
Setelah kemarahan Feri di lobby, Vira melangkah gontai menuju ruang sang mama. Entah kenapa dia seperti baru saja tercabik kehormatannya, bukan mahkotanya tapi bibirnya untuk yang pertama kalinya di ambil oleh Pandawa. Kenapa dia tidak berontak saat Pandawa menciumnya. Kenapa dia terkesan menikmati apa yang di lakukan lelaki. Vira membenturkan sedikit kepalanya, menyesali kebodohannya.
Setelah ini aku yakin kak Feri bakal ngadu ke mama. Mama pasti murka banget, aku tidak lupa saat kak Juna memberi nafas buatan pada kak Dira. Kak Juna di maki-maki sama mama, kak Feri dan juga kak Rian. Malah dianggap melecehkan kak Dira, dan jika itu juga terjadi sama aku. Mama mungkin aku mengirim aku ke tempat yang jauh untuk menutupi rasa malunya.
Bentar? bisa jadi ini petunjuk mama harus membatalkan pernikahannya dengan Om Dirga. Aku nggak mau nambah saudara lagi.
Lagian ngapain aku takut, disini aku yang jadi korbannya. Mama pasti berada di pihakku karena dia juga tidak suka dengan Pandawa. Mampus kamu kak Danu! hahahaha hahaha...
Lagian aku selalu sial kalau berurusan dengan Pandawa. Musuhan sama Elsa, masuk ke keluarga cuma buat balas dendam. Dan sekarang dia mau jadi saudara aku! Nehi ... dia sudah mengambil ciuman pertamaku! dan mungkin mama akan mendepak om Dirga dan juga Pandawa.
Apa kata calon suamiku kalau bibirku yang perawan ini di renggut calon kakak tiriku!
Kamu bodoh, Vira.
Oh, tidak. Calon dari Opa satu-satunya cara supaya Pandawa tidak mengejarku lagi.
Vira terus bermonolog karena jika nanti bakal di sidang dia akan bertindak sedikit playing victim. Sesekali dia ingin memberi pelajaran pada Danu. Perasaan takutnya pun sedikit demi sedikit terkikis di barengi akan ada perlindungan untuknya.
"Vira,"
Aduh kak Feri datang kesini, pasti bentar lagi aku di sidang sama mama.
"I..ya, kak," Vira merasa sedikit gugup.
"Kamu tenang saja. Aku sudah instruksi pihak cctv menghapus video kalian. Dan Kakak juga sudah meminta pihak yang tadi ikut membantu lift untuk tidak buka mulut. Dan ingat kakak lakukan ini demi mama, bukan untuk membela kamu ataupun lelaki itu ...."
"Pandawa namanya kak," Vira membenarkan.
Terserah, kakak sudah tidak simpatik lagi sama dia. Dulu dia ngejar-ngejar kamu, dan sekarang dia malah jadi saudara tiriku,"
"Kakak takut posisi anak tertua tergeser secara dia satu tahun diatas kak Feri," tebak Vira.
"Atau kakak takut mama mempercayakan perusahaan kepadanya?"
__ADS_1
"Yuk, kita ke dalam. Mama sudah menunggu kamu dari tadi. Kamu tahu pas mama dengar kamu terjebak di dalam lift dia cemas sekali. Jadi obatilah rasa cemasnya dengan kemunculan kamu," Vira mengangguk serta mengikuti langkah Feri.
Sedikit lega setelah Feri menutupi masalah tadi. Ya saat ini dia bisa lega, sayangnya yang buat dia tidak lega kalau pada akhirnya mamanya tetap menjalankan rencana pernikahan.
Vira dan Feri memasuki ruang kerja mama Dewi. Tampak semua sudah berkumpul di dalam ruangan luas tersebut. Ada Tina dan si kembar, ada Opa Han dan juga asistennya Jaka, ada Pandawa serta Dirga sebagai tamu di kantor mama Dewi.
"Duduk, Nak," sapa mama Dewi meminta putri bungsunya duduk di sampingnya.
"Vira, mama mau ngomong sama kamu, bisa?" Vira mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Termasuk ke arah Pandawa. Lelaki malah tersenyum serta mengedipkan sebelah matanya. Dengan cepat Vira berbalik arah menatap sang mama.
"Lirikan matamu menarik hati," Feri tiba-tiba bernyanyi.
"Feri, mama lagi bicara serius sama adik kamu, jangan malah becanda,"
"Iya, Ma. Maaf,"
"Mama mau bicara apa?"
