SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 34


__ADS_3

Dua insan yang sedang dimabuk cinta. Kini berjalan memasuki kamar rawat Dira. Di depan pintu Feri menanyakan soal lamarannya. Tina masih kalut dengan Mayka. Bagaimana nanti setelah sampai di rumah? Tina yakin reaksi Mayka beserta keluarga besar pakde nya.


Feri berlutut di hadapan Tina. Wanita usia 28 tahun tersebut menengok kanan kiri. Dia merasa tidak enak menjadi tontonan orang-orang di rumah sakit.


"Martina Priscilla Agatha, menikahlah denganku."


"Feri, kenapa harus aku? kamu tidak lupa kan kalau dulu aku pernah mempermalukan kamu sama satu sekolah. Kamu tahu kan kalau dulu ..." Feri menutup bibir Tina dengan jari telunjuknya.


"Please, jangan lihat masa lalu. Biarkan semua jadi pelajaran hidup. Maafkan aku yang pernah dendam sama kamu. Tapi saat kamu keluar dari kantor, aku benar-benar merasa kehilangan. Aku merasa kamulah yang aku cintai selama ini."


"Tina," bude muncul bersama mama Dewi. Keduanya tersenyum melihat anak mereka.


Tina dan Feri menoleh kearah dua wanita yang mereka hormati. Bude memeluk keponakan suaminya dengan penuh kasih sayang. Dewi pun tak kalah senangnya saat Feri menyatakan lamarannya pada wanita pujaannya.


Feri merasakan tangan Tina sangat gemetar dan berkeringat. Bisa jadi karena wanita di sampingnya grogi. Tapi Feri yakin semua berjalan aman, karena yang dia tahu sepertinya mantan mertuanya mendukung hubungan mereka. Jadi rasanya tidak akan susah kalau mencari restu dari pihak Tina. Dia juga yakin mamanya menyetujui hubungan mereka, selama ini mamanya tidak pernah melarang dirinya dekat dengan perempuan manapun.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Mama Aminah dan mamaku tersayang mama Dewi Savitri, Feri mau kita bicara di dalam." Feri membuka pintu kamar rawat Dira menuntun dua wanita yang dia hormati.


Vira melihat kakaknya masuk bersama seorang wanita. Dia menyalami Tina dengan ramah.


"Jadi ini first love kakakku yang bikin dia susah move on." goda Vira.


Feri menyikut lengan adik bungsunya supaya tidak menggangu calon istrinya. Vira hanya menjulurkan lidahnya sambil tertawa kecil. Tina pun di berikan kursi dan duduk di dekat dirinya.


"Saya disini berdiri dihadapan kalian semua sebagai saksi atas yang terjadi di depan mata kalian." Feri memutar pandangannya ke arah Tina yang masih menunduk lalu beralih kearah mama Aminah dan mamanya yang Duduk berdampingan. Sesaat Feri tersenyum sembari menata mentalnya untuk pengumuman tersebut. Sekalilagi dia melirik kearah Tina Hempasan nafas terdengar pelan. Tampak wajah cantiknya gugup dengan apa yang akan di sampaikan Feri pada keluarga lelaki itu.


"Mama Aminah, saya mau menjalankan kembali pernikahan naik ranjang. Tapi maaf kalau saya tidak bisa membuka hati untuk Mayka. Saya mencintai Tina, keponakan mama. Saya bilang naik ranjang karena Tina adalah kakak kandungnya, Meyra.


Mama Aminah, saya mau melamar Tina, keponakan mama mertuaku yang tersayang. Saya minta restunya untuk menikahi Tina."


"Tina, Bude merestui kamu dan Feri. Karena bude tahu kamu dan Feri saling mencintai. Maafkan kami terutama pakdemu. Karena sebenarnya papamu dan pakdemu tidak sedarah. Papamu diangkat oleh kakek Triawan saat masih sekolah dasar. Itu yang bude tahu tentang papamu."


Tina langsung memeluk bude Aminah dengan perasaan haru. Ada kelegaan kalau mamanya merestui Feri. Dia terharu akan momen ini. Sesekali tangannya menutupi hidungnya yang sudah basah. Tidak menyangka kalau dirinya akan menerima lamaran Feri.


"Aku menerima lamaran Feri Andreas."


"Alhamdulillah." Seru yang lain.


