SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 57


__ADS_3

Sesungguhnya ku tak rela jika kau tetap bersama dirinya


Hempaskan cinta yang kuberi


Semampunya ku mencoba tetap setia menjaga segalanya


Demi cinta yang tak pernah berakhir


Kuakui aku merindukanmu


Meski ternyata


Tak pernah kau merindukanku


Tapi ku tak pernah bisa


Melakukan apa yang seharusnya kuinginkan


Karena memang kau bukan milikku


Setiap manusia akan menjalani lika-liku kehidupan yang pelik. Ribuan celaan yang menghujam hati setiap insan manusia. Jika manusia itu kuat, dia akan mencoba ikhlas yang bisa membuatnya bisa berdamai dengan hati. Jika manusia itu lemah, dia akan menyalahkan keadaan atas apa yang terjadi, bahkan tak ingin melanjutkan hidup.


Tidak ada hidup yang lurus, baik keadaan jaya maupun keadaan kekurangan. Hinaan dan cacian pasti akan ada, bahkan bisa menghancurkan rasa damai dalam diri kita.


Masih belum bisa berdamai dengan hati??


Ratusan hari bahkan mungkin sudah ribuan hari terlewati namun di dalam hati kita masih menyimpan dan memendam benci. Dia hanya manusia biasa yang di karuniai hati dan akal pikiran yang tidak mudah untuk melupakan suatu kejadian yang pernah terjadi dan menorehkan luka yang teramat dalam.


Namun alangkah indahnya jika kita mampu berdamai dengan masa lalu. Hidup kita ini bukanlah hanya untuk mengingat masa lalu tapi hidup untuk masa yang akan datang. Ada sebuah kehidupan yang baru dan yang akan siap menopang kita di kala usia kita semakin senja, jadi janganlah hati kita di isi dengan kebencian apalagi dendam. Kuburlah dalam-dalam semuanya itu janganlah sampai benci dan dendam itu tetap hidup di hati kita di kala kita sudah pergi meninggalkan dunia fana ini.


Dira hanya berharap semua mimpi buruk yang dialaminya segera berakhir. Sebuah keyakinan kuat untuk memperjuangkan nasib pernikahannya. Langkah kakinya di ayunkan pada sebuah ruang yang di penuhi ornamen kartun di setiap dinding. Bukan itu yang menjadi fokus utamanya. Melainkan hamparan padi yang menguning. Beberapa orang sudah meramaikan persawahan. Sambil bertopang dagu dia menonton kegiatan yang katanya terjadi enam bulan sekali.


Ini hari ketiga Dira berada di desa Tulang Bawang. Hari dimana dia harus bertemu setiap saat dengan Sandi. Jujur dia masih sangsi kalau berdekatan dengan Sandi. Selalu terbawa degupan jantung yang begitu besar. Selalu terbawa suasana seakan disampingnya adalah Arjuna. Hati dan pikiran berharap itu hanya halusinasinya saja.


"Naura,!" terdengar suara memanggil dari depan.


"Iya, Bu Sukma." jawab Naura.


"Kamu bisa ke rumah? Yanti mau melahirkan." Kata wanita yang di panggil Sukma tersebut.


"Bisa, Bu. Saya siapkan alatnya dulu." kata Naura langsung masuk ke dalam rumah.


"Mbak Dira bisa minta tolong jangan kemana-mana. Takutnya nanti Jimmy pulang nggak ada orang di rumah."


"Iya, mbak. Aku nggak kemana-mana." Dira memang tidak berencana untuk kemana-mana. Udara siang terasa terik membuatnya malas keluar rumah.


"Terimakasih, mbak. Saya mau pergi tolong orang melahirkan nggak jauh dari rumah Sandi. Saya pergi dulu, mbak." Naura mengeluarkan motor dan di tumpangi Bu Sukma.


Dira baru saja keluar dari WC. Tiba-tiba ada Inggar muncul di ruang tamu. Sekilas Dira kaget, dia sedang sendirian di rumah. Dan lelaki asing itu muncul di hadapannya.


"Sendirian, mbak." Suara bariton itu.


"Eh, Abang Inggar. Iya aku nunggu Jimmy pulang. Naura pergi ada orang melahirkan."


"Sini duduk aku boleh ngobrol sama kamu?"


"Boleh, lah, bang. Mau ngomong apa?" Dira pun sudah berada di samping Inggar.

__ADS_1


"Nggak ada, sih. Pengen kenal kamu lebih dekat, boleh?"


"Maaf, bang. Lebih baik kita ngobrol di luar. Tidak enak sama warga." Dira mendekati pintu rumah. Matanya membulat saat tidak menemukan kunci rumah.


"Bang, kuncinya mana?"


"Bang, Inggar!" Pekik Dira.


Wajah Dira mendadak pucat saat Inggar semakin mendekat. Tangan Inggar menarik paksa Dira agar masuk ke kamar Jimmy. Tentu saja Dira berontak. Dia menendang perut Inggar dengan kuat. Namun apalah daya, kekuatan lelaki lebih besar dari wanita.


"Aku tahu kamu wanita masa lalu Sandi. Aku tahu, kamu kesini mau merebut Sandi dari Naura! dan saya tidak akan biarkan itu terjadi."


"Tolooong!" teriak Dira.


