SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 144


__ADS_3

Setelah di tatar habis-habisan sama kakaknya tentang apa yang dia lakukan pada Pandawa. Vira yang awalnya merasa apa yang dia lakukan tidak salah, kini duduk di kamar merenungkan diri. Entah menyesal atau mungkin tidak ada rasa sesal. Itu pikiran yang masih membelenggunya.


"Kamu tahu kalau Dawa itu Danu?" itu pertanyaan yang di lontarkan kepadanya. Vira menggangguk kecil.


"Kamu sebenarnya marah karena Danu lebih memilih Elsa, ya kan." Vira menaikkan kepalanya. Tentu saja itu bukan alasan yang dia cari.


"Kakak ngomong apa sih?"


"Kakak ngomong yang aku lihat. Kamu cemburu kan sama Elsa? atau kamu mulai bisa mengingat kalau dulu sempat terdanu-danu saat masih kecil."


"Haaah, penjelasan apa itu? nggak masuk akal. Aku cuma nggak mau Elsa bernasib sama dengan Kayla."


"Kayla cuma di tinggal nikah sama Dawa, Vira. Ya mungkin karena tidak ada kecocokan diantara mereka. Kamu dengar apa yang dia bilang. Dia menerima Kayla karena hutang budi dengan papanya Kayla. Segala sesuatu yang di paksakan kalau tidak sejalan dengan hati nurani tidak akan bagus hasilnya."


"Kayla hamil sama Dawa, kak. Kayla waktu itu bahagia sekali waktu Dawa bertanggung jawab. Tapi lelaki langsung menghempaskan Kayla dengan membatalkan pernikahan."


"Kamu tahu dari mana kalau Kayla hamil sama Dawa?"


"Dari Kayla sendiri, kak."


"Kamu yakin dengan apa yang dibilang Kayla?"


"Kenapa kak Dira bilang begitu?"


Dira duduk di dekat adik bungsunya. Sepertinya Vira gampang percaya sama orang lain. Setahu Dira, orang yang mengalami kejadian yang dianggap aib, tidak akan mudah cerita dengan orang lain. Karena apa yang dialami si wanita akan trauma yang dalam. Jangankan untuk cerita, keluar pun tidak akan berani.

__ADS_1


"Karena jika seorang perempuan mengalami hal yang belum seharusnya. Dia akan malu bercerita dengan orang lain. Bahkan kalau tahu dia hamil pun dia pasti akan menutup diri. Kalau dia masih bisa melenggang bebas tanpa beban. Itu patut di pertanyakan. Benarkah dia hamil? kalaupun iya, benarkah dia melakukan bersama Dawa."


"Kak Dira tahu kalau Dawa itu Danu. Kenapa selama kalian semua bungkam. Tidak ada yang memberitahukan aku. Kalau aku tahu, sejak awal pasti sudah waspada, kak. Walaupun sebenarnya aku sudah waspada sejak pertama dia masuk di keluarga kita. Saat dia katanya punya kerjasama dengan perusahaan kita. Dia rajin jenguk kak Dira saat masih koma. Di situ aku sudah curiga"


"Kamu nggak ingat saat dulu dekat dengan Danu?" Vira menggelengkan kepalanya. Hanya sedikit memorinya tentang Danu. Dimana dia pernah memberikan gelangnya saat lelaki itu pamit mau pindah. Selebihnya dia tidak ingat lagi. Anehnya sejak menemukan barang pemberian Danu. Dia selalu di kaitkan dalam sebuah bunga tidur. Untuk saat ini dia belum tergetar pada lelaki itu.


"Tapi aku ingat dia selalu ada buat aku. Di saat kedua kakakku sudah sibuk dengan dunianya."


"Karena kakak sudah SMP saat kamu masih kecil, Vira. Kamu tahu kalau sudah SMP atau SMA aktivitas lebih banyak daripada saat SD. Kakak lebih sering sama Ayu dan Eka, kak Feri nempel nya sama mas Juna terus.


Sampai-sampai papa dan mama bilang kalau mereka berharap Feri punya pacar, biar tidak di kira ada sesuatu dengan mas Juna."


