
Siang ini seorang gadis duduk di teras belakang rumahnya. Memandang langit terang, bahkan saking terangnya tak ada awan sedikit pun. Hamparan langit biru bersih tanpa awan.
Langit merupakan salah satu bentuk alam yang Tuhan berikan pada kita. Langit menjadi salah satu kejadian alam yang begitu luar biasa, sehingga tidak heran bila banyak kata-kata tentang langit yang dibuat sebagai sebuah perumpamaan. Tak hanya itu saja, kata-kata tentang langit juga banyak dibuat karena bentuknya yang begitu indah dan luar biasa.
Suasana rumah yang sepi, mamanya sedang berada di kantor, begitu juga sang kakak. Sedangkan kakak iparnya dan si kembar sekarang ke Bogor, ikut keluarganya jenguk Amar yang nyantri disana.
Bi Inah masih tampak asyik di dapur. Sementara Uti juga punya pekerjaan lain. Dia sendiri? hanya sebagai penikmat waktu.
"Andai ada Elsa pasti seru, nih?" keluhnya.
Vira merogoh handphonenya. Sudah hampir empat hari sejak paket datang si "Pengagum Sepanjang Masa" belum ada memberi kabar. Entah sedang apa sosok itu saat Vira tidak bisa membayangkan. Biasanya saat dia pusing oleh tugas kampus, si pengirim pesan selalu berusaha menghiburnya. Seakan dia tahu apa yang Vira rasakan.
Ting!
Pengagum Sepanjang Masa
"Kamu pernah dengar Tere Liye?"
Vira
Pernah, kenapa?
Pengagum Sepanjang Masa
Mau dengar apa kata dia?
Savira sedang mengetik
Halooo ....
Masih ada orang disana, jangan panjang mengetiknya.
Nanti jarinya keriting.
Vira
Ya aku pengen dengar kamu melantunkan kata si Tere Liye bukan melalui teks.
Anda paham kan maksud saya?
Lama pesan itu terabaikan, entah apa yang di lakukan si "Pengagum Sepanjang Masa" tidak membalas pesannya.
Sudah ku duga, dia hanya sosok pengecut yang hanya berlindung di balik ketikan message. Semua pria sama saja, kak Panji, kak Danu, mereka berdua tidak ada bedanya. batin Vira.
Vira meninggalkan teras belakang rumahnya. Entah kenapa dia merasa kesal karena permintaannya tidak di tanggapi sama teman onlinenya. Demi menghilangkan rasa kesalnya, Vira Memilih memasuki dapur, periksa apa yang bisa jadi pengganjal perut. Entah kenapa beberapa hari ini dia gampang lapar.
"Non Vira mau cari apa?" suara gadis muda menyapa anak majikannya.
"Masak, salad sayur pakai macaroni," kata Vira memasukkan macaroni ke dalam rebusan air.
"Bukannya salad itu cuma buah dan sayur. Kok pakai macaroni? ih, si Enon Aya Aya wae," Uti tertawa kecil. Sesaat dia menghentikan tawanya karena merasa tidak sopan.
"Nggak apa-apa, Ti. Aku lagi pengen saja. Pernah lihat di internet, pas coba di tempat kak Dira enak kok, kak Juna saja minta resep," kata Vira.
"Ooo, saya bantu siapkan bahannya ya, kak. Soal kalau soal salad saya tahu. Cuma kaget aja kalau pakai mie," Uti dan Vira pun menyibukkan diri di dapur. Setelah hidangan selesai, Vira pun mengajak Uti mencicipi masakannya.
"Enak, Non, wah non Vira sudah cocok nih jadi ibu rumah tangga,"
__ADS_1
"Apaan sih, cuma masak gini sudah bicara kemana-mana? aku masih mau kejar cita-cita, Ti. Kamu juga jangan ngebet pengen nikah, kejar dulu apa yang mau kamu cita-citakan, kamu masih muda,"
"Maaf, non bukan lancang. Aku pengen tanya tapi non jangan marah ya?" Uti masih takut-takut tapi daripada penasaran.
"Apa, asalkan jangan nanya kapan kawin nggak akan aku jawab!" ucap Vira tegas.
"Nggak jadi,Non,"
"Yasudah, ini buat kamu sama Bi Inah," kata Vira sambil berjalan menuju ruang televisi.
Suara bel berbunyi pun terdengar membuat Vira beranjak dari sofa depan. Meletakkan makanannya di meja, gadis itu berjalan menuju pintu depan.
Seorang kurir berdiri di depan pintu. Kurir jaket hijau menyerahkan satu kotak pake berlogo makanan francise ternama.
"Saya mengantarkan kiriman makanan untuk non Vira. Ayam goreng tanpa kulit, Burger Cheese dan Avocado float,"
"Saya tidak pesan ini pak,"
"Ini atas nama Pengagum Sepanjang Masa, mbak," kata kurirnya.
"Terimakasih, Pak,"
Vira membawa makanan itu ke ruang televisi. Sepucuk surat kecil menyempil di kotak burger.
Ada cahaya terang di sini! Cahaya ini datang dari matahari atau kamu yang lagi tersenyum ya?
Pasti tersenyum kan?
Apalagi di depan makanan ini.
Vira tanpa sadar tertawa kecil membaca surat kecil itu.
Bagaimana aku mengucapkan kata-kata, "Maafkan aku" ketika aku tahu bahwa kata-kata itu tidak cukup? Dan bagaimana aku bisa memintamu untuk memaafkanku ketika aku tahu aku tidak bisa memaafkan diri sendiri?"
