SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 36


__ADS_3

Sudah memasuki semester ganjil makin banyak tugas yang menumpuk. Akhir-akhir ini prodinya sedang getol mengajak mahasiswanya mendatangi beberapa perusahaan besar ataupun kecil. Bagi sebagian mahasiswa dan mahasiswi momen itu di manfaatkan untuk bebas dari himpitan suasana belajar. Serasa hari pembebasan dalam kukungan teori yang membelit mereka.


"Vira, Kak Dira bagaimana kabarnya?" Elsa memulai pembicaraan sambil duduk di sambil sobat karibnya.


"Alhamdulillah, sudah siuman dan sekarang sudah di rumah. Kamu main ke rumah dong, sudah lama kamu nggak menginap di rumah." Kata Vira sembari melabuhkan tubuhnya di kursi taman kampus.


"Hehehehe... maaf, Ra. Aku kan sekarang kerj di kantor papaku. Tiap pulang kampus aku langsung ke kantor, jadi staf biasa."


"Wah, enak Lo. aku saja belum ada di tawari sama mama kerja sambil kuliah di perusahaan mama. Kamu masih muda sudah di kasih aktivitas yang keren."


"Ra, kamu mah boro-boro dikasih kerjaan. Untuk diri sendiri saja kamu masih malas. Masih ngandelin bi Inah. Bagaimana kamu mau di tempatkan kerja di kantor? Mama kamu belum percaya sama kamu, Ra." jawab Elsa sambil tertawa kecil.


"Iya, kali ya. udah ah, kita ngobrol terus kapan makannya. Vira menarik Elsa meninggalkan taman sekitar kampus. Dua sahabat karib tersebut berjalan menuju kantin kampus.


"Sa, itu Kayla, kan?" tanya Vira pada Elsa.


"Iya, kenapa,Ra?"


"Kok Kayla akhir-akhir ini sering sama Jo, Ya. Bukannya Kayla punya tunangan." Vira beberapa kali memergoki Kayla sering bersama Jo.


"Kata Kayla dia dan Jo sudah berteman sejak kecil. Dan dianggap saudaralah, gitu." cerita Elsa yang memang dia tahu langsung dari Kayla.


"Ya, kan nggak harus berdua-duaan terus kan. Kasihan kak Dawa, kayaknya setia banget sama Kayla."


Eh, kenapa aku harus kasihan sama tuh orang. Bodo amat kalau dia patah hati atau gimana. Lagian kak Dawa juga bukan lelaki setia. Cari muka sama mama cuma mau deketin kak Dira. Tapi jujur aku penasaran sama hubungan Kayla dan Jordy.


"Eh, Ra. Gimana cowok yang kamu bilang caper sama mamamu? masih dia sering datang ke rumah ketemu mama kamu. Emang dia umur berapa sih sampai kamu bilang dia mau dekati mama kamu?"Elsa terus mencerocos sambil mengunyah bakwan ubi ungu.


"Kalau naksir sama mama nggak mungkin, Sa. Umurnya diatas kak Dira dan dibawah kak Feri. Kemungkinan ketika dia tahu kak Juna meninggal dunia makanya dia mulai berpikir mendekati kak Dira dengan rajin nengokin kak Dira di rumah sakit."


"Kamu yakin dia naksir kak Dira? jangan-jangan dia naksir sama adiknya kak Dira? Ya kan cuma satu anaknya Tante Dewi yang single."


"Aku? idih- idih amit-amit jabang bayi, jauh-jauh deh aku dari cowok macam dia!" Vira membayangkan Dawa saja sudah malas. Apalagi kalau ternyata Dawa naksir dirinya, rasanya dia tepis jauh-jauh pikiran itu. Karena baginya Dawa jauh dari tipe idealnya.


"Hati-hati, Ra. Dari amit-amit bisa jadi amin- amin." kata Elsa sambil tertawa.


"Ogah! sampai di sumpah perawan tua pun aku nggak akan mau sama dia!" suara Vira dengan lantang.


"Jangan main-main sama sumpah, Ra. Di kabulin beneran tahu rasa!" Vira mencibir ucapan Elsa.

__ADS_1


"Ra, nanti jam dua belas kita bakal study tour ke perusahaan GOLDEN MACHINE. Itu Lo perusahaan yang sedang naik daun. Katanya CEO nya masih bujangan." Vira hanya mengangguk kecil sambil menikmati bakwan ubi nya. Dia tidak terlalu antusias dengan siapa sosok CEO tersebut.


"Sekarang jam sebelas berarti sebentar lagi, Sa."


"Iya," jawab Elsa sambil tersenyum.


Dalam rangka memperoleh pengalaman serta menambah wawasan mengenai bagaimana proses bisnis yang dilakukan oleh beberapa jenis usaha yang menonjol di Jakarta, maka Himpunan Program Studi Strata satu Ekonomi Pembangunan Universitas Trisakti, melaksanakan kegiatan Kunjungan Perusahaan ke beberapa tempat di Jakarta. Selain itu, kunjungan ini juga memiliki agenda studi banding ke program studi strata satu ekonomi pembangunan.


