
Dawa berdiri di depan kaca merapikan pakaiannya. Lama dia menatap dirinya di depan kaca kamarnya. Sesekali menghirup nafas dalam-dalam. Langkah kakinya mundur perlahan-lahan ke belakang. Hingga dia terduduk di atas ranjang. Setelah dua bulan yang lalu dia mencoba mencari keberadaan Kayla. Sampai saat ini dia belum menemukan wanita yang sudah seperti adiknya sendiri. Dawa memandang gelang yang membalut tangannya.
Seakan dia berbicara pada orang terdekatnya. Seakan gelang itu pengganti "Sapi-nya".
"Kamu tahu kalau aku akan mundur dari perusahaan Global Machine. Aku sebentar lagi bukanlah seorang direktur ataupun CEO. Aku harap setelah ini kita tetap bersama meskipun aku seorang pengangguran. Tapi sepertinya papa kamu sudah ilfeel sama aku. Maafkan aku, Elsa. Gara-gara aku kamu musuhan sama Vira, aku sendiri tidak paham kenapa aku mulai gelisah kalau di dekat Vira. Ah, tidak! dia sekarang punya kak Panji. Tidak seharusnya aku memikirkan orang lain saat sudah milik kamu.
Anehnya, papa dan mama kamu tidak mengenal kak Padma. Bukankah kak Padma lama kerja sama kalian. Sekitar 5 lima tahun kakakku kerja disana."
Dawa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit dinding kamarnya. Lebih tepatnya apartemen kecil sebagai tempat tinggal yang baru. Rumahnya sudah di sita oleh Irul ketika dia pulang setelah satu minggu menenangkan diri.
Tak masalah, dia sudah terbiasa hidup sederhana sebelum seperti sekarang ini.
Dawa terlonjak kaget saat deringan telepon. Suara benda pipih itu menggema di sudut kamarnya. Lelaki itu memeriksa keberadaan suara itu. Lalu menemukan handphonenya di bawah bantal.
Tertera nama Panji di layar handphonenya. Dawa mengangkat telepon dari teman baru nya.
"Hai, brother. Kamu dari tadi di hubungi susah sekali" Dawa hanya tersenyum kecil mendengar ocehan lelaki itu.
"Aku lagi siap-siap, kak"
"Kamu yakin sama keputusan itu. Tidak di bicarakan dulu sama mereka. Bro, cari kerja itu susah. Kamu jangan sok idealis deh."
"Kak Panji, aku sudah pikir matang-matang soal ini. Aku akan mengundurkan diri dari jabatan yang sekarang. Aku juga sudah bahas ini sama Elsa. Dia mau terima aku apa adanya."
"Iya, tapi bagaimana dengan keluarganya Elsa. Mereka itu konglomerat, Lo. Bahkan lebih kaya dari calon mertuaku."
"E ciyeee, calon mertua. Semangat banget kalau bahas camer, ya."
"Iya, dong. Kamu tahu aku sudah lama menunggu momen ini, Dawa. Aku sudah jatuh cinta sama dia pada pandangan pertama"
"Iya selamat, ya, kak Panji"
__ADS_1
"Kamu mau aku temani ke konferensi pers. Kamu itu butuh dukungan, Wa."
Sejak dari Lembang, Dawa dan Panji menjadi akrab. Satu malam mereka bertukar pikiran membuat keduanya menjadi dekat. Apalagi saat Dawa dan Panji tahu kalau pasangan mereka bersahabat. Meskipun mereka belum pernah double date.
"Terimakasih, kak Panji atas dukungannya. Aku terharu saat seperti ini ada yang mau memberikan dukungan."
"Udah jangan mewek, aku sama Vira nanti kesana. Kamu yang kuat, ya."
"Sekali lagi terimakasih kak Panji"
Pandawa Danuarta Mengundurkan diri dari jabatannya. Tak ada alasan yang jelas mengenai pengunduran diri ini. Orang pun kemudian membuat rumor.
Sebenarnya tidak aneh. Setiap pengunduran diri pimpinan tertinggi di sebuah perusahaan selalu membuat tanda tanya. Tidak hanya itu, bahkan sampai ada kajian di kalangan peneliti tentang alasan pengunduran diri para pimpinan puncak itu.
