
"Kamu bukannya.." Mama Dewi menebak pria muda yang ada di hadapannya.
"Saya Panji, Tante. Saya relasi bisnis pak Burhan." Panji menjabat tangannya pada mama Dewi.
"Oh, iya. Kamu nak Panji anaknya Kartika kan, yang semalam datang ke acara kami."
"Bukan, Tante. Yang anak Tante Kartika itu Randi, cowok yang datang sama saya semalam. Saya keponakannya Tante."
"Owh, iya silahkan duduk, nak. Duh maaf, ya masih rada berantakan soalnya sisa acara semalam." kata mama Dewi mempersilahkan Panji duduk.
"Kalau boleh tahu apa kamu dan Vira sudah saling kenal?"
"Baru kenal semalam, Ma. Kalau dia datang menjemput itu tandanya ada cinta pada pandangan pertama. Ya kan, Panji?" Feri menyahut seakan menggoda adik bungsunya.
"Apaan sih, Kak Feri! nyahut aja, calon pengantin nggak boleh banyak tingkah."
"E ciyeee di belain .... Aaaaaww!"
"Itu balasan buat kakak yang rese." omel Vira.
"Ayo, nak Panji, sarapan bersama dulu."
"Aduh, Tante maaf saya sudah sarapan. Dek, Vira mau kuliah, ya?"
"Eeehhm... Adek adek sekarang."
"Feri sudah, kamu dari tadi ganggu adikmu terus nanti dia nggak mau kuliah, kamu mau tanggung jawab?"
"Tau, nih kak Feri. Dia ganggu kamu karena grogi mau nikah dua minggu lagi."
"Feri nikahnya dipercepat minggu depan." kata mama Dewi.
"Loh, kok di percepat, ma?" Feri kaget dengan keputusan mamanya.
"Bukankah lebih cepat lebih baik." Mama Dewi memindahkan nasi kedalam piring.
"Iya, kan harus di bicarakan dulu sama Tina, ma."
"Mama sudah ngomong sama Tina. Dia bilang ikut saja. Jadi nggak ada masalah lagi, kan?"
"Bukannya Tina masih mengurus proses perceraian dengan Glen. Apa cukup waktunya? aku rasa Tina menyanggupi karena tak enak sama mama. Aku harus tanyakan hal ini sama, Tina."
Vira pun pamit untuk berangkat ke kampus. Tentu saja diantar oleh Panji. Vira masih bersikap cuek pada Panji. Dia sebenarnya bingung mau ngobrol apa pada lelaki di sampingnya. Sementara Panji melancarkan aksinya sambil menyetir.
"Maaf, ya. Saya datang mendadak ke rumah. Soalnya saya ada seminar di kampus kamu, jadi sekalian barengan."
"Om eh maaf kakak, kok tahu aku kuliah di Trisakti."
"Kamu tahu sama Randi, dosen ekonomi pembangunan."
__ADS_1
"Eh, iya yang semalam datang sama kakak kan? aku belum pernah dapat mata kuliah pak Randi."
"Nggak usah panggil dia, pak. Samain saja panggil dengan kakak juga."
"Oh gitu, ya."
Vira membuka tas nya mengambil minuman sachet yang dia bawa dari rumah. Sebenarnya bisa saja dia minum di kampus nanti, tapi entah kenapa dia merasa haus. Tak lama dia menancapkan sedotan di minuman itu.
Salah seorang pembawa motor melewati mobil dengan ugal-ugalan. Panji sedikit terkejut membuat mobil sedikit mengerem, sontak minuman Vira memuncrat ke kemeja Panji.
"Maaf, tadi saya kaget." Vira mengambil tisu untuk membersihkan sisa minuman di kemeja bagian dada.
"Ya Allah, kenapa aku yang deg-degan dengan gadis ini, ya. Dia memang masih kecil tapi wajahnya manis sekali."
Setelah membersihkan kemeja Panji, Vira kembali duduk seperti semula. Sikap Vira masih santai saja. Tapi tidak dengan Panji, Dia ingin mengkondisikan degup jantungnya.
