SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 116


__ADS_3

"Alhamdulillah pak Suprapto dan Maria sudah di tahan." kata Juna.


Juna tadi mendapatkan kabar soal laporannya yang di tindak pihak berwajib. Padahal baru semalam dia melaporkan Maria dan pak Suprapto atas yang mereka lakukan pada Tio.


Juna juga menyayangkan sikap Tio yang langsung menggunakan uang kas pabrik. Padahal kalau adik iparnya mau mendiskusikan tentu tidak akan serumit ini.


"Alhamdulillah, mas. Nggak sia-sia kita bertahan di Bandung demi masalah ini." Dira memeluk erat pinggang suaminya.


"Ya, kita harus berterimakasih kasih pada pak Sudrajat. Dimana kalau dia tidak mengadu soal Maria, mungkin dia tidak akan tahu nasib perkebunan. Rupanya pak Sudrajat juga di datangi Maria terkait kerja sama dengan Tio."


"Yang buat aku penasaran, Mas. Kenapa banyak klien yang mundur saat bekerjasama dengan Tio? kalau di rasa mereka tidak yakin dengan kinerja Tio kenapa mereka menerimanya? itu kan sama saja memberi kita harapan palsu."


Juna hanya terdiam. Selama ini dia menyadari sikap papa Johan yang suka pilih kasih antara dirinya dan Tio. Memang, Tio adalah menantu di keluarganya. Walaupun hanya seorang menantu Tio juga bekerja keras untuk membantu perkebunan.


"Ini semua salahku, sayang. Seandainya aku bisa membuat papa untuk percaya sama Tio. Mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Kamu tahu kan, kalau papa itu arogansi masih tinggi. Dia menganggap Tio seperti orang lain. Bukan seperti anaknya sendiri. Dulu papa menentang hubungan Tio dan Ayu. Sama seperti kita dulu. Dia punya standar sendiri untuk calon menantunya."


Dira tahu bagaimana kerasnya papa Johan pada kedua anaknya. Termasuk dalam pemilihan jodoh. Kakaknya Delia, Rayyan sudah di opor antara Ayu dan Eka. Karena dari semua bersaudara hanya Rayyan yang paling tampan. Wajah Rayyan mirip bintang aktor India, Hrithik Rohan. Tuan Shahab sangat membanggakan anak keduanya ketimbang anaknya yang lain.


"Mas, kamu tidak salah. Mungkin iya papa Johan terkesan pilih kasih. Tapi kan bukan karena kamu, Mas. Mungkin papa Johan bersikap seperti itu ada alasannya. Bisa jadi dia sebenarnya mau mendidik Tio agar bisa lebih mandiri.


Kamu ingat,Mas. saat aku masuk di kantor mama baru tamat kuliah. Aku mencoba jalur tes interview. Sampai kamu beberapa kali menertawakan aku."


"Ya karena aku mengenalmu sejak kecil. Tahu tentang kamu luar dalam. Makanya aku tidak percaya kamu bisa ikut interview. Semua pegawai lain di interview sama Feri. Dan kamu malah di interview sama aku .. dan ternyata gadis manja yang aku interview sekarang adalah istriku." Juna mendekatkan tubuhnya pada Dira.


"Kalau aku ingat malah nyebelin,Mas. Di kasih pertanyaan yang berat-berat. Seakan kamu itu nggak setuju aku kerja disana. Aku merasa setiap melaporkan pekerjaan kamu itu sengaja bikin aku down." Tapi kalau dia ingat masa itu Dira jadi merindukan suasana kantor. Sekarang dia sudah menggantungkan seragam kerjanya di lemari kamarnya.


"Dan aku rindu kantor" ucapnya lirih.


"Apa kamu menyesal berhenti kerja?" Juna merasa tidak enak pada Dira. pasalnya Dira sudah bekerja di PT. PUTRA NUSA sejak tamat kuliah yang saat itu usianya sudah 23 tahun.


"Tidak, Mas. Aku tidak menyesal. Aku akan lebih menyesal jika membiarkan kamu bolak-balik Jakarta Lembang. Kejadian kecelakaan itu membuat aku sadar kalau kamu lebih berarti dari apapun. Selama ini Mas Juna sudah sabar menghadapi aku yang keras kepala. Kejadian yang kamu alami membuat aku merasa menjadi istri yang durhaka.


"Sudah, sayang jangan di bahas lagi. Semua yang kita alami ambil hikmahnya. Aku juga salah, meninggalkan kamu saat lagi kritis. Padahal mama Salma sempat melarang aku pulang. Tapi mendengar papa kritis mau tidak mau aku harus pulang. Itu pun sudah izin dari mama Dewi.


Sayang, kamu mau ikut aku ke polres Bandung. Mengecek soal penangkapan Maria dan Pak Suprapto."

