
Satu hari sebelum berangkat ke Lembang
Vira sudah berdiri di depan sebuah mansion mewah perumahan pondok indah. Setelah meletakkan dua box diatas lantai yang beralaskan marmer, Vira memencet bel. Lama dia menunggu sosok yang akan dia temui muncul di depan pintu. Vira kembali memencet bel, lalu duduk disalah satu tangga penurunan.
"Si Frozen lama amat, sih. Tadi katanya masih di rumah. Tapi dari tadi tidak ada yang membuka pintu." umpat Vira.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan seorang wanita berdaster batik menyapanya dengan ramah. Vira pun di persilahkan masuk karena katanya Elsa sedang mandi.
Vira menatap jam tangannya. Sudah jam 12 siang, kok Elsa baru mandi sekarang. Vira duduk di sofa berpapasan dengan seorang pria muda sepertinya masih SMA. Teringat cerita Elsa kalau ada anak kakak sepupunya yang tinggal bersama keluarganya.
"Kamu Ruben kan?" tebak Vira.
"Iya, kak Vira, ya?" Ruben pun ikut menebak.
"Yups, benar. Kok tahu."
"Satu-satunya orang yang main sama kak Elsa kan cuma kak Vira." jawab Ruben.
"Owh, begitu ya? nggak sekolah?"
"Kan libur semester, kak."
Elsa muncul di tengah obrolan Vira dan Ruben. Elsa memakai dress bermotif Gucci sepanjang batas lutut. Tubuhnya sudah mewangi aroma buah stroberi. Elsa pernah bilang kalau dia dapat endorse perusahaan sabun dari Malaysia. Kebetulan ada kerabat Elsa punya jabatan di sana.
Rambut Elsa berwarna pirang, bukan karena di cat. Melainkan emang sudah bawaannya seperti itu. Gadis muda itu mendekati Vira, sementara Ruben pun meninggalkan dua gadis lalu pergi ke luar.
"Kamu baru mandi, Sa. Ini sudah jam berapa Lo, kayak pengantin saja mandinya siang."
"Aku tadi aja Chibi jalan keliling komplek. Terus ternyata di taman banyak juga yang bawa peliharaan sejenis Chibi. Kayaknya Chibi betah, diajak pulang dia ogah. Jadi aku nungguin dia sampai bosan. Baliknya aku mandikan Chibi. Sampai nyiapin makan siangnya. Baru aku yang bersihkan diri." Cerita Elsa.
"Ehmmm... hari-hari mu sibuk juga ya, Sa."
Chibi adalah kucing anggora kesayangan Elsa. Kata Elsa dia peliharaan Chibi sejak masih merah. Di belikan papanya sebagai hadiah ulang.
Saking sayangnya, chibi punya rumah sendiri layaknya manusia. Di rancang oleh arsitektur ternama kenalan papanya Elsa.
"Iya, dong. Elsa gitu loh. Tumben kesini, pasti ada mau nya, Nih?" tebak Elsa.
__ADS_1
Jarang-jarang Vira mau datang ke rumahnya sendirian. Biasanya Vira mau main ke rumah kalau Elsa ajak bareng dari kampus.
"Lah, kan emang kita tadi janji mau pergi kan? sekalian aku mau minta kamu temani aku antar barang."
"Barang apa?"
"Ada deh, tapi kamu yang antar ke dalam tempat itu."
"Nah, kan pasti aku bakal di tumbalin lagi. Seperti yang sudah-sudah, nih."
"Ya nggak di tumbalin. Tapi bantu aku balikin barang ini. Soalnya aku nggak mau menerima barangnya."
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Jadi kamu mau kan bantu aku. Soalnya besok aku mau berangkat ke Lembang. Sekalian liburan semester. Kamu mau ikut, Sa?" Elsa menggeleng.
"Besok aku pergi ke Thailand sama Ruben. Ada Oma ku disana. Jadi maaf ya, nggak bisa ikut." Vira langsung spechelles mendengar jadwal liburan Elsa. Selama ini Vira dan keluarganya hanya liburan batas Indonesia, paling jauh ke Malaysia atau Singapura.
"Kita kesini?" tanya Elsa kaget ternyata tujuannya adalah kantor Global Machine milik Pandawa. Siapa yang tidak tahu sama Pandawa, pengusaha muda yang kini naik daun.
