SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 212


__ADS_3

Aku mau nikahnya sama kamu


Ku tak mau bila selain kamu


Ku bahagia bersamamu sampai tua


Ditemani lucunya anak kita


Aku tak punya alasan


Untuk tak merindukan dirimu


Aku pun tak punya hati


Untuk menduakan cintamu


Sungguh aku sangat bersyukur


Dipertemukan denganmu


Oh, bidadari yang selalu menyejukkan hati


Di matamu ku melihat masa depan


Ku melihat jutaan kebahagiaan


Di setiap senyummu.


Alunan lagu entah milik siapa terdengar di sebuah acara pesta pernikahan. Beberapa orang berbaju serba mewah bertebaran di mana-mana. Tentu karena pernikahan ini milik salah satu pengusaha sukses yang menikahkan anaknya.


Ketika memasuki gedung pernikahan, wanita itu kagum dengan suasana resepsinya.Tak hanya itu, dia juga takjub dengan berbagai sajian yang dihidangkan. Gadis tersebut bahkan terkejut dengan bintang tamunya yang bukan kaleng-kaleng. Vira hanya berniat menemani mama Dewi untuk menghadiri pesta perkawinan anak kolega mamanya. Ini pertama kalinya Vira ikut mamanya pergi ke pesta besar. Selama ini mana pernah dia mau ikut acara seperti itu kecuali kalau pesta keluarganya.


Vira dan mama Dewi terlihat kompak dalam balutan busana yang senada. Keduanya memakai baju berwarna pink muda. Vira memakai atasan blazer dengan paduan celana berwarna senada. Sementara mama Dewi memakai kaftan berwarna pink muda. Beberapa teman sesama kolega menyapa dua wanita beda generasi. Apalagi jarang-jarang mama Dewi membawa anak perempuannya.


"Bu Dewi, ini anak bungsunya, Ya? wah, cantik. Tidak kalah cantik dengan kakaknya yang menikah waktu itu,"


"Iya, ini anak bungsu saya namanya Savira Gayatri. Vira beri salam sama Tante Raisa," Vira menyalami teman-teman lamanya.


Vira meminta izin berjalan melihat-lihat suasana pesta. Mama Dewi tentu mengizinkan namun tetap mewanti-wanti anak bungsunya supaya tidak jauh-jauh.


Suasana resepsi yang mewah, bahkan lebih mewah dari pernikahan kakak-kakaknya. Vira berjalan mengambil satu gelas minuman, matanya masih mengedarkan pandangan ke sekeliling.


"Maaf, Mbak saya mau ambil minuman," Seorang wanita muda berdiri di depan dirinya. Sesekali mereka terlihat bertukar pandang. Vira kembali fokus.


Di depan pintu gerbang aula pesta, tampak dua lelaki beda generasi. Mereka mengenakan jas berwarna abu-abu, tampak keduanya kompak. Lelaki muda yang mengenakan tongkat penyangga kakinya. Di bantu oleh lelaki paruh baya yang berada di sampingnya. Sudah hampir satu minggu ini dia mulai melepaskan diri dari kursi roda.


Berkat terapi yang di berikan dokter Wido, Dawa mulai tidak bergantung pada kursi roda lagi. Meskipun dia masih susah berjalan normal pada umumnya. Apalagi rencana mereka ke Australia batal karena Oma Helena sedang drop sudah hampir empat hari. Tentu Deka mementingkan kondisi sang mama. Daripada dia memilih pergi tapi dengan penyesalan jika terjadi sesuatu pada mamanya.


Dawa melihat suasana mewah di pesta tersebut membuat dia sedikit minder. Mungkin karena fisiknya tak seperti dulu.


"Pa, kita pulang saja," rengeknya tiba-tiba.


"Danu, kita sudah masuk. Masa malah pulang?"

__ADS_1


"aku minder, Pa. Nggak lihat aku jadi bahan tontonan orang,"


"Kan kamu nggak di kursi roda lagi, tapi kalau kamu belum kuat papa carikan tempat duduk buat kamu," Deka menuntun Danu menuju sebuah kursi.


