SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 23


__ADS_3

Juna sampai di rumah Ical yang berkelang dua rumah dengan kediaman Jamal. Langkah kakinya beralih ke rumah Jamal yang tertutup. Apakah si pemilik rumah sedang keluar atau mungkin belum pulang dari kerja? pertanyaan itu berputar di otaknya.


"Mas Juna duduk dulu." sapa Ical sebagai tuan rumah.


"Aduh, cal. kamu nggak usah repot-repot bikin minum."


"Nggak apa-apa, mas Juna. Kan sesekali mas Juna main ke gubuk aku." jawab Ical.


"Kamu ini, kayak aku nggak pernah kesini aja. Dulu waktu kita satu kerja kan aku sering main kesini."


"Tapi mas Juna beruntung, soalnya baru beberapa minggu kerja sudah di taksir pak Burhan buat jadi cucu mantunya. Kenapa mas Juna nggak kerja di pabrik lagi?"


"Tadinya aku masih mau kerja di pabrik. Tapi usaha orangtuaku lagi ada masalah, ya sebagai anak aku harus turun tangan. Maaf, ya kalau kesannya aku keluar mendadak. Aku sudah bicarakan sama opa Burhan. Dia setuju dengan permintaanku."


"Jadi sekarang?" tanya Ical.


"Aku bolak-balik Jakarta-Lembang. Maaf, cal, kok rumah Jamal sepi?"


"Ada Ella sama suaminya kalau nggak salah. Mungkin Jamal masih manggul di Tanah Abang. Kan dia jadi pengawas gudang sekarang."


"Oh,"


Juna mengambil teh hangat yang di hidangkan Ical. Tanpa sengaja gelas itu terasa licin dan mengenai celananya. Bukan itu saja serpihan kaca gelas mengenai kakinya.


Juna terkesiap. Kaget karena insiden dadakan barusan. Ical yang melihat hal itu langsung memindahkan Juna ke kursi lain. Membersihkan luka di jemari kaki lelaki itu.


"Mas Juna nggak apa-apa?" tanya Ical.


"Aku nggak apa-apa, cuma luka kecil saja, cal." elak Juna. Padahal dia merasakan perih di bagian lututnya karena kena air panas.


"Kenapa aku kepikiran Dira, ya? apa ini pertanda? ya Allah lindungilah istriku saat ini." batin Juna.


"Cal, maaf. Aku harus pulang, tidak tahu entah merasa firasat tidak enak."


"Yasudah, mas Juna. Hati-hati di jalan. Itu mas Juna kan kakinya luka kena panas, apa masih bisa berdiri?" tanya Ical.


"Insyaallah bisa, cal. Saya pamit dulu."


Ical melihat cara jalan Juna yang seperti menyeret kakinya. Seketika dia merasa iba, dengan cepat Ical meraih tubuh Juna dan mengantarkan ke mobil. Karena lokasi gerbang gang dengan rumah Ical sangat dalam.


Sesampai di mobil Juna mengecek handphonenya yang tertinggal di mobil. Tak ada telepon dari Dira atau dari yang lain. Jadi Juna merasa istrinya baik-baik saja. "Terimakasih, cal." ucap Juna pada Ical yang sudah berada di depan pintu mobil Juna.


"Sama-sama, mas. Hati-hati ya," Juna mengangguk sekalian pamit.


Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, suara mesin mobil Juna memasuki pekarangan rumah. Juna melihat tak ada satpam yang menunggu di dekat pagar. Rumah pun tampak sepi. Dengan langkah lebarnya Juna memasuki rumah. Masih dengan perasaan tak menentu Juna membuka pintu rumah mertuanya. "Sayang, aku pulang." panggilnya.

__ADS_1


Juna langsung berjalan ke kamar. Masih dengan panggilan sayang lelaki itu membuka pintu kamar. Netra Juna beralih dengan kertas yang berserakan di lantai. Juna membereskan kertas tersebut dan memasukkan ke dalam lemari.


"Sayang..." Juna mengetuk kamar mandi.


"Sayang ..." lagi-lagi Juna memanggil istrinya.


Tak ada sahutan. Juna heran kenapa istrinya tidak menyahut panggilan. Langkah kakinya terhenti melihat cairan merah di lantai. "Ya Allah, Diraaaa...."


Langkah kakinya terhenti ketika handphonenya bergetar. Juna mengangkat telepon yang ternyata dari mertuanya.


"Kamu dimana, Juna?" tanya mama Dewi.


"Aku dirumah, ma. Dira tidak ada, ma. Aku menemukan darah di kamar. Apa yang terjadi?"


"Kamu kerumah sakit, ya, nak." Mama Dewi masih terdengar sabar saat menelepon menantunya.


"Dira kenapa, ma .." perasaan Juna makin tidak karuan saat mama mertuanya meminta datang kerumah sakit.


"Mama minta kamu harus kuat. Mama tunggu kamu di rumah sakit."


"Ya Allah, apa yang terjadi pada Dira?"


Juna meninggalkan kamar untuk turun ke lantai bawah. Tampak Vira baru pulang dari kuliah.


"Tadi terkena tumpahan tes panas dirumah teman. Vira kakak mau ke rumah sakit, Dira ada disana." ucap Juna.


"Kak Dira, kenapa?" Vira pun ikut panik.