"Iya, seperti yang aku minta tadi, kamu antarkan barang ini. Dua box ini, tanya sama mereka mencari yang namanya Danu."
"Salah satu karyawan di kantor ini. Sudah cepetan kamu antarkan ini. Biasanya jam segini orang-orang sudah selesai makan siang." Vira terus memaksa Elsa melaksanakan tugasnya.
"Sabar, dong, Ra. Kalau gitu kamu saja yang masuk ke sana."
"Ya, ampun pake ngambek segala." Decih Vira.
Sebenarnya dia enggan menceritakan hal ini pada orang lain. Akan tetapi demi mamanya dan keamanan keluarganya dia harus melupakan sosok itu. Dia harus melindungi keluarganya dari marabahaya.
"Sebenarnya si Danu ini pernah dekat denganku saat masih kecil. Aku tidak begitu ingat hal itu. Yang aku ingat aku pernah beri dia gelang yang sama seperti punyaku sekarang. Bedanya itu gelang anak-anak dan ini versi dewasa.
Dulu aku merasa punya keluarga saat bersama dia. Punya kakak yang sayang sama aku. Memang aku punya kak Dira juga punya kak Feri. Tapi mereka saat itu sudah remaja, sudah punya kesibukan masing-masing. Sudah punya dunia sendiri." Kenang Vira.
"Apa dia punya jabatan di perusahaan ini? apa dia adalah Pandawa Danuarta, mantannya Kayla?" Vira menggelengkan kepalanya. Walaupun tebakan Elsa benar, Vira masih berusaha menyembunyikan siapa Danu sebenarnya.
"Bukan, dia hanya kerja di perusahaan ini." Elak Vira.
__ADS_1
Elsa akhirnya masuk ke dalam kantor. Tubuhnya yang bohay dan gempal melenggok bak model. Vira tertawa dalam hati melihat cara jalan Elsa. Seketika dia menarik nafas dalam-dalam. Satu urusannya selesai. Kalau dia mengembalikan barang itu, Vira yakin Danu tidak akan mencari cara masuk ke keluarganya.
"Ada yang bisa saya bantu,Mbak?" tanya resepsionis.
"Ini mbak saya mau mengembalikan paket ini. Atas nama pak Danu." jelas Elsa.
"Maaf, mbak disini tidak ada yang namanya Danu. Mungkin anda salah alamat."
"Nggak mungkin, mbak. Ini sudah jelas alamatnya. Mbak baca saja deh."
"Tapi siapa pengirimnya. Kami tidak bisa menerima barang yang tidak tahu siapa pemiliknya."
"Saya tinggalkan saja disini, mbak. Saya hanya menjalankan tugas. Ini alamatnya sudah pas, masalah kalian mau terima atau tidak bukan urusan saya!" Elsa pergi meninggalkan dua box yang cukup berat dia bawa.
Suara teriakan mbak resepsionis tak di hiraukan. Elsa langsung masuk ke dalam mobil. Tapi ternyata dia tidak menemukan Vira.
"Pak, Vira tadi kemana?" tanya Elsa.
"Katanya pergi ada urusan." lapor pak supir.
"Viraaaaa!!!!!" gusar Elsa.
Flashback off
Dawa sudah berdiri di depan sebuah rumah mewah. Mengandalkan rasa penasarannya tentang siapa "Sapi" sebenarnya. Langkah kakinya langsung menginjak diri ke pagar rumah tersebut.
Rumah yang beraksen Eropa, lebih tepat di sebut mansion. Dawa berdecak kagum, rumahnya saja tidak semewah ini. Meskipun banyak yang bilang dia mewah, Namun saat melihat rumah ini dia merasa kecil.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang satpam.
"Saya mau bertemu anak pemilik rumah ini?"
"Apakah anda ada janji?" tanya satpam yang satu lagi.
"Iya, saya mau membahas pekerjaan." Dawa terpaksa berbohong.
Setelah pintu pagar di buka. Dawa masuk ke dalam mobil. Memasuki rumah yang besar, harus memutar sebuah kolam di tengahnya. Barulah dia memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
"Sapi, seperti janjiku dulu. Aku akan melamarmu." batin Dawa.