedang terjadi beberapa waktu yang lalu. Yang dia ingat pak Galih mengeluh tubuhnya lemas.


"Pak Galih, bagaimana keadaannya?"


"Dia sudah dibawa ke rumah. Tadi ada dokter Taufik yang langsung menangani pak Galih." kata pak Rohim.


"Nak Naura kamu nginap disini saja." ajak Bu Halimah.


"Maaf, Bu. tapi saya tidak enak sama mbak Dira dan mas Awan. Mereka baru tadi siang datang ke rumah. Mereka tamu saya, Bu."


"Ibu rada waswas melihat perempuan tadi. Sepertinya dia masih terbawa depresi karena kehilangan suaminya. Kamu tidak lupa kasus SUMIATI yang memilih gantung diri di pohon di tengah sawah. Jangan sampai dia pun melakukan hal yang sama." Bu Halimah masih terdengar sinis mendengar nama Dira.


"Bu, nggak boleh suudzon. Mereka itu tamu. Kedatangan mereka cuma menenangkan diri. Jadi bapak mohon jangan rusak silaturahmi Naura dengan tamunya."


"Bentar sebenarnya siapa yang mengirimkan dia kesini?"


"Bude Sarinah, Bu."

__ADS_1


"Ooooo... Sarinah mantan kekasih bapak." kata Halimah meninggi.


__ADS_2