SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 110


__ADS_3

Vila kecil bergaya Eropa yang terlihat kukuh dan berwibawa. Suasana Vila yang menyambut seorang lelaki berbadan tinggi dan tegap itu dengan aroma wangi bunga mawar. Sosok itu tentu saja sambil menggendong seorang wanita yang sudah tertidur pulas. Tatapannya tak pernah lepas dari wanita rambut panjang tersebut. Serasa menelan salivanya saat melihat betapa cantiknya wanita tersebut. Memori demi memori terus berputar. Segenggam rasa rindu yang baru beberapa hari saja terpisah.


Juna dan Dira tadinya hanya mau jalan-jalan ke puncak. Tadinya Vira akan diajak yang sudah selesai ujian semester. Feri tidak ikut, karena dia sedang sibuk membangun rumah untuk papanya.


Semua itu menjadi urung karena Vira menolak diikuti sertakan. Mengingat nantinya bakal jadi kambing congek di antara pasangan itu.


Tadi malam penempatan tinggal Andre menjadi perdebatan. Beberapa sanak famili mamanya meminta meletakkan Andre di panti jompo.


Tentu saja Feri keberatan. Semua anaknya masih sedang wal afiat, masih di beri rezeki yang lebih. Buat apa mereka meletakkan papanya di panti jompo.


"Lagian ngapain masih memelihara dia? Kalian tidak lupa apa yang pernah dia lakukan dulu. Kalian lupa kalau dulu dia jahat. Jadi buat apa di terima kembali." Protes om Rama, sepupu mama Dewi yang paling tua.


"Tapi, om. Papa sudah tobat. Kami masih bisa menerima dia, memberinya kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar. Papa masih kurang sehat. Apa salahnya kami merawatnya sebagai bakti kami."


"Kenapa dia tidak minta sama perempuan-perempuan yang pernah jadi selingkuhannya. Bukankah mereka lebih memuaskan." sahut Tante Rani sinis.


Andre hanya terdiam. Dia juga tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan kepada dirinya. Kalau pun dia menjawab akan percuma. Sekali tertuduh selama akan dianggap tertuduh.


"Cukup! Tante. Tante sudah terlalu dalam ikut campur urusan keluarga kami." Amuk Dira pada Tante mudanya.


"Oh, ya. Kalau nggak ada masalah segenting inj. Aku juga tidak mau ikut campur, Dira. Jangan menolak lupa dengan apa yang sudah dia lakukan pada mamamu dan juga adikmu."


Dira kembali melototi Tante mudanya. Mereka sudah susah payah menyimpannya dari Vira. Tapi sang Tante malah mengungkitnya. Juna mencoba menenangkan istrinya yang sedang emosi. Lelaki itu mengajak istrinya menenangkan diri di kamar.


"Sudahlah, sayang. Kamu jangan emosi kayak gitu. Ya walaupun sebenarnya kesal juga sih lihat Tante Rani minta meletakkan papa kamu di panti jompo. Tapi ada sisi positifnya, mereka sebenarnya care sama keluarga kita. Mengingat masa lalu yang papa buat di keluarga.


Feri sudah bagus mau menerima papa Andre di keluarga ini. Pro dan kontra itu pasti ada. Tinggal bagaimana kita menyingkapi masalah ini. Perlu rembukan baik-baik untuk mencari solusinya."


"Entahlah, Mas. Aku tidak bisa berpikir jauh. Aku tahu apa yang papa lakukan di masa lalu sangat keterlaluan. Tapi nggak harus meletakkan di panti jompo juga kan."


"Sayang, besok kita jalan-jalan ke puncak. Mau?" tawar Juna.


"Mas, saat genting begini kamu malah ajak jalan-jalan."


"Sayang, lusa aku ada pertemuan dengan tuan Sudrajat di Bandung. Jadi selepas ke puncak kita langsung pulang ke Bandung. Bagaimana?"


"Naik motor?" Juna mengangguk.

__ADS_1


"Bukannya kita berangkat juga naik motor dari Lembang ke Jakarta. Jadi nggak masalah kan? kalau kamu capek, nanti kita nginap saja di hotel. Seperti kemarin. Bagaimana?"


"Aku ikut saja deh, mas. Asal sama kamu." Dira mengalungkan kedua tangannya di pinggang Juna.


"Itu baru istriku." Juna menjentik hidung Dira.


