SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 125


__ADS_3

"Apa kita periksa ke dokter, sayang?"


Dira menggelengkan kepalanya. Rasanya kehamilannya masih seumur jagung. Belum dalam hitungan bulan. Sudah pasti kalau di periksa belum kelihatan ada janinnya. Itu yang pernah dia dengar saat ikut seminar.


"Tapi aku penasaran, sayang." jawab Juna.


Pasalnya terakhir berhubungan saat istrinya baru selesai haid. Itu pun waktu masih di Bandung. Sekarang sudah satu minggu setelah mereka meninggalkan kota Bandung. Setelah kasus Maria yang cukup pelik.


"Sabar, ya, mas. Kita tunggu satu minggu ya. Soalnya ini masih terlalu kecil. Belum kelihatan hilalnya. Baru gejalanya saja. Sama aku juga tidak sabar melihat calon anak kita. Tapi jangan sekarang, mas. Tunggu sekitar satu atau dua minggu, ya."


"Tidak masalah, sayang. Apapun nanti hasilnya berita ini saja sudah buat aku bahagia. Kamu ngidam apa akan aku turuti."


"Semoga aku nggak ngidam apa-apa, Mas. Karena aku takut nanti merepotkan kamu. Aku cukup di doakan agar anak kita sehat sampai dia lahir nanti." Juna melabuhkan kecupan di dahi Dira. Suatu anugerah yang sangat tak terduga. Sama seperti satu tahun yang lalu, dimana kejutan itu datang saat hari ulang tahunnya.


"Sekarang aku bilang sama, Ayu dan Tio. Soal kehamilan kamu."


"Nggak usah, Mas. Justru merekalah yang pertama tahu tentang kehamilan aku. Mereka orang pertama yang sigap saat aku hampir pingsan di kamar tadi."


"Maafkan aku sayang. Aku tidak tahu kalau kamu sempat pingsan tadi. Nanti aku akan mengurangi jadwal kerja agar lebih banyak di rumah. Biar bisa jagain kamu dan anak kita." Juna mengusap perut istri yang masih rata.


"Nggak perlu, Mas. Aku paling bisa ke tempat mama atau ke tempat Ayu. Kamu tenang saja, kerja yang rajin demi anak kita." Dira mengambil tangan suami untuk diusap lagi ke perutnya.


Azan magrib berkumandang. Juna mengajak Dira sholat bersama di mushola rumah. Selain mengucapkan Alhamdulillah saat mendapatkan rezeki melimpah dan nikmat dari Allah SWT, terkadang ada orang yang melakukan sujud syukur dan membaca doa sujud syukur. .Salah satu rezeki yang diberikan Allah adalah datangnya calon anak mereka.


Rezeki merupakan sebuah berkah yang diberikan oleh Allah SWT kepada setiap hamba-NYA. Ada banyak sekali yang bisa dilakukan seseorang untuk bersemangat dalam mencari rezeki, salah satunya yaitu dengan membaca kata-kata tentang rezeki yang islami.


Anak merupakan salah satu bentuk rezeki yang di titipkan oleh Allah SWT. Amana


Sujud syukur berbeda dengan sujud yang dilakukan saat salat.Sujud syukur adalah sujud yang dilakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas rezeki tidak terduga yang diberikan oleh Allah SWT.


Selesai sholat magrib, Dira pun melepaskan mukenanya untuk pergi ke dapur. Dia merasa sangat lapar, padahal tadi sudah makan setelah ashar. Juna melihat istrinya sudah tak ada di belakangnya. Dengan cepat Juna mencari keberadaan Dira. Juna menemukan istrinya sedang menghidupkan kompor untuk masak mie instan.


"Sayang, kamu mau makan? sini biar aku saja yang masak." Juna menuntun istrinya duduk di kursi meja makan.


Juna mematikan kompor gas lalu menyimpan Indomie. Lelaki itu malah mengambil menu lain untuk istrinya.

__ADS_1


"Kok di simpan, Mas? aku pengen makan mie." protes Dira.


"Ibu hamil nggak bagus makan mie instan. Lebih bagus makan yang bergizi. Kamu tenang saja, ada chef Juna yang masak spesial untuk nyonya Arjuna Bramantyo."


"Mas mau masak apa?" tanya Dira.


"Masak mie goreng Jawa. tapi pake mie bihun. Pokoknya kamu duduk di sini terima beres saja." Juna mengedipkan matanya. Dira tersipu malu.


...****...


Pukul 18.00 di kediaman Dewi Savitri.


"Sudah siap?" sosok lelaki yang berdiri di hadapan Savira Gayatri.


