
Sore ini langit tampak cerah. Tak ada tanda akan hujan turun. Seorang lelaki muda berjalan ke sebuah gedung dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Seharusnya dia akan datang siang tadi. Tapi pekerjaannya masih belum selesai, maka dia baru bisa keluar sore hari. Helaan nafas berat pun terdengar dari bibirnya. Masih dengan kemeja yang di tutupi jaket kulit, kakinya menguntai mengikuti suara desiran angin yang berhembus. Tampak beberapa daun kering jatuh di pelataran gedung tersebut.
Gedung itu adalah gedung lapas umum..
Dimana beberapa orang harus menjalani hukuman karena kasus kriminal. Baik kriminal pidana maupun perdata. Lelaki itu masih berdiri mematung sembari menghirup udara segar. Pelataran lapas yang masih bersentuhan dengan alam. Lokasi lapas yang jauh dari perkotaan.
Langkah kakinya terhenti saat getaran di sakunya. Secepatnya dia mengangkat telepon dari sekretarisnya, Theresia.
"Iya, Tere,"
"Pak, Ini ada klien yang mau ketemu anda," lapor Theresia.
"Oh saat ini saya belum bisa kesana, tolong bilang sama mereka saya belum bisa menemui mereka. Urusan saya banyak atau kamu handle menggantikan saya,"
"Tapi, pak ..."
"Saya percaya sama kamu,Tere," Panji langsung menutup teleponnya. Saat ini dia lebih mementingkan urusan soal Vira ketimbang hal yang lain.
Langkah tegap memasuki ruang lapas. Salah satu petugas pun menyambut kedatangannya. Suasana ruang jenguk sangat sepi. Hanya dirinya sendiri yang berada disana.
"Saya bisa bertemu pak Adrian," kata Panji ketika sampai di lapas tempat Adrian berada.
Petugas lapas meminta Panji menunggu. Duduk di sebut kursi berbahan kayu sambil bermain handphone menunggu kedatangan Adrian. Banyak hal yang mau dia tanyakan perihal penculik Vira. Dia harus membantu keluarga mama Dewi.
Alasannya simpel, dia ingin meraih kembali cinta Vira. Dia ingin Dewi memaafkan dan kembali mempercayakan Vira pada dirinya. Toh, Elsa dan keluarganya sudah menolak dirinya. Tak ada lagi penghalang untuk mendapatkan cinta Savira.
"Pandawa sudah merelakan Vira untukku, itu artinya dia tidak akan menghalangi urusanku lagi. Kalau Vira masih menolakku sudah pasti dia masih marah soal aku dan Elsa. Itu tandanya aku harus berusaha lebih keras lagi," batin Panji.
"Panji," suara Adrian membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
"Om," Panji pun ikut duduk berhadapan dengan Adrian.
"Ada apa? aku kira kamu nggak akan mau kesini. Sama kayak Randi dan Mia, mereka tidak ada yang satu pun datang menjengukku," keluh Adrian.
"Kalau saya jadi mereka juga tidak akan mau datang ke sini. Malu, om, sudah tua, banyak tingkah pula,"
"Jadi mau kamu apa kesini, Panji? mau ngomel-ngomel, nasi sudah jadi bubur. gara-gara om, Vira tidak mau menerima aku lagi. Dia malah benci sama aku,"
"Hahahaha... jadi kamu menyalahkan aku atas sikap Vira. Gila, benar-benar gila! Seorang Panji mengemis cinta sama gadis kecil, ya wajar kalau dia tidak mau terima kamu. Selain dia sakit hati atas gagalnya pertunangan kalian. Dia juga sudah punya sosok lain,"
Panji mengerutkan dahinya, posisi duduknya di rapikan. Mendengar lebih jelas apa yang akan di ceritakan. Adrian tersenyum simpul, ada rasa puas kembali mencuci otak lelaki itu.
"Kamu tahu Panji, saat Vira di sekap ada lelaki yang juga ikut di sekap. Kamu tidak akan menyangka kalau dia punya hubungan sama Savira. Memang, ya sudah dari bibitnya seperti itu,"
"Langsung to the point saja om,"
"Vira dan Dawa itu saling mencintai. Ya memang dua-duanya saling mengelak tapi sorot mata mereka yang bicara.
