SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 32


__ADS_3

Ku tak bisa menebak


Ku tak bisa membaca


Tentang kamu


Tentang kamu


Kau buat kubertanya


Selalu dalam hatiku


Tentang kamu


Tentang kamu


Bagaimana


Bila akhirnya ku cinta kau


Dari kekuranganmu


Hingga lebih mu


Bagaimana


Bila semua benar terjadi


Mungkin inilah


Yang terindah


Begitu banyak bintang


Seperti pertanyaan ku


Tentang kamu


Tentang kamu


Bagaimana


Bila akhirnya ku cinta kau


Dari kekuranganmu

__ADS_1


Hingga lebih mu


Bagaimana


Bila semua benar terjadi


Mungkin inilah


Yang terindah


POV Tina


Pagi ini aku masih disambut oleh tangisan langit yang tiada henti. Entah sampai kapan langit berubah menjadi cerah. Mungkin siang nanti, bersamaan dengan munculnya sang Surya. Atau mungkin malam nanti diiringi dengan munculnya sang dewa malam.


Secangkir bandrek menemaniku pagi ini. Sambil menghirup udara dingin yang menusuk tulang. Entah sampai kapan hidupku seperti ini. Aku nikmati saja apa adanya. Pendengaranku terpusat pada langkah kaki kecil. Adikku bahagia sekali dapat sepatu dan seragam baru. Apa aku yang membelikannya? tidak! aku saja sampai saat ini belum dapat pekerjaan. Kata bude, Alif akan mengajakku kerja di kantor advokat nya. Jadi apa? apa aja boleh. Karena aku hanya tamat SMA. Seandainya aku dulu tetap melanjutkan kuliah mungkin akan beda ceritanya. Tapi mana mungkin aku bisa kuliah, saat semester pertama papa mengalami kebangkrutan. Saat itu kami menempati rumah milik saudara mama.


Pertama kali menginjakkan kaki di komplek kecil di Kramat jati. Pertama kali aku harus bersiap-siap dengan perubahan hidupku. Seorang Martina Priscilla Agatha yang biasa hidup glamor, harus hidup apa adanya. Mama menerima hal itu. Begitu juga papa. Saat papa jatuh sakit, keluarga Glen datang pada kami. Kedatangan mereka membawa angin segar buatku karena aku masih ingin hidup enak. Glen mengatakan akan membahagiakan aku. Dan bodohnya aku percaya.


"Kak ini keren sekali, bilang sama kak Arjuna terimakasih hadiahnya." ucap Amar riang.


Aku senang kalau adikku terlihat bahagia. Aku juga tidak tahu dalam rangka apa waktu itu Juna datang kerumah. Karena aku juga bukan orang yang terlalu dekat dengan Juna. Tapi waktu Juna tinggal bersama Jamal. Yang katanya kabur dari rumah karena pasangannya tidak di setujui kedua orangtuanya.


Dua minggu yang lalu


"Assalamualaikum,"


Sejak masalah malam lamaran tersebut pakde Amran sempat mengultimatum aku. Katanya dia tidak mau berurusan dengan keluarga Burhan. Dia juga melarang Mayka mengungkit soal Feri lagi.


"Mulai sekarang kita tidak akan punya urusan lagi dengan keluarga Burhan. Papa tidak mau lagi dengar kalian masih mencoba silaturahmi dengan mereka. Terutama kamu Mayka, kamu kalau mau jadi perawan tua silahkan. Tapi jangan harap papa merestui kamu ataupun Tina untuk dekat dengan Feri. Kamu tidak lupa Tina? bagaimana Feri mencoba menghancurkan perusahaan Glen yang harusnya bisa kita rebut dan menata perusahaan itu lagi.


Dan kamu Mayka, papa kecewa sama kamu. Tega-teganya kamu melakukan itu sama Meyra. Hanya karena obsesi mu pada Feri. Apa dunia ini kekurangan lelaki sampai kamu membuat adikmu meninggal? masih untung pihak keluarga Feri tidak mempidanakan kamu." amuk Amran.


Saat itu kami hanya bisa pasrah. Mungkin ini jalan terbaik untuk aku dan kak Mayka. Paling tidak aku bisa menjaga jarak saat bertemu Feri nanti. Tapi nyatanya kejadian di rumah sakit beberapa hari yang lalu aku masih tidak bisa menghindari Feri. Entah kebetulan atau memang takdir yang membuat kami lagi-lagi bertemu.


