
Feri baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ini hari minggu terakhir dia berada di kantor. Beberapa hari kedepan dia akan menjalani pingitan sampai waktu yang dinanti akan tiba. Feri mengambil handphonenya mencoba menghubungi sang kekasih. Kapan lagi mereka bisa bertemu lagi sampai dua minggu ke depan. Setelah nantinya mereka sah menjadi suami dan istri.
Sesaat pandangannya terarah pada sebuah photo diatas meja kerjanya. Senyumnya mengembang mengingat perjalanan cintanya. Tak disangka hatinya berlabuh kembali ke Tina. Perempuan yang dulu sangat dia puja. Perempuan yang dulu membuatnya di bully satu sekolah. Saat itu dia awalnya berharap Tina bisa lepas dari Glen. Karena lelaki itu tak baik untuk Tina.
Selesai membereskan beberapa pekerjaan Feri berencana meninggalkan ruangan. Dia berencana menemui Tina mengajak calon istrinya makan siang bersama. Apalagi ini minggu terakhir pertemuan mereka sebagai sepasang kekasih.
"Pak," suara Tari menyapa dirinya.
"Iya, Tari."
"Ada yang mau bertemu bapak."
"Siapa?" Feri merasa tidak punya janji dengan orang lain. Lelaki 29 tahun itu berjalan menuju lobby kantor.
Seorang lelaki muda duduk santai di kursi paling sudut. Sesekali melirik jam lalu berpindah ke handphone. Sudah pasti dia gelisah karena yang di tunggu tak kunjung datang.
"Glen," lelaki itu mendongak ke atas.
"Akhirnya kamu datang juga. Aku pikir kamu nggak akan mau menemui aku. Maaf kalau aku mendadak, soalnya sore ini aku mau ke Surabaya. Bantu usaha kecil orangtuaku."
Feri duduk di depan lelaki rivalnya itu. Entah masih bisa di sebut rival atau bukan, pastinya karena lelaki di depannya adalah mantan suami calon istrinya.
"Selamat, ya. Akhir kamulah yang memenangkan hati Tina. Setelah persaingan kita di masa SMA dulu. Dan aku sempat membuat kamu begitu dendam. Hingga kamu ikut terlibat dalam penggulingan perusahaan yang aku pegang. Sebenarnya perusahaan Tina belum mati sepenuhnya. Semua sudah diatur sama om Amran. Sayangnya Tina tidak percaya dengan apa yang aku jelaskan." jelas Glen.
Feri mengerutkan dahinya setelah mendengar cerita Glen. Antara percaya dan tidak percaya. Apalagi mengingat Glen memang tidak bisa di percaya. Tangan Feri melipat menutupi dadanya.
Glen paham tidak akan mudah membuat Feri percaya padanya. Tapi dia tidak menyerah. Urusan percaya atau tidak itu soal belakangan. Yang penting dia sudah berusaha mengatakan sebenarnya.
"Jadi apa tujuanmu kesini, Glen?" masih dengan nada datar.
"Glen?" sapa suara lembut yang muncul dari belakang Feri.
"Kamu kesini juga? Tidak apa, itu lebih bagus."
"Ada apa, mas?" sapa Tina menyalami tangan Feri layaknya istri dan suami.
"Glen katanya mau pamit." kata Feri.
"Kamu mau kemana, Glen. Aku pengen kamu datang ke pernikahanku dua minggu lagi." kata Tina setelah melabuhkan tubuhnya di kursi sebelah Feri.
"Aku mau pulang ke Surabaya. Mama sudah sakit-sakitan, papaku pergi tidak ada kabar. Giana, sejak menikah tidak pernah datang lagi ke rumah. Padahal mama lah yang menjodohkan Giana dan Hendri, suaminya.
Mama punya usaha kue kecil-kecilan. Dulu Giana mau membantu, tapi sejak dia menikah mama yang mengerjakan sendirian.
