
"Sudah siap, sayang."
Juna memeriksa jangan sampai ada barang yang tertinggal. Saat ini mereka masih di hotel dan akan berencana untuk pulang ke rumah. Setelah dua hari menginap di hotel dan di beri rangkai fasilitas bulan madu.
"Sudah, Mas. Cuma yang masih aku heran kenapa kak Feri tiba-tiba pulang. Alasannya karena mama. Emang mama kenapa? kok pada bungkam sih?"
"Ssst... sayang sudah jangan emosi. Mungkin kak Feri khawatir sama mama. Karena pasti bakal sendirian di rumah. Ya walaupun kita harus andalkan Vira. Aku yakin sebagai anak tertua tanggung jawabnya masih besar. Apalagi..."
"Sudah, Mas. Nanti saja ceritanya. Lebih baik kita selesaikan urusan di sini. Pulang ke rumah. Itu saja, selesai." Dira sangat merindukan kamarnya. Tentunya akan melewati hari-hari bersama pujaan hatinya.
Juna mengalungkannya tangannya di pinggang istrinya. Kepalanya menyembul dari balik punggung sang istri. Dira tidak protes atas semua yang dilakukan suaminya.
Dira dan Juna akhirnya berada di depan gerbang hotel. Mereka akan diantar oleh mobil dari hotel. Itu salah satu bentuk pelayanan mereka. Juna dan Dira mendapat paket khusus pengantin yang berbulan madu.
Juna merasa kantongnya bergetar. Tak lama dia mengangkat telepon tersebut. Sebelumnya dia meminta istrinya masuk ke mobil terlebih dahulu.
"Kamu masuk duluan ke mobil, sayang. Aku angkat telepon dari kak Oka." kata Juna.
Dira awalnya enggan naik setelah tahu siapa yang menelepon. Kalau Oka menelepon pasti ada sangkut pautnya dengan Delia.
"Sayang, ini dari kak Oka bahas tentang pabrik. Kamu tenang saja nggak akan ada urusan perempuan lain." kata Juna yang tahu kalau istrinya sangat pencemburu.
"Baiklah, Mas. Aku cuma ..." Juna menempelkan telunjuknya di bibir Dira.
"Kamu percaya kan, sama aku?" Dira mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah adegan istrinya yang cemburu. Juna pun kembali menerima telepon dari mantan calon kakak iparnya. Dia juga heran ada apa Oka menghubunginya.
"Halo assalamualaikum, kak Oka." sapa Juna.
"Waalaikumsalam, Jun. Maaf kalau aku mengganggu. Aku cuma mau mengabarkan kalau Delia ...."
__ADS_1
"Delia kenapa, kak?"
"Delia meninggal dunia semalam. Dia juga belum lama ini melahirkan bayi laki-laki. Setahun ini dia bersama Rian berobat ke Singapura. Karena alzheimernya makin parah. Kalau seandainya dia selama ini adalah salah. Saya sebagai kakak minta maaf, mungkin sikap Delia selama ini ada yang tidak kamu sukai. Kamu tahu sendirilah, Delia itu sangat dimanjakan oleh papa.
Besok jenazahnya bakal di berangkatkan dari Singapura ke Lembang. Karena kita semua tinggal di Lembang."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Ya Allah, berilah tempat yang terbaik untuk Delia di sisi-Mu. Om Abdul sudah tahu?" kata Juna.
"Belum, Juna. Kak Rayyan sama kak Farhan sudah berangkat ke Jakarta untuk minta izin bawa papa melihat Delia."
Juna akhirnya masuk ke mobil. Mengingat istrinya pasti sudah lama menunggu. Juna akan membahas soal Delia ketika sampai di rumah. Dira melihat gurat wajah suaminya merasa penasaran. Pasalnya itu terlihat setelah habis telepon dengan Oka, kakaknya Delia.
"Mas, ada apa?" tanya Dira.
Juna memaksakan tersenyum. Meskipun dia merasakan duka yang sangat dalam. Membayangkan jika dirinya di posisi Rian. Tentu pasti sulit jadinya. Tangannya menggenggam erat ke jemari Dira. Lama dia menatap sosok yang duduk di sampingnya. Sosok yang saat ini terlena dengan pemandangan di luar mobil.
