SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 25


__ADS_3

...“Di antara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah dan di antara kebahagiaan manusia adalah keridhoannya pada apa yang Allah tentukan. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya” (HR. Imam Ahmad)....


...🍎🍎🍎🍎...


Semua yang terjadi adalah kuasa Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalaninya. Manusia hanya berencana, akan tetapi hanya Allah yang akan menentukan. Sering kita mendengar kata, tugas manusia hanya berusaha dan berdoa, namun hasilnya hanya Allah yang akan menetukan, sehebat apapun manusia berusaha dan sesering apapun manusia berdo’a. Namun jika Allah belum mengijabah, belum menentukan atau belum mengabulkan, maka hasil tersebut juga tidak akan didapat. Allah maha tau segala hal yang tebaik untuk hamba-Nya.


“Dan barangsiapa berusaha, maka sesungguhnya usahanya itu untuk dirinya sendiri.”(Al-Ankabut 6)


Setiap manusia pada umunya pasti menginginkan bisa hidup tenang, bahagia, berkecukupan serta tidak ada konflik batin, seperti kecemasan, kekhawatiran dan takut dalam hidupnya. Itu semua adalah hal yang sangat manusiawai dan diinginkan oleh semua orang, tapi sayangnya, bagi beberapa orang, hal tersebut merupakan sesuatu yang kadang sulit untuk dicapai dan bahkan paling sulit untuk diraih.


Seperti saat ini, Juna merasa kalau apa yang terjadi adalah takdir yang diberikan Allah. Dulu dia mengejar cinta Dira meskipun dia sudah di jodohkan dengan Delia. Seperti kata pepatah, cinta itu bisa datang karena sering bersama. Dan itu yang dialami Arjuna ketika Delia hilang kontak selama setahun lebih. Pada Dira, Juna selalu mencurahkan kegelisahannya tentang Delia. Pada Dira, wanita yang selalu menjadi pendengar setia. Tapi siapa tahu dalam perjalanan itu hatinya malah terpaut pada gadis itu.


Gadis kecil yang selalu memanggilnya saat ada yang mengganggu. Gadis kecil yang dulu pernah bilang padanya "Kak Juna adalah suami impianku". Saat itu Juna menganggap itu hanya celotehan anak kecil. Saat itu dia hanya menganggap Dira sudah seperti adiknya sendiri. Sama seperti Ayu adik kandungnya dan sama seperti Delia, perempuan yang pernah ada di hidupnya.


Dira tak pernah mengejarnya, Dira juga tak pernah meladeni Arjuna saat lelaki itu mengajaknya menikah. Padahal status Juna masih tunangan Delia. Tapi Dira yang terkena imbas karena keluarganya menentang keinginannya. Juna juga tidak menyangka persahabatan Dira, Delia, Ayu dan Eka retak karena seorang Arjuna. Dimana Ayu mendukung Dira saat itu. Dimana Eka berada di pihak Delia.


Setelah sekian lama Juna menyadari kalau Dira memang mencintainya. Hanya saja dia lebih memilih mengalah karena memikirkan persahabatannya. Meskipun orang-orang yang dilindungi Dira tetap menghujatnya. Juna selalu berusaha ada untuk Dira. sayangnya, dia selalu mendapat penolakan dari Dira.


Itu yang membuatnya semakin gencar memperjuangkan Dira dan melepaskan Delia. Sikap jual mahal Dira membuatnya yakin kalau ada cinta di hati gadis itu. Dan akhirnya perjuangan berbuah manis, Dira menerima perasaannya bahkan menerima lamarannya.


Juna menghela nafas dalam-dalam. Saat ini dia masih belum beranjak dari sisi istrinya. Dimana Dira masih terbaring tak berdaya. Dimana dia harus merelakan calon bayinya.


"Maafkan aku, sayang. Andai aku ada disampingmu mungkin tidak akan ada kejadian ini." Juna memegang erat jemari Dira.


Dira masih betah dengan tidur panjangnya. Masih terlihat cantik walaupun tanpa make up. Masih menjadi Dira yang santai nggak neko-neko setelah menjadi istrinya. Juna mengecup siku jemari istrinya. Tangannya membelai rambut istrinya yang sudah memendek batas bahu. Padahal dia lebih suka Dira memanjangkan rambutnya. Terlihat lebih natural. Bukan berarti sekarang tidak natural. Hanya saja dimatanya Dira lebih cantik dengan rambut panjang.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Feri melihat Juna membawa tas.


"Aku mau pulang, kak. Papaku kritis." jawab Juna lemah.


"Terus kalau Dira bangun nanyain kamu bagaimana? kamu mau lari dari tanggung jawab setelah membuat Dira keguguran." Feri masih menyalahkan Juna.


"Kak .. bukan salah kak Juna itu. Lagian kak Juna juga tidak ada di tempat saat kejadian Dira." ucap Vira membela kakak iparnya.