"Papa mau kemana?"


Papa kesana dulu sebentar, sepertinya papa bertemu teman lama. Nanti papa kenalkan sama kamu," Deka berjalan menjauhi putranya.


Dawa bingung harus melakukan apa. Untung saja dia sudah dicarikan tempat duduk oleh sang papa.


Beberapa orang lalu dengan pakaian mewah tak membuat dia takjub. Lelaki itu menyandarkannya tongkat penyangga kakinya di kursi sebelahnya. Setelah memperhatikan orang-orang disana, dia kembali fokus pada gawainya.


"Kursi ini khusus untuk orang duduk bukan untuk tongkat aneh ini," Dawa mendongakkan kepalanya. Sosok lelaki yang dia kenal berdiri di hadapannya.


"Gavin, kamu apa kabar?" Dawa senang bertemu teman baiknya selama kuliah dulu.


"Seperti yang kamu, lihat. Saya baik, kamu apa kabar Pandawa? Hmmm sepertinya saya sudah punya jawaban, pasti kamu salah satu karyawan yang punya pesta ini kan. Roda itu berputar ya, dulu kamu sangat di sanjung sama pak Irul. Sekarang pak Irul mendekam di penjara, kamu dan juga anak pak Irul luntang-lantung tidak jelas. Karma itu nyata Dawa. Oh ya kamu sudah ketemu sama Karen, perempuan yang kamu campakkan demi menjadi menantu ayah angkatmu,"


"Maaf Gavin, saya tidak pernah mencampakkan Karen. Hubungan kami selesai baik-baik. Bukankah dulu kamu juga suka sama dia di kampus. Kenapa tidak kamu dekati saja, tanpa perlu menyemburkan api ke orang lain. Saya juga sudah punya seseorang jadi kamu tidak perlu takut kalah saing," Dawa mengambil tongkat untuk meninggalkan Gavin. Dia sedang malas mencari masalah, jangan sampai masalah Karen beberapa hari yang lalu terulang lagi.


"Kak Dewi," sapa Deka ketika melihat sosok yang dia kenal.


"Sebentar kamu, Dirga kan? astaga kamu apa kabar?" Mama Dewi menyalami lelaki yang ada di depannya.


"Alhamdulillah, baik. Kakak sudah lama disini, terakhir ketemu pas mau berangkat ke Belanda bukan?"


"Kamu masih ingat saja, Dirga. Oh ya kamu kesini sama siapa? anak dan istrimu mana?"


"Saya duda, Kak Dewi. Istri saya sudah meninggal dunia. Saya punya satu putra yang sudah lama kami terpisah karena keadaan. Alhamdulillah kami bisa berkumpul kembali. Kamu sendiri sama siapa?"


"By the way, Kak Zaki apa kabar?"


"Kak Zaki sudah meninggal dunia, kak Dewi. Sudah lama sekali, dia meninggalkan istrinya yang baru saja melahirkan. Istrinya juga sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, belum lama anaknya meninggal dunia karena ikut demo mahasiswa,"


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, saya turut berdukacita,"


"Kebetulan anakku juga masih single," Deka ikut promosi.


"Kamu ini bisa saja, Dirga. Vira sini, Nak. Ini adiknya teman mama. Namanya Dirga," Vira menyalami lelaki di depannya.


"Bentar aku cari anakku, dulu. Tadi dia duduk disana. Sekarang entah kemana tuh anak," Deka tidak menemukan Danu di kursi tamu.


"Mama masih lama nggak, aku mau pergi ke outdoor dulu, kayaknya ada spot keren di sana," pamit Vira.


"Yasudah, kalau mau keliling saja dulu. Mama sepertinya banyak ketemu teman-teman," pesan Dewi.


"Om, saya pamit dulu," Vira menyalami Deka.


Deka berbisik pada Dewi, "Sepertinya saya pengen dekatkan anak kita,"


Dewi tersenyum simpul "Hmmm boleh juga,"


Vira menemukan spot poto dalam outdoor resepsi. Katanya ini untuk pesta kembang api nanti malam. Gadis muda itu berjalan menuju spot tersebut, sudah siap dengan tongsis yang di bawanya.

