
Tiga bulan kemudian
Dira sudah memasuki kehamilan tiga bulan. Tidak seperti yang dia takutkan selama ini. Ternyata perjalanannya tidak serumit. Saat ini baik Dira maupun Juna menikmati masa-masa kehamilan. Juna selalu ada di samping.
Bagi perempuan yang sudah menikah, kehamilan adalah hal paling istimewa dan dinantikan. Tidak heran jika kebahagiaan menyelimuti hati keluarga tatkala mengetahui kabar kehamilan orang terdekat.
Seorang ibu hamil seringkali memerlukan dukungan atau support pasangan serta keluarga agar dapat melewati masa-masa kehamilan terasa lebih menyenangkan. Sebab, masa kehamilan memerlukan perjuangan seorang perempuan dari masa mengandung sembilan bulan hingga melahirkan.
Begitu berat perjuangan ibu hamil demi sang anak seringkali bisa dijadikan pelajaran berharga buat setiap orang. Misalnya saja pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, perjuangan, cinta kasih dan seterusnya.
Saat ini Dira dan Juna meluangkan waktunya untuk kontrol kehamilan Dira yang memasuki usia 3 bulan. Keduanya memilih berjalan menuju Puskesmas terdekat. Sejak perjalanan dari rumah ke puskesmas Juna masih mengkerut. Tentu saja dia masih belum rela kalau yang memeriksa istrinya adalah Antara. Kedengarannya lebay, tapi itulah yang dia rasakan kini.
Mereka sudah masuk ke dalam ruang praktek dokter Antara. Karena sang dokter masih sibuk dengan pasien lain. Mereka di minta menunggu.
"Ya Allah ada pasien istimewa ternyata. Duduk Juna, Dira kamu juga duduk di sini." Antara meminta Dira duduk di kursi berbahan busa sementara Juna di tawari duduk kursi kayu.
"Kenapa aku nggak disamakan kursinya?" protes Juna.
"Karena ibu hamil tidak akan nyaman duduk di kursi kayu. Sudahlah kamu jangan banyak protes. Saya yang dokternya disini," sela Antara.
"Dira coba berbaring di brankar dulu." pinta Antara.
Tara meminta suster untuk memeriksa Dira. Meletakkan gel di pusar pasiennya. Juna pun ikut melihat bagaimana Tara menggerakkan alat untuk memeriksa USG istrinya. Demi Dira tidak terlalu di pegang sama Tara dia rela bersempitan. Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Baru kali ini Juna sebegitu posesifnya.
"Wah, anak ibu dan bapak sudah mulai aktif, ya," kata dokter Antara memeriksa kandungan Dira.
Dira memandang suaminya yang masih cemburu pada Antara. Sungguh dia tidak habis pikir sama pikiran Juna. Untuk apa cemburu pada lelaki lain. Apalagi Antara itu temannya Juna.
"Juna, kamu keren bisa menaklukkan hati Dira. Padahal sudah banyak yang mencoba mendekati Dira. Tapi malah yang dapat kamu," kata Antara.
"Ya karena jodohku ya Dira." jawab Juna sekenanya.
"Oh, ya. Terus anaknya tuan Shahab bagaimana?"
"Delia sudah meninggal dunia, Tar."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, Nggak nyangka dia meninggal muda."
"Jadi setelah Delia meninggal kalian menikah?"
"Bisa bahas yang hal lain, Tara." nada bicara Juna seperti penekanan pada Antara.
"Oh iya maaf, Juna."
"Jadi bagaimana kak Tara." kata Dira.
__ADS_1
"Sementara ini cukup bagus. Perbanyakan makan buah. Jangan manja hanya karena hamil. Memang orang hamil tidak boleh kerja berat. Tapi masih bisa pekerjaan ringan yang lain seperti menyapu mencuci piring. Pokoknya masih tetap kerjakan aktivitas kecil." pesan dokter Antara.
"Terimakasih pak dokter."
"Oh ya, ini ada vitamin penguat kandungan. Saya sudah pernah dengar kasus kehamilan anda dari Bidan Ratih. Janin kamu ini memang dasarnya lemah. Tapi bukan berarti kamu ikutan lemah, lawan semua penyakit. Bukannya Dira yang aku kenal anaknya kuat."
"Masih ingat saja, kak Tara," Tara mengacak rambut Dira. Sama seperti waktu masih satu kampus dengan Feri dan Juna.
"Kak kami pulang dulu. Terimakasih sudah mau memeriksa saya saat ini. Kami pamit pulang dulu kak Tara. Oh ya bulan depan kakak ke Jakarta ya, acara empat bulanan kehamilan aku dan istri kak Feri."
"Meyra hamil lagi?" tebak Tara.
"Enggak, kak Mey sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu. Ini sama ..."
"Martina Agatha Pricilla" sambung Juna.
"Serius, Tina dulu geng sok cantik di sekolah kita. Astaga, jodoh emang nggak kemana, ya."
Juna dan Dira pun berpamitan. Meninggalkan ruang praktek dokter Antara.
Masih dalam perjalanan pulang. Lokasi puskesmas dengan pabrik tidak jauh hanya tidak sampai 15 menit sudah sampai di pabrik. Mereka berjalan beriringan menikmati udara sore puskesmas. Kebetulan praktek dokter Antara hanya sebatas jam lima sore. Beda dengan praktek dokter yang lain, jam 2 sudah pada pulang.
