SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 226


__ADS_3

Vira kaget saat tahu pesta akan diadakan di cottage milik keluarga mereka. Sudah lama mereka tidak kesana. Terakhir waktu pernikahan Feri dan Meyra. Sudah hampir tujuh tahun yang lalu.


Vira masuk ke mobil bersama keluarga lainnya. Berangkat menuju area Ancol dimana mereka pernah mengadakan resepsi pernikahan di sana. Saat Feri dan Meyra menikah tujuh tahun yang lalu. Sepanjang perjalanan Vira terus memandangi jalanan luas. Jejeran pohon seakan mengiringi perjalanannya.


Waktu terus bergulir, mereka berangkat sudah sejak habis ashar. Kini langit sudah gelap pertanda sudah malam. Vira menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang di kamarnya.


"Jadi kita pesta di sini?"


"Iya," mama Dewi menanggapi pertanyaan anak bungsunya.


"Besok kan kita bakal mengadakan pesta pernikahan di cottage ini. Lokasinya tidak jauh dari sini, kok,"


"Apakah Om Dirga juga ikut menginap disini?"


"Mama kurang tahu, sebab mama cuma mengajak keluarga besar kita saja. Sudah kamu istirahat, ini sudah malam," mama Dewi meninggalkan Vira di kamar cottage.


Matanya memandang hamparan langit malam bertabur bintang-bintang. Di hadapannya tampak ombak kecil menggulung dataran pantai. Decak kagum terus meluncur dari bibirnya. Sungguh dia beruntung bisa melihat keindahan alam. Bulan terasa cantik memberikan kesejukan di hatinya. Dari yang hanya sebatas dadanya. Vira pun turun melompat dari jendela. Berjalan menuju pinggir jalan, menikmati malam terakhirnya sebagai wanita single. Besok dia akan di lamar seseorang.


Kakinya sudah sampai di tengah rumput pasir laut. Memejamkan matanya sejenak, menghirup udara malam. Berharap ada bintang jatuh yang melintas. Bodoh sekali, kenapa dia harus percaya sama bintang jatuh. Tapi hati kecilnya terus mendorong percaya akan hal itu. Sejenak Vira memejamkan matanya.


"Jika memang keajaiban itu ada, aku ingin sekarang. Aku ingin punya tempat bersandar"


Vira tersentak saat tangan yang mengalung di pinggangnya. Sontak dia berbalik melihat siapa yang ada di belakangnya. Senyum keduanya mengembang, sesekali saling menundukkan kepalanya.


"Kak,"


"Sapi, aku kangen sama kamu. Entah kenapa sejak kita semalam sepakat mengikrarkan hati, entah kenapa menjelang pernikahan mama Dewi dan papa Dirga, aku semakin takut, takut kehilanganmu,"


"Kak Danu tidak pernah kehilangan aku, kok. Kita jadi saudara aku akan tetap di sini," Vira menunjuk dada lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya semalam.


"Tapi aku tidak mau jadi saudaramu, Vira. Kamu tahu aku sudah mencarimu bertahun-tahun. Kamu tidak lupa dengan janji aku di botol kaca,"


"Tidak semua hal bisa kita lakukan sesuai kemauan, kakak. Manusia itu tempat nya dengan segudang rencana. Tapi jika Allah berkehendak, tidak ada yang bisa kita lakukan,"


"Bisa, Ra. Bisa! kalau perlu kita yang menggantikannya mama dan papa. Papaku saja belum tahu di mana makam mama. Kenapa dia harus menikah lagi, dia bilang cinta mati sama mama. Tapi kalau dia menikah dengan mama Dewi, apa yang papa ucap nggak sinkron,"


Dawa membentangkan kedua kakinya di pasir pantai depan cottage. Diikuti Vira duduk dengan posisi senada. Tangan keduanya saling menggenggam satu sama lain. Seakan tak ingin terpisah sedikit pun. Kepala Vira sudah berlabuh di dada Pandawa.