__ADS_1


"Hay, kalau jalan lihat-lihat, sudah cacat tapi sok datang ke pesta. Hay, disini bukan tempat disabilitas," suara pria terdengar dari belakang.


"Maaf, saya sudah pinggir. Jadi anda bisa lewat," Dawa masih berusaha sopan.


"Maaf? apanya yang maaf? ngapain ada orang kayak kamu masuk pesta? disini untuk orang elit bukan orang cacat," Dawa sedikit menjauh ketika merasa hawa alkohol dari lelaki tadi. Padahal lelaki itu yang menabrak dirinya.


Vira sedari jauh melihat beberapa pria mengganggu orang bertongkat. Rasanya dia yang geram melihat pemandangan. Tangannya serasa gatal ingin menghajar para pria itu.


"Terakhir kaki dan tanganku menghajar kak Danu hingga tidak bisa bangun. hey tangan dan kaki apakah kalian merindukan momen itu. Mari kita reuni!" Vira dengan penuh percaya diri mendatangi kerumunan pria tersebut.


"Vira," ternyata mama Dewi sudah sampai di tempat anaknya berada. Wanita itu mengajak Vira berkeliling karena dia tadi melihat anak temannya opa Han.


"Iya, Ma,"


"Yuk, ikut mama,"


"Bentar, Ma. Aku mau kasih pelajaran pada orang itu!" Vira menunjuk segerombolan pria mengganggu orang dianggapnya memakai tongkat.


"Kamu jangan macam-macam, Nak. Ini tempat orang. Jangan bikin mama malu!"


"Enggak, Ma. Lebih malu mana lihat orang di tindas tapi kita diam saja atau menolong orang itu" Dewi meminta putrinya tidak melalukan hal yang aneh-aneh. Tapi Vira tetap keras kepala.


"Ayo tangan kita bikin perhitungan sama mereka," Vira tidak memperdulikan panggilan mamanya. Dewi pun merasa lemas melihat anaknya yang akan bikin keributan.


"Ehmmm.... Jadi gini kelakuan pria kayak kalian. Nggak cocok baju itu di sandang oleh kalian. Semua serba bagus tapi otak perlu di bagusin,"


Dawa melihat siapa yang bersuara tentu kaget. Sayangnya Vira masih fokus dengan rencananya. Sementara itu itu tiga pria tersebut tampak menatap Vira dengan remeh.


"Hey ada pahlawan kesiangan, kenapa kalau saya mau main dengan dia, kamu baby sitternya. Atau teman bobok nya,"


BUUUUUGH!


Satu kepalan tangan melayang ke perut pria yang berada di tengah. Pria itu menjerit kesakitan, Vira masih belum puas menendang ************ teman pria yang lainnya.


Dawa melihat kejadian itu hanya tersenyum kecil. Belum lekang dalam ingatannya bagaimana gadis itu menghajar dirinya habis-habisan.


Deka melihat kerumunan itu langsung mendekati tempat kejadian. Melihat anaknya yang berada di tengah mereka. Lelaki itu langsung menarik anaknya meninggalkan keributan. Tapi Dawa menahan.


"Pa, mungkin Tuhan memang berencana mempertemukan kami," kata Dawa.


"Maksudnya?"


"Papa lihat gadis yang menghajar para pria yang mengganggu aku tadi. Itu gadis yang aku ceritakan selama ini. Savira,"


"Anaknya Dewi berarti yang kamu ceritakan selama ini?"


"Papa kenal sama Tante Dewi?"


"Tante Dewi itu mantan SMA-nya pakde kamu,"


"Haaaah!"


Selesai adegan hero dari Vira. Gadis itu mencoba mengecek sosok yang di bully tadi. Pandangannya memutar segala arah.

__ADS_1


"Terimakasih, sapi," Kaki Vira terasa kaku saat mendengar sapaan itu.


__ADS_2