SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 127


__ADS_3

Sinar cerah keemasan matahari takkan pernah bosan menyapa. Sembari memberitahu bahwa sebuah kesuksesan ada diseberang. Meminta agar segera di jemput. Dengan lambaian tangan lembutmu. Ketika matahari sudah menunjukan diri. Itu seperti menandakan kita lahir lagi ke dunia. Jadi apa yang kita lakukan di hari yang cerah ini. Merupakan sebuah penentu utamamu di masa depan.


Saat sebuah sinar terang di pagi hari. Menjanjikan sebuah harapan yang besar. Seraya merayu untuk menangkapnya. Harapan selalu menunggu di pagimu yang cerah.


Sebuah pengalaman adalah sebuah sepotong dari cerita kehidupan. Banyaknya pengalaman yang di dapat. Semakin menjadikan hidup semakin lengkap. Semangat pagi. Berjuang mengumpulkan sebanyak mungkin pengalaman. Dengan penuh senyum ramah.


Di balik selimut bermotif Paris, seorang gadis muda masih asyik dengan dunia mimpinya. Meskipun terik matahari sudah berada di atas. Namun tak membuat gadis itu terbangun.


Deringan telepon benar-benar mengganggu hari liburnya. Tangannya meraba samping kasur mencari asal suara.


"Ma, ada telepon!" pekiknya.


Tak ada jawaban. Dia pun bangkit melihat di sekitarnya. Masih di rumah opa. Seingatnya tadi malam dia tidur sama mamanya. Tapi sekarang mamanya entah kemana.


Netranya beralih ke asal suara handphone yang entah ada dimana. Kamar yang terlihat sedikit berantakan membuatnya kesulitan mencari benda pipih tersebut.


"Dapat!" serunya.


Tubuhnya yang semok kembali mendarat ke tempat tidur. Membuka pesan dari Elsa. Sepertinya temannya itu sudah banyak menghubunginya. Vira pun menelepon balik Elsa.


"Assalamualaikum," sapa Vira setelah teleponnya diangkat.


"Waalaikumsalam,Ra. Heboh, Ra!"


"Apa yang heboh, Sa?"


"Kayla, Ra! Kayla!" lagi-lagi suara Elsa berteriak membuat pendengaran Vira terganggu.

__ADS_1


"Nggak usah pakai teriak segala, Sa. Sakit telingaku dengarnya. Ada apa, sih!"


"Kayla tidak jadi menikah. Karena sudah ketahuan hamil. Calonnya nggak terima. Makanya di batalkan. Terus katanya perusahaan punya calon mau di tarik oleh papanya Kayla."


"Kurang ajar tuh orang, ya! udah hamilin Kayla, eh dia tidak mau tanggung jawab. Enak benar, playing victim tuh cowok, dia yang hamilin. Merasa tersakiti."


"Jadi kamu sudah tahu kalau Kayla hamil. Jadi itu bukan gosip semata, Ra." Vira menepuk jidatnya. Saking kesalnya dia lupa kontrol mulut. Sekarang dia yang kelimpungan setelah Elsa tahu semua.


"Aduh, mulut! kenapa nggak bisa di jaga, sih! Lagian juga kenapa dawa membatalkan pernikahannya. Pasti mau lepas dari tanggung jawab. Dasar laki-laki laknat! awas saja aku viralkan tahu rasa!" batin Vira yang sudah geram dengan tindakan Dawa.


"Ra, kamu masih di sana?" Sapaan Elsa membuyarkan lamunannya.


"Eh, iya, Sa." Vira kembali meladeni telepon Elsa.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi. Apa benar Kayla hamil?"


"Eh, siapa yang bilang? kan tadi kamu yang bilang kalau pernikahan mereka batal karena Kayla hamil.'' Kelit Vira.


"Loh kok jadi kamu yang insecure. Aku nggak merasa seperti itu, Sa. Toh waktu aku sama kamu lebih banyak daripada sama Kayla. Seorang Elsa kok mindernya sama Kayla. Kamu itu diatas Kayla, lebih kaya lebih dari segalanya. Ya aku bukannya nyombongin diri, tapi Kayla sendiri yang sering datangi aku. Masa aku usir kan nggak mungkin."