"Maksud, Om?"
"Irul sudah membunuh Pandawa. di depan mata Savira saingan kamu itu mati!"
"Apa! Dawa sudah meninggal, om yakin?" Adrian mengangguk.
"Tapi kenapa harus di hadapan Savira, Om? nanti kalau psikisnya terganggu bagaimana? kalau melakukan sesuatu di pikir dulu, Om!" suara Panji meninggi. Mencengkeram leher baju Adrian. Membuat salah satu petugas menegur Panji.
"Mana aku tahu bakal berakhir seperti itu, yang tahu masalah ini ya Khairul. Dia yang punya dendam pada Pandawa dan Savira. Om cuma minta sama Irul menyekap Vira, karena gara-gara dia kamu gagal menjadi menantu Irwan Chandra,"
"Itu bukan urusan aku! jangan om pikir aku tidak tahu apa yang om pikirkan. Anda mau menjual saya melalui perjodohan itu, kenapa tidak sodorkan Randi atau Mia untuk jadi alat rencana anda.
__ADS_1
Oh ya saya tahu, karena mereka tidak tunduk pada anda. mereka membenci anda, dari dulu sampai sekarang,"
"Kau tahu itu, maka ...."
"Dengar, ya tuan Adrian. Saya tidak akan pernah memaafkan anda. Karena sudah mencelakai kekasihku,"
"Hahaha... terlambat kamu Panji. Mereka sudah membencimu," Panji mengepalkan tangannya erat-erat.
Panji kembali tersulut emosi melayangkan pukulannya ke wajah Adrian. Para petugas mencoba melerai. Mereka memisahkan Adrian dan Panji. Namun bak orang kerasukan Panji terus mengamuk memukul kembali wajah Adrian.
Adrian terus merintih kesakitanku, dia tidak bisa melawan karena memang tidak punya kepandaian dalam berkelahi.
"Seandainya saya tidak mendengarkan apa yang om bilang, mungkin saat dia sudah menjadi tunangan saya. Mungkin kami sedang membahas soal pernikahan saat ini.
Tapi om malah masuk ke dalam hubungan kami, merusaknya demi ambisi anda. Hah! ada yang culas seperti anda. Untung saja Tuhan sudah membuka mata kami. Termasuk membuka mata Om Irwan?!!" Amuk Panji.
Tetapi Adrian tetaplah Adrian, dia malah tertawa melihat reaksi Panji.
"Seharusnya kamu menyadari kalau yang membuat Vira di sekap adalah kalian berdua. Kamu dan Pandawa, karena dari pihakku kamu lah yang memicu semua ini. Sedangkan dari pihak Irul, Pandawa lah yang membuat Irul ingin menculik Savira. Target Irul utamanya adalah Pandawa, karena dendam dengan keluarga Pandawa. Dan target aku adalah kamu, Panji," Adrian tertawa semakin tinggi. Dia pun meminta petugas lapas untuk membawanya kembali ke sel.
"Mas," suara wanita berada di belakang Panji.
"Hai, Anne kenapa kami kesini?" Adrian menyapa dengan santai pada istri mudanya.
"Saya kesini mau berikan ini," sebuah amplop bertuliskan pengadilan agama.
"Kamu mau menceraikan saya? hahahaha.... emang nya ada yang mau sama kamu Anne? kamu kan saya beri kemewahan jauh sebelum istri saya meninggal. Saya dan orangtua kamu memang sudah mempersiapkan ini untuk masa depan. Dan sekarang kamu akan melepaskannya,"
"Saya tahu, kamu dan orangtua saya yang bejad itu saling berhubungan. Tapi saya pun sudah tidak kuat lagi dengan kelakuan anda yang sombong. Padahal anda seperti ini karena harta mendiang istri anda. Entah kapan anda akan bebas tidak ada yang tahu. Mungkin orang seperti anda lebih baik membusuk di sini,"
__ADS_1
Anne pun melihat Adrian menandatangani surat gugatan perceraian yang di ajukannya. Setelah itu dia pun meninggalkan ruang lapas tanpa sepatah katapun.