Kunjungan Bisnis adalah program kerja tahunan dari HIMA Manajemen yang bersamaan dengan mata kuliah Pengantar Manajemen. Kunjungan Bisnis ini diikuti oleh mahasiswa angkatan termuda atau mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah Pengantar Manajemen. Kunjungan Bisnis diselenggarakan dengan tujuan untuk memberitahukan kepada mahasiswa bagaimana proses kerja dalam suatu perusahaan.


Elsa dan Vira bersama beberapa teman yang lainnnya memasuki perusahaan tersebut. Tahap pertama mereka akan diajak oleh salah satu guide untuk melihat apa yang dihasilkan perusahaan mesin tersebut.


"Visi misi perusahaan adalah Menjadi perusahaan otomotif yang paling sukses dan dihormati dengan memberikan pengalaman terbaik dalam kepemilikan kendaraan


Secara berkesinambungan menyediakan produk dan jasa yang berkualitas tinggi serta memenuhi kebutuhan pelanggan melalui program pemasaran yang terbaik.


Mengembangkan karyawan yang berkompeten dengan menciptakan lingkungan kerja yang baik untuk mendukung tercapainya kepuasan pelanggan.


Memperkuat kolaborasi dengan produsen, dealer utama dan dealer-dealer melalui komunikasi dan kerjasama yang lebih baik.


Untuk mengembangkan operasi perusahaan yang sehat dalam segala aspek, misalnya pemenuhan peraturan, lingkungan dan lain-lain."


"Lihat si Kayla, sok asyik sendiri." bisik Eno yang risih melihat sikap Kayla.


"Biarin saja. Dapat nilai E dari Bu Ningsih tahu rasa dia." Sahut Robi.


"Benar juga sih." Timpal Eno.


"Sa, aku mau ke toilet." Vira merasa kebelet BAB.


"Maaf, mbak toilet dimana ya?" tanya Elsa mewakili Vira.


"Nanti lurus saja lalu belok kanan. Ada tanda toiletnya." jelas guide nya.


"Terimakasih, mbak." Elsa pun menemani Vira ke toilet.


Vira masuk dalam toilet sementara Elsa menunggu di depan pintu. Sambil menunggu temannya Elsa sesekali membenarkan riasannya.


Handphone nya bergetar. "Ra, aku keluar sebentar angkat telepon. Kamu kencing apa BAB, Ra? masih lama nggak?"

__ADS_1


"Aku kayaknya BAB, Sa. Angkat aja teleponnya. Jangan jauh-jauh, Sa." seru Vira dari dalam toilet.


"Iya. Paling aku jawab di depan." Suara Elsa menghilang.


Setelah selesai dari toilet, Vira pun keluar meninggal toilet. Tiba-tiba lampu sekitar toilet mati. Suasana lorong toilet yang jauh dari keramaian membuat Vira sedikit meraba jalan. Vira tidak melihat Elsa di sekitar toilet.


"Katanya dia menelepon di depan. Kok malah nggak ada, mana gelap lagi." Vira meraba dinding menuju ruang tempat dimana teman-temannya berkumpul.


"Aaaaawwwww!" Vira kaget merasa ada yang dia tabrak.


"Kamu nggak apa-apa?" terdengar suara pria yang menolongnya saat terjatuh.


"Nggak apa-apa, Terimakasih, pak." Vira tidak bisa melihat siapa lelaki yang menolongnya. Suasana lorong yang sangat gelap membuatnya harus meraba dinding.


"Maaf saya harus mengecek sakelar dulu." Suara lelaki itu pun terdengar pergi menjauh.


Lelaki itu tak lama mengangkat telepon.


"Tuan dimana? ada beberapa mahasiswa dari Trisakti yang ingin bertemu dengan anda." suara dari seberang telepon.


"Saya tadi mau ke toilet, tiba-tiba mati lampu. Jadi saya mau memeriksa sakelarnya. Tidak biasanya di kantor pakai mati lampu. Suruh mereka menunggu dulu. Ada berapa orang mahasiswanya."


"Sekitar 25 orang, Tuan. Saya minta hanya sebagian yang menunggu ke ruangan anda. Ada non Kayla juga."


"Yasudah sebentar lagi saya kesana. Suruh security memeriksa sakelar."


"Baik, Tuan."


Vira yang masih tak jauh dari toilet berjalan pelan-pelan meraba dinding. Terbersit kagum saat tahu kalau sosok lelaki tadi adalah CEO perusahaan itu.


"Jadi dia pemilik perusahaan ini. Ya Allah, kenapa harus mati lampu sih? kan aku seperti apa CEO nya. Tampankah?" batin Vira.


"Ra, kamu kemana saja, sih! aku tadi nyariin kamu, Lo." Elsa muncul di dekat lift.


"Nggak kebalik? aku yang nanya kamu tadi kemana aja. Aku kayak orang disabilitas meraba dinding mencari jalan karena gelap sekali. Untung tadi ada yang nolongin, kalau enggak mungkin bakal kesasar." omel Vira.


"Siapa?" Elsa ikut kepo.


"Meneketehe... nggak kelihatan. Gelap!"

__ADS_1


__ADS_2