SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 42


__ADS_3

Siang itu terasa terik. Matahari garang membelai bumi. Biarpun begitu masih terlihat gulungan awan berpacu dengan pantulan sinar matahari. Beberapa orang berjalan wara-wiri di sekitar desa. Mereka ingin selali melepaskan kepenatan hati. Sayangnya, tuntutan hidup lebih utama daripada ego diri.


Beberapa muda-mudi duduk di sebuah gubuk bambu di dekat pasar. Kepulan asap rokok yang menutupi wajah pemuda-pemuda tersebut. Dengan mengenakan kaos polos dan celana robek, mereka tanpa rasa bersalah meniupkan asap tersebut pada salah bapak-bapak yang ingin mengambil motornya.


Sebuah motor pun berhenti di depan gubuk simpang pasar Tulang Bawang. Si pemilik motor turun dan menyapa beberapa orang yang sudah duduk menikmati kopi yang mereka pesan di warung depan. Dia tidak sendiri, seorang anak laki-laki juga ikut bersamanya. Masih menggunakan seragam putih merah lengkap dengan topinya. Si anak laki-laki itu pun ikut turun.


"Kita kenapa kesini, Yah. Aku mau pulang." keluh anak laki-laki itu.


"Bentar, nak. Ayah ada urusan sebentar." bujuknya pada sang anak.


Anak itu adalah Jimmy, anak biologis Sandi. Sudah hampir empat bulan Jimmy dan Sandi sering bersama. Itu pun karena Sandi merasa harus bertanggung jawab atas anaknya. Tapi entah kenapa dia tidak merasa ada chemistry antara Naura dan Jimmy. Dimatanya keduanya masih terasa asing. Meskipun demikian, dia tetap memenuhi kebutuhan Jimmy dari keperluan sekolahnya hingga untuk jajan sekaligus.


"Tumben kesini, aku pikir semenjak pulang kamu nggak akan mau nongkrong sama kita." kata Inggar sambil menyudut segelas kopi. Suara seruputan terdengar di telinga Jimmy. Membuat dirinya ikut berkomentar.


"Mang Inggar minumnya jangan seperti itu? kata ibu tidak sopan." tegur Jimmy dengan raut muka geli.


Inggar hanya tersenyum kecil mencubit pipi chubby anak usia 7 tahun tersebut. Pandangannya dialihkan pada lelaki yang duduk di depannya.


"Kau lihat, Di. Naura sudah mendidiknya dengan baik. Dan sekarang tugasmu adalah mempertanggungjawabkan atas mereka berdua. Kau tahu kalau tadinya ada seorang dokter yang mau menerima Naura. Bahkan sudah dekat dengan Jimmy."


"Lalu kenapa mereka tidak menikah?" tanya Sandi.


"Kau itu berlagak tidak tahu atau bagaimana? kalau kau sudah kembali urusan Naura dan Jimmy adalah tugas kamu. Kamu yang menanam benih dari Naura. Dan Naura harus membesarkan Jimmy seorang diri. Dasar kau tidak peka!" ucap Inggar sedikit meninggi.

__ADS_1


Sandi masih mode menunduk. Jika dia bisa mengingat sedikit tentang dirinya dan Naura pasti akan membantu. Tapi nyatanya hatinya sejak beberapa hari di Tulang Bawang, dia tidak terarah pada wanita itu. Hingga sudah sepuluh bulan tinggal di daerah itu, belum ada tanda-tanda ingatannya terbuka.


Netranya beralih ke arah Jimmy yang asyik main game di handphonenya. Ada rasa kasihan jika Jimmy hidup tanpa figur seorang ayah. Pertama kali bertemu dengan Jimmy, Naura memperkenalkan dirinya sebagai ayah kandungnya Jimmy. Reaksi Jimmy sangat bahagia. Bahkan Jimmy pernah mengajak Sandi tinggal bersama. Tentu saja di tolak mengingat dia dan Naura bukan muhrim.


"Jimmy mau pulang?" tanya Sandi di balas dengan anggukan kepala Jimmy.


"Yasudah, kita pulang, ya. Nanti ibu kamu nyari." ajak Sandi.


"Om Inggar, aku pulang dulu, ya." pamit Jimmy sambil mencium tangan teman ayahnya itu.


