
"Sayang," Juna muncul mengalungkan tangannya di pinggang istrinya.
"Mas, berat." Dira merasa sesak nafas dalam dekapan suaminya.
"Kamu mau ikut aku?"
"Kemana?"
"Tadi kita dapat undangan pak Prapto. Makan malam di saungnya. Nggak jauh dari sini. Mau kan?" Dira mengangguk. Tentu saja dia mau, ini pasti menjadi pengalaman pertama mendampingi suami bertemu klien.
"Jadi nggak usah masak, ya. Kan kita mau dinner." Juna menyingsingkan baskom berisi beras yang akan di cuci.
"Kan itu nanti malam, mas. Ini masih jam delapan pagi. Keburu lapar."
"Kita jalan-jalan keliling perkebunan ya. Kenalan sama warga sini. Nggak usah masak, kita makan di salah satu warung kecil. Nggak kalah rasanya dengan warung Bu Parti yang di belakang rumah kita."
Dira tersenyum kecil. Suaminya tidak melupakan warung kecil di gang samping rumah mereka. Warung kecil yang dulu tempat mereka bermain bersama almarhum Boni, anaknya Bu Parti.
"Jadi ingat Boni, mas. Kalau dulu dia nggak ngambil layangan di pohon mangga di depan gang. Mungkin dia masih ada. Kalau saja aku nggak minta dia naik pohon mangga itu. Mungkin Boni sudah mewujudkan cita-citanya menjadi seperti Ade Rai."
Juna ingat betul bagaimana Boni sangat menyukai Dira saat itu. Saat mereka bermain bersama, Boni selalu bilang padanya jika dia besar nanti akan menjadi pelindung Dira. Karena saat mereka kecil Dira sering di bully teman-teman yang lain.
Karena itu saat layangan Dira tersangkut di pohon mangga. Boni pun merelakan diri untuk manjat pohon tersebut. Naasnya setelah layangan itu dapat Boni pun terjatuh dari ketinggian pohon. Dira yang melihat itu menjadi trauma. Bahkan dia meminta mamanya untuk menebang pohon mangga tersebut. Karena dia merasa Boni seakan melihatnya di atas pohon itu. Sempat diajak ke ustad untuk menutup mata batinnya. Tapi menurut psikolog Dira bukan indigo, melainkan ada efek trauma yang dialaminya.
Sekarang ketika dia membahas soal Bu Parti. Kenangan tentang Boni seakan terbuka lagi. Juna jadi merasa bersalah karena takut istrinya trauma lagi. Dia meminta Dira menyelesaikan masak nasi. Lalu mengajak keluar.
"Kemana, Mas?"
"Kan tadi aku bilang bakal ajak kamu jalan-jalan keliling perkebunan. Melihat pabrik papa Johan. Kamu belum pernah kan kesana?"
"Mas, lupa waktu aku SD diajak mama dan papa kesini. Pas mama lagi hamil Vira. Kata mama aku sempat hilang di perkebunan, kamu yang menemukan aku."
"Kamu ingat soal itu? aku saja sudah lupa."
"Ya kan aku tahu juga dari cerita mama. Aku juga sudah tidak ingat lagi,Mas. Eh, kalau tidak salah dulu di sini sempat ada pernikahan bukan, sih?"
Juna duduk di kursi dapur. Dira pun duduk di samping suaminya. Juna meminta Dira duduk diatas pangkuannya. Seketika sepasang suami istri tersebut sudah berada di satu kursi. Tangan Juna mengalung di pinggang istrinya.
Pindah rumah di lingkungan baru yang baik tentu sangat menarik dan juga menyenangkan untuk banyak orang. Bagi Dira mau pindah kemanapun asalkan bersama orang tersayang itu sudah cukup. Walaupun dia sempat takut kalau harus di tinggal sendiri. Seperti rumah yang sempat mereka tempati saat awal menikah dahulu. Rumah yang katanya bekas peninggalan Belanda. Mendengar kata peninggalan saja sudah buat dia merinding.
Namun, tidak sedikit orang justru merasa aneh dan tertekan ketika tinggal di lingkungan baru. Tidak jarang pula, seseorang akan merasa takut, cemas dan kurang nyaman di rumah baru tersebut.Hal tersebut mulai dari mengenal lebih dalam kondisi lingkungan, mengenal tetangga sekitar dan menghafal jalan serta tempat-tempat penting di sekitar rumah baru.
Salah satu impian yang diinginkan oleh kebanyakan orang adalah dapat menikmati rumah yang nyaman, aman dan tentram apalagi kalau rumah tersebut adalah milik sendiri. Siapa sih yang gak mau hal demikian? Kita semua pasti sangat menginginkannya. Terutama bagi yang baru saja menempuh hidup baru atau menikah, angan- angan untuk membuat rumah sendiri begitu sangat besar.
Mengingat moment ini begitu penting bagi pasangan yang pernah mengalami, hal ini juga berlaku bagi orang lain. setiap pasangan pastinya ikut berbahagia atas kepindahan rumah baru entah itu keluarga , kerabat, sahabat, teman atau bahkan hanya sekedar tetangga.
__ADS_1
"Keluarga seperti sebuah cabang di pohon,
kita semua tumbuh ke arah yang berbeda, namun akar kita tetap satu.
Dan sekarang kita adalah keluarga yang tinggal dalam satu rumah yang sama
Memiliki seseorang yang dicintai, itu adalah keluarga. Memiliki Anak-anak yang pintar itu adalah kebahagiaan. Dan Memiliki keduanya, itu adalah sebuah anugerah. Dan Memiliki sebuah tempat untuk pergi, itu adalah rumah."
