
Perjuangan dan pengorbanan itu mungkin berlangsung selamanya. Itulah mengapa, butuh komitmen dan kejujuran agar setiap proses yang dijalani berlangsung tanpa halangan yang berarti.
Pernikahan bahagia bukan berarti pernikahan bebas masalah. Tak ada janji surga bahwa pernikahan bahagia tidak akan menghadapi persoalan dan pertengkaran.
Pernikahan bahagia bisa terwujud, satu di antaranya dengan kekompakan dan kesehatian suami istri mengatasi masalah itu, bagaimana merespons dan mencari solusi atas permasalahan tersebut. Pernikahan bahagia juga bisa tercapai jika suami dan istri terus menjaga rasa cinta, saling memiliki, saling pengertian, saling menghormati serta menghargai.
Seperti kebanyakan suami istri lainnya. Dira duduk di teras rumahnya menanti suaminya pulang dari pabrik. Dia mendengar kabar kalau suaminya bakal lembur karena akhir tahun. Sambil menikmati pemandangan perkebunan yang luas di depan rumahnya. Dira pun sedikit bersenandung untuk melepas penat setelah seharian berkubang dengan pekerjaan rumah.
"Kak Dira." sapa gadis muda yang melewati rumahnya.
"Cahaya, kamu sudah sehat?" tanya Dira.
"Sudah, kak. Ya walaupun masih ada sisa-sisa nyeri di tubuhku. Aku agak mendingan. Kak Dira lagi apa?" tanya cahaya.
"Nggak lagi apa-apa. Sini duduk aku pengen dengar cerita kamu selama di Singapura." ajak Dira menarik tangan Cahaya untuk duduk di teras rumahnya.
Cahaya adalah kekasihnya Oka, kakaknya Delia. Gadis yang kini usianya masih 19 tahun kemarin dapat bantuan untuk berobat jantungnya di Jakarta. Namun ternyata di rumah sakit tersebut kuotanya penuh. Ada seorang pengusaha baik hati mau membantu pengobatan sampai ke Singapura. Baru satu bulan dia di sana, cahaya dapat donor jantung dari seseorang wanita.
Si pendonor merahasiakan identitasnya. Hanya dia pernah di beritahu sama suster disana kalau pemilik jantungnya sekarang penderita alzheimer. Aya minta alamat dan identitas si pendonor tapi tidak di beri tahu. Dia bisa berterimakasih pada sang pemberi.
"Kira-kira orang mana yang donorkan jantung kamu?" tanya Dira setelah mendengar cerita cahaya.
"Tidak tahu,kak. Bisa jadi orang daerah sana."
"Apapun itu, patut kamu syukuri karena Allah memberikan titik terang dalam pengobatan kamu. Allah mengirimkan perantara melalui wanita itu. By the way kamu pacaran sama kak Oka sudah berapa lama?"
"Ini tahun ketiga, kak. Alhamdulillah kak Oka mau menunggu aku sampai tamat kuliah. Rencananya aku mau kuliah di Jakarta mengambil jurusan komunikasi. Aku pengen banget buka EO, kak." Cahaya membayangkan dia berdiri di sebuah gedung. Mengatur proses sebuah acara penting.
"Kamu tahu adik kak Oka belum lama ini meninggal dunia. Suaminya itu bekerja di bidang EO. kamu belajar dari dia saja." kata Dira promosi.
"Nggak tahu, kak. Aku kan belum satu minggu pulang kesini. Maaf, kak aku pulang dulu. Soalnya tadi di suruh ibu ke warung. Nanti dia nggak jadi masak."
__ADS_1
"Ah, iya cahaya. Terimakasih sudah mampir. Hitung-hitung aku ada temannya." Cahaya pamit meninggalkan rumah Dira. Dira masuk ke dalam. Kakinya terhenti saat kepalanya mulai pusing. Dira berjalan terus memegang dinding rumah.
Dira memandang langit yang berwarna jingga. Cahaya matahari yang menguning seakan melepuh di hamparan dedaunan hijau. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari seng rumah.
Di atas hamparan perkebunan teh yang hijau. Beberapa orang sedang berlalu lalang, waktunya mereka pulang setelah seharian bekerja. Mereka menundukkan kepalanya saat menyapa Dira. Dira pun membalas sapaan orang-orang yang mengabdikan diri pada pabrik milik suaminya.