"Tina, mulai sekarang kamu adalah calon istri Feri. Mulai sekarang kamu keluarga kami. Kebahagiaan Feri juga kebahagiaan saya juga." kata mama Dewi pada Tina.


Vira duduk di kursi samping ranjang Dira. Menyaksikan kebahagiaan kakak sulungnya. Tangan menggenggam erat jemari Dira. Vira membisikkan pada kakak perempuannya kalau kakak sulung mereka sudah tidak termasuk sayembara jodoh.


Vira melihat tangan Dira mulai bergerak. Itu artinya Dira mulai merespon ucapan. Vira memanggil seluruh keluarga agar berkumpul menyaksikan pergerakan jemari Dira. Mama Dewi menatap putri keduanya dengan harap-harap cemas.


Sepasang mata coklat pelan-pelan membuka matanya. Masih di ruangan yang sama tubuhnya terbaring. Mama Dewi, Vira dan juga Feri ada di samping dirinya. Beberapa kali pandangannya memutar di sebuah ruangan seakan ada yang di carinya. Air matanya menetes seketika, bahkan sang mama pun ikut meneteskan air matanya.


Tina dan bude Aminah pun ikut menyaksikan detik-detik bangunnya Dira dari koma yang sudah satu minggu tertidur indah..


"Alhamdulillah, Dira sudah sadar." kata Tina.


"bude, Amar mana?" Tina baru menyadari kalau adiknya sudah tidak terlihat.

__ADS_1


"Maaf, Tina. Tadi sebelum menyusul keatas pakdemu kesini, sepertinya Mayka mengadu hingga pakdemu datang ke sini. Amar di bawa pakdemu tadi."


"Bude, kalau Amar di buat macam-macam sama pakde gimana?" Tina masih mencemaskan adiknya.


"Percaya, pakdemu tidak akan sejauh itu." bude masih mencoba meyakinkan keponakannya.


"Semoga bude." Tina masih belum yakin kalau adiknya akan baik-baik saja.


"Mas Juna ..." ucap Dira pelan tapi lirih.


Ingatannya beralih pada kecelakaan yang dia lihat di tv. Lagi-lagi tubuhnya bergetar hebat, mama Dewi dengan sigap memeluk tubuh putrinya sambil menangis.


"Mas Juna, maaaa ..."


"Dira kamu harus kuat. Kamu harus sabar, mama yakin Juna juga tidak mau melihat kamu sedih."


"Dia ninggalin aku disaat seperti ini. Kenapa hidup aku selalu begini, ma? aku harus kesana?" Dira mencoba turun dari ranjangnya.


"Nak, kamu kemana?"


"Ke Lembang, ma. Pasti kak Juna disana." Dira mencoba melepaskan tangan Feri yang mencoba menahannya.


"Aku mau cari suamiku, kak."


"Suami kamu sudah meninggal Dira!"


"Feri!" Berang mama Dewi.


"Kamu tidak lihat adikmu baru sadar. Ucapanmu malah membuat Dira drop. Mama mohon jangan buat adikmu sedih lagi saat ini."


"Maafkan kakak Dira. Kakak nggak bermaksud membuat kamu sedih. Kakak minta maaf. Aku yakin Juna masih hidup. Dia itu pintar berenang sejak kecil. Kamu tahu saat kamu jatuh ke kolam renang dialah yang mengorbankan tubuhnya demi menyelamatkanmu."


Dira hanya bisa menangis di pelukan mamanya. Dewi pun masih mencoba menenangkan putri semata wayangnya. Suasana di kamar rawat Dira mendadak hening.


Feri pun masuk kembali ke kamar rawat Dira bersama dokter. Semua yang berdiri di dekat Dira segera menyingkir membiarkan dokter menjalankan tugasnya.


"Alhamdulillah masa kritisnya sudah lewat. Sebaiknya Bu Dira tetap menjalani pemulihan beberapa hari di rumah sakit. Sementara Bu Dira jangan banyak aktivitas terutama karena dia belum lama ini menjalani operasi kuret."


"Terimakasih, dok." kata mama Dewi.


Setelah dokter meninggalkan kamar rawat Dira. Vira duduk mendekati kakaknya. Wajah Dira masih sendu. Vira yang tadinya mau memperkenalkan Tina pada Dira mengurungkan niatnya. Dia paham momennya belum pas.


