SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 140


__ADS_3

Di tengah hiruk pikuk kota Jakarta, Seorang wanita yang bisa di bilang tidak muda lagi. Di salah satu tingkatan gedung yang menjulang tinggi. Tampak seorang wanita yang masih berkutat dengan laptopnya. Dari wajahnya terlihat sudah berumur. Tapi masih menampakkan kecantikannya. Masih tetap fokus bekerja di depan layar laptop. Terdengar suara batuk dan bersin-bersin, lalu membersihkan hidungnya dengan tisu berwarna putih.


Dialah Dewi Savitri, CEO utama perusahaan PT. PUTRA NUSA. perusahaan yang bergerak pada daur ulang barang.


Pembangunan fasilitas daur ulang botol plastik dengan memanfaatkan sampah plastik, juga menunjukkan komitmen nyata kedua perusahaan dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.


Pihaknya telah bekerja sama dengan pemerintah di sejumlah negara untuk membantu pengelolaan sampah plastik. Teknologi terkini yang mereka miliki terbukti telah dapat membantu mengurangi permasalahan sampah plastik di negara-negara tersebut.


Sesekali menyeruput kopi hangat untuk menemani harinya. Tak jauh dari posisi wanita itu tampak seorang lelaki muda yang juga melakukan hal yang sama. Tenggelam dengan apa yang ada di hadapannya.


"Mama istirahat dulu, sejak semalam mama sibuk sama kerja. Nanti kan bisa di sambung lagi." kata Lelaki muda yang duduk tak jauh dari dirinya. Lelaki itu adalah Feri Andreas. Anak sulungnya yang kini sudah berusia 30 tahun. Feri langsung mendekati mamanya memijit bahu sang mama.


"Wah, mama baru tahu kalau pijatan kamu seenak ini." puji Dewi. Yang di puji hanya senyam-senyum sendiri.


"Tina saja bilang gitu. Tapi dia nggak kalah keren, kok. Pijitannya enak. Nanti kalau kondisi Tina sudah lumayan aku minta dia pijitin mama."


Feri tidak sembarang memuji. Istrinya itu selalu sigap dengan apa yang terjadi di sekitar. Kalau Feri pulang kerja, Tina sudah di depan pintu duduk di teras. Meskipun sudah malam dan bahkan saat jam tengah malam suaminya belum pulang, Tina menunggunya. Kalau Feri lelah, Tina pun sudah memijit suaminya sambil menyiapkan mandi air hangat.


"Ya, kalau bisa. Saran mama, ya.... kamu yang sesekali menyenangkan Tina. Bukan menyenangkan dalam hal materi. Tapi dalam hal lain. Bi Inah bilang, Tina itu tidak pernah diam. Beres-beres rumah, masak buat kita semua. Bahkan kalau menurut mama masakan Tina lebih enak dari Bi Inah.


Perempuan itu kalau sudah menikah, bukan semata-mata untuk melayani suaminya. Ada kalanya dia butuh hiburan seperti jalan-jalan ke tempat yang tenang. Boleh ajak belanja juga. Tapi sesekali kamu ajak deh Tina jalan ke daerah kayak Lembang atau ke mana kek."

__ADS_1


"Iya, Ma. Kalau Tina sudah melahirkan nanti Feri bakal ajak jalan-jalan. Apalagi nanti sudah ada baby. kalau sekarang Feri belum berani ajak Tina liburan ke luar kota. Apalagi orang hamil kan rentan."


"Ya nggak harus kamu ajak keluar kota. Ke sekitar taman di kota saja bisa. Bisa-bisa kamu sajalah, nak. Mama dulu nggak jauh-jauh, waktu mama hamil kamu, papa kamu malah ajak mama dinner di roftoop kantor."


"Haaaah! rooftop kantor. Macam mana dinner di sana. Nggak ada pencahayaan. Gelaplah, ma."


"Enggak siapa bilang? justru kami dinner pakai obor. Di jejer disekitar dinding kantor. Pokoknya seru deh. Feri, kamu sudah ketemu sama papamu?"


"Belum, Ma. Kan papa di rumah om Saiful. Rumah teman papa yang sempat Feri antar waktu itu. Di daerah cempaka putih, ma. Emang kenapa, ma? jangan bilang mama mau rujuk lagi sama papa.


