SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 31


__ADS_3

Sepasang mata menatap langit yang sudah menumpahkan rintik-rintik air. Air yang turun membasahi bumi. Tangannya menggenggam terali jendela dengan tatapan sendu. Tanpa dia sadari tangan melingkar di pinggangnya. Udara hujan membuatnya terjebak di dalam sebuah rumah kontrakan kecil. Senyumnya mengembang kala titik sensitif membangkitkan perasaannya. Dia memilih diam dan menikmati momen ini. Hujan turun semakin ramai, udara semakin dingin sehingga membuat kedua anak manusia itu larut dalam rasa.


"Sampai kapan kita seperti ini terus, Kay?"ucap Jo saat menuntun Kayla duduk di kursi ruang depan kontrakannya.


"Maksud kamu?" Kayla masih belum paham arah pembicaraan Jo.


"Sampai kapan kita sembunyi di belakang papamu? aku akan bilang ke papamu kalau hubungan kita sudah jauh. Aku akan ..." Kayla menutup bibir Jo dengan jemari telunjuknya.


"Tolong bersabar, aku akan cari waktu bicara sama papa. Saat ini papa masih percaya aku dan kak Dawa serius. Meskipun aku tahu kak Dawa mencintaiku."


"Dan kamu juga mencintainya? lalu apa artinya hubungan kita? kita sudah pacaran sejak SMA, kamu tahu aku merasa sakit saat kamu makin dekat dengan si Pandawa itu."


"Jo aku akan bicarakan ini dengan kak Dawa. Aku tahu bagaimana bikin kak Dawa memutuskan hubungan kami?"


"Aku mau tanya sama kamu? apakah hubungan kalian sudah jauh sehingga kamu belum juga tegas dalam hubungan kita. Aku kalau memikirkan ego sudah sejak awal lepaskan kamu. Tapi memikirkan kamu, kay. Kalau suatu saat kamu hamil bagaimana? kalau kamu minta tanggung jawab aku siap! tapi kalau ternyata kamu dan Dawa juga seperti itu bagaimana aku bisa percaya sama kamu!"


"Jo ..." Kayla tidak bisa menjawab pertanyaan Jo.


Sejauh ini dia sudah menjaga untuk Jo. Hubungannya dengan Dawa karena permintaan papanya. Dan dia juga belum jauh menjalin hubungan dengan Dawa. Belum jauh dalam arti Dawa belum menyentuhnya hingga ke ranjang. Hanya sebatas berciuman saja, Kayla pernah menjebak Dawa agar lebih jauh lagi. Tapi lelaki itu tidak ingin merusak anak gadis orang. Alasannya simpel, dia pernah melihat bagaimana kakak perempuannya hilang kehormatan meskipun sudah punya suami pengganti.


Dari cerita Dawa, Kayla melihat ada dendam yang membara dalam diri lelaki itu. Kayla pun ikut merasakan bagaimana di posisi Dawa. Maka itu saat tahu Vira adalah keluarga musuh Dawa. Dia mendukung Dawa mendekati Vira. Disamping dia bisa leluasa bersama Jo.


Kayla menerima Dawa atas permintaan papanya. Dulu Dawa bekerja di kantor papanya di bidang ekpedisi. Kepiawaian dawa dalam bekerja membuat papanya Kayla menaruh harapan agar Dawa jadi menantunya. Di samping papanya tidak menyukai Jo sebagai pacar Kayla.


Kayla menatap kearah Jo. Dia sendiri heran kenapa bisa suka pada Jo, padahal Dawa lebih tampan dari Jo. Jo membalas tatapan Kayla, sesaat mereka tersenyum setelah saling beradu pandang.


"Aku mau pulang, Jo. Hujan sepertinya sudah reda." Kayla mengambil tas nya.


"Kay, " Jo menahan tangan kekasihnya.


"Please, aku mau kamu disini." Jo mengeratkan pelukannya pada Kayla.

__ADS_1


"Tapi, Jo aku ...." Jo membungkam Kayla melalui bibirnya. Kayla tak memberontak saat tubuhnya di tuntun ke kamar kekasihnya.


Cahaya teramaram perlahan menelisik cela ventilasi jendela kamar milik Jordy, memberi kesan hangat saat kedua asyik memadu kasih yang terlarang. ******* meminta meneruskan kegiatan mereka terdengar syahdu. Keduanya terpancar bahagia. Lantunan kata cinta berhembus di pendengaran wanita itu.