Tina, mama ingin sekali bertemu denganmu. Mama merasa bersalah atas yang dulu dia lakukan sama kamu dan keluargamu. Saya juga mewakili papa dan juga Giana, minta maaf sama kamu, Na.
__ADS_1
Maafkan saya selama menjadi suami kamu tidak pernah membahagiakan kamu."
"Glen, aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum aku pergi dari rumah. Aku tahu diri, saat kamu bilang akan menikahiku, ada harapan besar yaitu kebahagiaan materi bukan rohani.
Aku lupa kalau ternyata apa yang terjadi pada keluarga adalah teguran dari Tuhan. Aku lupa kalau sakitnya papa juga teguran dari Tuhan. Tapi aku tidak menyangka saat itu aku bukanlah istri melainkan pekerja rumah tangga. Aku dinikahi untuk di jadikan pembantu bukan seorang istri. Aku bahkan..."
"Feri, Tina itu masih virgin, aku belum sempat menyentuhnya apalagi memberikan nafkah batin buat dia. Aku terlalu terlena dengan apa yang aku capai selama ini. Pulang malam, menginap di klub malam. Itu yang aku lakukan selama enam bulan pernikahan kami. Maafkan aku, Tina.
Sebelum aku berangkat dan kamu menikah, aku mau mengurus proses perceraian kita. aku memang menalakmu karena ancaman Feri. Tapi saat ini aku akan menalakmu secara resmi. Tina mulai sekarang kamu bukan lagi istriku."
"Baik, ceraikan aku, Glen." ucap Tina tanpa tersulut emosi. Dia bicara dengan tenang pada mantan suaminya. Ini yang dia tunggu selama ini.
Glen hanya menunduk. Walaupun sebenarnya dia masih mencintai Tina, tapi dia sadar apa yang dia lakukan selama ini melukai hati mantan istrinya. Glen pun sudah ikhlas karena dia sendiri lah yang menalak Tina secara agama.
"Titip Tina, jaga dia dengan baik. Kalau aku dengar dia bersedih lagi. kau orang pertama yang aku bunuh." ucap Glen seperti ancaman.
Setelah Glen pamit. Tina dan Feri duduk bersama. Keduanya mendadak hening setelah pertemuan tadi. Tina bingung harus menjelaskan dari mana. Hampir satu tahun mereka menunda rencana pernikahan karena banyak hal. Dan sekarang mereka harus menyelesaikannya status Tina yang sudah lama menggantung.
"Kenapa baru sekarang dia bilang begitu? kenapa tidak beberapa waktu yang lalu saat rencana pernikahan kita masih jauh? kenapa banyak sekali masalah yang harus kita hadapi?"
"Maaf, mas Feri." ucap Tina sambil menunduk.
"Kita ini pasangan kan, Tina. Kenapa kamu tidak pernah berterus terang dengan status kamu yang belum di talak secara langsung. Kenapa kamu masih banyak menutupi hal ini?
Tina meninggalkan Feri yang masih kesal setelah mendengar pernyataan Glen. Sesaat dia sadar kalau sikapnya menyinggung perasaan Tina. Dengan cepat Feri mengejar kekasihnya. Ada perasaan bersalah sudah memarahi calon istrinya. Padahal dia tahu status Tina yang di talak Glen karena dendamnya yang dulu.
"Maafkan aku, Tina." Batin Feri.
Tina duduk di sebuah pelataran mesjid Istiqlal. Hatinya sedikit sesak dengan sikap Feri. Suara Feri yang menggelegar seakan menyalahkan dirinya. Sejenak dia mendengar sayup-sayup ceramah dari dalam mesjid.
“Godaan menjelang pernikahan itu diberikan supaya hati kita lebih mantap. Kiasannya, kita tidak akan jago naik sepeda kalau tidak pernah terjatuh.
Ujian yang menimpa seseorang itu diberikan untuk melihat seberapa besar kesabarannya, serta seberapa besar ia memantapkan diri kepadanya Ini juga agar kita bisa lebih hebat dalam melewati cobaan ketika sudah berumah tangga.
