SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 103


__ADS_3

Rumah adalah tempat di mana kita memulai perjalanan hidup. Rumah menjadi tempat terindah dan ternyaman karena adanya orang-orang tercinta seperti orang tua dan keluarga lainnya, membuat rumah makin menenteramkan. Mungkin rumah bukan bangunan yang megah, tetapi di dalamnya tersimpan banyak kisah yang tak ternilai.


Untuk sebagian orang, rumah adalah tempat ternyaman untuk kembali. Baik saat pulang membawa suka atau pulang membawa luka, pintu rumah senantiasa terbuka lebar menyambut kedatangan penghuni rumah.


Sejauh apa pun melangkah, seberat apa pun berjuang dan selelah apa pun beraktivitas di luar rumah, inilah lima alasan bahwa rumah tetap menjadi andalan terbaik untuk kembali kesana.


Sebuah mobil berhenti di depan kediaman Dewi Savitri. Mobil Honda jazz kecil berwarna merah mengklakson di depan pagar berwarga putih tersebut.


Satpam rumah pun membukakan pintu untuk menemui si pemilik mobil. Menanyakan perihal keperluan mereka ke rumah majikannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya satpam yang bername tag "Rafi"


"Saya mau masuk. Kami keluarga dari Bu Dewi Savitri. Kak Dewi nya ada?" tanya seorang wanita yang di lansir usianya 40-an.


"Sudah ada janji. Masalahnya Bu Dewi ke Lembang. Hanya ada non Vira di rumah." jelas pak satpam.


"Nggak masalah. Toh, Vira juga keponakan saya. Boleh kan saya masuk? atau saya telepon kak Dewi biar kamu di pecat karena menghalangi saya masuk ke rumah saudara saya sendiri." ucap wanita itu dengan angkuhnya.


"Tante Rani," suara lengking terdengar dari depan garasi mobil.


"Non, kenal dengan ibu ini?" tanya pak satpam.


"Ini adik sepupu mama. Keponakan nenekku."


Pak satpam langsung membuka pagar rumah dan juga garasi mobil. Setidaknya dia tidak asal menerima tamu sebelum tahu kejelasannya.


"Kamu tidak minta maaf sama saya? kamu tadi menghalangi saya masuk ke sini."


"Maafkan saya, Bu." ucap pak satpam sambil menunduk.


Vira menggelengkan kepalanya melihat sikap Tantenya. Dari dulu Tante nya memang rada angkuh di banding Tante atau om nya yang lain. Seingat Vira mamanya dan juga Tante Rani memang kurang akur sejak dulu. Anehnya meski begitu, Tante nya malah datang ke tempat mereka.


"Masuk, Tante." Vira meminta pak satpam membawa barang-barang milik tantenya dan juga sepupunya.


Rani masuk ke dalam rumah bersama anaknya Tahir. Diikuti oleh Vira yang berjalan di depan keduanya. Vira menawarkan Tante nya untuk menunggu di kamarnya. Sambil menunggu Bi Inah membersihkan kamar tamu yang terletak di sebelah ruang kerja Feri.


"Sepi sekali? mana yang lain?" tanya Tante Rani.


"Mama dan kak Dira ke Lembang. Ada kerabat yang meninggal dunia." jelas Vira.

__ADS_1


"Siapa?"


"Kak Delia, anaknya om Shahab."


"Hah! Ngapain masih bersilahturahmi sama mereka. Syukurin kalau anak si Shahab meninggal dunia. Apa kalian lupa kalau Shahab sudah membuat Dira hampir mati. Masih juga di belain mau ngelayat."


"Ya karena keluarga suami kak Delia masih berteman baik dengan kami.," Bela Vira.


Rani tak menggubris ucapan Vira. Dia masuk ke kamar Vira melihat semua isi kamar keponakannya.


Vira menghubungi mamanya. Menanyakan kapan mamanya pulang. Sekaligus mengabari tentang kedatangan Tantenya dari Surabaya.


"Mama kapan pulang?" tanya Vira pada mamanya di sambungan telepon.


"Insyallah habis Magrib, nak. Kenapa? rumah aman-aman saja, kan."


"Alhamdulillah aman,ma. Apalagi rumah ramai ada Tante Rani dan Tahir."