" I love you, Mas. Kamu adalah lelaki kebanggaanku. Kebanggaan keluarga besar. Kamu adalah motivasi aku untuk tetap bertahan hingga sampai titik ini.
Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu. Membahagiakan kamu semampuku. Dan aku harap kamu juga begitu."
Setelah selesai memasak nasi dengan magic com Dira pun membersihkan diri. Tadinya dia akan mandi saat bangun tidur. Udara pagi yang dingin menusuk tulang. Dira memilih beraktivitas guna menghangatkan tubuh. Sementara Arjuna sudah mandi. Lelaki itu tampak gagah walaupun hanya menggunakan setelan training. Hari ini adalah hari Minggu. Jadi mereka tidak terlalu terburu-buru untuk bersiap kerja.
Dira menggunakan setelan training yang sama dengan suaminya. Baju pasangan yang mereka beli tahun yang lalu di Bengkulu. Untungnya masih muat di tubuhnya. Dira sempat tidak memakainya selama hamil saat itu.
"Yuk," Juna menggandeng istrinya.
"Mas, kok aku takut kelihatan norak nantinya. Apalagi pakai baju seperti ini."
"Kamu risih?"
"Sedikit, Mas. Kan dulu kita pakai baju ini waktu masih di Bengkulu. Padahal disana panas, tapi malah diajak training."
"Ya, sudah terlanjur di beli. Jadi kepalang di pakai saja. Toh, nggak harus di Bengkulu kita pakainya. Di Jakarta juga bisa."
"Sayang," Juna dan Dira kini berhadapan tanpa jarak.
"Iya, mas."
"Kalau kita programkan dari sekarang kamu siap?"
Dira melepaskan diri dari suaminya. Masih ada rasa ketakutan yang di rasakannya. Dira pernah merasakan kehilangan calon anak mereka.
"Maaf,Mas. Aku takut. Aku takut kecewa lagi. Kasih aku waktu, Mas. Aku belum siap, mas. aku..."
Wanita yang mengalami keguguran sering merasa sedih dan kehilangan. Intensitasnya pun sama dengan kehilangan besar lainnya. Merupakan hal yang umum jika wanita yang keguguran mengalami kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma dalam minggu, bulan, atau tahun setelah keguguran.
Juna langsung memeluk Dira dengan erat. Menenangkan perasaan istrinya. Mendengar kekalutan istrinya Juna langsung memeluk Dira dengan erat. Menyimpan wajah sendu istrinya di balik dada bidangnya. Juna terus menguatkan Dira meyakinkan dia akan selalu ada. Tangannya mengusap lembut punggung Dira.
"Kamu tenang saja, sayang. Aku akan ada buat kamu, melindungimu, menjagamu, selama ada aku kamu akan aman, selama aku masih bernafas kamu akan baik-baik saja.
Maafkan aku sayang,
Aku tidak akan menuntut kamu untuk cepat hamil. Tapi jika memang Tuhan memberikannya dengan cepat, kita harus menerimanya."
__ADS_1
Juna kembali mendekap tubuh Dira. Merasakan kenyamanan yang paling dalam. Dia percaya suaminya tidak akan pernah mengecewakannya.
*******
"Huaaacimmm"
Mia menggesek hidung peseknya yang sudah kemerahan. Efek dia pulang kerja kehujanan. Mia memang punya riwayat alergi udara. Terkadang di ruang ber AC pun dia Masin sering kumat.
Mia mengeluarkan obat yang dia beli dari apotik. matanya mengedarkan pandangan memeriksa keadaan rumahnya. Siapa tahu ada bocor, siapa tahu ada maling yang masuk ke rumah. Siapa tahu kakaknya ada dirumah.
Mia memilih tidur efek hidungnya yang masih mampet. Di liriknya jam dinding di kamarnya, masih jam 7 malam. Terlalu cepat untuk jam tidur. berhubung tubuhnya memang sedang kurang fit sehingga memilih tidur lebih cepat.
Ceklek!
"Adek jomblo, kakak ganteng datang." Mia mendengar panggilan itu sudah menebak kalau yang datang adalah Panji. Kakak sepupunya yang slengean.
"Kayaknya kakakku ini lagi senang." Mia sudah duduk di samping Panji.
"Kamu tahu?"
"Enggak."
Panji mendadak kesal dengan jawaban Mia.
"Apa yang enggak?"
"Lah kakak tadi nanya tahu apa tidak. Ya aku jawab enggak!"
"Oh, iya. Oke-oke."
"Kamu tahu, Mia. Anak relasi Bisnisku mau diajak dinner malam minggu besok."
"Yang masih kuliah itu? demen banget sama anak kecil. Kayak pedofil tahu nggak."
"Ya kan berbagi kebahagiaan boleh, kan?"
Mia memandang sejenak wajah kakak sepupunya. Tampan, sukses dan kharismatik. itu yang dia lihat ketika Panji menjadi sosok yang berbeda saat di kantor. Tapi kalau sudah di luar kantor, Panji akan menjelma menjadi lelaki bucin dan alay.
"Lalu? urusannya sama aku apa?"
"Kamu bantu aku cariin baju dinner buat Savira. kamu kan perempuan. Pasti lebih paham lah.
"Oh, namanya Savira. Kok kakak malah belikan dia gaun. Emang dia nggak mampu buat beli gaun? dia dari keluarga biasa sampai kakak yang mau kasih dia gaun?"
"Eh, tadi kan aku sudah bilang, kalau dia anak dari relasi Bisnisku." l
__ADS_1
"Itu tandanya dia mampu membeli gaun. Kak, jangan memberikan perhatian pada orang yang belum tentu menerima kita. Seperti yang kakak lakukan barusan. Kesannya kakak ngemis cinta sama si Savira itu."