"Andai tidak permusuhan antara mama dan kak Padma. Andai saja kak Padma masih bisa memegang kepercayaan yang mama berikan. Mungkin kita sudah lama bersama. Ya walaupun bersama dalam arti bisa dekat seperti saat masih kecil," ucap Vira di barengi kecupan diatas pucuk kepalanya.


"Kau tahu Vira kenapa di namakan semesta merestui kami. Karena apapun yang kita lakukan jika sang pemilik segala tidak mengizinkan kita tidak di pertemukan seperti ini,"

__ADS_1


"Entahlah, aku kadang merasa semesta itu hanya milik kak Dira. Dia selalu beruntung mendapat lelaki yang benar-benar memperjuangkannya,"


"Jadi kamu merasa aku tidak berjuang?"


"Pikir saja sendiri," Vira bangkit meninggalkan Dawa. Baru selangkah berjalan dia pun di kejutkan dengan kemunculan Feri. Sambutan wajah sang kakak tertua yang tidak ramah menyimpulkan dia akan di marahi.


"Ngapain kalian? jangan bilang kalian pacaran, hey Dawa kamu dengar ya, mama dan papa kita akan menikah. Jangan kamu racuni Vira dengan sok bucinmu,"


"Kak aku dan Vira saling mencintai, aku tidak peduli kami akan jadi saudara. Toh banyak yang jadi saudara masih bisa nikah. Contoh saja Starla dan Arya, mereka nikah padahal saudara tiri. Asalkan tidak sedarah,"


Feri menarik Vira menjauh dari Pandawa. Layaknya seorang ayah yang marah atas kenakalan anaknya. Dawa tidak bisa berbuat banyak. Seandainya kakinya sudah sembuh, sudah dia kejar gadisnya. Tapi nyatanya dia tidak bisa berbuat apa-apa.


...****...


Matanya memandang ke kaca meja rias. Wajahnya masih polos tanpa riasan. Menunggu sang perias yang di datangkan mamanya. Tepat hari ini sang mama akan melepaskan status jandanya. Tapi bukan hanya sang mama saja yang akan melepaskan statusnya. Dia pun juga akan menerima pinangan dari calon pilihan opa Han. Memang dia pun sudah menyetujui hal itu.


Tak berapa lama Elsa masuk ke kamar sahabatnya. Dengan make up yang lengkap paripurna. Vira melihat peralatan yang di bawa Elsa bukan kaleng-kaleng. Tanpa banyak basa-basi Elsa mulai bekerja. Kenapa harus Elsa, kenapa tidak pakai MUA terkenal saja.


Elsa yang menawarkan diri menjadi MUA Vira. Cara kerja Elsa juga pernah di pakai sama salah satu kolega Irwan Chandra, sang papa. Banyak yang puas dengan hasil riasan Elsa. Gadis yang usianya memasukkan 20 tahun itu duduk di hadapan sahabatnya. Tangannya terus bergerak tanpa berhenti.


Setelah selesai mempercantik Savira. Elsa pun membereskan barang kerjanya. Gadis muda itu menyandar menatap Vira.


"Cantik, Sa. Riasan kamu keren juga,"


"Alhamdulillah, kalau begitu. Aku juga pangling lihat kamu. Aku yakin calon suami mu pasti pangling juga," puji Elsa.


"Oh ya, aku harus merias kak Tina juga. Kamu tunggu di sini saja, ya," Elsa baru teringat tadi Tina minta di rias juga.


"Kamu nggak siap-siap,Sa. Kamu itu pendamping aku, Lo,"


"Gampang itu mah, aku nggak di rias saja cantik," Elsa puji diri sendiri sambil tertawa kecil.


Kedua sahabat itu saling tertawa bersamaan. Elsa mengingatkan kalau Vira jangan banyak tertawa takut make up nya rusak.


