SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 63


__ADS_3

Hamparan sawah yang luas terlihat teduh dan menyejukkan. Diiringi decitan suara burung-burung kecil yang bertengger di salah satu batang dekat persawahan.


Biasanya orang-orang akan pergi liburan ke tempat-tempat Instragramable. Tapi tujuan Dira pada desa yang nyatanya malah mempertemukan pada sosok Sandi. Lelaki yang mirip dengan suaminya. Sejak awal dia sampai, hatinya sudah terpaut pada keindahan desa tersebut.


Dira terpaku pada tangan yang menarik dirinya berjalan ke tengah sawah. Sebuah gubuk kecil seakan memanggil mereka untuk singgah. Netranya beralih pada gumpalan awan yang menghitam. Dia yakin sebentar lagi akan turun hujan.


"Di, kita pulang saja. Opa pasti menunggu."


"Sebentar, aku mau ajak kamu jalan sebelum kamu pulang ke Jakarta."


"Tapi, di ..."


Sandi menoleh kearah Dira. Jarak mereka sangat dekat membuat Dira salah tingkah. Sandi memohon untuk mengajak dirinya jalan. Sandi memanggil salah satu pekerja yang sedang asyik di tengah sawah. Dia memperkenalkan Dira pada bapak yang dia panggil pak Galih.


"Itu siapa?" tanya pak Galih.


"Itu..."


"Saya Dira, pak. Temannya sandi waktu di Jakarta." ucap Dira sambil menyalami pak Galih.


"Owh, cantik. Kalian kok mirip ya?" Baik Sandi dan Dira saling bertukar pandang.


"Kalau mirip kata orang jodoh kan, pak?" sahut Sandi.


"Di, kamu harus ingat..."


"Iya,pak. Saya tadi cuma bercanda." Sandi tertawa kecil ketika pak Galih seperti akan mengomelinya.


"Pak Galih sedang apa?" tanya Dira mengalihkan pembicaraan.


"Oh saya sedang panen, neng. Hampir blok sawah menguning. Itu tandanya sudah siap di panen." jelas pak Galih.


"Pupuknya pasti bagus."


"Itu berkat Sandi, Neng." kata pak Galih.


Dira mengalihkan pandangannya ke lelaki di sampingnya. Sandi terlihat tersenyum bangga saat pak Galih menyebutkan namanya.


"Emang dia kenapa?"


"Dia yang merekomendasikan pestisida yang bagus buat padi. Dia juga yang arahkan saya untuk membuat irigasi sekitar sawah saya." cerita pak Galih.


Dira ingat saat Juna pernah cerita tentang programnya saat KKN dulu. dimana dia pernahkah mencanangkan membantu para petani menanam padi di salah satu daerah yang menjadi tempat KKN berlangsung.


mereka mengajarkan petani disana mempunyai cara menarik dalam menanam padi yakni menggunakan sistem borongan, dimana menanam padi di satu lahan secara bersama-sama, setelah satu lahan telah selesai kemudian akan berpindah kelahan berikutnya dengan menggunakan sistem yang sama.


Tujuan menggunakan sistem borongan adalah agar para petani dapat menyelesaikan lahan mereka dengan cepat, rapi serta menjaganya dari hama secara bersama-sama sehingga saat panen pun akan dilakukan secara bersama. Meski begitu, terdapat pula petani yang menggarap lahannya secara pribadi namun terkadang mendapatkan hasil yang kurang maksimal dan berbeda dari yang lainnya.


Dira juga ingat bagaimana Juna pernah coba menerapkan hal itu di Lembang. Tapi sayangnya karena dianggap masih muda dan bau kencur, rencana Juna di tentang oleh Johan, sang papa.


"Dan aku yakin walaupun kamu amnesia. Pasti masih ada sisa ingatan yang tertanam dalam dirimu." batin Dira.

__ADS_1


Langkah kaki Dira menatap kearah kolam besar tak jauh dari lokasi mereka berdiri. Tampak ikan-ikan kecil berenang di sekitar persawahan tersebut.


Mereka akhirnya berjalan mengelilingi persawahan. Udara yang sejuk membuat mereka berdiri untuk menikmati angin segar. Sandi membentangkan tangannya, sedangkan Dira sibuk melihat ikan yang berlari disekitar persawahan.


"Ada ikan di sawah." seru Dira seperti mendapat mainan baru.


"Baru tahu, ya. itu namanya Mina padi yaitu suatu bentuk usaha tani gabungan yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya yang memaksimalkan hasil tanah sawah. Mina padi dengan demikian meningkatkan efisiensi lahan karena satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas pertanian sekaligus."


"ooo, gitu ya. Apa ini pake pestisida juga?"


"Nggak, justru proses ini dilakukan untuk menghindari pemakaian pestisida. Semacam hidroponik lah."


"Kamu pinter juga ternyata." ucap Dira sambil mengibaskan air kolam yang jernih kearah Sandi. Mereka saling balas membalas siraman air kolam.


Sandi mengejar Dira yang berlari meninggalkan dirinya di tengah sawah. Lagi-lagi Dira berjalan memejamkan matanya. Menghirup udara segar daerah pedesaan tersebut.


"Dira, hujan." panggil Sandi.


Dira tak memperdulikan panggilan Sandi.Dia tetap berjalan menelusuri area persawahan. Hujan sedikit demi sedikit turun. Dira tetap melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah Naura.


