
"Jadi kak Danu mencium kamu, Ra," suara tawa Elsa menggelegar di taman area kampus.
"Nggak lucu, Sa," raut wajah Vira masih terlihat kesal.
"Gimana rasanya di cium sama cinta pertama? jantungmu aman, Ra," Elsa masih terus menggoda Vira.
"Entahlah, Sa. Berasa sakaratul maut," Vira bergidik ngeri ingat kejadian di lift.
"Rasaku mati jatuh dalam pelukan Pandawa hahahaha..." Vira menutup mulut Elsa. Dia malu kalau ucapan Elsa di dengar banyak orang.
"Kau tahu, Ra. Waktu kak Dawa jadi tunangan aku dulu, belum pernah dia mencoba menyentuh bibirku. Dia hanya mengecup dahi aku saja. Dan kak Dawa pernah bilang kalau di dekatku tidak merasakan magnet aneh, tapi dia cerita kejadian saat kamu minta maaf, dia merasakan getaran yang beda sama kamu,"
"Terus, aku harus menyambut perasaannya gitu," Kata Vira sambil menikmati es tongtong.
"Ya iyalah, kalau kamu tidak berontak saat dia mencium bibirmu. Itu tandanya ada reaksi perasaan dari kamu. Kamu itu juga cinta sama kak Danu.
Contohnya satu ya, aku menilai saat kamu dekat sama kak Panji bukan karena cinta. Akan tetapi kamu menerima kak Panji untuk menyenangkan Tante Dewi.
Ketika ada kak Danu di sekitar kamu, reaksi kamu beda, Ra. Waktu aku ke Lembang reaksi kamu seperti orang patah hati. Dan itu juga aku lihat dari kak Danu,"
"Sok tahu kamu, Sa!"
"Apa yang aku ketahui tentang kamu,Ra? kamu tuh nggak bisa bohong sama aku. Udah kebaca dari face serta gerak-gerik kamu,"
"Terserah kamu, Sa. Yang pasti aku harus menatap ke depan. Mama gila aja minta aku menerima lamaran calon pilihan Opa Han. Kenal saja enggak masa mau diajak nikah,"
"Itu artinya kamu nolak dan berharap kak Danu perjuangkan kamu, ya kan?"
"Nggak tahu!" Vira lebih mementingkan menghabiskan es nya. Daripada pusing mikirin ucapan Elsa.
"Kamu tahu usia 21 artinya apa? usia dimana kamu sudah dewasa dalam berprilaku dan berpikir. Sudah seharusnya juga kamu dewasa dalam mengambil keputusan tentang suatu masalah dalam hidupmu. Tidak ada lagi merajuk dan menghindari masalah khas anak remaja. Di usia dimana sudah bisa memikirkan bagaimana hidup kamu ke depannya.
Sejauh aku kenal sama kamu, belum pernah melihat kamu mencoba menyelesaikan masalah kamu sendiri. Masih menggunakan Ego bukan akal sehat. Masih gampang di pengaruhi orang lain,"
"kapan acaranya?" tanya Elsa.
"Lusa," jawab Vira masih dengan es tongtong yang belum habis.
"Astaga dan kamu masih keluyuran, Vira!"
"Ya terus masa aku di rumah. Sementara urusan aku banyak. Kamu tahu mama bilang apa tadi malam?"
"Apa?"
__ADS_1
"Vira kamu secepatnya mengajukan skripsi, biar cepat selesai kuliahnya. Biar nanti pas nikah kamu bisa sambil lanjut kuliah di Jepang," Vira menirukan gaya bicara mamanya.
"Hahaha.... endingnya di suruh cepat nikah, keren Tante Dewi!" Elsa masih terus menggoda Vira.
"Hey, calon manten kalau banyak marah bisa cepat tua,"
"Siapa yang manten?"
"Ra, aku masuk dulu, ya? kamu jadi ketemu sama pak Hadi," Elsa mengingatkan Vira untuk bertemu dosen mereka. Rencananya Vira mau konsultasi tentang judul skripsinya.
"Iya, aku nunggu pak Hadi. Tadi pas aku cek belum datang. Kamu mau masuk nggak apa-apa," Elsa pamit pada Vira karena dia ada kelas siang ini.
Vira melangkahkan kakinya meninggalkan taman kampus. Beberapa orang sudah duduk di depan ruangan pak Hadi, Vira menebak kalau mereka juga mau konsultasi skripsi.
"Aduh kok ngantuk, ya?" Vira menguap menyandarkan kepalanya di kursi tunggu.
"Hah!" belum sepuluh menit dia tertidur. Dia terbangun melihat sekelilingnya. Mengurut dadanya, mengingat kejadian itu menyapanya di dalam mimpi.
