
Baru saja aku melangkah masuk ke rumah. Kedatangan Elsa sungguh membahagiakan hati. Tadinya aku pikir Elsa bakalan liburan ke Thailand bareng keluarganya. Tadi ternyata dugaanku salah. Elsa muncul dengan wajah bahagianya menyambutku. Harusnya aku yang menyambut Elsa secara dia yang jadi tamu. Tapi ini malah terbalik. Tangan Elsa menarikku masuk ke dalam. Sepertinya dia mau mengenalkan calon suaminya.
"Sa, kalau kamu bahagia aku juga ikut bahagia." batinku.
Tapi apa yang aku temukan di depan mata. Lelaki yang sudah aku benci setelah papa. Entah sekarang aku malah tidak respek lagi sama papa. Di samping apa yang sudah dia lakukan sama aku. Juga apa yang sudah dia balas dari pengorbanan kak Feri.
Satu hal yang membuat aku benci sama Dawa, dia bukanlah lelaki yang bertanggung jawab. Bukan sosok yang idaman sekali. Tampang saja yang ganteng, hatinya busuk. Tidak ada bedanya dia sama kakaknya. Aku takut Elsa menjadi korban selanjutnya.
Aku bisa saja sok manis menerima kedatangan Dawa. Sayangnya hati kecilku berkata lain. Mengingat apa yang dia buat sama Kayla sudah membuat darahku mendidih. Aku tidak mau persahabatan hancur hanya karena seorang Dawa. Bayangan Elsa dan Kayla menangis bahkan hancurkan diri menari-nari di khayalku.
Tanganku terasa gatal, rasanya aku wajib memberinya pelajaran. Biar dia tahu kalau wanita tidak gampang diinjak-injak. Kalau dia marah merasa tersakiti, aku tidak peduli.
Aku masih berperang antara si baik dan si buruk.
"Vira kamu buat lelaki itu jera, jangan sampai dia mendapatkan Elsa." kata hati si buruk.
"Vira kamu jangan tersulut emosi." kata si baik.
"Hay, baik kamu jangan pengaruhi Vira. Cowok kayak Dawa pantas di kasih pelajaran."
"Hai buruk. Vira ini gadis baik-baik. Tidak ada ceritanya dia mengotori tangannya untuk kekerasan."
"Diam lu baik!"
"Kamu juga diam, Buruk!"
Aaaaaarrrrgh!
Vira masih menatap Dawa dengan kebencian. Persetan dengan siapa Dawa di masa lalunya. Darahnya sudah naik ke ubun-ubun. Bagi Vira sekali brengsek selamanya brengsek.
"Sayang, itu fitnah percayalah." Dawa masih mencoba meyakinkan Elsa.
"Bukankah kemarin sudah saya jelaskan yang sebenarnya kalau saya menikahi Kayla sebagai balas budi sama om Irul. Kalau saya tahu Kayla sudah hamil saya tidak akan mau."
"Vira, Kak Dawa benar. Dia tidak pernah menghamili Kayla."
__ADS_1
Vira menyunggingkan sudut bibirnya.
"Masa? sejak kapan dia mendekati kamu, Sa?"
"Dua hari yang lalu sehari sebelum datang kesini."
"Kok kamu gampang menerima dia? kamu lupa dia itu bejat."
"Atas dasar apa kamu menuduh saya seperti itu?" Dawa berjalan mendekati Vira. Sebenarnya nyali Vira sudah menciut ketika Dawa berjalan kearahnya. Tapi dia bisa menutupinya. Vira masih berlagak garang. Kaki Vira langsung melayang kearah ************ Dawa.
BUUUUUGH!
Dawa menjerit kesakitan saat tongkat saktinya di hajar Vira. Bukan hanya sekali tapi 3 kali Vira mengulang aksinya.
Ada kemenangan tersulut di wajahnya. Kalau dalam ring tinju dia sudah diarak menjadi pemenangnya.
"Itu untuk lelaki seperti anda. Dan saya peringatkan kamu jangan ganggu Elsa."
"Mau kamu apa, Vira? saya tidak pernah ganggu kamu. Saya juga sudah jelaskan yang sebenarnya. Kenapa kamu yang masih ngotot." Dawa masih sempat membela diri meskipun dalam keadaan merintih.
"Vira!"
Elsa melihat hal itu langsung menolong Dawa. Meletakkan lelaki itu diatas kursi. Juna yang melihat hal itu turut membantu Dawa. Sementara Dira menarik Vira masuk ke dalam kamar.