Mungkin kamu tadi akan berpikir aku tidak punya nyali untuk bertatap muka. Iya sih, aku sedikit minder karena keadaanku sekarang. Aku takut nanti kamu tidak menerima pesanku lagi.
Begitu banyak ketakutan yang aku rasakan.
Maaf jika tadi tidak merespon keinginanmu untuk bertatap muka.
kata Tere Liye begini,
Hanya karena seseorang itu sabar tingkat langit, maka bukan berarti dia lantas bisa disakiti, diinjak begitu saja. Hanya karena seseorang kuat, strong, maka bukan berarti dia jadi layak dikecewakan, dikhianati, dan diperlakukan tidak adil.
Segala sesuatu yang baik, selalu datang di saat terbaiknya. Persis waktunya. Tidak datang lebih cepat, pun tidak lebih lambat. Itulah kenapa rasa sabar itu harus disertai keyakinan..
Dan aku yakin waktu yang akan mempertemukan kita.
Vira menyimpan makanan kiriman dari secret admirernya. Karena sudah terlanjur membuat salad tadi. Sambil menonton drama Korea misteri favoritnya. Entah itu bisa disebut misteri apa bukan malah banyak adegan kocak membuatnya tertawa lepas.
"Non ada den Panji di teras depan," kata Bi Inah.
"Suruh masuk aja, Bi," kata Vira.
"Dia bilang nunggu di gazebo saja,"
"Yasudah, suruh dia tunggu sebentar," Vira membawa makanan saladnya ke gazebo.
__ADS_1
"Astaga, nggak perlu repot-repot, Ra. Saya sudah kenyang, tadi ketemu relasi dan kepengen mampir kesini,"
"Emang siapa yang kasih sama Om Panji. Ini punyaku tau!"
"Owh, kirain. Abis kamu menenteng makanan bikin ngiler gini" Panji mengedarkan pandangan ke seluruh arah. Setiap sudut tempat memiliki banyak kenangan selama dia mengenal keluarga Dewi Savitri. Keluarga kedua setelah keluarganya Randi.
"Lapar!" Vira tanpa malu menyantap makanan di depan Panji.
"Kamu tahu apa yang buat aku jatuh cinta sama kamu?" kata Panji.
"Sudah pasti karena aku cantik kan?" Panji menggelengkan kepalanya. "Tet tot salah,"
"Yasudah, mungkin dulu ada hal istimewa dalam diriku. Aku kan limited edition," Vira tertawa masih penuh dengan isi salad.
"Ih, kamu ya, jorok banget sih!" Panji mengacak rambut Vira. Sama seperti dulu saat mereka belum jadian kebersamaan itu terasa kental. Sayangnya saat mereka sudah punya hubungan hal seperti itu malah berkurang.
"Sebenarnya kak Panji kesini ada urusan apa? tumben tumbenan nyari aku?" Vira langsung to the point.
"Nggak ada, aku cuma mau silaturahmi sama kamu, Ra. Walaupun kita bukan sepasang kekasih lagi, tapi kita sudah sepakat menjalin persahabatan saja. Sama seperti dulu, saat kita belum di kukung ikatan hubungan,"
"Aku sudah maafin kak Panji. Tapi kak Panji tahu kan untuk kembali merajut kisah yang sudah berantakan rasanya belum bisa. Kalau untuk berteman saya masih bisa,"
"Aku tahu, Vira. Kesalahan yang aku buat sudah fatal di mata kamu dan juga keluargamu. Aku paham kalau kamu masih sakit atas sikapku. Maafkan aku,Vira. Aku gampang tersulut emosi saat tahu kamu sudah di lecehkan papa Andre. Tapi izinkan aku tetap menjaga kamu layaknya kakak pada adiknya,"
"Nggak perlu segitu kak Panji. Jika hanya sekedar melindungi, aku masih punya Kak Feri, masih punya Allah. Aku boleh bicara sesuatu sama kak Panji?"
"Apa itu?"
"Coba kak Panji mengenal dekat kak There,"
"Kenapa jadi bahas There sih?" Panji terlihat kesal.
"Karena kak There pernah bilang sama aku, dia kenal kak Panji sudah sejak kecil. Dari cara dia membicarakan kak Panji aku tahu kalau kak There suka sama kakak. Tapi dia minder, karena kak Panji tidak mengenalinya,"
"Kapan dia bilang begitu sama kamu?"
"Waktu kita masih punya hubungan,"
"Sudah ... sudah ...tidak usah di lanjutkan, sepertinya aku harus kembali ke kantor," Panji mendadak pamit pada Vira.
"Kak," suara Vira menghentikan langkah Panji.
"Ya,"
"Kak Panji tahu kalau pak Randi di pecat dari kampus?"
"Dipecat? tidak. Aku sudah lama tidak bertemu dengan Randi. Kalaupun dia dipecat kan ada perusahaan mertuanya. Aku yakin dia sudah di tawari jabatan yang bagus sama orangtua Mona. Sudah ya, kakak pulang dulu," Panji melambaikan tangan meninggalkan halaman rumah Vira.
Vira melihat Panji sudah menghilang dari hadapannya. Gadis itu kembali masuk ke rumah. Vira duduk di depan kolam renang. Mengepakkan kakinya dalam air. Jujur dia mulai jenuh tapi tidak tahu harus melakukan apa.
"Kenapa aku malah sangat ingin tahu siapa Pengagum Sepanjang Masa? biasanya aku tidak pernah peduli soal ini? Kenapa aku merasa dekat dengan sosok itu?"
"Hmmm... sepertinya aku ada ide, mungkin ini memancing kemunculannya,"
...******...
Adakah yang mau kasih ide buat Vira?
__ADS_1