"Sialan! ini semua gara-gara kak Danu! bisa nggak sih dia sekali saja dia tidak ganggu hidup aku! setiap urusan dengan Pandawa hanya masalah yang datang" umpat Vira.
Setelah selesai berkonsultasi dengan pak Hadi, Vira berjalan meninggalkan area kampus. Dalam bayangannya dia pulang membersihkan diri. Baru selangkah dia berdiri di depan pintu kampus suara petir menggelegar.
"Ya Allah, kok malah hujan, sih!" Vira menyudutkan dirinya di area yang lebih teduh.
Mendadak ada yang menutupi punggung belakangnya. Jas berwarna abu muda sudah menggantung di punggung belakangnya. Vira langsung menoleh ke sosok yang ada di belakangnya.
"Maaf, non. Saya di suruh memberikan ini," sosok lelaki asing di hadapannya.
"Kamu siapa?"
"Saya sopirnya pak Dirga, non sudah di tunggu,"
"Oh, saya bisa pulang sendiri, bilang sama atasanmu," ucapnya ketus.
"Yasudah, saya yang akan menjemput dia," suara bariton muda terdengar muncul di tengah pintu mobil. Tak peduli hujan membasahi tubuhnya. Yang dia mau saat ini momen kebersamaan dengan Savira. Setelah nanti gadis itu akan melenggang dengan lelaki lain.
"Ya ampun, kakak. Sudah masuk saja ini hujan, nanti kakak sakit. Ingat lusa mama dan papa kakak akan pesta, masa anaknya sakit," Nada kecemasan muncul dari tutur kata Savira.
Segera dia menerobos hujan membujuk calon kakak tirinya masuk ke dalam mobil.
"Kenapa kamu peduli dengan orang lain? kenapa kamu nggak mikirin kita?"
"Kita?" Vira tertawa sinis.
__ADS_1
"Ada apa dengan kita? tidak ada hubungan apa pun, sudahlah kak, jangan bahas yang basi,"
"Kenapa kamu selalu membuang muka saat kita bicara!" Dawa berjalan mendekati Vira dalam keadaan basah kuyup.
"Pak,bawa dia masuk ke mobil," titah Vira.
"Bentar, Pak. Jawab aku, Vira! apa kamu mencintaiku?"
"Enggak!"
"Tapi kemarin di lift kamu merespon ...."
"Bisa nggak tidak bahas soal itu?"
"Enggak! sebelum kamu jujur sama perasaan kita," Dawa masih ngotot.
"Astaga, usia kamu berapa sih? sudah tua masih ke kanak-kanakan, pantas saja semua perempuan yang dekat dengan anda tidak ada yang bertahan lama. Karena pasangan lelakinya nggak gentleman. Dan kamu sudah menghancurkan apa sudah aku persiapkan pada calon dari Opa,"
"Hancur? maksudnya?" Dawa masih belum paham.
"Dasar nggak peka!" Vira menghajar perut Dawa.
Dawa menahan tangan Vira. Hanya sekali tarikan Vira sudah berlabuh di dada lelaki itu. Masih dalam guyuran hujan keduanya masih berdiri saling berpelukan.
"Kenapa kakak muncul setelah sekian lama aku sudah melupakan kenangan itu? aku mencoba membangun rasa percaya dengan lelaki setelah aku sempat mengecewakan kak Satria. Aku mulai bangkit saat bertemu kak Panji, tapi ternyata kamu muncul. Kamu muncul menghancurkan semuanya, aku berusaha mematahkan hati menepis semua yang pernah terjadi. Tapi kenapa harus kakak?"
"Vira,"
"Aku mencintaimu, bukan sekedar janji di masa lalu. Tapi aku merasa sudah terhubung sama kamu. Memang aku tidak peka karena membuat kamu dan Elsa bermusuhan. Aku juga tidak peka saat di bohongi om Irul dan Kayla. Tapi satu hal yang harus kamu," Dawa meletakkan tangan Vira di dadanya.
"Di sini, yang menjadi nyawa hubungan kita. Disini, yang memotivasi aku untuk bangkit setelah semua yang terjadi. Aku serius sama kamu, Ra,"
"Savira, kita mulai dari awal, ya? membina hubungan, saling memahami satu sama lain. Aku akan menunggu kamu tamat kuliah. Bahkan kalau di izinkan aku akan menemani kamu selama S2 di Jepang,"
"Aku ..."
Bagaimana ini? aku sudah terlanjur berjanji sama opa Han perihal sayembara jodoh. Tapi aku tidak bohong kalau momen ini yang aku tunggu. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan
~batin Vira~
Semakin yakin aku menolak wanita pilihan Oma Helena. Karena aku cuma mencintai satu wanita yaitu Savira. Semoga mereka mengerti
~batin Pandawa~
__ADS_1