"Apa nggak terlalu dadakan, Ma? aku saja tidak tahu siapa calonnya,"
"Vira, cucu opa tersayang. Kamu percaya kan kalau pilihan Opa tidak pernah salah. Dari kakak kamu, Feri dan juga Dira, mereka mendapat pasangan sesuai pilihan Opa. Mama kamu juga begitu, jadi Opa harap kamu pun dapat yang terbaik,"
"Tapi, Opa ..." tiba-tiba Dawa ikut bicara.
"Saya lagi bicara sama cucu saya, Kenapa kamu malah motong pembicaraan orangtua. Tidak sopan!" suara Opa Han meninggi.
"Sudah, Nak. Kamu ikuti saja apa mau mereka. Kamu ikhlaskan Vira bersama calonnya. Kalian sebentar lagi akan jadi saudara, ingat itu," Deka mencoba menenangkan putranya.
Dawa hanya mematung setelah mendengar jawaban papanya. Haruskah dia mengalah lagi? haruskah dia berhenti berjuang? perasaannya kalut saat ini. Pandangannya kembali terlempar kearah Vira. Menunggu jawaban penolakan dari gadis itu. Tapi nyatanya, semua berbanding terbalik.
"Bagaimana dengan kuliah Vira, Ma?"
"Kuliah kamu tetap berjalan seperti biasa,"
__ADS_1
"Mama kan tahu, kalau Vira mau S2 di Jepang,"
"Setelah menikah, suamimu akan ikut tinggal di Jepang. Kebetulan mama punya kerabat orang Indonesia buka usaha di sana. Calon suami kamu sarjana Tehnik elektro. Jadi selama dia disana mendampingi kamu serta menafkahi uang kuliah kamu,"
"Kenapa dia yang menafkahi uang kuliah aku, Ma?"
"Karena sejatinya seorang istri sudah menjadi tanggung jawab suaminya. Orangtua hanya memantau saja," sahut Tina.
"Kenapa mama ingin aku cepat-cepat menikah? apakah aku sudah membebani mama. Atau karena mama mau nikah om Dirga sehingga tidak mau lagi mengurus aku,"
"Vira bukan begitu, Nak! Mama cuma ingin yang terbaik untuk kamu, itu saja,"
"Kalau mama tahu yang terbaik untuk aku, berikan aku hak untuk memilih jalan hidup termasuk memilih orang yang aku cintai sendiri,"
"Baik, kalau itu mau kamu. Mama tidak bisa memaksa kalau calon Opa Han tidak cocok dengan kamu. Tapi sejauh ini mama belum lihat orang itu berjuang untuk kamu. Panji saja sudah mundur. Siapa lagi tuh cowok yang cinta masa kecil kamu, belum ada pergerakan dari dia. Dan mama yakin sama pilihan opa Han. Semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya,"
Dawa yang merasa di singgung pun menaikkan kepalanya. Dia memang belum sekuat Panji, tapi saat ini dia pun juga masih berjuang.
"Perjuangan kamu masih belum kuat, Dawa," bisik Deka.
"Apa aku masih bisa memperjuangkan Vira, sementara gadis yang aku cintai memilih lelaki lain,"
"Tipis sekali, Dawa," ucapan Deka sontak membuatnya hatinya kacau.
"Sebenarnya saya mengumpulkan kalian semua disini akan membicarakan malam perjodohan Vira pada cucu sahabat saya. Sudah lama saya ingin melakukan perjodohan itu. Awalnya melalui Dewi, dulu anak teman saya pernah menjalin hubungan dengan Dewi di masa muda mereka, tapi mereka kandas. Ya, mungkin karena mereka masih muda.
Tapi kami akan menyambungkan silaturahmi itu dengan cucu.
Setelah beberapa tahun kami di pertemukan lagi dengan sahabatku ini. Maka dari itu, pernikahan Dewi dan Dirga akan di serempakkan dengan acara perjodohan Vira. Konsep acara bersifat tertutup karena khusus keluarga inti saja, bagaimana Dirga?"
"Saya ikut saja, kalian lebih tahu yang terbaik. Saya juga akan mengenalkan calon untuk anak saya Pandawa. Calon yang di pilihkan ibu saya pastinya. Jadi apakah acara anak saya bisa di gabungkan dengan pesta kalian,"
"Bisa!" jawab Dewi cepat.
__ADS_1