SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 46


__ADS_3

Seorang lelaki berperawakan tinggi tampak gagah meskipun tubuhnya di balut dengan kemeja batik. Di padu dengan celana hitam dasar berdiri di depan kaca. Meskipun udara sore ini terasa lebih dingin. Tapi memundurkan niatnya untuk menepati janjinya pada salah seorang warga.


Saat ini dia menempati mess untuk karyawan pabrik teh. Mess yang di buat layaknya hunian kota. Tak berdempetan tak di beri jarak sekitar sepuluh meter dari mess lainnya.


Mess yang dulunya berdempetan kini berubah menjadi mess yang layak huni. Dulu orang mengeluh karena aliran air bermasalah. Padahal aliran air untuk kebutuhan warga.


Hingga sosok itu mulai mencari tahu apa yang menghambat aliran air di sana. Sosok itu bekerja keras merubah pondasi mess yang menurutnya menghambat kinerja air.


"Kalau tidak ada Arjuna mungkin kita masih terkungkung dengan air PAM." kata warga yang lain.


Bagi warga sekitar pabrik, Arjunalah penggerak desa. Di mana lelaki muda itu selalu sigap dengan pembenahan lahan perkebunan. Dia selalu sigap ketika para buruh mengeluhkan adanya hama di sekitar perkebunan.


Ketika mendengar sang pahlawan telah tiada. Warga pun di rundung duka yang mendalam. Siapa yang tak kenal Arjuna Bramantyo, lelaki muda yang baru beberapa bulan datang ke desa mereka. Arjuna layaknya idola bagi para warga karena kebaikan hatinya.


"Mas," Tio langsung menoleh kearah wanita yang berada di belakangnya. Wanita yang sudah menjadi istri hampir dua tahun.


"Iya, sayang." Tio mendekati sang istri yang tengah bermain dengan anak mereka.


"Kamu kok melamun? kan katanya mau pergi ke nikahan anak pak Somad. ini sudah jam berapa? nanti keburu malam,.lo."


"Eh, iya sayang. Maaf." Tio langsung mengambil peci hitam yang tergantung di belakang pintu.


"Mas, pergi dulu ya, sayang. Anak ayah yang cantik, pergi dulu, ya. Jangan rewel, kasihan bunda sudah kecapekan." Ayu pun menyalami tangan suaminya.


Setelah suaminya berangkat menuju undangan nikahan salah satu warga. Ayu pun mendekati ranjang, sang putri sudah terlelap. Ayu pun memindahkan putrinya ke dalam box bayi. Langkahnya tertuju pada jendela kamarnya. Bulan tampak membulat sempurna.


Ting!


💌 Dira


Yu, apa kabar?

__ADS_1


💌 Ayu


Alhamdulillah baik, Ra. Kamu apa kabar? jadi nggak main sama Salsa?


💌 Dira


Aku pengen banget kesana. Tapi disini lagi sibuk sama pernikahan kak Feri. Aku nggak enak main pergi saja. Tapi setelah nikahan kak Feri aku kesana, Ya.


💌 Ayu


Kamu mau kesini kapanpun nggak masalah. Pintu rumah terbuka buat kamu,Ra. Kamu kan menantu di keluarga kami. Meskipun kak Juna sudah nggak ada, kamu tetap menantu mama dan papa.


Hening. Tak ada balasan dari Dira. Ayu melihat tanda "mengetik" artinya Dira masih menuliskan sesuatu di kolom obrolan mereka di WhatsApp.


💌 Dira


Buatku selama mas Juna belum di temukan, dia masih hidup, Yu. Feeling aku kuat kalau mas Juna masih hidup. Beberapa kali aku mimpi tentang mas Juna. Itu menandakan mas Juna sedang berada di suatu tempat, yu. Tempat dimana dia punya kehidupan lain di dunia nyata.


Ayu membaca pesan dari Dira. Dia juga merasakan apa yang dialami sahabatnya. Ayu tak lupa bagaimana gencarnya Juna mengejar cinta Dira meskipun statusnya masih tunangan Delia. Bukan tanpa alasan Juna berpaling, tekanan dari keluarga Delia dan juga Delia yang menggantung hubungan selama lebih dari satu tahun.


"Kak Juna lihat kan, betapa setianya Dira kepadamu. Jika kakak melihat semua ini dari atas sana. Jika memang kakak sudah tiada berilah titik terang dalam masalah ini. Kasihan Dira, dia juga berhak bahagia. Jika saja saat itu kakak mendengarkan kata mama untuk tidak menyusul kesini. Mungkin akan beda ceritanya." batin Ayu.