Tanpa pamit pada Vira, Panji pun membuka kemejanya. Vira yang tadinya tak begitu memperhatikan langsung kaget melihat lelaki itu memamerkan roti sobeknya. Gadis itu memalingkan wajahnya karena malu dengan pemandangan di sebelahnya.
"Kok,"
"Tolong cuci bajuku, ya." ucap Panji.
"Kok aku?''
"Kan yang bikin kotor tadi siapa?"
Vira menerima kemeja Panji dengan terpaksa. Wangi parfum khas pria aroma Woody yang begitu menggoda imannya. Sesaat Vira tersadar kalau dia tidak boleh gampang tergoda dengan lelaki yang baru dikenalnya. Ada sensasi tersendiri saat aroma itu menyiratkan kesan maskulin yang terasa di indera penciumannya.
Panji mencoba mencairkan suasana. Mengajak Vira berbicara agar tidak terlihat suntuk di dalam mobil.
"Sudah semester berapa?" tanya Panji.
"Katanya saudaranya pak Randi, masa pak Randi nggak bilang dia mengajar di semester berapa?"
"Saya belum sempat nanya soal itu ke Randi."
"Yasudah, nanya lagi saja sama pak Randi."
"Nih, cewek unik. Nggak gampang baperan. Makin bikin penasaran." batin Panji.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Panji tiba-tiba.
"Alhamdulillah, belum." jawab Vira santai.
"Alhamdulillah juga kalau belum." jawab Panji.
"Eh," Vira kaget mendengar jawaban Panji.
Panji langsung meralat ucapannya "Maksudnya gini, kamu kan masih muda. Masih banyak yang harus di kejar. Kuliah yang bagus, kejar cita-citamu.
__ADS_1
Kalau soal pasangan nanti akan datang seorang pria yang akan melamarmu."
"Ya benar, sih. Paling lama 10 tahun lagi." jawab Vira.
Panji mulai berpikir kalau seandainya dia melamar vira 10 tahun lagi. Bagaimana dengan usianya yang saat ini sudah 32 tahun? Semakin bertambah usia semakin susah mendapatkan jodoh. Matanya Melirik gadis yang masih asyik dengan gawainya. Panji pun melanjutkan perjalanan ke kampus Vira.
"Om umur berapa sih?" tanya Vira.
"Jangan panggil saya om dong. Saya belum om-om. Saya masih bujangan."
"Siapa?"
"Nama saya. Kan tadi sudah saya jelaskan nama saya Panji."
"Siapa juga yang nanya?" Vira menjulurkan lidahnya sambil tertawa.
"Ya Allah, nih cewek kalau ketawa lucu sekali. Rasanya pengen nowel pipinya saking gemesnya. Tapi aku lagi nyetir, nanti malah berabe" batin Panji.
*
*
*
"Saya turun disini aja, Om." jawab Vira.
"Saya antar sampai di kedalam, ya." tawar Panji.
"Eh, nggak usah, Om. Saya biar ke dalam sendiri lagian kalau temanku lihat aku sama om-om bisa jadi bahan gosip."
"Emang aku ada tampang om-om?" Panji mendekatkan wajah pada Vira.
"Ya dilihat dari usia anda."
"Kakak mu saja sudah 30 tahun." jawab Panji.
"Jadi? aku manggil kakak gitu. Kok kedengarannya jomplang gitu,ya."
"Pokoknya aku antar kamu sampai ke dalam kampus. Aku kan tadi bilang kalau ada janji sama Randi."
"Aduh, om ..."
Panji sudah berdiri membuka pintu untuk Vira. Sempat terdiam sesaat melihat sikap Panji yang to the point.
"Kalau nggak mau turun aku gendong sampai ke dalam. Mau?"
Mendengar hal itu Vira langsung mengambil tasnya. Panji mengulurkan tangan untuk membimbing Vira. Sayangnya, Vira sudah berjalan melewati Panji.
Panji merasakan wangi parfum yang membiusnya ke dalam dunia khayal. Seakan gadis melayangkan selendang tepat di wajahnya.
__ADS_1
Dan aku sepertinya benar-benar jatuh cinta sama gadis itu.