Godaan yang datang adalah pengingat bagi kita bahwa pernikahan itu bukanlah permainan, maka sebelum masuk ke dalamnya, kita diberikan banyak ujian,” isi ceramah dari seorang ustad.
Tina berjalan memasuki mesjid terbesar se-Asia. Duduk di sudut ruangan menyimak semua yang di jelaskan dengan pak ustad.
"Aku nggak bermaksud menghambat rencana pernikahan kita. Tapi entah kenapa ada saja masalah yang datang. Dan masalah itu malah dari masa lalu ku. Apa itu artinya memang sudah pertanda kita memang tidak di takdirkan bersama.
Maafkan aku, Feri."
"Aku juga minta maaf, Tina. Tidak seharusnya aku menyalahkan kamu atas semua yang terjadi. Padahal aku tahu soal tapi karena keegoisanku tadi membuat hatimu terluka.
Jangan bilang lagi kalau kita tidak di takdirkan bersama. Apapun masalah yang terjadi baik sebelum dan sesudah pernikahan kita hadapi bersama.
__ADS_1
I love you, Martina Priscilla Agatha."
*
*
*
"Ra,"
"Kenapa muncul lagi? aku mulai menata hidup tenang tanpa kamu? kenapa kamu datang lagi?"
"Maafkan aku, Dira. Aku sampai saat belum banyak ingatan tentang kita. Tapi satu yang aku sadari setiap bersamamu ada puing-puing kenangan yang terus mengejarku."
"Kak Juna minta aku percaya hal itu? sama saat kakak membawa alasan move on hanya untuk melepaskan tanggung jawab kakak sama Delia."
"Apakah seperti itu? seburuk itu aku dimatamu?"
"Tadinya tidak seburuk itu. Tapi setelah dalam satu tahun menghilang dan tiba-tiba ada seorang anak memanggilmu sebagai ayah. Itu sudah termasuk buruk di mataku."
"Dengarkan aku dulu, Dira."
"Daridulu aku selalu mendengarkan kamu, kak Arjuna. Dari semua permasalahanmu dengan Delia. Kerumitan percintaan kalian aku selalu mendengarkan. Tapi apa kakak pernah mendengarkan aku, enggak kak! aku sudah memberikan waktu untuk mereka dan juga kamu. Apa kamu pernah menurutinya?"
"Kamu sudah punya Naura dan Jimmy. Aku sudah kehilangan anakku dan juga suamiku. Jadi bahagialah bersama mereka." Dira meninggal Juna di depan pelataran cafe.
Dira berjalan tanpa arah. Hati sangat bergetar setelah meluapkan rasa kecewanya pada Arjuna. Tak ada wanita yang ingin dimadu. Meskipun alasannya adalah amnesia. Tubuhnya melemas, sebuah kursi di dekat gedung perkantoran menjadi pelabuhan lelahnya. Sesaat dia menumpahkan air matanya. Setidaknya dia sedikit lega karena bebannya lepas.
Keluar dari cafe, Dira langsung mencari taksi terdekat. Namun sayangnya Dira tak menemukan taksi yang lewat. Aneh padahal berada di keramaian tapi kenapa tak menemukan taksi yang mau singgah.
"Non," sapa Awan yang ternyata lelaki itu mengejar dirinya.
"Kenapa malah kamu yang datang?" ucap Dira dengan nada berat.
"Karena saya mau ajak non ke rumah sakit."
"Rumah sakit? opa drop lagi?"
Awan menggeleng "Bukan opa tapi kak Juna. Tadi dia drop lagi, karena selama di desa dia sudah beberapa kali drop seperti itu.
Non Dira ikut saya, ya. Kak Juna pasti sangat membutuhkan non."
"Kan ada Naura dan Jimmy. Mereka lebih tepat di samping kak Juna. Awaaan!" Dira kaget lelaki itu menggendongnya seperti membawa karung.
"Maaf, saya terpaksa." ucap Awan setelah meletakkan Dira di dalam mobil.
__ADS_1