"Jadi bener tidak Kayla itu hamil? kasihan intan banyak yang nanya sama dia. Pasti meresahkan dong. La intan kan memang sepupunya tapi kan nggak tahu kehidupan pribadinya Kayla." cerocos Elsa.


"Dahlah, tidak usah di pikirin. Ngapain kita kepo dengan kehidupan orang lain. lebih baik kita urus diri sendiri saja. Kamu lagi ngapain, Sa?


Ra, aku mau nanya? kamu pernah dengar PT. Madu Berkah. Soalnya beberapa hari papaku sering kesana. Malah ada rumor kalah aku mau di jodohkan sama pemiliknya yang masih bujangan."


"Huaaaaahhhaa... Huaaaaahhhaa..." Vira tertawa lepas mendengar ucapan Elsa.

__ADS_1


"Emang ada yang lucu, Ra?"


"Aku bilang nggak ya kalau itu pabriknya om Panji. Tapi kalau kasih tahu sekarang nanti nggak seru, dong. Ya sudah aku diam saja. Biar Elsa tahu sendiri."


"Kamu dimana? aku main ke rumah ya." kata Elsa.


"Aku di rumah opa Han. Tadi malam ada acara keluarga. Kan hari ini Sabtu jadi nggak ada kuliah. Dah ya aku masih ngantuk, masih pagi banget udah diajak bergosip."


"Apaan pagi, Savira. Ini sudah hampir jam sembilan pagi. Haduh, mentang nginap di rumah opa. Nggak ada mamanya yang ngomel jadinya kamu keenakan." omel Elsa.


"Apaaaa! jam sembilan pagi!" Vira mengecek handphonenya. Benar sudah pukul 08. 55, Vira pun pamit untuk mandi.


Selesai membersihkan diri, Vira pun meninggalkan kamar tamu. Kamar yang selalu di siapkan opa Han untuk keluarga besarnya. Terkhusus cucu-cucunya. Rumah yang besar hanya di tempati lelaki tua tanpa anak dan istri. Maka itu Opa Han sayang menyayangi mereka semua.


Kaki Vira terhenti saat mendengar obrolan mamanya dengan Tante Maya.


"Kamu yakin dengan rencana semalam. Ya aku tahu tradisi yang di terapkan om Burhan yaitu sayembara jodoh. Sama seperti aku, saat mas Rawis mempersuntingku karena di jodohkan om Burhan. Sama seperti kamu dengan mantan suamimu.


Dira dan Feri juga begitu kan. Cuma sekarang zaman sudah maju, Dewi. Bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Nggak usah pakai perjodohan segala. Kalau pun iya, kamu salahnya tidak bicara sama Vira."


"Maya, aku tahu sekarang bukan zamannya jodoh menjodohkan. Tapi aku cuma siaga, aku takut adiknya Padma datang kembali mendekati Vira. Aku tidak lupa saat mereka kecil tidak bisa terpisahkan. Tapi sekarang dia muncul, dan aku yakin dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan yang pernah dilakukan Padma padaku."


"Kamu itu berlebihan Dewi. Kalau pun iya adiknya Padma muncul dan mendekati Vira. Kan semua tergantung sama Vira, belum tentu juga dia mau sama lelaki itu.


Dahlah... " Kaki Mala terhenti saat melihat Vira berdiri menguping pembicaraan mereka.


"Anak gadis baru bangun? alamak Vira. Gimana mau dapat pasangan kalau bangun saja kesiangan. Kamu baru selesai mandi, ya. Sudah sarapan belum tadi Tante masak mie seblak. Kata mamamu kamu suka seblak." Maya mencoba mengalihkan pembicaraan agar Vira lupa apa yang dia dengar dari obrolan mereka.

__ADS_1


Benar saja, Vira langsung ke dapur memeriksa menu yang dibawah tudung. Tanpa pikir panjang dia langsung mengambil mangkuk memindahkan bahan yang terpisah menjadi satu tempat. Di samping dia lapar sekali, kepikiran soal Kayla.


"Awas kamu Pandawa! akan aku labrak dia biar malu satu kantor. Kalau perlu aku viralkan biar koleganya tahu seberapa bejatnya kamu. Enak saja sudah hamilin Kayla dia main kabur saja!"


__ADS_2