
Vira terbangun di sepertiga malam. Awalnya dia mau menuruti panggilan alam di kamar mandi. Setelah selesai, Vira pun merasakan perutnya bernyanyi. Langkahnya menggeret ke arah kulkas. Tentu saja untuk mencari apa yang dia bisa ganjal.
"Wah ada donat coklat," Vira melonjak senang ketika menemukan makanan favoritnya.
"Ya ampun, Vira." Mama Dewi menemukan gadis bungsunya sudah belepotan dengan coklat.
"Ya ampun, Mama. Kaget tahu!" Vira mengelus dadanya.
"Kamu kayak anak kecil saja makan belepotan gitu," Mama Dewi langsung mengambil tisu untuk membersihkan wajah anaknya. Dengan telaten mama Dewi membuat wajah Vira bersih seperti sediakala.
"Ini jam dua malam. Kenapa kamu belum tidur?"
"Nggak bisa tidur, Ma. Lapar, makanya aku buka kulkas. By the way mama bukannya nggak boleh makan gula lagi. Katanya gula darah mama naik. Tapi kok masih nyimpan makanan manis."
"Itu tadi Juna yang beli, katanya tadi mereka jalan-jalan terus Dira merengek minta di belikan donat. Tapi sampai di rumah Dira udah tidak selera lagi."
"Orang ngidam lucu ya, Ma. Melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Apalagi hal yang di luar nalar."
"Kamu tadi ke tempat Elsa ngapain?" tanya Mama Dewi.
"Aku cuma mau undang keluarga Elsa untuk acara besok, Ma."
Dewi memegang tangan kedua anaknya. Harusnya besok adalah hari pertunangan putri bungsunya bersama Panji. Tapi ternyata lelaki itu malah membatalkan pertunangan secara sepihak. Dewi juga tidak paham apa yang membuat Panji dengan gampang membatalkan semua yang sudah dia siapkan "Ra, Kamu nggak apa-apa?"
Vira menyunggingkan senyum, walaupun rada di paksakan. Jujur, kejadian di rumah Elsa sangat menyesakkan dadanya.
Flashback on
__ADS_1
Vira memilh pulang setelah Elsa membatalkan rencana perjodohan dengan Panji. Ada rasa kesal pada temannya. Vira merasa Elsa memintanya datang untuk menjadi pancingan "Ra," Suara Elsa mengejar dirinya.
"Vira!" lagi-lagi Elsa memanggil dirinya. Masih dalam perasaan kesal gadis itu akhirnya menoleh kearah sang pemilik rumah.
"Puas kamu, Sa! Kamu suruh aku datang kesini buat pamer tentang pertunangan kamu dan kak Panji gitu. Aku pikir kamu sudah ikhlas memperbaiki persahabatan kita. Tapi ternyata..."
"Ra, kamu salah paham! Bukan maksud aku mau manfaatin kamu. Aku justru bikin mama dan papa tahu seperti apa kak Panji dan om nya. Dari awal aku punya feeling tidak enak sama perjodohan itu. Please, percaya sama aku, Ra." Elsa memohon sama Vira supaya tidak salah paham. Vira langsung meninggalkan kediaman Elsa. Perasaannya masih kesal atas tuduhan yang di tancapkan Panji kepadanya.
"Kenapa kamu pergi?" Vira mengepal tangannya lagi-lagi suara itu membuat langkahnya terhenti.
"Mau saya pergi atau tidak bukan urusan anda. Lebih baik anda kembali ke dalam bersama calon istrimu. Bukankah ini malam bahagia kalian. Kenapa masih di sini?"
"Saya disini minta kamu menjelaskan sesuatu. Apa benar kalau kamu itu sudah ..."
"Iya atau tidak nya juga bukan urusan anda. Bukankah kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kenapa masih kepo sama urusan saya? Satu hal yang harus anda tahu, saya tidak seperti yang di tuduhkan. Terserah kalau anda mau percaya atau tidak? saya masih perawan, paham! permisi!"
"Lalu kamu dan Pandawa?"
"Emang kenapa? mau saya sama siapapun bukan lagi urusan kamu! Seminggu yang lalu anda memutuskan menyelesaikan semuanya. Itu tandanya sudah tidak ada urusan lagi diantara kita."
