
Seorang perempuan duduk di antara para ibu-ibu yang membawa anaknya. Sebagian dengan perut yang sudah membesar. Ada ruangan khusus untuk USG. Kini tubuhnya sudah rebahan di tempat tidur khusus pasien. Bidan Ratih sudah berdiri di dekat pasiennya.
"Assalamualaikum, Bu Dira dan pak Arjuna," sapa bidan Ratih terdengar ramah.
"Waalaikumsalam, Bu bidan" Juna memunggungi Dira berbalik dan tersenyum membalas sapaan bidan Ratih dan asistennya.
"Wah, pasangan orang nomor satu dari pabrik Bramantyo," sahut asisten bidan Ratih.
"Bu Dira bisa berbaring biar saya periksa kandungannya. Tapi maaf kalau mau USG sebaiknya ke dokter Tara saja. Itu ada di bilik seberang." jelas Bidan Ratih.
"Baik, Bu bidan. Tapi karena sudah terlanjur disini saya mau istri saya di periksa sama anda dulu."
"Sayang kira-kira dokter Tara itu laki-laki apa perempuan?" bisik Juna.
"Dari namanya saja sudah kelihatan kalau itu perempuan, Mas," balas Dira.
"Kan jarang dokter kandungan cewek. Takutnya cowok nantinya,"
"Bu Dira, pak Juna apa sudah siap di periksa?" Juna yang mendengar panggilan bidan Ratih langsung melepaskan tubuh istrinya yang sempat bersandar di dadanya.
"Maaf pak Juna, saya periksa istrinya dulu," ujar asisten bidan Ratih.
"Iya tidak apa-apa," jawab Juna ramah lalu berpindah ke kursi besi di depan meja kerja bidan Ratih.
"Detak jantungnya bagus. Tensinya juga normal. Bu Dira harus rajin makan buah dan sayuran, kalau bisa susunya di ganti sama susu kedelai jangan susu sapi,"
"Kenapa, Bu bidan?" tanya Juna.
"Susu kedelai mengandung protein, serat, kalsium, fosfor, dan nutrisi lainnya yang penting untuk ibu hamil dan menyusui. Mengonsumsi susu kedelai dipercaya bisa bantu tingkatkan energi, penuhi kebutuhan protein, hingga mencegah anemia.
Susu kedelai adalah alternatif sumber protein dan asam omega-3 yang baik dikonsumsi ibu hamil dan menyusui. Sebaiknya, ibu memilih susu kedelai organik yang bebas pestisida sehingga tidak menyebabkan reaksi alergi selama meminumnya.
Sepasang suami-istri yang baru pertama kali memeriksa kandungan tampak sumringah saat wanita berhijab putih menulis diatas buku berwarna pink.
"Bu Dira ini adalah buku KIA, buku ini panduan selama ibu hamil. Setiap ada posyandu ataupun ibu mau kontrol ke puskesmas jangan lupa membawa buku ini" Kata Bidan Ratih.
"Terimakasih, Bu bidan," ujar Dira.
Dira dan Juna meninggalkan praktek milik bidan Ratih. Beberapa ibu hamil yang sudah mengantri menyapa Arjuna sebagai pemilik pabrik teh Bramantyo. Sebagian dari mereka menatap Dira penuh arti. Entah itu kagum atau mungkin sinis. Hanya mereka yang tahu.
__ADS_1
"Mas, itu Antara bukan sih?" Dira menunjukkan pria berjas putih sedang mengobrol asyik.
"Emangnya kenapa?"
"Ya Allah, dia ganteng ya sekarang. Beda dengan yang dulu. Nggak nyangka dia sudah jadi dokter," Dira masih menatap takjub lelaki berparas Eropa itu.
Siapa yang tidak kenal sama Antara, teman kuliah Arjuna yang sempat mendekati Dira. Antara yang dulu culun tapi pintar selalu ikut main ke rumah hanya untuk bertemu Dira. Sayangnya semester lima antara pindah jurusan ke kedokteran. Tapi masih sempat main sama Juna dan Feri hanya demi melihat Dira.
"Kak Tara," panggil Dira.
Lelaki itu menoleh kearah mereka. Sama seperti mereka, Antara pun kaget siapa yang dia temui di posyandu.
"Dira! ya Allah, kamu apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik Kak Tara. Wah, tidak menyangka kita bertemu disini,"
"Mas Juna, ..." panggil Dira.
Juna berjalan kearah Dira dan Antara. Mimik wajah lelaki itu menampakkan kecemburuan pada Antara. Juna tidak lupa bagaimana perhatiannya antara sama Dira saat gadis itu masih SMA.
"Jadi suami kamu Arjuna?" Dira mengangguk.
"Aku kira Juna sudah jadi mantu nya tuan Shahab. Siapa tuh nama ceweknya Adel kalau nggak salah, ya kan?" Antara sambil tertawa menceritakan Juna dan Delia.