"Kamu kenapa sih, Vira?"
"Kak aku harus melindungi Elsa dari lelaki macam dia. Dia itu brengsek, Kayla saja di campakkan apalagi Elsa."
"Itu urusan mereka, Vira, Bukan urusan kamu. Mereka datang jauh-jauh dari Jakarta hanya untuk ketemu sama kamu. Tapi apa yang sudah kamu lakukan.... Kamu jangan bikin kakak pusing, Vira. Kamu datang tiba-tiba, kamu malah bohong sama mama. Dan kamu malah bikin ke kekacauan dengan tamu kakak."
"Apakah kedatangan aku sangat merepotkan kalian? sepertinya kak Dira yang keberatan dengan kedatangan aku."
"Bukan gitu, Vira." Dira mengacak rambutnya sendiri. Dia bingung menjelaskan pada Vira.
"Ra..." suara Elsa terdengar lirih.
__ADS_1
"Sa, aku seperti ini karena aku tidak mau kamu bernasib sama seperti Kayla. Aku sebagai sahabat kamu harus mengingatkan sebelum kamu jatuh lebih dalam."
"Percayakah kamu sama Kayla sampai semua omongan dia di telan mentah-mentah. Sebegitunya kamu membela Kayla, Ra. Kak Dawa sudah menjelaskan semuanya bukan sama aku saja. Tapi di depan papaku juga. Dan aku percaya sama dia.
Kamu bukan sahabatku, Ra. Kalau kamu sahabatku, tapi kamu lebih mendengarkan orang lain."
Vira kaget melihat reaksi Elsa. Sebegitukah perasaan Elsa pada Dawa hingga tidak mendengarkan teguran dari temannya sendiri. Vira memandang Elsa yang memapah Dawa meninggalkan rumah Dira. Tatapan Elsa seperti marah pada dirinya.
"Sa, sebegitu cintakah kamu pada dia. Padahal kamu baru mengenalnya." batin Vira.
Setelah pulangnya Elsa dan Dawa, Vira diminta kakaknya untuk berkumpul di ruang tamu. Vira sudah menebak dia pasti akan di marahi kakaknya terkait kejadian tadi. Vira tetap merasa yakin kalau yang dia lakukan sudah benar. Bukan semata-mata masalah Kayla. Tapi demi melindungi Elsa.
"Duduk!" Dira sudah menatapnya dengan tajam.
Vira baru saja selesai makan malam. Dira meminta adiknya menyusul ke ruang tamu. Suara Juna masih membujuk istrinya untuk bicara dalam keadaan kepala dingin.
"Kamu jangan terbawa emosi, sayang. Ingat kamu lagi hamil. Apa yang kamu rasakan akan mempengaruhi kondisi anak kita."
"Mas, aku malu sama Elsa tadi. Vira main emosi saja."
"Iya, tapi bicaranya baik-baik saja. Jangan dengan otak yang sedang panas."
Vira hanya bisa menunduk. Nyalinya yang tadi besar sekarang menciut. Dia harus rela di tatar habis-habisan oleh kakaknya. Hanya ada Juna dan Dira. Vira memandang kearah Juna, mungkin dia dapat perlindungan dari kakak iparnya. Apalagi selama ini kak Juna selalu di pihaknya.
"Kamu tahu kan kenapa kakak memanggilmu kesini?" Vira menggelengkan kepalanya. Walaupun dia sebenarnya tahu, dalam hatinya berharap bukan seperti yang dia takutkan.
"Kakak mau tanya, apa kamu tahu tentang Dawa? kenapa kamu sebegitu marahnya pada lelaki itu?"
"Dawa itu adiknya Padma, Kak Dira. Perempuan yang sudah masuk dalam rumah tangga mama dan papa. Dawa itu adalah ..."
"Pandawa Danuarta, alias Danu, jadi kamu sudah tahu kalau dia itu Danu-nya sapi?" Tebak Dira.
Vira mengerutkan dahinya. Dia benci panggilan itu. Tapi faktanya memang hanya Danu yang memanggilnya "Sapi"
"Sayang, maaf kalau boleh tahu siapa itu Danu dan Padma."
__ADS_1
Dira akhirnya memberitahu keterkaitan Danu dan Padma dalam urusan rumah tangga orangtua mereka. Termasuk sosok Irul yang berniat menghancurkan perusahaan dengan meminta Dawa memasuki perusahaan. Itu baru dugaan yang mama Dewi diskusikan pada Dira dan Feri.