
Pagi, Bu." sapa salah satu staf pabrik menyapa seorang wanita muda.
Wanita muda itu mengenakan setelan blazer berwarna pink muda. Dengan senyum sumringahnya dia membalas sapaan para staf pabrik. Tampak seorang lelaki mengikutinya membawa beberapa barang.
"Pagi, Bu Dira. Tadi pak Burhan bilang kita ada pertemuan dengan PT. Berkah jaya dari Bengkulu. Dia sekarang menunggu ibu di ruang rapat." lapor Reno.
"Iya, nanti saya susul. Saya mau ke ruangan dulu." titah Dira pada staf nya.
Dira duduk di meja kerjanya. Sudah enam bulan dia menggantikan posisi opa Han di pabrik gula tersebut. Sesaat Dira menarik nafasnya dalam-dalam. Mendengar nama perusahaan tadi Dira tahu siapa direkturnya. Kalau dia mau membuang gengsi dia malas menemui si pemilik pabrik dari kota Raflesia.
Mantan? itu adalah bentuk dari masa lalu. Bagi Dira sosok Wawan sudah menjadi masa lalunya. Lelaki yang dulu sempat melamarnya dan hampir menikahinya ternyata suami orang. Seandainya dari awal lelaki itu jujur statusnya adalah pria beristri mungkin akan beda ceritanya. Sejak masalah itu jangankan keluar rumah, menampakkan diri di depan orang lain pun dia tak berani. Memang dia termasuk tertipu, hanya saja saat itu nyinyiran Eka tentang statusnya sebagai pelakor membuat dia serasa di kucilkan.
Setelah semua berlalu Eka pun kembali ramah padanya. Seakan sudah melupakan apa yang temannya lakukan di masa lalu. Dira pun juga tidak lagi mengambil hati atas sikap temannya.
"Bu Dira sudah di tunggu di ruang rapat." kata Mona, salah satu staf pabrik gula.
Dira beranjak dari ruang kerjanya. Sesaat langkahnya terhenti pada photo di meja kerjanya. Seakan sosok tersebut sedang membalas senyumannya.
"Mas tahu tidak siapa yang jadi klienku, Wawan, mas Wawan! dia lupa apa kalau aku punya kamu. Masih coba pedekate, setelah apa yang dia lakukan sama aku dulu.
Mas tadi aku masak ikan bakar, bukankah itu kesukaan kamu selain gudeg. Kamu selalu bilang kalau ikan buatanku tiada duanya."
Dira mengambil nafas dalam-dalam. Pandangannya masih tertuju pada sosok di dalam photo itu.
"Mas pulang, ya. Aku janji akan belajar jadi istri yang baik buat kamu. Aku janji akan ikut kamu ke Lembang. Tapi kamu pulang, ya, please." mohon Dira masih memegang photo suaminya.
"Aku yakin kamu masih hidup, aku merasakan kamu belum meninggal. Aku akan cari keberadaan kamu di desa sekitar lokasi kejadian. Aku ..." Dira merasakan sesak. Tubuhnya terhempas di kursi kerjanya.
__ADS_1
"Aku harus menemui klien dulu. Kamu tenang saja, mas. Aku nggak akan berpaling ke dia. Karena cinta aku cuma buat kamu, cinta yang tumbuh sejak 20 tahun yang lalu." Dira mencium photo suaminya, lalu meninggalkan ruang kerjanya.
Kaki jenjang mulus itu berjalan menuju sebuah ruangan tak jauh dari gudang pabrik. Sambil membalas sapaan dari staf pabrik yang melintas. Meskipun sebagai direktur sementara selama sang kakek berobat ke Malaysia. Dira tidak mau melakukan sesuatu tanpa diskusi dengan opa Han.
"Assalamualaikum" Dira menyapa semua yang ada di ruangan rapat.
Semua menandang kearah Dira. Menyambut wanita muda itu memasuki ruang rapat. Dira meletakkan laptop di meja besarnya. Salah satu staf ingin membantu Dira untuk memasang alat LCD proyektor persentasi. Dira menolak staf-nya turun tangan. Dengan gesit dia memasang alat itu sendirian.
