SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 111


__ADS_3

"Bridesmaids?" Vira kaget saat menerima kabar itu ketika sampai di kampus.


"Iya, Kayla meminta kita semua jadi Bridesmaids-nya." sahut Eno.


"Wah, Kayla keren ya bakal di persunting sama pengusaha ganteng." puji Eno sambil menikmati wafer coklat favoritnya.


"Jodohnya sudah sampai, No." jawab Vira datar.


"Iya, sudah sampai tapi nggak kaleng-kaleng. Pengusaha pula."


"Alah, calonnya Kayla itu di modali bapaknya." sahut Elsa sinis.


"Kamu kok ngomong gitu, Elsa. Sirik ya? kalian berdua sampai sekarang jomblo nggak ada pasangan. Tapi kemana-mana berduaan, jangan-jangan kalian?"


Elsa dan Vira seketika memisahkan diri. Mereka tidak mau di cap suka sesama jenis. Baik Vira maupun Elsa merasa masih suka dengan lelaki. Hanya karena jarang dekat dengan lelaki, mereka langsung di cap belok.


"Eh, saya normal Lo. Masih suka sama cowok." elak Vira.


"Sama saya juga masih suka cowok. Enak saja di bilang belok." Elsa tidak pernah mau kalah.


"Terus kenapa kalian jarang bawa cowok?" tantang Lina.


"Ya terus harus wajib punya cowok. Enggak kan? karena sibuk dengan urusan cowok, bucin sana bucin sini, emang kalian yakin bakal jadi sampai nikah? Ya kalau jodoh kalau enggak, kalian sudah menyia-nyiakan masa muda hanya karena soal pasangan. Hay, hidup itu bukan sekedar cari pasangan. Rugi!" suara Vira berapi-api.


Vira bukan sekedar cuap-cuap. Sejak putus dari Satria banyak hal yang dia renungkan selama. Dia tidak menyesal kalau harus jomblo lama. Toh dia justru menyibukkan diri untuk fokus belajar. Agar bisa menjadi wanita karir sesuai cita-citanya.


"Alah, sok banget nih Vira. Dia kan baru patah hati karena mantannya nikah sama cewek lain. Padahal dia sudah lamaran, eh malah tidak jadi nikah." Lina tertawa diikuti teman yang lainnya.


Vira mendengus kecil. Dia kesal karena ucapannya di tertawakan. Kemudian Vira meninggalkan teman-temannya menuju ke perpustakaan kampus. Sudah beberapa bulan ini dia mempelajari perusahaan milik mamanya. Perusahaan yang bergerak di bidang bahan daur ulang. Kakinya melipat dengan elegan.


Vira berjalan ke perpustakaan mengelilingi rak bacaan. Tangannya meraih sebuah buku. Susah sekali dia menggapainya, berjinjit pun sudah di lakukannya.


"Kalau mau sesuatu kan bisa panggil aku." suara bariton muncul di belakangnya.


Lelaki itu dengan santai meraih buku yang dicari Vira. Tubuhnya jangkung dengan aroma parfum yang maskulin. Membuat Vira terdiam sesaat, lama-lama dia bisa gila dengan sosok ini.


"Hay!" tepukan tangan membuat dia tersadar.


"Om kenapa disini? nguntit aku?"


Lelaki itu adalah Panji. Panji sengaja datang ke kampus untuk bertemu dengan Randi, adik sepupunya. Kebetulan pula dia melihat Vira berjalan memasuki perpustakaan.


"Enggak, aku juga ada janji dengan Randi. Kalau kita ketemu artinya kita jodoh." Panji tersenyum smirk menatap ke arah Vira.

__ADS_1


"Oh, begitu." Vira mencoba bersikap datar. Walaupun dia juga tidak karuan berada di dekat Panji.


"Ini bukunya. Saya mau menemui Randi dulu. Ya kalau nanti kita bertemu itu artinya jodoh." Panji dengan santainya meninggalkan Vira yang masih tercengang.


"Vira," dia tersadar sebuah tepukan membuyarkan semuanya.


"Elsa, ngagetin saja."


"Ra, tadi aku ketemu sama kak Panji. Kayaknya dia bakal jadi dosen kita." cerita Elsa.


"Dosen?" Vira cukup kaget mendengar cerita Elsa.


"Siapa yang bilang?"


"Aku dengar dari teman yang tadi dapat pelajaran pak Randi. Pak Randi tadi memperkenalkan kak Panji sebagai pengganti dia untuk sementara waktu."


"Emangnya pak Randi mau kemana?"