Kondisi yang berat setelah pandemi, yaitu ekonomi yang terancam resesi, disebut sebagai salah satu alasan. Mereka tidak sempat untuk istirahat sejenak setelah pandemi mereda. Para eksekutif puncak itu harus kembali menghadapi masalah yang tidak ringan seperti inflasi yang tinggi, harga pangan yang mahal, harga energi yang melonjak, dan lain-lain. Selama hampir tiga tahun berturut-turut mereka harus berpikir keras sehingga membuat mereka lelah. Saatnya mereka mengundurkan diri atau pensiun.
Namum rumor yang paling besar adalah sang CEO bukanlah mengundurkan diri melainkan di minta mundur. Berita itu semakin santer saat tahu Pandawa membatalkan pernikahannya dengan anak ayah angkatnya, Kayla.
Dawa berjalan memasuki perusahaan yang sudah 7 tahun dia pegang. Perusahaan yang sudah memberikannya keluarga baru. Dawa pun berdiri di lift kantor. Kakinya terhenti melihat gadis muda berdiri di sekitar resepsionis.
"Vira," sapa nya. Vira menoleh kearah pemilik suara.
"Kak Dawa sudah sampai? Elsa mana? kok nggak diajak?" deretan pertanyaan Vira membuatnya sedikit tergelak.
"Emang ada yang lucu? aku nanya Elsa mana? biasanya ngintil terus."
"Terus kamu sendiri ngapain disini sendirian. Mau lihat aku jadi sad boy gitu? kak Panji mana?"
"Sad boy? kayak orang patah hati saja. Bukannya anda yang sudah buat patah hati anak orang."
"Siapa Kayla atau jangan-jangan...." tawa Dawa tidak melanjutkan ucapannya melihat Vira sudah mengeluarkan bola matanya.
__ADS_1
"Eh, telur sekarang lagi mahal, jangan sampai nanti matamu jadi pengganti telur mata sapi"
"Enak saja bilang gitu, aduh kak Panji mana sih? lama amat ke toilet. Gerah dekat ama buaya" Vira berjalan menjauhi Pandawa.
"Eh, dengar ya, Buaya itu setia. Playboy itu lambangnya kelinci" Teriak Dawa.
Vira dan dewa terus saling mencibir, berjalan mundur tanpa sadar ada orang mengepel lantai dibelakang keduanya.
"Mba, awas!" Cleaning servis itu berteriak memperingatkan. Tapi terlambat, karena kaki vira sudah terlanjur tergelincir, bahkan vira merasakan tubuhnya melayang atau bahkan masuk kedalam ember. Vira bahkan sudah membayangkan hal konyol dalam fikirannya, seakan hal memalukan segera terjadi.
Vira perlahan-lahan membuka matanya. Sosok itu menahan tubuhnya hampir terjungkal. Sosok tidak pernah terpikir akan memegang tubuhnya dengan erat.
Pelan-pelan tubuhnya sudah berdiri tegap seperti sediakala. Bukan itu saja, Vira merasa ada degupan jantung yang terasa kencang. Lelaki itu pun merasa hal yang sama. Merasa seperti dekat gadis yang ada di hadapannya.
"Maaf," dua-duanya saling melepaskan pegangan tangan.
"Terimakasih, kak Danu," Vira berbicara dengan pelan.
"Kamu bilang apa tadi?"
"Terimakasih kak Dawa," ralat Vira.
"Oh sama-sama. Yasudah saya kedalam dulu" Dawa meninggalkan Vira yang masih menunggu kemunculan Panji.
Ting!
"Aku sudah di dalam. Aku ketemu sama mama Dewi. Katanya dia di undang direksi seluruh CEO seantero Jakarta. Kamu masuk ke dalam saja" pesan singkat yang dikirim Panji.
Vira membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin dia bisa muncul di depan mamanya. Sudah pasti akan ada perang dunia keempat.
Baru saja kakinya melangkah hendak masuk ke dalam Vira mendapati pesan yang membuatnya mundur selangkah.
__ADS_1
"Mama minta kamu pulang!"