"Kau cantik sekali, Nak?" sapa Tante Maya keponakan istri Opa Han.


"Terimakasih, Tante," Vira mengenakan gaun yang dia fitting bersama Elsa.


"Tapi kenapa mamamu pakaiannya tidak seperti pengantin lainnya," ucap maya heran.


"Iyakah?"

__ADS_1


"Iya, Tante lihat pakaian mamamu seperti penyambut tuan rumah. Sama dengan seragam keluarga lainnya. Tante juga tidak melihat calon suami mamamu,"


"Mungkin mama tidak mau terlalu wah. Mengingat usianya tidak muda lagi. Yang penting acaranya simpel dan sakral. Itu sudah cukup," Vira masih berpikiran positif.


"Mungkin bisa jadi begitu," Vira yang biasa cerewet mendadak menjadi sosok yang lebih banyak diam. Maya menyadari perubahan sikap keponakannya langsung bertanya.


"Apa ada yang mengganjal pikiranmu?" Vira menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu keberatan mama kamu menikah lagi?" Vira tetap menggelengkan kepalanya.


"Dan apa karena perjodohan ini?" Vira angkat kepalanya.


"Kata mamamu, perjodohan ini sudah kamu setujui. Harusnya kamu menerima konsekuensinya. Terima lelaki itu apa adanya. Lambat laun kamu juga bisa mencintainunya. Atau kamu sudah punya pilihan, kenapa nggak cerita sama mama kamu?" Vira masih tetap bungkam.


"Nak, tidak semua hal yang kita inginkan sejalan dengan kenyataan. Tante tahu nggak muda buka hati untuk orang yang belum kita kenal. Tapi Tante yakin ada rencana indah dari Allah. Percayalah, Nak. Suatu saat kamu akan tersenyum setelah menjalaninya," Vira langsung memeluk Tante Maya.


Banyak orang mendambakan cinta sejati. Mereka ingin segera bertemu dengan sang jodoh yang akan menjadi teman hidupnya hingga akhir masa. Sayangnya, perjalanan seseorang untuk bertemu jodoh ini sering kali gak mulus. Bahkan, banyak yang sudah memiliki pasangan namun ragu bahwa pasangannya adalah jodohnya.


Itu yang kini dialami Vira saat ini. Baru dia dan Pandawa saling menyambut hati malah harus berakhir seperti ini. Berakhir karena mereka akan jadi saudara dan dia juga akan menerima gadis pilihan Opa nya.


"Wah, calon wanitanya sudah siap," suara tak asing di pendengaran Vira.


"Kak Dira," Vira berbinar ketika sang kakak menyapanya sudah memakai gaun cantik. Dua bersaudara itu saling berpelukan melepaskan rindu.


"Kata mama kak Dira nggak bisa datang efek mabuk hamil,"


"Tadinya iya, kamu tahu ini hamil ketiga yang reaksinya sama dengan yang sebelumnya. Entahlah kenapa aku selalu dapat efek seperti ini tiap hamil. Tapi aku lawan, masa di hari bahagia aku nggak datang,"


"Kak Juna mana?"


"Ngereog sama Tio,"


"Hah! maksudnya?"


"Ngasuh, Vira. Mama Salma, Ayu dan Tio serta Salsa juga ikut. Aku dari tadi nggak di bolehin gendong Fajar,"


"Aduh, Vira, Dira kok kalian malah ngobrol. Itu kamu sudah di jemput menuju tempat acara," kata Tina menengahi pembicaraan dua bersaudari.


"By the way, mama sudah akadnya?" tanya Vira.


"Itu nanti, acara saja masih belum di mulai. Mama masih menunggu anak-anaknya berkumpul di sana. Ayo Dira, bimbing Savira turun. Astaga aku lupa kamu lagi hamil kan. Biar aku saja yang menuntun Vira," Tina terus mencerocos tanpa henti. Dira dan Vira hanya terkikik melihat kecerewetan kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2