"Kamu tidak berubah, Dira. Masih terlalu mandiri dan itu yang membuat aku jatuh cinta sama kamu, Ra. Sayangnya, ada sosok lain yang sudah memenuhi hatimu.
Tapi bukankah Arjuna sudah tiada. Aku rasa ada kesempatan untuk menebus rasa bersalahku pada Dira." batin Wawan.
"Oke selamat siang. Perkenalkan saya Medhira Utami selaku yang memimpin rapat ini. Saya sementara menggantikan pak Burhan yang sedang berobat di Malaka. Pertama saya mau memperkenalkan beberapa produk yang belum lama kami luncurkan.
Pertama kami membuat gula batu dari jagung. Produk bertujuan untuk kerjasama pada pihak dinas kesehatan kota Bogor. Tidak selamanya gula itu menghasilkan penyakit, karena jika kita memakainya sesuai takaran akan jauh dari sakit gula.
Tak hanya dari tebu, gula juga bisa berasal dari jagung. Gula jagung adalah produk substitusi pengganti gula tebu. Gula jagung biasanya digunakan di minuman bersoda atau minuman dengan rasa buah. Bagaimana dengan manfaat gula jagung, apakah sama dengan gula tebu?
Idealnya, konsumsi gula dalam sehari tidak lebih dari 10% keseluruhan asupan kalori, atau hanya sekitar 30 gram per hari. Hal ini tak hanya berlaku untuk gula tebu, tapi juga gula jagung dan makanan atau minuman lainnya yang memiliki rasa manis."
Dira mempresentasikan produk terbaru pabriknya. Semua yang ada di ruangan menyimak apa saja yang dijelaskan sang pemimpin rapat. Wawan tak hanya menyimak tentang produk saja, tapi juga terlena dengan kecantikan Dira.
Setelah acara meeting selesai semua staf meninggalkan ruangan. Kecuali Dira yang membereskan semua perlengkapannya. Setelah selesai menyelesaikan semuanya Dira melangkah keluar ruangan.
"Aku bantu ya?" suara itu datang dari samping pintu.
"Nggak usah kak Wawan. Aku bisa kok sendiri." tolak Dira.
__ADS_1
"Ra, aku tahu kamu masih jaga jarak sama aku. Tapi mohon jangan berpikiran jauh. Aku seperti ini juga untuk menjalin silaturahmi yang baik sama kamu, Ra. Aku cuma mau berteman saja. Ya meskipun kita pernah hampir menikah, toh nggak ada salahnya kita menjalin hubungan baik."
"Tapi .."
"Please, Ra, aku ..."
"Maaf, kak Wawan aku masih ada kerjaan yang lain. Permisi!" Dira meninggalkan1 Wawan sendiri di depan pintu.
Dira kembali ke ruangannya padahal sudah masuk makan siang. Semua staf yang lain berkumpul di kantin kantor. Tapi Dira tetap berada di dalam ruangan untuk memeriksa beberapa file.
"Bu Dira nggak makan siang?" tanya Retno yang diminta mengambil berkas yang belum di selesaikan opa Han.
"Saya belum lapar, No. Ini berkasnya?"
"Iya, Bu Dira."
"Yasudah kamu kembali saja ke kantin. kamu juga perlu isi perut." kata Dira tanpa menoleh ke arah Retno.
"Maaf, Bu saya mengantarkan ini buat ibu." Retno menyerahkan satu mangkuk mie soto untuk atasannya.
"Buat saya?" Retno mengangguk.
"Terimakasih, Retno."
"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu." Retno meninggalkan ruang kerja Dira.
"Bagaimana?" tanya Wawan pada Retno.
__ADS_1
"Sudah saya berikan, pak. Saya rasa pasti dimakan."
"Terimakasih, ya." Wawan merasa lega kalau Dira sudah menerima makanan kirimannya.