SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 76


__ADS_3

Kasih sayang seorang ibu tiada duanya. Ibu mana yang tidak sedih ketika mendengar kemalangan anaknya. Ibu mana yang tidak sedih ketika anaknya kehilangan dua hal yang berharga dalam hidupnya, calon anak dan suaminya.


Itu yang Dewi lihat pada Dira saat keguguran. Di samping saat menantunya tetap berada di sisi Dira. Namun, ternyata pihak besan juga sedang di rundung musibah. Saat itu yang Dewi pikirkan adalah mengizinkan Juna untuk menengok keluarganya. Meskipun Juna sempat menolak karena Dira belum sadar dari tidurnya.


Dewi bisa saja saat itu melarang Juna untuk menjenguk papanya yang kritis. Tapi Dewi tidak mau di cap besan yang egois. Dia paham ada momen yang tidak akan bisa di bayar jika Johan kenapa-kenapa.


Dia pernah di posisi Juna, ketika kuliah di Belanda, Dewi mendapat kabar papanya sakit keras. Namun saat kembali ke Indonesia papanya sudah berpulang ke Rahmatullah.


Sebuah penyesalan teramat dalam Dewi rasakan saat itu. Dimana dia tidak berada di samping papanya di saat terakhir. Andai saja pesawatnya tepat waktu saat itu, mungkin dia bisa pulang sebelum papanya tiada.


Sekarang menantunya sudah kembali. Tentu saja dia akan menerima kehadiran Arjuna di keluarganya. Sebagai bentuk dari rasa sayang pada putrinya. Dewi ingat betul bagaimana Dira terpuruk saat Juna dinyatakan meninggal dunia.


"Selama jasad mas Juna belum ditemukan, itu artinya dia masih hidup,ma. Mas Juna pintar berenang. Jadi tidak mungkin kalau dia bisa tenggelam begitu saja." kata Dira saat itu.


Dewi sepertinya angkat tangan. Dia ingin anaknya kembali seperti dulu. Ceria, dan penuh tawa. Dewi tahu Dira memang sedikit sensitif dari kedua saudaranya.


Setelah Dira mengabari kalau dia pulang bersama Arjuna. Dewi menginstruksikan pada semua yang ada di rumah mempersiapkan pesta kecil. Pesta yang diadakan di teras belakang dekat kolam renang. Kebetulan ada Tina dan Amar, dua kakak beradik itu bahu-membahu mengurusi acara penyambutan itu.


Dewi melihat Tina cukup lincah untuk hal di dapur. Serasa mendapatkan teman penyuka dunia kuliner. Tadinya dia mengira akan kesepian kalau Dira nantinya di boyong suaminya ke Lembang.


Sementara Vira, Dewi paham sekali putri bungsunya masih belum mandiri. Keperluannya saja masih Dewi yang menyiapkan. Dewi bukan mau memanjakan Vira, hanya saja dia mau anaknya memiliki kesadaran sendiri. Jika terlalu di paksakan nanti malah membangkang. Sejauh ini Vira belum pernah membangkang dirinya, masih menurut walaupun terkadang masih setengah hati.


Setelah acara pesta kecil selesai, Dewi menemui Dira dan Juna. Tentu saja mengingatkan pada anak dan menantunya kalau sekarang mereka bukan lagi suami istri.


"Mama mau kalian menikah lagi." kata Dewi pada Dira dan Juna.


"Menikah lagi? tapi saya dan Dira masih suami istri. Kecuali kalau saya pernah menalak Dira. Tapi ..."


"Juna, kamu sudah meninggalkan Dira selama satu tahun. Dalam pernikahan kalau dalam tiga bulan sudah tidak di nafkahi jatuhnya talak. Dan kamu sudah tidak menafkahi Dira sudah selama satu tahun. Dira juga sudah menjalani masa Iddah sebagai janda di tinggal mati suaminya.


Jika kamu masih ingin bersama anak saya. Kamu harus menikahinya kembali."

__ADS_1


Mama juga pernah mendengar ceramah mengenai hal ini. Saat itu, dijelaskan kalau rujuk adalah bersatunya kembali sepasang suami istri dalam ikatan pernikahan setelah terjadinya talak raj’i (di antara talak satu serta talak dua).