"Mas, aku mau pulang saja. Kalau kamu mau kembali ke pabrik aku bisa... Mas Juna turunin!" Dira merasa menjadi bahan tontonan saat Juna menggendongnya ala bridal style. Tangan Dira mengalung di leher suaminya. Kepalanya bersembunyi di balik dada kekar Arjuna. Perut Dira sudah terlihat membuncit walaupun sudah usia tiga bulan.
"Kamu mau kemana, Mas?"
"Ke gudang pabrik sebentar." Dira hanya menghela nafas dalam-dalam. Tubuhnya direbahkan ke sofa ruang kerja suaminya. Netranya terhenti saat memandang photo pernikahan mereka waktu di Bengkulu dulu.
Juna memeriksa alat-alat pabrik yang katanya rusak berat. Di bantu oleh pak Yono yang sudah bekerja di pabrik puluhan tahun.
"Jadi bagaimana, pak?"
"Sepertinya kita harus mencari yang lebih ahli pak Juna. Saya sudah tua, sebentar lagi pensiun. Bukan saya cari alasan, tapi si Nano itu nggak bisa kerja. Dia selalu melawan kalau saya kasih tahu."
"Baiklah, pak. Soal Nano biar saya urus. Saya juga akan cari tahu siapa yang bisa menangani alat ini."
Juna kembali ke ruang kerja. Melihat Dira sedang tertidur pulas di sofa panjang. Juna melipatkan kakinya. Kepalanya sejajar dengan arah wajah istrinya. Melabuhkan kecupan membuat Dira terbangun.Tatapannya beralih ke perut istrinya yang sedikit membuncit.
"Mas" Suara Dira menandakan wanita itu sudah bangun.
"kamu sudah bangun, sayang." Juna mengecup kening istrinya.
"Aku dari tadi sudah bangun. Kamunya aja yang melamun. Mikirin apa sih, mas?" Dira membelai rambut suami. Tubuh mereka saling berhadapan, tangannya membelit pinggang istrinya.
"Kangen anak kita," Juna merapatkan tubuhnya setelah mengunci tubuh istrinya.
__ADS_1
Dira merasakan sensasi luar biasa saat suaminya menghembus ke telinganya. Setelah membelitkan tangannya Juna langsung membenamkan bibir istrinya dengan rakus.
"Mas, geli. Kita pulang yuk." ajak Dira.
"Mau lanjut di rumah sayang."
"Astaga, Mas. kamu kalau bahas kayak gitu otaknya langsung nyambung."
Dira merasa sesak saat Juna belum melepaskan belitan di pinggangnya. tapi apa daya lelaki itu lebih kuat darinya. Dia pasrah, lebih memilih menikmati sentuhan demi sentuhan dari suaminya.
Mereka akhirnya sampai di rumah. Dira merebahkan tubuhnya di kamar. Badannya terasa pegal. Gara-gara kejahilan suaminya di pabrik tadi. Lantunan suara adzan pun menggema di langit daerah Lembang. Dira pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Allahumma baarik lii fii ahlii, wa baarik lahum fiyya. Allahummazuqnii minhum warzuqhum minni. Allahummajma' baynanaa maa jama'ta ila khairin, wa farriq baynanaa idza farraqta ilaa khairin.
Artinya: “Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadaku dan kepada istriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah kami (berdua) dalam kebaikan.”
"Sayang, kamu terlihat lelah sekali" kata Juna pada Dira.
"Sepertinya, Mas. Aku boleh tidur di sini." Dira menujuk paha suaminya.
"Boleh, tidur saja" Juna menepuk pahanya.
Dira merebahkan kepalanya di atas paha suaminya. Juna menghujam kecupan di pucuk rambut istrinya.
"Mas,"
"Iya, sayang."
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"Silahkan."
"Sampai sekarang aku masih penasaran. Kenapa kamu begitu tidak suka sama kak Antara. Bukannya kalian dulu akrab sejak SMA. Ya walaupun tidak sebanyak bersama kak Feri."
Juna terdiam sesaat. Netranya beralih saat dulu masih akrab dengan Antara. Teman baiknya selain Feri. Di tambah saat kelas dua dia dan Antara satu kelas. Membuat mereka lebih dekat.
Sejak awal Juna tahu Antara baik sama mereka ada udang di balik batu. Tidak tulus untuk berteman dengan mereka. Bukan suudzon, tapi itu di buktikan setiap Juna ajak main ke rumah, Tara selalu nolak. Tapi kalau Feri yang ajak, temannya itu langsung cepat tanggap. Dari Feri barulah Juna tahu kalau Tara suka sama Dira.
Berujung penolakan dari Dira membuka Tara memilih pindah kuliah.
"Aku janji jika menjadi dokter yang sukses nanti. Aku akan mengajak Dira menikah. Aku tidak akan biarkan dia di dekati lelaki lain. Kalaupun ada aku jamin hidupnya tidak akan tenang."
Dira mendengar cerita suaminya mengerutkan dahinya. Ada rasa tidak percaya dengan cerita Arjuna. Selama dia kontrol sama Antara tidak ada yang aneh pada lelaki itu. Masih bersikap sebagai dokter pada umumnya.
"Aku rasa itu hanya kecemburuan mas Juna saja. Apa mungkin calon anak kami ini laki-laki. Kata orang kalau suami cemburu sama lelaki lain saat istrinya sedang hamil. Artinya calon anaknya laki-laki." batin Dira.
__ADS_1