__ADS_1


Dira dan Juna saat ini berjalan-jalan di sekitar taman Maluku. Taman Maluku yang terletak di daerah jalan Riau ini salah satu destinasi wisata di kota Bandung. Sudah berdiri sejak zaman peninggalan Belanda.


Awalnya, objek wisata Bandung ini memiliki nama Moulekken Park.


Seiring waktu berlalu, nama tersebut berubah menjadi Taman Maluku. Kondisinya juga semakin megah, karena dibangun berbagai fasilitas umum lainnya.


"Sejuk ya, Mas." kata Dira saat mereka duduk di kursi yang di sediakan taman.


"Dekat sini ada mall, namanya Riau junction. Tapi kalau mau belanja sayur lebih bagus kita ke pasar Cihapit."


"Mas kamu promo kayak mau pindah ke kota."


"Rencananya sih begitu? tapi kalau kita sudah punya anak nanti.


Sepertinya dah mau mendung. Kita langsung ke polres terus pulang ke hotel. Besok pagi kita pulang ke Lembang."


"Iya, Mas."


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di depan kantor polisi. Juna turun terlebih dahulu di susul Dira. Mereka melenggang memasuki kantor polisi.


"Mas, aku ikut. Aku juga penasaran." Dira mengeratkan tangannya di lengan Juna.


"Permisi bisa saya bertemu dengan nona Maria? saya adalah Arjuna Bramantyo yang melaporkan nona Maria." tanya Juna pada petugas.


"Sebentar, pak." petugas itu meninggalkan Juna dan Dira.


"Silahkan, pak. Mereka sedang berada di ruang interogerasi." kata petugas dan langsung menuntun mereka.


"Saudara Maria Selena, apa benar anda pernah bekerja di PT. Bramantyo sebagai sekretaris." tanya petugas.


"Iya." Maria memalingkan wajahnya.


"Tatap mata saya, nona Maria!" hardik petugas kepolisian.


Maria masih memalingkan wajahnya. Tetap dengan keangkuhannya dia memilih bungkam dari pertanyaan petugas kepolisian. Maria merasa tidak bersalah atas apa yang di tuduhkan kepadanya.

__ADS_1


"Nona Maria!" petugas itu seperti habis kesabaran menghadapi Maria.


"Biar saya saja," Juna langsung memasuki ruang interogerasi.


"Anda siapa?" tanya petugas tersebut.


"Saya yang melaporkan dia. Saya mau bicara empat mata sama dia." Juna merasakan genggaman erat di jemari Dira.


"Kamu tenang saja, sayang. Banyak yang ingin aku tanyakan sama dia." Juna mencoba meyakinkan istrinya yang cemburuan.


"Maaf, pak. Ini sudah prosedur kami. Orang luar tidak boleh terlibat dalam tugas kami."


"Biarkan saja dia." Seorang lelaki muda masuk diantara Juna dan petugas tersebut.


"Tapi, Briptu..."


"Saya yang akan menjamin dia. Silahkan Mas Arjuna."


"Terimakasih Irwan." Juna pun masuk ke dalam ruang interogerasi.


"Maria, Kamu apa kabar? setelah saya memecat kamu waktu itu. Saya pikir kamu akan mengambil pelajaran atau menyadari kesalahan kamu. Tapi ternyata saya salah. Entah apa yang ada di pikiran kamu sampai harus memeras Tio."


"Memeras Tio, hah!" Maria tertawa melengking.


"Kapan saya memeras pria bodoh itu. Itu adalah kebodohan dia sendiri. Saya kan hanya memberi tawaran jika dia mau diajak kerjasama lagi, dia harus bayar uang sebesar 500 juta. Salah nya dimana?"


"Salahnya kamu yang memanfaatkan semua ini. Kamu memanfaatkan kelemahan Tio untuk kepentingan kamu. Lagian kenapa kamu menemui relasi bisnis kami. Kamu tidak ada lagi sangkut pautnya dengan pabrik."


"Oh, ya Juna. Tapi kamu apa tidak penasaran kenapa papamu bisa meninggal dunia. Padahal dia sudah dinyatakan sehat. Apa kamu tidak merasa penasaran dengan penyebabnya? saya punya kunci jawaban dari semua permasalahan yang terjadi selama kamu hilang. Asal kamu cabut tuntutan pada saya."


BRAAAAAK!


Maria kaget mendengar Juna menggebrak meja. Baru kali ini dia melihat amarah dalam diri lelaki itu. Seketika nyalinya menciut. Bukan hanya Maria saja.


Petugas yang mengawasi proses interogasi pun ikut terkejut.

__ADS_1


"Saya tidak akan pernah menoleransi orang yang ikut campur urusan keluargaku. Terutama rumah tanggaku. Jadi jangan harap saya mau mengeluarkan kamu dari penjara. Orang seperti kamu memang pantas di sini."


__ADS_2