Apabila istri telah habis masa iddahnya sedangkan suami ingin merujuk istrinya kembali, maka harus dilaksanakan kembali akad nikah yang baru disertai dengan tebusan. Syarat suami melakukan rujuk yaitu tidak boleh merasa terpaksa saat mengajak istrinya rujuk kembali


itu yang mama dengar di ceramah pengajian grup arisan beberapa hari yang lalu."


"Baik, Ma. Juna akan menikahi Dira." jawabnya mantap.


Tangan Juna terus menggenggam erat jemari Dira. Seakan meyakinkan wanita di sampingnya kalau dia akan tetap bertanggungjawab. Dira masih menunduk malu-malu.


"Aku akan menikahi kamu lagi, sayang. Akan menjadi sosok yang terbaik sepanjang pernikahan kita sampai maut memisahkan. Aku akan menjadi imam yang akan menuntunmu ke jalan yang baik."


"Terimakasih, Mas." jawab Dira masih menunduk.


"Ehmmm... Mama masih disini, Lo. Ini sudah malam, jadi malam ini kamu tidur sama Feri. Kalian belum boleh sekamar sampai pernikahan itu tiba."


"Kapan saya bisa menikahi Dira, Ma? Apakah besok? Kalau besok saya siap, Ma. Hari ini pun saya siap." jawab Juna mantap.


"Mas, aku antar ke kamar kak Feri, ya." Dira berdiri hendak memegang gagang kendali kursi roda. Tangan Juna menahan meminta Dira duduk dulu. Dengan patuh Dira pun duduk di sofa bersebelahan kursi roda Juna.


"Mas, kamu harus istirahat, ya. Besok aku akan ajak kamu ke suatu tempat yang mungkin bisa membantu ingatanmu."


"Dira, apa kamu mau kita menikah lagi? apa kamu mau jadi istriku lagi? setelah semua yang kita lalui dari zaman sebelum menikah hingga saat ini. Aku tahu saat ini ingatanku masih berarah pada masa sebelum aku menikahimu. Mama juga pernah bilang kalau perjuangan kita tidaklah mudah.


Jadi sekali lagi aku bertanya mau kah kamu jadi istriku lagi?"


"Aku mau jadi istrimu lagi, Mas." Jawab Dira malu-malu.


"Terimakasih, sayang." Juna mengecup lembut kening Dira.


Dira mengantarkan Juna ke kamar Feri. Masih dalam suasana hening. Dira dengan telaten memindahkan Juna dari kursi roda ke tempat tidur. Tangan Juna menahan sang istri meminta menemaninya sampai Feri pulang.

__ADS_1


"Sayang, kamu disini dulu, ya. Sampai kak Feri pulang."


"Mas, bukankah tadi mama bilang kalau mulai sekarang kita di pingit dulu. Kamu harus sabar menunggu saat itu tiba. Aku balik ke kamar ya, capek, mas."


"Kamu tega meninggalkan aku sendirian disini?" rengek Juna.


"Mas, kamu kok jadi manja gini sih? selamat tidur suamiku."


Cup!


Dira mengecup kening suaminya. Juna meminta Dira duduk sebentar.


Cup!


"Selamat istirahat istriku. I love you. Mimpikan aku ya."


Dira sudah sampai di kamarnya melihat handphonenya bergetar. Dia tersenyum kecil mengetahui siapa peneleponnya. Dira memilih mengabaikannya. Tubuhnya sudah sangat lelah. Hingga dunia mimpi sudah membalut pejamannya.


*


*


*


Mia baru saja bangun dari peraduan malamnya. Netra nya beralih pada gawainya berdering tiada henti. Dengan malas dia mengamati benda pipih tersebut. Grup WhatsApp alumni SMA nya sangat rame. Mia mencoba mengingat apa saja obrolan mereka tadi malam.


"Mia, apa maksud kamu nyebarin video itu?" chat Ayu menjadi pembuka pertama.


"Video apa sih,Yu?" Mia masih belum paham dengan tuduhan Ayu.


"Video kakak gue yang elo sebarin!" amuk Ayu.

__ADS_1


__ADS_2