"Kok, pulang, Mas?"
"Kontrol nya sudah selesai. Jadi lebih bagus langsung pulang ke rumah"
"Apa karena kak Tara?" Juna hanya diam tanpa memperdulikan pertanyaan Dira. Langkah kaki mereka terhenti di depan motor.
"Mas jangan kayak anak kecil, deh. Masa hanya karena kak Tara kamu jadi ngambek kayak gini, please, deh,"
Juna mengusap wajahnya dengan kasar. Berkali-kali mengucapkan astaghfirullah. Dira memegang tangan suaminya. Mengelus pucuk rambut lelaki halalnya.
"Kamu sendiri yang pernah bilang sama aku. Tidak ada perempuan lain yang bisa menggeser aku di hatimu. Tidak ada laki-laki lain yang bisa aku dari sini" Dira memegang letak jantungnya. Membuktikan pada suaminya tak akan ada yang bisa menggantikan Arjuna. Keduanya sama-sama menunduk malu-malu.
"Maafkan aku sayang. Bukan maksudku untuk membuat kamu sedih. Aku hanya takut pesona Antara bisa mengalihkan duniamu,"
"Mas, tidak ada orang lain yang bisa mengalihkan duniaku selain kamu dan anak kita. Kalau kamu takut aku berpaling dari kak Tara. Artinya kamu tidak percaya sama kekuatan cinta punya aku. Kekuatanku cuma ada tiga Allah, kamu dan anak kita,"
__ADS_1
...*****...
Di sudut lorong rumah sakit, sepasang kaki melangkah tanpa tahu kemana arah tujuan. Entah beberapa kali dia mengelilingi area rumah sakit, entah beberapa kali dia mengabaikan rasa perih di dalam perut. Dia tidak peduli rasa sakit dan lelahnya kaki melangkah. Kalau harus membahayakan kandungannya tidak masalah.
"Non, Kayla, anda sudah di panggil tadi," salah satu asisten Irul mendapati anak bos nya masih berada di luar ruangan.
"Non," asisten Irul masih bersabar dengan sikap aneh Kayla.
"Saya tidak mau periksa. Mending anak ini mati saja, daripada dia hidup tidak ada yang mau menerimanya. Papa kandungnya hilang entah kemana? kak Dawa juga ninggalin aku! nggak ada yang sayang sama aku! toh papa juga minta anak ini mati perlahan-lahan. Sama kayak dia membunuh kandungan..." Asisten Irul langsung menutup mulut Kayla.
"Non jangan keras-keras, nanti kalau ada yang dengar bisa kacau. Kita tidak tahu kan siapa tahu ada orang terdekat Pandawa yang datang."
"Non Kayla bisa saja membocorkan rahasia tentang Padma. Aku harus lapor sama pak bos,"
Kayla melepaskan bekapan dari anak buah papanya. Tanpa peduli panggilan sang asisten, Kayla naik taksi yang kebetulan mangkal di depan rumah sakit. Dia tahu asisten papanya pasti tetap mengejarnya.
Di dalam taksi dia hanya menangis sesenggukan. Meratapi nasib dirinya dan bayinya. Kepalanya menyandar di dekat jendela taksi.
"Jo, kamu dimana?" batinnya.
Di saat seperti ini Jordy selalu menjadi penguat laranya. Kayla tertidur karena tubuhnya merasa sangat lelah.
"Mbak bangun, saya mau kerja?" Kayla terbangun saat ada yang mengguncang tubuhnya. Pelan-pelan dia membuka matanya. Tampak pak sopir menatap tidak ramah.
"Saya dimana?" tanya Kayla.
"Di tempat tadi, mbak. Rumah sakit. Sekarang mbak turun saya mau pulang ini sudah sore, sekalian bayarannya," tagih sopir taksi.
"Berapa?" kata Kayla sambil membuka tas nya.
"500 ribu," Kayla membulatkan matanya. Kepalanya mendongak ke arah argo ternyata tidak sampai seperti yang di sebutkan.
"Itu di argo 350 ribu," protes Kayla.
"Karena situ tidak bilang kemana tujuannya. Malah tidur kayak kebo," cerocos pak sopir taksi.
"Ini," Kayla tetap memberikan sesuai yang tertera di argo.
Kayla meninggalkan taksi dan berjalan sendiri tanpa lelah. Handphonenya sedari tadi dia non aktifkan sekarang di hidupkan kembali. Banyak panggilan tak terjawab di handphonenya. Namun satu yang membuatnya lama terfokus.
__ADS_1
"Kay, kamu dimana? bagaimana kabar anak kita?"
Kayla melemaskan kakinya. Tubuhnya terduduk di rerumputan, dia malu pada Jordy yang dulu dia campakkan.