Sandi mengejar Dira ditengah derasnya hujan. Kakinya terhenti saat sebuah devaju kembali menyapanya.


"Dira!" batinnya.


"I love you. Aku mohon jangan siksa aku dengan sikapmu seperti. Aku tidak kuat Dira. Aku tidak akan kuat.


Selama ini aku berdiri sendiri atas cinta yang di bangun untuk Delia. Aku sering mempertanyakan. Apakah Delia merasakan hal yang sama? Aku selalu berusaha untuk menghubungi Delia. Sekedar mendengar kabarnya. Meskipun pada akhirnya Delia hilang tanpa kabar."


"Aku tidak peduli bagaimana reaksi Rian pada kita. Asalkan kita berjuang bersama, Ra. Kita kejar restu dari mama dan papa, kita kejar restu dari tante Dewi. Bahkan di coret dari daftar keluarga aku rela! itu buat siapa, Ra? buat kita! buat aku dan kamu."


Sandi merasa kepalanya terasa berat. Puing-puing kenangan yang sempat hilang kembali menerornya. Tangannya memegang erat pucuk kepalanya. Tubuhnya sempoyongan.


"Dira ... "


BRUUUUUKKK!


Tubuh Sandi jatuh tanah. Sebagian petani yang melihatnya membopong Sandi ke rumah pak Rohim.


Dira sudah sampai di rumah Naura. Sesaat dia menoleh ke belakang mencari Sandi yang tak mengikutinya.


"Mungkin Sandi masih asyik mengobrol dengan pak Galih. Tapi tadi bukannya hujan deras. Kenapa dia tidak mengajak aku untuk berteduh. Please, Dira. Sandi itu punya Naura. Suaminya Naura."


"Aku dan Naura belum menikah!"


"Apa iya mereka belum menikah? please, Dira bisa saja dia bohong. Kan laki-laki emang begitu, menutupi kebusukannya demi mendapatkan keinginannya." batin Dira.


"Apa aku harus pamit sama Bu Halimah dan pak Rohim? biar bagaimanapun mereka itu juga keluarga suamiku. Pakde dan budenya mas Juna. Tapi, kalau aku kesana pasti ketemu Sandi lagi.


Ya Allah kenapa perasaanku jadi begini? ingat Dira Sandi itu suami Naura. Jangan sampai kejadian Wawan terulang lagi. Aku nggak mau."


"Jadi kita berangkat sekarang?" tanya opa Han saat di tempat Naura.

__ADS_1


Dira mengangguk kecil.


"Kamu yakin mau berangkat sekarang dengan basah kuyup seperti ini?"


"Opa, aku tinggal ganti baju saja. Dan keputusan aku bulat. Kita pulang sekarang." Dira memasuki kamar Jimmy untuk membersihkan diri.


"Hujan, pak. Bagaimana kalau berangkatnya tunda saja sampai reda." kata Jaka.


"Sudah reda, kok. Kita langsung saja berangkat, opa. Nanti kemalaman." Dira sudah selesai dan bersiap-siap.


Sebagai kakek, Burhan ingin melihat cucu-cucunya bahagia. Itu harapannya di usia senja. Sejak bertemu dengan Sandi tadi. Burhan merasakan sesuatu yang berbeda, entah feeling atau apa, dia merasa ada sesuatu yang tak asing dalam diri Sandi.


"Dira," opa Han duduk di samping cucunya.


"Iya, opa."


"Kamu belum jelaskan pada opa, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Nggak ada, opa." kilah Dira.


"Lalu kenapa kamu dibawa ke balai desa?"


"Ada kesalahpahaman, Opa. Semua sudah clear dan aku tetap akan pulang ke rumah."


Dira akhirnya masuk ke dalam mobil opa Han. Setelah dia berpamitan dengan Jimmy dan Naura juga dengan awan. Langkah kakinya seperti tertahan, seakan ada yang sudah dia tinggalkan disini. Tapi Dira tetap mengedepankan gengsinya, dia tetap minta Jaka menghidupkan mesin mobilnya.


"Mbak Naura, saya berterimakasih atas tumpangannya selama beberapa hari disini. Saya senang dengan suasana di desa ini. Suasana yang tidak saya dapatkan di kota.


Mbak saya titip Sandi, saya minta maaf kalau kehadiran saya mengganggu hubungan kalian.


Tapi ingat kata saya kemarin, mbak mulai sekarang harus jeli membedakan antara sandi dan Awan. Karena feeling seorang istri tidak pernah salah. Jika mbak Naura benar-benar mencintai Sandi. Harusnya hati mbak tahu mengarah kepada siapa? bukan wajah yang menuntun, tapi hati.


Saya berangkat mbak. Assalamu'alaikum."


"Nak, opa rasa kita tunda dulu berangkatnya. Opa merasa tubuhmu mau pulang tapi pikiranmu tertinggal entah kemana. Sejak kamu melihat anak Rohim tadi. Sikapmu berubah, ada apa sebenarnya?"


"Tidak ada apa-apa, Opa." Dira masih menutupi perasaannya.


*


*


*


Yuk mampir ke novel yang kece badai


Punya Riskejully


Aku menemukan buku yang bagus banget di NovelToon, yuk baca bareng! Pelatihku, author: Riskejully


https://noveltoon.mobi/id/pelatihku?content\_id\=2470675

__ADS_1



__ADS_2