"Kamu mau minta tolong sama siapa, manis. Warga sini malah mendukung hubungan Sandi dan Naura. Jadi kamu jangan harap ada mau menolong. Teriak saja sesukamu! hahaha....."


langsung berlari ke arah pintu. Sayang, pintunya terkunci. Seketika tubuhnya ditarik lalu kembali dihempaskan kearah tempat tidur.


Dira tetap berusaha melawan cengkeraman tangan Inggar. Dia tidak akan pernah mau di sentuh oleh lelaki lain. Apapun yang terjadi dia akan mempertahankan harga dirinya. Dira mengambil semua barang yang ada di sekitarnya. Setelah menendang Inggar hingga tersungkur, dia langsung berlari pintu kamar Jimmy. Pintu yang terkunci membuat Dira putus asa.


Lalu di tatapnya jendela kamar Jimmy ....


*


*


*


Jimmy duduk di salah satu tangga semen dekat kelasnya. Menunggu siapa yang akan menjemputnya. Beberapa kali bolak-balik handphone berharap ada yang mengabarinya. Tapi tetap saja tak ada notif atau deringan dari benda pipih tersebut.


"Kata ibu, ayah bakal tinggal di rumah beberapa bulan lagi. Kenapa bulan yang di bilang ibu lama sekali? kenapa mereka tidak langsung tinggal bersama dulu?" keluhnya.


Ting!


"Nak, ibu mau menolong orang melahirkan. Kalau seandainya ayahmu tidak jemput, Jimmy bisa kan pulang sendiri? Jimmy kan sudah gede."Pesan Naura di handphone.


"Iya, Bu. Ayah sampai sekarang belum datang. Jimmy lapar." Jimmy membalas pesan dari ibunya.


"Jimmy!" Suara bariton terdengar dari luar.


"Ayaaaah!" Jimmy berlari riang saat yang di tunggu datang.


"Maaf, ya ayah lama. Tadi isi bensin dulu. Yuk kita pulang. Sudah mau gelap."


Jimmy naik ke motor Sandi dengan duduk di belakang. Sambil memeluk erat pinggang sang ayah. Motor pun melaju menuju kediaman Naura.


Motor Sandi hampir memasuki halaman rumah Naura. Mereka di kejutkan dengan pergerakan dari jendela kamar Jimmy.


"Jimmy, kamu minta pertolongan orang-orang. Ayah kedalam dulu mau periksa apa yang terjadi." Jimmy mengangguk dan langsung berlari.


Sandi mengetuk pintu rumah Naura. Namun tidak ada yang menjawab. Beberapa kali mengintip apakah ada orang, tetap saja nihil.


"Toloooong!"


"Itu bukannya suara tamunya Naura? Ya Allah jangan-jangan ada orang jahat di dalam."


Inggar Hanya tertawa melihat jeritan Dira. Lelaki itu membuka kancing celananya. Dan mencoba menikmati tubuh Dira.

__ADS_1


BRAAAAAKKKKK!


"BANGSAAAT!"


BUUUUGH!


Sandi menghajar Inggar dengan penuh emosi. Tangannya langsung menujam kearah perut temannya itu tanpa ampun. Seperti ada emosi yang membara di rasakan lelaki itu.


"ini ada apa?" Bu Halimah datang bersama Jimmy dan warga yang lain.


Dira masih ketakutan setelah semua kejadian barusan. Bu Halimah menatap Dira dengan sinis. Seakan menyalahkan Dira atas semua yang terjadi.


"Kamu tahu ini bukan tempatmu? kenapa kamu bikin ulah, nona?"


"Bu, dia juga korban. Jangan begitulah." Bela Sandi.


"Sudah, Bu. suruh dia pulang ke Jakarta." sahut warga lain.


"Nikahkan saja sama Inggar!" sahut yang lain.


Tubuh Dira bergetar. Sesaat tangisannya pecah, dia datang untuk menenangkan diri. Bukan cari masalah di tempat lain.


"Sandi, ayo pulang! biarkan dia disini!" Bu Halimah menarik paksa Sandi meninggalkan rumah Naura.


"Tidak saya tetap disini, Bu! kasihan Mbak Dira, masa dia kena musibah di tinggalkan sendiri. Saya tetap disini sampai Naura kembali. Lagian ada Jimmy di rumah." Sandi tetap bersikukuh tidak meninggalkan Dira.


"Sandi kamu pulang saja. Saya mau pulang ke Jakarta malam ini."


"Dalam keadaan seperti ini, mbak? nggak! kalau kamu ada apa-apa bagaimana?"


"Ngapain kamu mencemaskan wanita ini? dia bukan siapa-siapa kamu, Sandi! kamu itu sudah punya Naura sama Jimmy. Jangan aneh-aneh!" Bu Halimah masih menarik Sandi dengan paksa.


Kamu ingat,mas saat aku SMP datang ke pensi sekolahmu. Hanya untuk mengantarkan surat dari Delia. Melihat kamu tampil di pensi sekolahmu.


Kamu ingat, mas. Kamu ngotot mengantarkan aku ke UKS. Dimana harusnya kamu bersiap tampil. Nyatanya, kamu rela mencarikan teman agar aku tidak sendirian di UKS.


Apa benar ini kamu, mas?


Lelaki yang selalu ada di setiap aku punya masalah.


Lelaki yang selalu sigap dalam keadaan apapun.


Visual Juna



Visual Dira



Visual Naura



Visual Awan


__ADS_1


__ADS_2