
Selesai ziarah dari pemakaman papa Johan dan Delia. Dira dan Juna langsung pulang ke rumah mama Salma. Tadinya Juna mau ajak Dira jalan-jalan keliling perkebunan. Melihat area yang baru di jamah bibit teh. Lokasinya bertempuh jarak lima kilo meter. Ada sekitar bukit kecil yang berisi perkebunan teh. Dari atas bukit terlihat gedung Boscha.
Ada yang tahu Boscha? Bosscha adalah bangunan ikonik yang berlokasi di Jalan Peneropongan Bintang Nomor 45, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Boscha adalah tempat teropong bintang satu-satunya di Indonesia.
Mencermati dan melihat indahnya benda-benda di luar angkasa tentunya akan menjadi sebuah kegiatan wisata yang seru dan unik bagi siapapun yang datang ke sana.Selain akan memberikan pengalaman unik dan menarik untuk melihat secara langsung pemandangan langit yang eksotis seperti melihat bintang-bintang, matahari, bulan dan benda-benda langit lainnya di luar angkasa melalui Teropong Bintang Bosscha . Yang tak kalah serunya tentu lebih romantis jika mereka datang berdua.
Juna bahkan membayangkan bagaimana memasuki gedung Bosscha yang sepi. Ada momen dan kenangan yang bisa dia ceritakan nanti. Sambil menghirup udara segar meskipun sudah masuk tengah hari.
Angin mengalir sepoi-sepoi. Udara tengah hari di sepanjang perkebunan. Bumi, air, dan udara perkebunan teh itu seolah menyimpan daya sihir. Hijau pucuk-pucuk daunnya seperti tak lelah memanggil. Barang siapa yang pernah masuk ke jantungnya, mereka akan sulit berpaling. Mereka umumnya akan kembali.
"Assalamualaikum," sapa keduanya.
"Waalaikumsalam," jawab beberapa orang yang berkumpul di rumah mama Salma.
"Rame sekali." kata Juna.
"Mereka penasaran pas dengar kamu sudah kembali. Ayo temui mereka, nak." ajak mama Salma.
"Assalamualaikum, semuanya." sapa Juna pada beberapa orang yang sudah memadati ruang tamu keluarga Bramantyo.
"Ya Allah, jadi bener nak Juna masih hidup." sapa salah satu ibu-ibu.
"Alhamdulillah, Bu ibu. Berkat doa kalian semua saya masih bisa berdiri di hadapan kalian. Bu ibu, perkenalkan ini istri saya yang bernama Dira. Sayang, ini mereka adalah buruh yang berkerja di pabrik kita." Dira menerima uluran salam dari para ibu-ibu.
"Ya Allah, cantiknya." puji salah satu ibu-ibu.
"Terimakasih, Bu. Ibu juga cantik kok." balas Dira.
"Mas, kamu duduk saja. Aku buatkan minuman buat mereka."
"Tidak usah, Ra. Itu Mak Wiwit sudah bikin minuman di belakang. Kamu disini temani Juna." sahut mama Salma.
__ADS_1
"Mama Dewi mana, Ma?" tanya Dira.
"Bantu Mak Wiwit di belakang. Kamu tenang saja. cukup disini saja sama Juna."
"Iya,Ma."
Dira pun mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Hingga beberapa saat Maria datang membawa banyak makanan. Dira tetiba mengeratkan tangan suaminya. Ada rasa kecemasan kalau melihat Maria. Dia tidak lupa kalau gadis itu pernah suka pada suaminya saat SMA. Juna sedikit tersentak saat genggaman tangan sangat kuat.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Tidak apa-apa, mas." Dira menunduk sesaat.
"Apa ini tidak membuat kamu nyaman?" Dira menggeleng.
Hanya Maria yang membuat dia tak nyaman. Entah hanya cemburu atau ada firasat tidak enak. Dia sendiri tak paham. Pastinya saat ini dia cukup risih dengan kehadiran Maria.
Dira bergegas menyusul mamanya di dapur. Sekarang tamunya semakin bertambah. Mereka datang cuma mau melihat Arjuna.
"Nak," sapa mama Dewi yang tahu isi hati putrinya.
"Mama. Apa aku dulu istri yang tidak Sholehah ya. Sampai membiarkan suami lebih dekat dengan perempuan lain." Nada suara Dira terdengar berat.
"Tidak, nak. Kamu sudah menjadi istri yang baik buat Arjuna. Kamu juga sudah setia pada Arjuna. Mungkin kalau soal jarak, bukankah itu sudah kesepakatan kalian. Dan sekarang kamu disini mendampingi suamimu."
Dira pamit pada mamanya untuk istirahat di kamar suaminya. Kepalanya mendadak pusing setelah mendengar omongan tamunya tadi. Mama Dewi ikut menemani Dira.
Sayang..." suara itu memanggilnya.
Sebisa mungkin Dira mencoba tersenyum di depan suaminya.
"Iya ..."
__ADS_1
"Di dalam saja, kamu kan lihat matahari terik sekali."
Aku pengen di luar. Kakiku pegel duduk terus."
Juna sepertinya tahu ada sesuatu yang dipikirkan istrinya. Tangannya memegang tangan istrinya "Apa aku ada membuatmu kesal lagi? Kalau ada aku minta maaf, ya. Aku minta maaf kalau ada sikapku tidak menjaga perasaanmu."
"Enggak, Mas. Kamu nggak pernah salah. Aku hanya ingin menenangkan diri saja."
"Apa karena omongan orang di dalam tadi? Apa ini soal aku dan Maria. Sayang, kamu dengarkan aku. Walaupun seribu wanita datang ingin masuk dalam hidupku. Tapi hatiku cuma ada Dira. Bukan Maria atau siapapun."
Juna mendekap tubuh Dira. Aroma tubuh suaminya seketika membuat dirinya nyaman. Lama Dira menenggelamkan wajahnya di balik dada bidang Arjuna.
"Aku minta maaf jika ada perbuatan dan sikapku yang membuat istriku sedih." Juna menangkup kedua tangannya di wajah Dira.
"Kamu daritadi minta maaf terus, Mas." ucap Dira lirih.
"Karena aku merasa bersalah sudah membuat istriku sedih."
"Aku nggak sedih, Mas. Aku hanya merasa Maria suka sama kamu, Mas. Aku tidak lupa kalau dulu dia caper sama kamu waktu kalian SMA. Meskipun saat itu kamu..."
"Yang, bisakah tidak melihat ke belakang. Sekarang kita sudah buka lembaran baru. Hidup bahagia, jadi aku mohon jangan di bahas soal yang dulu-dulu."
"Iya, Mas. Maaf."
"Janji." Juna menautkan jari kelingkingnya pada Dira.
"Janji." Dira pun kembali bersandar di dalam dada suaminya.
Juna mengajak Dira ke perkebunan. Tentu saja seperti tujuan awalnya tadi. Mengajak Dira melihat Bosscha. Untuk saat ini dia hanya bisa mengajak Dira melihat dari bukit saja. Untuk pergi ke tempat yang sebenarnya masih banyak waktu. Bukankah mereka akan menetap di Lembang.
"Aku janji akan meluangkan banyak waktu untuk kamu. Untuk wanita yang aku cintai. Untuk membayar waktu yang sudah terbuang selama satu tahun yang lalu. Maafkan aku, Sayang. Sudah buat kamu terpuruk selama kita terpisah."
__ADS_1