"Iya, Jimmy. Nanti bilang sama ayah kamu. Kapan tinggal sama ibumu. Jimmy senang kalau ayah tinggal sama ibumu?" pancing Inggar.


"Mau banget, om. Biar orang tidak ganggu Jimmy lagi." jawab Jimmy percaya diri.


"Aku antar Jimmy dulu, ya. Nanti aku kesini lagi." Pamit Sandi langsung menghidupkan motornya diikuti Jimmy yang membonceng di depan. Beberapa saat kemudian motor Sandi pun sudah menghilangkan dari pandangan mata.


"Kamu yakin dia itu Sandi?" suara bariton muncul disamping Inggar.


Pemilik suara tersebut duduk di samping pemuda itu. Kaki nya di lipat diatas alas pondok. Sambil mengambil rokok lalu mengambil pemantik api. Kepulan asap dari keduanya seakan berlomba-lomba menunjukkan eksistensinya. Keduanya makin larut dengan nikmatnya isapan tembakau.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Inggar masih belum paham dengan pertanyaan temannya.


"Coba kamu pikirkan, dia tiba-tiba muncul sebagai Sandi. Kalau memang itu Sandi, untuk apa dia pakai tenggelam segala. Dia bisa saja pulang tanpa harus menyelam ke air. Kalau dia memang Sandi kenapa dia tidak menikah dengan Naura."

__ADS_1


"Ya karena dia hilang ingatan. Mungkin juga dia tidak berniat pulang namun ada kejadian dimana orang-orang yang sedang mancing menemukannya. Sudah jelas dari wajahnya itu adalah Sandi. Tidak mungkin orang lain. Kamu kenapa nanya seperti itu?"


"Nggak apa-apa, aku lihat sejak dia kembali tidak pernah lagi kumpul sama kita. Biasanya setiap hari dia nongkrong sampai malam. Rumah cuma untuk tidur saja.


Biasanya Naura selalu mengintil kemana Sandi berada. Nah, ini, Naura bilang Sandi masih mencoba jaga jarak. Aku rasa bukan Sandi yang kita kenal."


"Thomas, dengar, ya, semakin bertambah usia semakin banyak juga perubahan dalam diri kita. Dulu Sandi seperti itu karena masih muda. Masih labil. jadi wajar kalau sekarang dia mengurangi kegiatan unfaedah." Inggar bukan tidak mau berpikir panjang tentang apa dan bagaimana perubahan dari Sandi. Dia maklum karena Sandi masih dalam masa pemulihan. Apalagi ingatan temannya itu sedang bermasalah.


Beda dengan Thomas, lelaki 25 tahun itu masih belum percaya dengan kemunculan lelaki yang menyerupai Sandi tersebut. Beberapa kejanggalan dia temui sejak kemunculan Sandi. Dari yang pernah dia baca di artikel, orang yang hilang ingatan biasanya mempunyai sedikit ingatan dari masa lalunya. Tapi saat mengajak Sandi ke bekas sekolah mereka. Tak ada satupun yang mengena di otak temannya itu.


"Mungkin butuh waktu untuk Sandi membuka sedikit ingatannya." gumam Thomas dalam hati.


Lelaki itu terhenti saat melihat gadis muda sedang membawa beberapa sayuran. Gadis muda itu sepertinya kesulitan melakukannya sendiri. Thomas pun dengan cepat mendekati adik temannya itu.


"Ti, kakak bantu ya?" kata Thomas sambil mengangkut barang bawaan Uti.


"terimakasih, kak. Maaf kalau sudah merepotkan." Uti merasa tidak enak pada teman kakaknya.


"Sayur sebanyak ini buat apa, Ti?" tanya Thomas.


"kan malam nanti kak Sandi mau melamar kak Naura" cerita Uti.


"Jadi Naura dan Sandi akan menikah? apakah Sandi sudah mengingat semuanya?" tanya Thomas.

__ADS_1


"Belumlah, kak. Itu karena desakan bapak dan ibu yang mau kak Sandi mempertanggungjawabkan atas kak Naura dan Jimmy. Kak Sandi nolak pun bapak dan ibu tetap akan melamarkan kak Sandi pada kak Naura." jelas Uti.


__ADS_2