"Dan kamu memanfaatkan semua ini untuk di dekati Pandawa, ya kan. Kamu mencari alasan hanya karena aku tanpa kabar kalian malah menikung dari belakang. Aku tidak menyangka kamu dan dia ..."
PLAAAAAK!
"Saya kira percuma menjelaskan pada anda. Buang-buang waktu saja. Maaf saya harus pulang ini sudah malam. Karena besok saya harus dandan yang cantik demi seseorang." Vira pun melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Irwan Chandra.
Flashback off
__ADS_1
"Maafkan Vira, ya ma." Suara Vira mendadak sendu.
Mama Dewi mengernyitkan dahinya. Selama ini putrinya tidak punya salah apapun. Kalaupun bersikap bertolak belakang ya dia maklumi, karena tidak semua hal yang Dewi mau bisa di turuti anak-anaknya. Dewi tidak pernah mengekang mereka untuk terlalu patuh dengan permintaannya. Asal alasan penolakan mereka masih masuk di akal.
"Enggak, sayang. Kamu nggak salah. Mama tahu kamu pasti masih berat soal Panji. Ya mama juga tidak menyangka kalau dia seperti itu. Main hilang tanpa kabar. Nggak ada kejelasan sama sekali. Nggak gentle kalau menurut mama." kata mama Dewi sambil mengelus pucuk rambut putrinya.
"Vira minta maaf kalau tidak jadi tunangan sama Panji. Vira lihat mama sangat berharap sekali kalau aku sama Panji." Dewi dan Vira saling berpelukan. Dia paham pasti anaknya merasa tertekan dengan permintaannya.
Dewi hanya tidak mau kalau Vira jatuh cinta sama Pandawa. Kalau mengingat Pandawa adalah adik dari pelakor rumah tangganya. Kalau mengingat Pandawa besar di lingkungan Irul. Irul yang beberapa kali menghalalkan segala cara untuk menghancurkan perusahaan dan keluarganya. Irul yang dulu pernah dia sukai tapi ternyata berhati busuk.
Lelaki itu sempat menumbuhkan harapan pada dirinya. Harapan itu hancur seketika saat tahu Irul punya koneksi jahat di perusahaan milik papanya. Padahal apa yang kurang di berikan perusahaan padanya. Dari sopir keluarga naik menjadi bodyguard hingga di percayakan berkerja di perusahaan menjadi orang kepercayaan papanya saat ini.
"Kamu istirahat, Nak. Besok kita bakal adakan acara di panti jompo. Itu permintaan kakak kamu, katanya mau adakan acara berbagi sekaligus empat bulanan di panti jompo."
"Kenapa di panti jompo? kenapa tidak di panti asuhan?"
"Mama juga tidak tahu, Nak. Kakakmu yang minta. Dia bilang mau berbagi kebahagiaan pada orangtua disana."
"Kak Feri ada-ada saja. Tapi nggak apalah. Ma, Vira boleh tanya sesuatu?"
"Apa nak?"
"Kenapa mama begitu benci sama kak Danu? Ya Vira tahu mama sangat benci sama kakaknya. Tapi itukan kakaknya, Ma. Selama dia disini bersama kita aku tidak menemukan sifat jahat dalam dirinya. Dia cuma jahat satu hal?"
"Kenapa kamu bilang dia jahat satu hal? apa kamu jatuh cinta sama dia?"
"Enggak! dia jahat karena dulu pernah janji sama Vira untuk memberi kabar, tapi nyatanya sama sekali tidak ada. Tiap liburan tiba Vira selalu menunggunya menepati janjinya, tapi nyatanya?" Dewi melihat nada kekecewaan dalam diri putrinya.
__ADS_1
"Maafkan mama, Nak. Sebelum kasus pelecehan yang dilakukan papamu. Danu beberapa kali mendatangi kamu disekolah. Meskipun mama hanya tahu dari laporan sekolah dan papamu. Bahkan setiap mengabarkan kedatangan Danu. Papamu selalu membawa barang pemberian Danu. Itu sampai kamu kelas tiga SD."
Dewi hanya membatin. Dia tidak mau kalau nantinya pengakuannya malah membuat Vira berbelok ke Danu.