"Sewaktu aku tidak ada apa yang kamu rasakan, Dira? apakah kamu selalu mendoakan aku? apakah kamu selalu membawaku dalam tidurmu? atau kamu menganggapnya semua selesai."
"Kenapa mas Juna bertanya seperti itu? apa kamu meragukan perasaanku? seharusnya mas Juna tidak perlu memberikan pertanyaan yang seperti itu. Sama saja seperti tidak percaya sama aku. Kenapa mas Juna membahas yang sudah berlalu." suara Dira terdengar kecewa.
"Maaf, bukan maksud aku untuk menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin tahu, apa yang terjadi setelah aku tidak ada. Itu saja."
"Yang terjadi adalah anak kita meninggal dan papa Johan juga meninggal dunia."
"Sayang," Dira melepas paksa ketika jemarinya di rangkum suaminya. Atas dasar apa Juna bertanya seperti itu? Dira ingat bagaimana saat dia tetap meyakini suaminya masih hidup. Sampai harus bertengkar dengan keluarganya.
"Maaf,"Juna memeluk Dira dari belakang. Terdengar isakan kecil dari bibir manisnya. Juna semakin erat memeluk istrinya merasa bersalah atas tutur katanya.
"Kalau aku tidak mencintaimu, mungkin aku akan menerima para lelaki lain yang mendekatiku. Mungkin aku akan menjadi wanita merasa kembali menjadi seorang gadis. Tapi aku tidak melakukan itu, karena bagiku selama jasadmu belum ditemukan. Itu artinya kamu masih hidup.
Dan di saat bahagia seperti ini, kamu malah bertanya hal seperti itu."
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Maaf." lirih Juna.
Mobil tetap melenggang meninggalkan area Ancol. Suasana di mobil tetap hening. Juna tidak berani memulai bicara pada istrinya. Dira pun ternyata menunggu reaksi dari suaminya.
Pentingnya kesetiaan adalah untuk menciptakan perasaan aman dan nyaman karena seseorang yang kamu cintai bisa dipercaya untuk menjaga hatinya.Dalam kehidupan rumah tangga kesetiaan sangat di utamakan. Setia adalah sikap yang dibutuhkan siapa saja untuk bisa bertahan dalam sebuah hubungan cinta. Tanpa adanya kesetiaan, mustahil pernikahan bisa bertahan.
Di saat mengetahui Juna dinyatakan telah meninggal dalam kecelakaan. Dira tetap yakin suaminya akan kembali, selama jasad Juna belum ditemukan. Meskipun beberapa orang tetap menguatkan Dira kalau Juna sudah tiada.
Mobil akhirnya sampai di kediaman Dewi Savitri. Sopir akhirnya turun menemui satpam penjaga rumah. Setelah diizinkan mobil pun masuk ke parkiran di samping rumah. Juna turun terlebih dahulu disusul Dira sambil menenteng tas kecilnya. Baru saja kaki berpijak ke lantai, Dira langsung merasa tubuhnya sudah berada diatas kedua lengan suaminya.
"Mas, aku bisa..." Juna menempelkan jemari di bibir Dira.
Lelaki itu tetap menggendong Dira sampai masuk ke dalam rumah. Tak peduli dengan tatapan kesal istrinya Juna baru menurunkan Dira ketika berada di kamar. Dira pun akhirnya meletakkan tas nya lalu mengajak suaminya turun.
"Mas, kita turun yuk? nggak enak baru sampai langsung di kamar."
"Aku mau ngomong soal telepon kak Oka tadi."
"Ada apa?"
"Kak Oka mengabarkan kalau ...." Juna mencoba menarik nafas dalam-dalam.
"Kalau apa?"
"Delia meninggal dunia semalam. Dia juga belum lama ini melahirkan anak laki-lakinya, adiknya Roger."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Ya Allah Delia, aku tidak menyangka dia sudah tidak ada."
"Aku juga kaget, sayang. Terakhir aku ada ketemu Delia saat mau ketemu papamu setelah kita menikah. Sebagai menantu aku mau jalin silaturahmi dengan ayah mertua.
Sayang, besok kita ke Lembang, ya. Melayat ke tempat Delia. Mau kan?" Dira mengangguk sembari mengusap wajahnya yang sudah sembab.
__ADS_1