Vira mengangguk kecil. Kakaknya tidak bisa ikut karena kakak iparnya kurang sehat. Satu-satunya yang bisa datang hanya dia seorang. Vira memakai gaun pemberian Panji. Tadinya dia enggan memakainya. Takut lelaki dewasa itu besar kepala, merasa dirinya merespon perhatian Panji. Tapi jika dia tidak memakainya. Pastilah Panji akan tersinggung.


Tangan Panji menuntun Vira turun dari tangga turunan. Layaknya seorang putri yang akan masuk ke kereta kencana. Vira pun duduk sempurna di kursi mobil. Tak berapa lama Panji pun masuk ke dalam mobil.


"Terimakasih," kata Panji.


"Untuk?"


"Terimakasih." Vira menoleh ke kaca mobil. Membiarkan Panji fokus menyetir.


Suasana malam di kota Jakarta tampak begitu indah. Di temani bintang-bintang bertaburan di langit. Dari kaca mobil Vira melihat anak-anak yang mengamen di lampu merah. Kaki-kaki kecil itu berlari mengitari beberapa mobil. Padahal itu bisa membahayakan nyawa mereka.


"Kasihan anak-anak itu. Seharusnya mereka bisa belajar di rumah. Tapi orangtua malah menyuruh mereka bekerja sampai malam."


Panji tersenyum mendengar pemikiran Vira. Dia pun sependapat dengan gadis muda itu. Merasa sangat kasihan dengan anak kecil yang mengamen. Menurutnya, belum waktunya anak seumuran tersebut untuk mencari uang, apalagi pada waktu malam hari.


"Untuk salah satu solusi, mungkin jangan diberi uang, namun diberi makanan agar bisa merubah sedikit pemikiran dari pengamen tersebut dan tidak dibuat mata pencaharian"


"Tapi kalau tidak di kasih uang mereka makan apa?" tanya Vira.


"Banyak jalan menuju Roma, sayang. Salah satunya penyuluhan dari pemerintah untuk mengurangi tunawisma seperti mereka."

__ADS_1


Tunawisma adalah seseorang yang tidak mempunyai tempat tinggal (rumah). Tunawisma adalah orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari.


"Salah satunya ya mereka ini, pengemis, anak jalanan atau pengamen. Mereka juga tinggal di daerah yang kumuh, ada yang di bawah jembatan, dan tidur di emperan toko." jelas Panji.


"Om kok sekarang pinter, sih?"


"Oh ya, wah terimakasih. Kamu adalah orang ke seribu yang bilang saya pintar." Panji mencubit pipi Vira.


"Hahahaha... iya kan saja deh. Daripada di turunin di jalan." celetuk Vira.


Mobil mereka telah sampai di rumah opa Han. Kediaman opa Han yang lumayan jauh dari perkotaan. Tak membuat Vira lelah dalam perjalanan. Mama Dewi sedang duduk di teras bersama Tante Maya, salah satu kerabat jauh mereka. Tante Maya adalah keponakan dari mendiang istri opa Han.


Panji turun dari mobil membuka pintu serta menuntun Vira. Dengan gaun putih borkat, bawahnya di biarkan mengembang sesuai dengan karakteristik si pemakai.


"Wah, kalian serasi sekali pakaiannya." puji Tante Maya.


"Terimakasih, Tante." balas Panji.


Mama Dewi menuntun semua tamunya berkumpul di ruang tamu. Vira mengkerut aneh melihat semua tamu yang tidak dia kenal. Hanya Tante Maya yang dia tahu, sedangkan yang lainnya tidak ada dia kenal.


"Mereka siapa, Jaka?" tanya Vira.


"Teman arisan sosialita Bu Dewi."


"Hah! katanya acara keluarga, kok undang teman arisan, sih?" Jaka menaikkan bahunya. Dia juga tidak paham apa rencana keponakan majikannya.


"Ma, ini sebenarnya ada apa sih? kok undang teman arisan mama?"


"Bentar ya, nak." Mama Dewi menghampiri teman-temannya.


Assalamualaikum semuanya. Terimakasih sudah datang ke acara makan malam di rumah kami. Saya Dewi Savitri mengundang kalian untuk mengenalkan seseorang.


Panji sini, nak. Kamu berdiri di sebelah Tante."


Kenapa perasaanku nggak enak, ya? batin Vira.

__ADS_1


"Saya mau mengenalkan seorang pemuda yang tampan dan mapan. Di mana seseorang ini akan menjadi calon menantu saya."


Vira membelalakkan matanya mendengar pengumumannya dari sang mama.


__ADS_2