SEMESTA MERESTUI KAMI

SEMESTA MERESTUI KAMI
BAB 190


__ADS_3

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”


Doa ibu adalah pemberian yang sangat berharga untuk seorang anak dan digolongkan sebagai doa yang paling mustajab. Doa adalah senjata ampuh untuk anak-anaknya serta orang-orang yang di sayanginya.


Dewi bersimpuh di depan gelaran sajadah. Meminta ampunan pada yang maha kuasa. Perjalanan hidup yang penuh dengan air mata serta amarah tiada henti. Sungguh tak ada maksud mempersulit hidup hanya saja keadaan yang membuat seperti itu.


Harapannya cuma satu, di berikan anak-anaknya kebahagiaan yang lebih. Tak perlu harus kebahagiaan materi melainkan kebahagiaan batin atau psikologis anak-anaknya.


Suara adzan subuh berkumandang, membuat dirinya harus memulai kewajibannya sebagai umat muslim. Mukena putih berenda senada pun mengiringi ibadahnya. Menghadap sang khalik menyempurnakan ibadahnya sebagai umat muslim. Dua rakaat dia laksanakan untuk sholat Sunnah di lanjut dengan sholat subuh.


Selesai sholat subuh, Dewi pun melipat mukenanya. Membuka gawai untuk mengetahui informasi penting. Siapa tahu ada kabar-kabar dari grup yang dia ikut di WhatsApp.


Gawainya bergetar, Dewi pun mengangkatnya.


"Assalamualaikum Jeng Dewi," suara lembut menyapa lewat jalur udara.


"Waalaikumsalam, Jeng Arumi, tumben pagi-pagi meneleponnya?"


"Saya baru dapat kabar kalau nak Savira di culik apa itu benar? ya Allah saya ingat waktu Dira dulu, Jeng. Rian sampai uring-uringan saat tahu Dira di culik,"


"Alhamdulillah, nggak sampai dua hari Vira bisa di selamatkan jeng. Yang culik itu saingan bisnis kami," Dewi terpaksa berbohong karena tidak mungkin dia sembarangan cerita pada orang lain. Orang lain? dulu dia akrab sama Arumi saat mereka bakal besanan.


Tapi sejak Rian di kabarkan menikah dengan Delia, mereka tidak lagi terlalu dekat. Walaupun masih bertegur sapa ketika bertemu. Tetap saja ada jaga jarak, apalagi sejak Shahab bangkrut, ada Yasmin yang selalu ikut di setiap kegiatan Arumi.


"Andai saja jeng, Dira dan Rian jadi menikah. Mungkin nasib Rian tidak akan seperti ini. Punya istri yang anak manja, tidak bisa apa-apa. Sampai meninggal pun masih membebankan hidup pada Rian.


Sekarang dia harus punya anak tanpa istri. Jeng Yasmin mau rawat Dean tapi di tolak Rian,"


Dewi menyunggingkan senyum. Dia bahkan bersyukur kalau Dira tidak jadi sama Rian. Karena ternyata punya anak lain dari perempuan lain. Bagaimana kalau dulu dia memaksa Dira tetap bersama Rian. Dan akhirnya Dira pun punya mertua nyinyir seperti Arumi.

__ADS_1


"Sebenarnya tujuan saya menelepon pagi ini untuk kembali menyambungkan tali silaturahmi kita. Ya walaupun tidak jadi sama Dira, tapi kita bisa menyambungkan Rian dengan Savira. Saya tahu bibit bebet bobot keluarga jeng Dewi lebih bagus dari mendiang...."


"Jeng, semua yang terjadi di dalam kehidupan kita sudah ada garis tangannya. Kita manusia bisa berencana tapi Tuhan yang menentukan. Kalau misal Rian sama Dira tapi ternyata punya masa lalu yang harus di pertanggung jawabkan.


Kasihan anak saya jadinya, dia hanya harus menanggung beban jadinya. Terima saja apa yang sudah terjadi, jeng.


Dan untuk Savira, saya rasa dia masih jauh untuk memikirkan pasangan hidup. Usianya masih terlalu muda. Biarkan anak-anak memilih jalan hidupnya sendiri. Kita sebagai orang tua hanya bisa memantau, kalau salah jalan kita arahkan kembali," Dewi merasa tidak ada respon dari Arumi. Tak lama dari sana sudah menutup saluran teleponnya.


Dewi beranjak dari kamar menuju ruang tengah. Sambil membuka laptopnya membaca file kerja yang masuk. Biasanya dia langsung turun ke dapur mempersiapkan sarapan untuk anak-anaknya. Namun dia melihat Uti sudah terlihat sibuk menyiapkan apa yang harus di kerjakan.


"Kayaknya Inah nggak lama menggembleng anaknya. Dalam beberapa hari gadis itu langsung bisa menyesuaikan tugasnya," batin Dewi.


"Ibu sudah bangun," sapa Uti pada majikannya.


"Sudah, kamu sudah sholat?" Dewi balik bertanya kepada Uti.