Deg! Mama Dewi terdiam sejenak ketika nama itu tersebut. Bukan apa-apa, mengingat beberapa hari yang lalu sikap Rani yang menyinggung perasaannya. Sikap Rani yang terkesan nyinyir dengan masalah keluarga Dewi Savitri.


"Ada acara apa mereka ke rumah?"


"Mau nyari kampus untuk Tahir, Ma."


"Owh, begitu. Baguslah kalau kamu tidak sendirian di rumah. Kakakmu sudah pulang?"


"Belum, Ma. Kayaknya mereka menetap di rumah kak Tina. Nggak apalah, Ma, biar kak Feri belajar tinggal di rumah sederhana. Biar dia ..."


"Vira... Nggak boleh kayak gitu sama kakak kamu." Mama Dewi segera memotong ucapan putrinya. Dia paham kalau Vira rada blak-blakan. Gaya bicara yang kadang tanpa filter. Beda dengan Dira yang masih mikir kalau membicarakan sesuatu.


"Maaf, Ma. Jadi mama nanti malam pulangnya?"


"Iya, nak. Kamu hati-hati dirumah. Kalau ada apa-apa telepon kakak kamu."


"Kak Dira pulang bareng mama juga?"


"Enggak sayang. Dira memutuskan menetap disana bernama suaminya. Jadi mama pulang bareng opa Han. Sudah ya, nak mama mau siap-siap dulu. Mau bantu di rumah mamanya Delia."


"Iya, ma. Sampaikan rasa belasungkawa Vira pada mereka."

__ADS_1


Vira dan Dewi menyudahi hubungan telepon mereka. Vira masuk ke kamarnya, sudah ada Elsa yang menunggu dirinya di dalam kamar. Baru saja Vira berbalik sudah ada Tante Rani yang memasang wajah galaknya.


"Siapa yang menelepon?"


"Aku telepon mama, Tante."


"Kamu bilang sama mamamu kalau saya disini?"


"Iya, Tante."


"Buat apa? emangnya saya orang lain pake harus di laporkan kalau mau nginap disini."


"Nggak gitu juga, Tante. Kan mama juga berhak tahu kalau ada orang yang datang ke rumah. Ini kan rumah mama."


"Oh jadi mentang-mentang ini rumah milik mama kamu saya jadi berasa orang lain, gitu?"


"Terserah apa yang Tante pikirkan. Tapi satu hal yang harus Tante tahu, disini kami adalah tuan rumah. Jadi setiap rumah pasti punya aturan tertentu. Maaf kalau Vira bicara seperti ini sama Tante Rani." Vira pergi meninggalkan Tante Rani di ruang tengah.


"Dasar anak pembawa sial, dia lupa kalau penyebab orangtuanya cerai. Atau mungkin dia tidak tahu. Heh! kak Dewi.. kak Dewi ...


Lagian kak Dewi baik amat masih mau bersilaturahmi ke keluarga Shahab. lupa dia kalau keluarga itu yang buat Dira celaka.


Ini malah datang ke pemakamannya. Nggak paham sama pemikiran keluarga ini. Feri juga, malah nikah sama OB di kantornya. Nggak beres ini!" umpat Rani.


"Inaaah!" panggil Rani saat melihat tidak ada sarapan dibawah tudung.


"Iya, mbak Rani" Bi Inah berlari tergopoh-gopoh ketika mendengar teriakan saudara majikannya.


"Kamu ngapain aja dari tadi! Mana masakannya? kamu mau buat saya mati kelaparan!"


"Maaf, non Rani. Tadi saya sudah masak dan tersedia di bawah tudung. Disini emang nggak banyak masak karena mereka cuma sarapan pagi sama malam.


Non Rani mau di buatkan apa biar saya masakin."


"Cepat masak! Saya lapar! Nanti saya aduin kamu sama kak Dewi!" titah Rani bertindak bak tuan rumah.


Huh dasar! Baru saja datang saja belagu minta ampun. Aku baru tahu dia kayak gitu. umpat Bi Inah.


Vira yang mendengar suara tantenya bak ratu di rumahnya hanya diam saja. Dia bisa saja menegur sikap Tante Rani. Akan tetapi, dia juga punya kegiatan lain. Malas membuang energi untuk ribut dengan Tantenya.

__ADS_1


__ADS_2