Hingga keasyikan mereka terusik dengan deringan telepon. Netranya membulat saat tahu siapa yang menelepon.


"Astaga, kak Dawa menelepon. Aku lupa bilang sama dia kalau sedang diluar rumah." ucapnya sambil mengambil posisi duduk.


"Ya bilang sama dia kalau kamu ada urusan lain." timpal Jordy.


"Tapi, Jo. Biasanya kak Dawa tahu dimana aku berada. Jangan sampai dia tahu tempat kamu. Bisa mampus kita." Kayla masih dalam keadaan panik.


"Berarti dia juga ngintai kamu, Kay. Hati-hati sama orang seperti itu. Kalau dia bisa ngintai kamu berarti nanti dia bisa ngekang kamu." ucap Jo.


"Sudahlah, kamu jangan berpikiran seperti itu. Aku kenal kak Dawa, dia tidak segila itu. Aku harus siap-siap dulu." Kayla membenarkan bajunya di depan Jo.


*


*


*


"Vira ini nak Pandawa, klien bisnis mama. Nak Dawa ini anak bungsu saya namanya Savira Gayatri. Panggil saja namanya Vira." mama Dewi memperkenalkan Dawa pada Vira.


"Sudah kenal, ma. Dia pacar teman Vira." jawab Vira dingin pada Dawa.


"Nak Dawa, Tante mau keluar sebentar. Nggak apa-apa sama Vira dulu." pamit mama Dewi karena ada yang mau di belinya. "Nggak apa-apa, Tante. Aku juga sebentar lagi mau pulang."


Vira tidak memperdulikan keberadaan Dawa. Tubuh mungilnya di rebahkan di sofa dekat pintu. Tangannya lebih sibuk berselancar di gawai. Dawa merasa jengah karena di cuekin sama Vira.


"Saya permisi mau pulang, Savira." kata dawa.

__ADS_1


"Oh, iya. Silahkan," ucap Vira tanpa menoleh kearah Dawa.


"Masa tamu pulang nggak diantar?" kata Dawa.


"Nggak ada yang jaga kak Dira. Lagian kak Dawa bisa pulang sendiri kan?"


Dawa menghela nafas berat. Sepertinya menaklukkan Vira lebih susah daripada menaklukkan hati Kayla. Lelaki itu pun beranjak dari kamar rawat Dira.


"Nak,Dawa," sapa mama Dewi yang melihat pemuda itu berdiri di depan pintu.


"Eh, Tante saya pamit dulu. Mau balik ke kantor lagi." pamit Dawa.


"Terimakasih, nak Dawa. Sudah dua hari ini mau menengok Dira. Ah, andai Dira belum bersuami. Eh, maaf, nak saya malah curhat."


"Vira, antar nak Dawa sampai ke depan rumah sakit, nak."


"Eh, nggak usah Tante. Saya bisa sendiri, kayaknya Vira ada tugas kuliah."


"Iya, ma."


"Antar nak Dawa ke depan. Dia kan tamu sudah sejak kemarin main kesini nengok kakakmu."


Vira dan Dawa saling tatap. Keduanya beradu pandang dengan pemikiran masing-masing. Vira sempat membulatkan matanya dan menatap ketus pada Dawa. Dawa pun menatap malas ke arah Vira.


"Terimakasih sudah diantar sampai depan. Maaf merepotkan kamu, Vira." ucap Dawa saat mereka sudah di depan resepsionis rumah sakit.


"Sudah tahu aku lagi ada gawean. Baru sadar kamu barusan merepotkan saya." Vira melipat kakinya masih bersikap ketus di depan Dawa.


"Kenapa sih kamu sinis sama saya? apa saya ada salah sama kamu, hah!" Dawa sepertinya sudah habis kesabaran dengan sikap Vira.


"Saya cuma tidak suka ada lelaki yang caper sama orang lain. Terutama sama keluarga saya, ngapain anda datang terus ke rumah sakit. Mau ngambil hati sama orangtua saya, biar pas kak Dira sadar kamu bisa dekati dia. Nehi....nehi... kalau kamu bisa begitu di belakang Kayla, bisa jadi kamu juga akan begitu di belakang wanita barumu. Dan saya tidak akan membiarkan hal itu."

__ADS_1


__ADS_2