"Lagi tidak sholat,Bu. Tadi jam setengah lima aku tidak bisa tidur lagi. Akhirnya disini dalam dapur,"


"18 tahun, Bu, maaf, Bu Dewi ibu mau saya buatkan minum?"


"Buatkan saya kopi tapi tanpa gula, saya tunggu di ruang kerja, oh ya saya minta telur ayam kampung yang setengah matang," Uti langsung menyanggupi permintaan majikannya. Dewi tersenyum melihat cara kerja gadis muda itu. Tak berapa lama dia sudah berada di ruang kerja.


"Ma, sarapan dulu, yuk," Vira memasuki ruang kerja menemukan sang mama asyik dengan laptopnya.


"Kamu duluan saja, Nak. Bukankah hari ini hari pertama kamu kembali masuk ke kampus. Makan yang banyak biar punya energi untuk mengejar ketinggalan,"


Vira hanya diam memandang Dewi yang masih sibuk dengan laptop. Sudah dua hari sejak kedatangan Kayla, mama Dewi tidak banyak bicara lagi. Kalaupun ada yang akan di bahas itu hanya seperlunya saja. Wanita itu lebih banyak masuk kamar atau pulang kerja malam-malam.


"Ma, Vira minta maaf sama mama. Kalau memang apa yang aku lakukan sudah banyak menyakiti perasaan mama. Kalau mama masih mau Vira melanjutkan hubungan dengan kak Panji, aku akan ikuti. Tapi mama jangan seperti ini, Vira rindu mama yang cerewet dan bawel,"

__ADS_1


"Nak," Dewi langsung mendekati anak bungsunya. Menghambur ke pelukan pada Vira.


"Maafin, mama ya, Nak. Mama sudah egois selama ini sama kamu. Hanya karena ketakutan yang berlebihan membuat anak mama yang cantik ini terkekang.


Sekarang mama bebaskan kamu memilih apa yang mau di lakukan. Mama tidak akan mengekang kamu dekat dengan lelaki manapun.


Maafkan mama Vira, Pandawa memang beberapa kali mencari kamu saat kamu sudah SD.


Sebelum Padma ketahuan mama memang pernah melakukan sayembara jodoh sama Danu, itu antara kamu dan kakakmu, Dira. Mama memang pernah berjanji pada Padma untuk membantu pendidikan Danu, hingga dia bisa di pantaskan mendampingi anak mama,"


Vira sebenarnya sedikit kaget mendengar penuturan mama Dewi. Hanya saja dia memilih menyembunyikan ekspresi itu. Sudah cukup dia tahu alasan sebenarnya tak perlu juga memakai adegan marah. Karena akan buang tenaga.


"Vira tidak tahu harus berkata apa, Ma. Yang pasti rasanya tidak mungkin aku sama kak Danu. Dia pasti sudah meninggal dunia. Karena om Irul melakukannya tanpa ampun. Mungkin Vira di takdirkan sama Kak Panji, atau bisa tidak pada keduanya,"


...***...


Di ruang tunggu lapas, Kayla dan Wati sudah duduk untuk menjenguk Irul. Setelah satu minggu di rawat akhirnya Irul di bawa ke tahanan untuk di proses lebih lanjut. Menurut keterangan salah satu petugas kepolisian di pastikan Irul akan mendekam di penjara seumur hidup. Tapi itu masih sementara, belum datang bukti baru yang merintangi atau memberatkan.


"Kau datang, Kay. Papa sudah menebak kalau kamu tidak akan bisa jauh dariku. Darah kita antara ayah dan anak sangat kental, tidak akan di pisahkan oleh apapun,"


"Kalau memang darah kita kental kenapa papa melakukan ini sama aku, Pa. Kenapa papa tega menyiksa aku hingga anakku meninggal dunia. Kenapa,Pa?"


"Karena kamu tidak mau menggugurkan anak haram itu. Dia hanya akan membuat kamu malu, Nak. Terlebih lagi hubungan kamu dan Jordy, papa tidak akan sudi ..."


"Sama, Pa. Aku juga malu punya papa seperti anda. Pembunuh, rentenir, Bahkan papa mengirim orang untuk memperkosa kakak perempuannya Jordy, dimana otak papa!"


"Dan ini kunjungan aku yang pertama dan terakhir, Pa. Aku akan pergi jauh dari kota ini memulai hidup baru. Hidup dimana orang tidak mengenal aku sebagai anak terpidana seumur hidup,"


Irul mencoba menahan Kayla, meminta bantuan untuk bicara sama pengacara mereka. Siapa tahu bisa meringankan masa hukuman. Kayla langsung menepis tangan Irul. Tangan yang sudah beberapa kali menyakiti orang lain dan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tangan papa ini yang membuat kak Danu tidak punya saudara, tangan papa ini yang membuat anakku meninggal dunia, papa juga membunuh kak Dawa kan? tangan ini tidak bisa dimaafkan, Pa,"


__ADS_2