Ayu melihat Dira sudah tak membalas pesannya lagi. Tak ada tanda online lagi. Ayu yakin Dira masih terguncang dengan kematian Arjuna.


Malam ini di desa Tulang Bawang, beberapa muda-mudi berjalan melewati persawahan hingga tampak sebuah rumah kecil. Terletak jauh dari keramaian kota. tapi jangan salah, meskipun terlihat sederhana desa tulang bawang sudah termasuk melek teknologi. Sudah ada jaringan internet masuk ke sana. Jadi warga disana sudah tahu tentang berita terbaru meskipun ada yang tidak nonton tv.


Sandi berjalan di sekitar pematang sawah. Tadi Bu Ajeng sempat mengeluhkan kalau beberapa hari ini banyak padi yang mati. Awalnya Bu Ajeng hanya sekedar menceritakan permasalahan saja. Tidak berharap bantuan, siapa sangka Sandi menawarkan diri untuk mengecek sawah calon mertuanya itu.


"Kamu yakin bisa mengatasi. Kamu kan bukan orang paham masalah pertanian." kata ibu Halimah.


"Saya tinggal baca di internet, Bu. Jadi kan nggak sekedar praktek kosong saja." kata Sandi.

__ADS_1


"Oh begitu, ya." Sandi menganggukkan kepalanya.


"Aku pamit, bu. Nanti sudah magrib aku nggak usah di tunggu. Soalnya langsung ke sawah Bu Ajeng." pamit Sandi.


"Ya Allah mudahkanlah urusan anakku. Baik untuk ujian Uti maupun pekerjaan anakku, Sandi. Aku titip dalam penjagaan-Mu ya Allah. Engkau maha Dzat yang maha pengasih dan penyayang. Amin."


Sandi sudah berada di area persawahan. Tadinya ada Inggar yang menemaninya ke sawah. Sandi menolak tawaran Inggar, dia takut kalau nanti Inggar bikin hilang konsen. Apalagi kalau temannya itu bawa minuman keras dan musik dugem. Tentu saja bakal bikin tidak fokus.


Sandi mulai melakukan tugasnya. Dimana dia mengecek beberapa hama perusak tanaman. Menurutnya hama yang masuk tidak terlalu berbahaya bagi padi.


Salah satu faktor pendukung keberhasilan usaha tani adalah pengendalian hama. Sampai saat ini, cara yang paling efektif untuk membasmi hama adalah dengan menyemprotkan pestisida pada tanaman. Namun demikian, pestisida rupanya membawa dampak negatif, seperti menempelnya racun pada tanaman yang seringkali sulit dibersihkan dan membahayakan kesehatan bila termakan.


Sandi membuka handphone. Mencari tahu bagaimana solusi dalam permasalahan ini. Akhirnya dia mendapatkan titik terangnya. Melihat hal tersebut, muncullah ide untuk mencari alternatif lain untuk pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan,yakni dengan menggunakan rangsangan lampu. Dan ternyata, lampu TL (Tubular Lamp) dengan jenis warna UV (ultra violet)-lah yang paling efektif untuk mengecoh serangga.


"Semoga cara ini bisa membantu Bu Ajeng." batinnya.


"Ma, Dira berangkat dulu,ya."


Medhira Utami, Wanita yang merasa bukan seorang janda tetap nekat pergi ke Lembang, tempat keluarga suaminya.


"Kamu nggak mau ditemani, gitu?" Mama Dewi masih belum percaya melepaskan putrinya pergi sendiri.


Bukan apa-apa. Mengingat Dira masih terguncang dengan kematian suaminya. Mengingat putrinya beberapa kali kedapatan menangis memeluk photo suaminya. Bukan hal mudah menerima kenekatan Dira untuk pergi ke luar kota sendirian. Apalagi dengan alasan menengok bayinya Ayu.


"Mama tetap tidak akan mengizinkan kamu pergi sendirian. Kamu itu perempuan Dira, nggak bagus perempuan berkeliaran sendirian apalagi keluar kota. Kamu itu janda Dira."


"Aku bukan janda, ma. Suamiku masih hidup. Pasti masih hidup. Mama aku sudah bilang beberapa kali kak Juna memberi sinyal kalau dia masih hidup. Aku yakin kak Juna masih hidup."


BRAAAAAK!


Dira menutup pintu kamar dengan keras. Mama Dewi hanya bisa mengelus dadanya melihat sikap putrinya.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu bisa mengerti kalau Juna sudah tiada, nak. Mama sangat rindu Dira yang dulu. Anak mama yang ceria, cuek dan mandiri. Mama rindu kamu,nak." Isak Mama Dewi dibalik pintu.


__ADS_2