"Assalamualaikum," sapa Arjuna.
Dira menyalami serta mengambil tas kerja milik Arjuna. Lelaki itu duduk sejenak, Dira membungkukkan badannya guna melepaskan sepatu suaminya. Juna melarang Dira melakukan hal itu.
"Tidak apa, Mas. Ini sudah tugas aku sebagai istri untuk melayani suaminya. Kamu pasti capek bekerja seharian. Aku tadi masak sayur lodeh sama sambal ikan nila. Itu sudah aku ..."
Dira kaget ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Dengan kepala yang bertengger di pundak.
"Aku tidak butuh apapun saat ini. Aku hanya butuh kamu, Dira. Aku hanya mau kamu itu saja. Kamu nggak perlu melakukan semua ini. Aku masih bisa buka sepatu sendiri, aku masih bisa membawa tas kerjaku sendiri.
Iya aku tahu ini termasuk bakti istri pada suaminya. Tapi aku tidak minta kamu melakukan itu. Lelah ku tidak sebanding dengan yang kamu lakukan seharian di rumah. Kamu subuh sudah bangun, ikut ke pasar subuh sama Mak Wiwit, kamu masak terus beresin rumah. Sedangkan aku hanya duduk di depan laptop."
"Mas makan dulu, ya. Aku mau ambil sesuatu di kamar." pamit Dira. Juna mengangguk lalu kembali menikmati masakan buatan istrinya.
Selesai makan Juna mencuci piringnya sendiri. Dirumah hanya mereka berdua. Juna tadinya mau duduk santai karena ada yang mau dia bahas bersama Dira. Namun Dira tak kunjung keluar dari kamarnya.
Juna penasaran kenapa istrinya tak kunjung keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju pintu kamar berbahan kayu. Dia mengetuk pintu memanggil nama istrinya berkali-kali. Namun tak ada jawaban, pelan-pelan dia membuka pintu. Juna kembali memanggil nama istrinya, suara jawaban lembut pun menjawab panggilannya.
"Mas, aku mau nanya boleh?" sapa Dira yang memakai gaun putih cantik. Istrinya juga sudah cantik dengan aroma tubuh yang wangi.
"Apa?" Juna mengeratkan kedua tangannya di pinggang istrinya.
"Jika kita sudah tua nanti, apakah kamu akan tetap mencintaiku? walaupun aku nanti sudah membungkuk, rambut memutih, mataku nanti tak bisa melihat lagi, apakah ..."
"Kamu tahu, kita sudah banyak melalui banyak hal. Saat aku mencari tambatan hati, perjuangan mengejar cinta seorang Medhira Utami, kita di hadapkan restu yang sulit di gapai. Terpisah karena karena keadaan. Dan kembali di persatukan lagi. Tidakkah itu membuktikan kalau aku memang di takdirkan untuk dirimu."
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu tutup mata, mas. Aku sedari sudah menyiapkan semua ini." bisik Dira.
"Oke," Juna pun menutup mata.
"Assalamualaikum, Ayah. Bunda mau ngenalin seseorang nih. Seseorang yang akan menambah suasana rumah menjadi hidup." suara Dira menggema di indera pendengaran Juna.
"Ayah, maksud kamu?"
Dira mengeluarkan sebuah kotak kecil dan memberikannya untuk Juna.
"Ini apa? bukannya aku dan kamu masih lama ultahnya."
"Buka saja, Mas."
Juna membuka kotak hadiah berwarna merah. sebuah alat testpack bergaris dua pun kini ada di depan mata.
"Kamu hamil lagi, sayang?" seru Juna. Dira mengangguk kecil.
Juna memeluk istrinya penuh bahagia. Ini benar-benar hadiah terindah yang takkan dia lupakan.
"Kamu sudah siap hamil lagi, sayang?"
"Aku siap, Mas. Tadinya aku sempat takut. Tapi mama dan Ayu meyakinkan aku kalau ini adalah anugerah yang diberikan oleh Allah."
"Terimakasih, sayang. Terimakasih." Juna kembali memeluk Dira tanda rasa bahagia.
****
Assalamualaikum, ini bab yang semalam ketukar penempatannya. Maaf ya dengan trouble nya dan bikin kalian bingung.
Tolong di baca ulang dari bab 123
__ADS_1
terimakasih