Dan saat Juna datang kerumah mengantarkan barang untuk Amar dari tas mahal dan sepatu baru. Bahkan Juna juga membantu memasukkan Amar ke sekolah ku dulu. Sekolah favorit yang bakal susah untuk biaya SPP nya. Tapi Juna bilang.


"Soal SPP Amar kamu jangan khawatir. Sudah di urus untuk satu semester ini. Tapi kalau prestasi Amar bagus akan dimasukkan dalam beasiswa sekolah." ucap Juna padaku.


"Kenapa kamu baik sekali sama aku, Jun?"


"Sebagai rasa syukur kalau istriku sedang hamil." katanya.


"Istrimu tahu?" tanyaku.


"Tahu." jawabnya.

__ADS_1


"Terimakasih, Jun. Nanti akan aku ganti."


"Nggak usah saya ikhlas." jawabnya.


Setelah Juna berbincang sebentar dengan keluargaku. Dia pamit pulang karena tidak enak meninggalkan istrinya lama. Dia terlihat peduli dengan Dira. Sungguh suami idaman.


Sepeninggal Juna, pakde Amran tidak ada membahas apapun. Apa dia marah karena keluarga disana masih datang kesini. Semoga saja tidak. Kan bukan kami yang menemui mereka. Tapi mereka yang datang pada kami.


Flashback off


POV author


Tina senang kalau adiknya dapat hadiah. Untuk usia Amar termasuk terlambat usia masuk sekolah. Karena sebelum mereka bertemu kembali keluarga Amran, hidup mereka cukup menyedihkan. Sejak Amar usia lima tahun, mamanya sudah sakit-sakitan. Mamanya sempat menabung buat masukkan Amar ke taman kanak-kanak terdekat. Namun biaya pengobatan sang mama lebih tinggi biayanya membuat mereka memilih menunda sekolah Amar.


Tina bukan berpangku tangan. Dia juga kerja di warung dekat rumah. Satu tahun dia bekerja disana sudah terkumpul gaji sekitar dua juta. Belum lagi uang listrik dan lain-lain. Membuatnya tak habis akal untuk mencari uang.


"Na," suara bude mengagetkan lamunannya.


"Iya, bude." Tina berdiri saat bude menghampirinya.


"Bude mau antar Amar ke sekolahnya. Ini brosur sekolah baru Amar yang di beri Juna. Bude tahu sekolah ini bagus. Ini sekolah kamu dan Meyra juga. Tapi bude dan pakde bukan orang kaya, Na. Sejak anak-anak kami sudah bekerja, kami hanya bertumpu hidup pada mereka. Jadi maaf bude dan pakde tidak bisa bantu."


"Bude tenang saja. Aku akan kerja yang lebih keras lagi. Di tambah uang asuransi mama buat sekolah Amar. Aku memang ambil uang asuransi untuk kebutuhan Amar, bukan untuk kebutuhanku semata." jelas Tina pada bude nya.


Tina dan bude nya masuk ke dalam grab yang akan mengantarkan ke sekolah Amar. Sekolah biasa yang lokasinya lumayan jauh dari perumahan. Dia tidak minta sekolah yang bagus, tapi nggak harus jauh juga kan. Untungnya kelas Amar masuk jam sepuluh pagi. Jadi bisa ada waktu biar cepat sampai.


"Amar ini sekolah kamu?" Tina kaget dengan sekolah Amar yang jauh dari ekpetasi. Terlihat seperti gedung tua yang tak terawat.


"Iya, kak. katanya ini sekolah untuk anak yang tidak mampu seperti kita." jawab Amar.


"Amar nyaman disini?"


"Nyaman kak kelas kami cuma tujuh orang." jawab Amar tanpa beban.


"Bude aku minta jelaskan semua ini?" Tina masih belum paham dengan semua ini.


"Tina,"


"Bude aku sudah bilang kalau aku nggak minta Amar di sekolah mahal. Tapi paling tidak sekolah amar layak untuk belajar. Maaf bude bukan aku tidak tahu berterimakasih. Tapi pakde bilang kalau Amar di masukkan ke sekolah negeri yang standarnya cukup layak."


"Ini yang mau bude bicarakan sama kamu, Na. Tapi sebelumnya bude mau jenguk seseorang di rumah sakit."


"Kakak!" suara Amar terdengar dekat.


"Amar kok nggak masuk kelas?"

__ADS_1


"Guru sedang rapat kak. Kami disuruh pulang." jawab Amar.


"Yasudah, untung kita belum jauh. Kita ajak Amar saja." kata bude.


__ADS_2