*


*


*


*


Di sebuah desa kecil yang bernama Tulang Bawang di salah satu ujung dalam kota Bekasi. Tampak seorang gadis muda sedang menyapu halaman teras rumah. Tubuhnya yang berbobot 49 kilogram tak membuatnya berpangku tangan. Sebagai anak bungsu, dia tidak di perlakukan selayaknya anak bungsu yang manja. Mungkin karena keadaan keluarganya yang membuat dia tahu diri.

__ADS_1


Selesai menyapu, Uti pun duduk sejenak di dapur. Sekaligus menantau keadaan kakak laki-lakinya yang masih belum sadarkan diri setelah satu minggu di temukan bapaknya di muara desa mereka.


"Kak Sandi, bangun dong. Sudah tujuh tahun kakak pergi dari rumah. Kakak tahu, bapak dan ibu kalau ke kamar kakak selalu nangis. Mereka rindu sama kak Sandi. Dulu waktu kak Sandi pergi dari rumah aku masuk umur sepuluh tahun. Sekarang aku sudah kelas tiga SMA kak." kata Uti sambil mengusap rambut kakaknya.


"Tapi kenapa kak Sandi bisa ada di muara desa kita. Apa yang terjadi sama kak Sandi? apa kakak malu pulang sampai melompat di muara sungai.


Eh, ini kalung kakak ya? lucu, ya. Kalungnya bulan sabit. Bentar ini kayaknya couple deh. apa Kak Sandi punya pasangan di sana?" uti masih terus mencoba berkomunikasi dengan lelaki yang di yakini sebagai kakaknya.


Uti tadinya akan meninggalkan kamar kakaknya. Sandi bukanlah kakak sulungnya, diatas Sandi ada Fatimah, sayangnya saat SMP Fatimah meninggal dunia karena demam. Itu yang Uti dengar dari kedua orangtuanya. Saat itu Sandi masih berusia dua tahun saat sang kakak berpulang.


Uti melihat jari kakaknya bergerak. Diiringi kedua mata lelaki itu terbuka dengan pelan.


"Kak Sandi!" pekiknya dengan penuh air matanya.


Mata lelaki itu terbuka. "Aku dimana?" kata pertama yang keluar dari mulut lelaki itu. Ia menoleh kearah Uti " kamu siapa?"


"Alhamdulillah, akhirnya kakak sadar juga."


"Aku dimana?"


"Kakak dirumah kita." kata Uti.


"Rumah kita?" ucapnya terbata-bata.


"Kakak masih ingat aku?" lelaki itu menggeleng.


"Nama kakak?" lelaki itu menggeleng kembali.


"Nama kakak Sandi Kurniawan. Aku Mutiara, adik kandung kakak. Bapak kita namanya Rohim dan ibu kita namanya Halimah. Astaga aku harus kabari ibu dan bapak. Kakak tunggu disini. Aku mau cari bapak di ladang." Uti beranjak meninggalkan rumah.


"Ibuuu... bapak... kak Sandi sudah sadar!" pekik Uti berlari ke depan rumah.


Gadis yang bernama asli Mutiara itu tampak panik mencari kedua orangtuanya. Meskipun tubuhnya sedikit gempal namun kekuatan untuk berlari sangat kuat.


Setelah dua minggu yang lalu pak Rohim bersama pemancing lainnya menemukan lelaki mengambang di muara desa mereka. Lelaki yang sangat mirip dengan anak lelakinya yang sudah tujuh tahun tanpa kabar. Pak Rohim yakin kalau itu adalah anaknya.


"Ibuuu!" suara Uti akhirnya sampai di ladang tempat kedua orangtuanya mencari nafkah.


"Bapak!" pekik Uti.


"Ya Allah, nak. ada apa kamu teriak-teriak?"


"Kamu kok kesini. Jangan di tinggal kakakmu" kata pak Rohim.


"Kak Sandi sudah sadar, kak Sandi sudah sadar." Uti masih dengan kehebohannya.


"Iyakah? pak anak kita sudah sadar. Kita pulang yuk pak, ibuk rindu sama Sandi."


"Tapi kak Sandi nggak ingat dirinya sendiri." kata Uti cemberut.


"Apa kayak di tv itu ya pak? anemia kalau orang lupa ingatan. Gitu kan, Ti?"

__ADS_1


"Iya, Kali Bu. Aku juga nggak paham."


__ADS_2