Setelah sholat subuh, Dira dan Juna akhirnya berangkat ke puncak dengan motor besarnya. Menghabiskan quality time berdua bisa menjadi momen langka bagi pasangan suami istri. Sesekali, berhenti sejenak dari kesibukan untuk menghabiskan momen berkualitas bersama.


Udara puncak yang sejuk. Beserta pemandangan pegunungan yang indah. Tampak beberapa rumah-rumah kecil seperti sebuah perkampungan.


Sebuah perkampungan kecil yang masih belum dijamah modernisasi. Suhu yang sejuk dengan terpaan angin kecil. Terlihat perkebunan warga yang terhampar luas menambah kesegaran untuk sekedar melepas penat.Sekarang saja tempat ini terlihat indah, mungkin kalau malam hari akan lebih indah. Ditemani kelap kelip lampu desa.


Juna menghentikan motornya. Mengajak istrinya menikmati udara pagi di sekitar arah puncak. Sengaja mereka berangkat setelah sholat subuh. Supaya bisa menikmati udara pagi disana. Tampak langit belum begitu terang. Justru momen ini terasa romantis karena belum banyak kendaraan yang melintas. Kalau berangkat agak siang takut macet. Apalagi ini adalah weekend.


"Seger banget udaranya, Mas."


"Mana seger sama di Lembang?"


"Sama saja, Mas. Apalagi kalau sama kamu."


"Kamu. Kamu yang ngajarin aku untuk mensyukuri hidup. Kamu yang ngajarin aku supaya bertahan dalam badai rumah tangga kita."


"Sudah terang, Mas. kita berangkat lagi yuk."


Juna dan Dira pun kembali ke motor mereka. Terlalu lama meninggalkan ransel membuat mereka sedikit was-was. Meskipun di tengah hutan, tapi yang namanya kejahatan kan bisa terjadi dimana saja.


"Sudah, siap?"


"Sudah, Mas."


"Bismillahirrahmanirrahim, Semoga perjalanan kita di lindungi Allah."


"Amin."


Motor melaju meninggalkan area hutan. Dira mengeratkan pelukannya di pinggang suaminya. Mereka akan menempuh perjalanan sekitar satu jam lebih. Juna akan membawa Dira ke Vila milik keluarganya.


******

__ADS_1


"Pah, apa sebaiknya aku batalkan pernikahan ini?"


Irul membulatkan matanya ketika mendengar Kayla ingin membatalkan pernikahan. Undangan sudah tersebar, para relasi sudah tahu, Gedung sudah di pesan. Dan sekarang putrinya ingin membatalkan pernikahan. Dimana dia letakkan mukanya nanti.


"Kenapa kamu mau batalkan? kamu mau hamil tanpa suami?"


"Papa kan tahu kalau aku ...."


"Jangan sebut nama gembel itu! papa tidak sudi menjadikan dia menantu! derajatnya sangat jauh. Kamu jangan harap papa merestui kalian."


"Tapi, pa.."


Aku tidak boleh menyerah. Aku harus memanfaatkan Dawa untuk menghancurkan keluarga Dewi Savitri. Orang yang membuat aku hilang kepercayaan dari perusahaan.


Seharusnya aku yang menjadi manajer kepercayaan perusahaan itu. Seharusnya aku yang menikah dengan Dewi. Bukan staf rendahan seperti Andre. Dulu aku sangat ingin menguasai perusahaan itu, tapi semuanya hancur.


Kalau aku hancur Dewi juga harus hancur!


Lamunan irul buyar saat merasa Handphonenya di sakunya bergetar. Senyumnya mengembang saat tahu siapa yang meneleponnya.


"Iya, ada apa Dawa?"


"Ini, Om. Tante Dewi mencabut saham yang sudah dia tanamkan di perusahaan. Bukan hanya itu. Semua yang dia berikan ke kita termasuk proyek kerjasama dan investasi juga di cabutnya. Sebagian aset menjadi turun."


"Kenapa bisa!" berang Irul.


"Aku juga tidak tahu, Om. Ini masih di selidiki, bukankah om mengirim Ical berkerja di PUTRA NUSA." Jelas Dawa.


Setelah memutuskan komunikasi. Dawa memeriksa beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Dawa pusing dengan masalah perusahaan yang datang secara tiba-tiba. Di pejamkan matanya sesaat. Dalam pejamannya tampak sosok kecil berlari di hadapannya.


"Kakak jangan panggil aku seperti itu!"


Dan suara itu berubah menjadi suara gadis dewasa.


"Yang kakak lakukan itu, jahat! kak Danu .. Danu jahat!"


"Sapi!"

__ADS_1


__ADS_2