"Pak Randi mau nikah. Kamu tahu resepsinya dimana? Di Bali, Vira. di Bali!" Elsa terdengar menggebu-gebu.


"Lebay banget sih, kayak nggak pernah ke Bali aja." seloroh Vira.


"Bali itu tempat Idaman aku buat nikah nanti, Ra. Resepsi di Bali sekaligus bulan madu. Amazing, Ra! Amazing,Ra!"


Dia melirik kearah sekitar perpustakaan. Semua asyik dengan dunianya. Dunia ilmu, dunia literasi, Perpustakaan bukan hanya sebagai pusat sumber informasi tetapi lebih dari itu, sebagai tempat mentransformasikan diri sekaligus sebagai pusat sosial budaya dengan memberdayakan dan mendemokratisasi masyarakat dan komunitas lokal, dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.


Perpustakaan yang tidak hanya sebagai tempat menambah ilmu pengetahuan dari koleksi buku yang ada, tapi sebagai tempat pemberdayaan masyarakat dan pusat kebudayaan.


"Ra, sebentar lagi jam nya pak Tomo. Kita ke kelas yuk." Ajak Elsa.


Vira menutup laptopnya. Memasukkan laptop ke dalam ranselnya. Bergegas meninggalkan ruang perpustakaan. Bersama Elsa keduanya melenggang menuju ruang kelas.


Suasana kelas terlihat ramai. Tampak beberapa mahasiswi yang kasak kusuk berbicara entah apa yang mereka bahas. Vira menatap Elsa meminta temannya cari tahu apa yang buat kelas menjadi dingin.


"Eh, tadi Kayla muntah-muntah. Mukanya pucat banget." kata Rahma.


"Iyakah? sekarang dia dimana?" tanya Vira.


"Di ruang perawatan kampus." jawab Rahma.


"Sa, aku ke ruang perawatan dulu, ya." pamit Vira.


"Kok, bentar lagi pak Tomo masuk."

__ADS_1


"Izinin aku, sa. Aku kasihan sama Kayla pasti sendirian di ruang perawatan."


"Kamu kok peduli sama Kayla?"


Vira tidak mungkin bilang ke Elsa kalau Kayla sedang hamil anak Dawa. Nanti malah jadi bahan gosip satu kampus. Dia memilih menengok keadaan Kayla biar hatinya tenang.


...*****...


Dawa sedang duduk di kursi kerjanya. Banyak berkas yang menumpuk membuat kepalanya semakin pusing. Belum lagi masalah Dewi yang menarik semua sahamnya sebagai modal kerjasama. Dawa menarik nafas dalam-dalam. Begitu pelik permasalahan yang dia hadapi menjelang pernikahannya.


"Siang, pak."


"Oh, Reno. Ada informasi terbaru yang kamu dapatkan."


"Menurut informasi yang saya dapatkan Bu Dewi bukan hanya menarik saham dan investasi perusahaan anda. Tapi membatalkan semua proyek kerjasama secara sepihak."


"Itu saya sudah tahu. Tapi apa alasannya?"


"Saya tidak tahu, pak. Pihak disana masih bungkam."


Dawa mengacak rambutnya. Sekali-kali meninju angin. Dia harus menemui Dewi untuk mengetahui apa yang membuat wanita itu membatalkan kerjasama.


Netranya beralih ke gawai yang bergetar. Senyumnya mengembang melihat siapa peneleponnya.


"Iya, sayang."


"Kakak bisa jemput aku ke kampus. aku kurang enak badan."


"Kamu sakit, sayang. Oke, aku akan segera ke sana." Dawa menutup teleponnya. Meninggalkan ruang kerjanya menuju parkiran mobil.


Setibanya di kampus, Dawa menemukan Kayla masih terbaring lemas.


"Kamu kenapa kok sering sakit, sayang?" Dawa datang menemui Kayla di ruang perawatan.


"Nggak tahu, kak. Kepalaku sering pusing. Apakah asam lambungku kumat lagi?


Maaf, ya kak. Harusnya kita tidak boleh bertemu karena di pingit. Tapi aku tidak tahu minta tolong sama siapa lagi."


"Untuk saat ini, kesehatan kamu lebih penting, Kay. Kita ke dokter, ya. Itu bukan pertama kamu sakit seperti ini. Kali ini kamu tidak bisa nolak. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa?"


Mampus kalau kak Dawa bawa aku ke dokter. Bisa ketahuan kalau aku sedang hamil.


Aku harus bagaimana ini!

__ADS_1


__ADS_2