"Tentu salah dia!" Feri menunjuk kearah Juna. "Kamu lupa dulu Dira di culik gara-gara siapa? Dia! Sekarang Dira keguguran salah siapa? Dia juga. Kalau dia mau mendengarkan permintaan Dira untuk cepat pulang. kejadiannya tak akan begini. Dira tidak akan kehilangan bayinya. Kamu tahu, Vira, dia tahu kalau ada masalah dalam janin Dira. Tapi dia malah bungkam dan sekarang kamu lihat hasilnya." amuk Feri.


"Feri! apa yang dialami Dira itu adalah garis dari yang kuasa. Bukan salah Juna. Bukankah dokter Melati bilang Juna datang menemuinya sebelum kejadian Dira. Itu artinya rentang waktunya masih dekat. Dan mungkin belum sempat Juna menyampaikan. Jadi jangan salahkan Juna.


Soal pergi ke Lembang, mama yang mengizinkan. Papanya kritis, mama tahu Dira nanti bakal nanyain Juna. Tapi bisa mama atasi. Dan kamu Juna, tadi mama kamu menelepon papamu sekarang di rujuk di Hermina Bandung. Segeralah kesana sebelum terlambat."


Juna meminta maaf kepada Feri dan mama Dewi jika saat ini belum bisa menjadi suami yang baik buat Dira. Dia juga minta maaf jika harus meninggalkan Dira di saat seperti ini. Mama Dewi masih dalam mode tenang meyakinkan Juna kalau lelaki itu sudah cukup baik dimata mereka.


Setelah pamit dari rumah sakit. Juna berjalan menuju parkiran mobil. Sebagian hatinya masih susah untuk berangkat. Tapi separo hatinya tidak tega dengan kondisi papanya. Meskipun dia sudah mengantongi izin dari keluarga istrinya. Tapi tetap saja, dia merasa kalut.


Sementara di koridor rumah sakit, tampak Tina kembali mendatangi dimana dia di kabari untuk datang kesana. Wanita berusia 28 tahun tersebut berdiri di dekat resepsionis untuk mengambil surat kematian mamanya. Semalam dia sudah mendatangi rumah sakit, juga disuruh menunggu. Lama dia duduk tak jauh dari tempat resepsionis.


"Tina," Netra nya beralih ke sebuah suara.


"Fe...ri! ngapain dia disini?" Tina mencoba mengalihkan diri.


"Na, tunggu!" Feri mengejar Tina yang masih menghindarinya.

__ADS_1


"Maaf, Feri. Saya ada urusan lain." Tina masih berdiri menjaga jarak.


"Kamu masih marah sama saya? saya paham sebenci itu perasaanmu. Tapi tolong dengarkan aku dulu.


Kamu ingat, Na. Saat aku bilang kalau Glen memacari Maria dibelakangmu. Itu sebagai bukti kalau aku takut kamu terluka. Kamu tahu betapa playboy nya Glen tapi kamu masih bertahan bersamanya. Itu sudah membuat aku sakit.


Kamu ingat saat bekerja di kantorku sebagai OB. Awalnya aku memang masih sakit hati sama kamu. Karena kamu pernah menolak ku dengan mempermalukan di depan satu kelas dan satu sekolah. Karena Glen juga menjebakku dengan memasukkan barang haram ke mobilku. Tapi rasa kecewa dan benciku kalah dengan cinta yang masih ada disini. Masih kalah, Na. Dan itu yang membuat aku kembali mencoba memperjuangkan kamu."


"Terus mau kamu apa? kamu tidak cinta sama aku tapi cuma kasihan. Bukannya kamu berharap aku menderita kan, sampai-sampai kamu mengancam Glen untuk menceraikan aku. Bukannya ini yang kamu mau, tuan Feri Andreas."


"Na, aku ..." Tina berjalan menjauhi Feri.


"Tolong jangan ganggu saya lagi, pak Feri. Saya mohon biarkan saya hidup tenang. Kamu cukup buka hati untuk kak may..." Tina terdiam seketika tubuhnya di tarik berlabuh diatas dada lelaki itu.


"Saya mohon lupakan soal kita, terimalah kak Mayka. Bukankah kalian sudah di jodohkan sejak kecil."


Juna sudah berada dalam perjalanan menuju ke Bandung. Hujan semakin deras membuatnya kesulitan melihat jalan. Sesekali dia berhenti untuk membersihkan kaca mobil. Dia baru menyadari kakinya masih terasa sakit saat menginjak pedal mobil. Namun itu masih bisa dikuasainya.


Juna masih melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tampak ada dua motor mencoba menyalip mobilnya. Langit pun masih semakin gelap. Juna mencoba tidak terfokus pada dua motor yang masih mencoba menyalip dirinya. Salah satu motor mencoba melemparkan sesuatu ke kaca mobil Juna. Keseimbangan Juna pun mulai oleng.


"Ya Allah, aku tidak bisa mengendalikan mobil." Juna terus mencoba mengendalikan mobilnya.


Daan ....


"Aaaaaaa......"

__ADS_1


Mobil Juna menggelinding di kearah danau. Dalam saat ini Juna sudah tak sadarkan diri karena terbentur setir. Mobil yang sudah remuk pun tenggelam dalam danau.


__ADS_2