"Tidak tahu, Vira. Kakak baru sampai dan dapat kabar dari mama." Juna melengos dengan kaki terseret. Tanpa menawari Vira untuk ikut.


Mama Dewi dan Feri masih duduk di depan pintu UGD. Wajah-wajah kecemasan tampak tersirat dari keduanya. Bagaimana tidak, di dalam sana ada adik dan anaknya yang sedang berjuang melawan maut. Kondisi pendarahan yang lumayan parah. Mereka berharap tidak terjadi sesuatu pada Dira dan juga calon bayinya.


Sementara dokter Melati baru saja keluar dari ruang UGD. Wanita berusia 35 tahun itu langsung disambangi oleh dua orang beda generasi.


"Dok, Bagaimana keadaan Dira?" tanya mama Dewi.


"Dira masih di tangani didalam. Ibu tenang saja, saat ini Dira juga sedang berjuang. Maaf sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter Melati.


"Tidak tahu, dok. Kami sedang diluar, kami dikabari oleh asisten rumah tangga, dia menemukan Dira tergeletak di lantai kamar." jelas mama Dewi.


"Sebenarnya tadi sebelum ashar saya minta Juna ke rumah sakit. Ada yang mau saya jelaskan terkait kondisi janin Dira." jelas dokter Melati.


"Langsung to the point saja dok?" ucap Feri.


"Janin Dira sebenarnya hamil anggur. Dimana ada sejenis kista yang menempel pada dinding rahim dan berkembang layaknya hamil sebenarnya. Saya juga tidak menemukan ada titik kehidupan di dalam kantong rahim Dira."

__ADS_1


"Tapi, dok Dira itu baru satu bulan. Bukankah di usia seperti itu memang belum terdeteksi."


"Tadinya saya meminta Juna untuk datang lagi bulan depan. Tapi ternyata ada kejadian ini. Dan .. ." Dokter Melati menarik nafas dalam-dalam. "Bisa membuat Dira keguguran." tambah Dokter Melati.


"Ya Allah, selamatkan anak dan calon cucuku." pinta Dewi seraya memanjatkan doa.


Juna berlari menuju ruang UGD. Di susul Vira yang mengekor dari belakang. Setelah mendapat kabar dari mama Dewi, dia dan juga Vira langsung berbegas menuju rumah sakit. Sesampainya di depan UGD, Juna mendapati mama mertuanya sudah bersimpuh air mata. Tampak Feri menatapnya dengan tajam. Dia sendiri belum paham kenapa bisa terjadi pada istrinya.


"Mama.." sapanya mendekati mama Dewi.


"Bagus! baru sekarang datang. Kemana saja kamu? sibuk kerja apa sibuk kerja!" Feri langsung emosi melihat Arjuna.


"Kak maaf aku juga tidak tahu dengan kejadian ini. Aku juga tidak tahu apa yang membuat Dira masuk UGD."


"Itu karena kamu nggak becus jaga dia. Bukannya tadi sebelum kejadian Dira beberapa kali meminta kamu pulang. Kenapa lama sekali? apa ada yang lebih penting dari adikku?"


"Feri, sudah! Nggak etis kamu ngamuk di rumah sakit." Mama Dewi melerai Feri yang hendak mencengkeram erat kerah baju Juna.


"Maaf, kak." Juna menunduk lemas. Andai tadi dia tidak mendahulukan mengantar Ical, mungkin tidak akan terjadi sesuatu dengan istrinya.


Pintu UGD pun sudah di buka. Itu tandanya Dira sudah di tangani. Tampak dokter keluar menemui keluarga, menjelaskan apa yang dialami Dira.


"Sepertinya janin saudari Dira tidak bisa dipertahankan. Maaf, saya turut berdukacita atas gugurnya janin yang dikandung saudari Dira."


"Innalilahi wa innailaihi rojiun," ucap mereka serempak.


"Disini siapa suami Ibu Dira?" tanya dokter.


"Saya suaminya, dok." Sahut Juna.


"Bisa kita bicara sebentar? Mari keruangan saya." ajak dokter tersebut.


"Maaf, dok. Bisa dijelaskan disini saja. Mama dan kakak saya juga ingin tahu yang sebenarnya."


Dokter menghela nafas panjang. Ditatapnya orang-orang yang berharap banyak pada dirinya.


"Baiklah, saya akan jelaskan. Kandungan Bu Dira tidak bisa di pertahankan. Jadi saya minta persetujuan kalian sebagai keluarga untuk persetujuan operasi kuret."


Juna duduk di kursi depan UGD. Tubuhnya lemas membayang reaksi istrinya ketika tahu calon anak mereka sudah tidak ada. Juna pun tak bisa membayangkan bagaimana perasaan istrinya.


"Juna, mama setuju dengan dokter. Kalau ini yang terbaik untuk Dira mama ikhlas. Kamu juga harus ikhlas, insyaallah jika tuhan izinkan kalian akan di anugerahkan sosok malaikat."


"Tapi, ma. Bagaimana dengan Dira? aku takut dia down setelah tahu calon anak kami sudah tidak ada."


"Down, itu pasti, Juna. siapapun akan mengalami hal yang sama jika kehilangan seseorang yang di harapkannya. Tapi kamu harus berusaha membuat Dira kuat. Kamu harus berusaha membangkitkan semangat Dira, karena itu tugasnya sebagai pasangan." jelas mama Dewi.

__ADS_1


__ADS_2