Suasana rumah yang tadinya tegang mendadak ramai dengan suara tawa dua bersaudara tersebut. Dira teringat saat Juna dan Feri selalu menempel kayak perangko, sampai di bilang couple goals. Tapi keduanya tetap tidak terpisahkan. Juna mendengar dua perempuan membicarakan dirinya langsung berdehem.


"Biarpun begitu, aku dan Feri masih suka sama perempuan. Nih buktinya." Juna mengelus perut istrinya.


"Rian itu sama dengan aku, tidak bisa berenang. Rian punya trauma sama air katanya. Tapi aku baru tahu kalau kamu ngasih nafas buatan."


"Kak Delia malah pingsan melihat kak Juna kasih nafas buatan." Vira langsung tertawa lepas sambil bercerita.


"Kamu tuh, Mas. Delia jadi marah kan sama aku."


"Lah, itukan refleks, sayang. Kan aku juga cemas kamu kenapa-kenapa? namanya juga cinta." Juna tidak mau kalah. Dia melakukan hal demi kemanusiaan dan rasa cintanya pada Dira.


"Sudah, sudah! kok malah bahas masa lalu sih. Sekarang kembali ke topik utama. Kakak mau kamu menemui Elsa dan Dawa. Minta maaf sama mereka karena sudah buat Dawa terluka. Masalah Dawa adalah musuh itu urusan mama. Kita netral saja."

__ADS_1


"Minta maaf? si Dawa saja yang lebay, sok kesakitan. Padahal aku nggak nendang kuat. Pokoknya aku nggak mau minta maaf."


"Yasudah, kakak tinggal bilang sama mama kamu kesini sendirian. Nggak ajak Elsa, kamu juga di datangi Pandawa, cinta pertama anak bungsunya. Pilih mana, lihat mama murka atau minta maaf sama Elsa dan Dawa."


"Ya Allah kok malah ngancam, sih kak. Itu musuh keluarga kita masa iya aku minta maaf sama musuh" Dira langsung mengeluarkan handphone.


"Iya,iya. Aku akan telepon Elsa dan minta maaf sama dia." Vira akhirnya mengalah daripada di murkai mamanya. Di kekang dalam pertemanan.


"Nah, gitu dong. Besok temui ke rumah Elsa. Datang dan minta maaf sama dia dan Dawa. Terutama sama Pandawa, berani berbuat berani bertanggungjawab." Dira mengajak Juna masuk ke kamar.


"Aaaaaarrrrgh!"


...****...


"Kamu beruntung, Ra. Punya wajah cantik, banyak yang suka. Di cintai dua lelaki kak Satria dan om Panji. Aku memang tidak kekurangan apapun dalam keluarga. Tapi pujaan hati, siapa yang mau sama aku? tidak ada, Ra. Ketika ada yang menyatakan keseriusannya denganku. Kamu malah menghancurkannya. Mau kamu apa, Ra?" suara Isak tangis terdengar dari seberang sana. Suara yang biasanya ceria kini berakhir kesedihan.


"Sa, aku minta maaf sama kamu. Aku tahu tadi kejadiannya reflek. Aku kan sudah bilang kalau ..."


"Aku kecewa sama kamu karena terlalu percaya sama Kayla. Dari awal aku merasa Kayla bukan perempuan yang baik. Kalau perempuan yang baik dia tidak akan mengumbar aib nya ke orang lain."


"Aku minta maaf. Tapi maaf, aku masih belum percaya sama Dawa setelah apa yang dia perbuat sama Kayla. Aku minta alamat vila kamu, Sa. Besok aku kesana."


Selesai menelepon Elsa. Vira merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya menerawang ke langit dinding. Sejenak memejamkan matanya, menghempaskan beban yang terhimpit di dada.


"Aku sudah janji sama mama tidak akan berurusan sama Pandawa alias Danu. Tapi kalau gini caranya, urusannya bakal panjang. lagian kenapa Elsa mesti bawa dia segala sih?

__ADS_1


Aaaaaarrrrgh! kenapa nasibku selalu kalau ketemu Danu!"


__ADS_2