Maaf, ma. Feri memang sudah menerima papa sebagai ayah dan anak.


Tapi sampai sekarang Feri tidak setuju kalau mama Balik lagi sama papa."


Dewi tidak pernah menanamkannya kebencian terhadap mantan suaminya. Dia juga mengajarkan pada anak-anaknya untuk menghormati Andre sebagai ayah mereka. Dia juga tidak pernah memburukkan Andre di depan anak-anaknya. Tapi karena kejadian itu, kebencian itu tertanam sendiri dalam diri mereka.


Beberapa saat yang lalu Andre sempat datang ke perusahaan. Meminta maaf sama Feri atas selama ini yang pernah di lakukannya. Awalnya di bumbui dengan banyak adegan menyayat hati. Hingga akhirnya Feri pun membawa pulang Andre ke rumah mereka. Dewi sempat ingin menolak. Dia membayangkan reaksi anak mereka yang lainnya. Apakah anak mereka akan menerimanya. Sungguh di luar dugaan, Andre di sambut dengan baik.


"Kamu mau ikut sama mama merayakan tahun baru di Lembang?" ajak Dewi mengalihkan pembicaraan tentang mantan suaminya.


"Aku nggak berani bawa Tina sedang hamil muda seperti itu."

__ADS_1


"Kan ada jalan yang bagus, Feri. Jalan disana kan bagus. Nggak terjal terjal gitu. Lokasi rumah Dira nggak jauh dari Maribaya. Masa kamu tega biarkan mama pergi sendiri."


"Mama minta Jaka antar kesana. Atau ajak siapa kek."


"Beneran kamu nggak mau ikut?" mama Dewi masih mencoba meyakinkan anak sulungnya untuk gabung ke acara kumpul bersama.


Feri sebenarnya mau ikut sama mamanya. Mengajak istrinya refreshing ke Lembang. Tapi dia takut karena dulu saat Mey hamil pertama, sempat terjadi flek darah walaupun kandungannya selamat. Saat itu dia mengajak Mey liburan ke Bogor. Ke salah satu Vila keluarga.


Di hari kedua mereka liburan mereka di kejutkan dengan flek darah yang keluar dari air seni istrinya. Feri panik, karena sudah pasti akan susah mencari dokter di daerah itu. Untungnya ada bidan terdekat. Menurut bidan tersebut, itu faktor kandungan Mey yang tidak kuat. Tapi Alhamdulillah tidak berpengaruh pada janinnya.


"Ma, Feri mau keluar sebentar. Ada yang mau di beli? mama mau pesan apa?" Tanya Feri setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Kamu balik ke kantor lagi atau langsung pulang?"


"Langsung pulang, ma."


"Kalau langsung pulang mama titip ayam bakar di restoran dekat Hotel Juno, bisa kan?" Feri mengangguk.


Feri pamit pada mamanya sambil membawa laptopnya. Meninggalkan area kantor yang berlokasi di daerah Menteng. Memang jauh dari rumahnya sekarang. Dulu SMA mereka juga berada jauh dari rumah. Satu jam lebih dari rumah. Makanya jam lima sudah di wajibkan bangun, kadang sebelum subuh Feri sudah dibangunkan mamanya sholat sunat di sambung sholat subuh.


Feri salut sama mamanya saat itu. Pulang dari kantor malam masih di sibukkan urusan kerja dan urusan rumah tangga. Walaupun ada Bi Inah yang sudah membereskan rumah mereka. Sedangkan papanya mengawasi Vira dan Dira belajar.

__ADS_1


Saat ini Feri sudah berada di tengah kemacetan Jakarta. Sudah satu jam lebih dia terkungkung diantara ribuan mobil yang bernasib sama dengan dirinya. Feri menarik nafas dalam-dalam. Sejenak memejamkan matanya.


Terjebak dalam kemacetan bukan hal yang gampang. Dibutuhkan kesabaran ektra, dari kaca mobilnya dia melihat berbagai fenomena yang berbeda. Berjejer beberapa motor, juga ada beberapa mobil. Anak- anak kecil berlarian mendatangi beberapa mobil dan bernyanyi. Netranya mengibarkan rasa iba pada mereka.


__ADS_2