
Sementara masih dalam daerah Lembang, sebuah mess rumah semen, tampak seorang wanita dan satu orang lelaki paruh baya sedang beraktivitas di teras depan rumah. Setelah selesai mencuci baju dan menjemur pakaian.
Bu Halimah pun membuatkan segelas teh hangat untuk suaminya. Di padu cemilan pisang goreng menambah suasana pagi yang lumayan terang.
"Pak, minum dulu." panggil Bu Halimah.
Pak Rohim masih asyik membersihkan rumput di teras mess. Memakai oblong polos dengan sarung motif vertikal berwarna hitam. Sebilah golok masih dalam genggamannya.
"Pak, minum dulu. Nanti di lanjutkan kerjanya. Mumpung masih hangat. Kalau dingin nggak enak lagi, pak." Bu Halimah masih menunggu suaminya selesai bekerja.
"Sedikit lagi, bu. Tanggung ini sudah mau selesai." kata pak Rohim sambil memegang pinggangnya.
"Bapak kenapa? sakit pinggangnya? kan ibu sudah bilang jangan diforsir. Mana Naura ikut Awan ke Jakarta. Kan ibu bingung minta tolong sama siapa?" kata Bu Halimah dengan nada cemas
Bu Halimah langsung memapah suaminya duduk di kursi teras. Masih mengurut pinggangnya tangan pak Rohim berpindah pada secangkir teh hangat.
Bu Halimah berpindah ke samping suaminya. Tangannya mulai memijat pundak pak Rohim.
"Pak, tadi aku dengar katanya Salma mau ajak bapak tinggal disini, ya?"
"Iya, Bu. Dulu aku kerja di sini diajak sama Johan. Tapi karena ada kesalahpahaman, jadi bapak milih mengundurkan diri. Dan sepertinya Johan saat itu terhasut oleh orang lain."
"Jadi itu yang membuat Salma meminta maaf saat kita sampai. Aku maklum kalau Salma tidak melakukan apapun saat itu. Namanya seorang istri pasti dia harus di belakang suaminya. Apalagi saat itu pak Burhan sempat menawarkan untuk kerja di pabriknya. Bapak pilih pulang,Bu. Karena bapak tidak bisa lama meninggalkan kalian di kampung. Ibu masih ingat kan, saat Fatimah sering sakit-sakitan. Bapak merasa terpanggil untuk tetap di kampung bekerja seadanya."
"Iya, pak ibu ingat. Maafkan ibu, ya, pak. Selama ini belum jadi ibu yang baik buat Imah, Sandi dan Uti."
"Terimakasih, bu. Sudah mau membesarkan Uti. Meskipun dia bukan anak kita." jawab pak Rohim.
"Maafkan bapak, Bu. Itu anak bapak dan Inah." Batin pak Rohim.
"Kira-kira siapa ya orangtuanya Uti? tega benar meletakkan bayi di dekat sungai. Untung bapak yang nemuin, kalau tidak mungkin sudah di makan buaya." kata Bu Halimah.
"Sudahlah, Bu. Jangan ingat yang sedih-sedih. Ini sudah mau tengah hari. Ibu nggak masak?"
"Ibu bingung,pak. mau masak apa? ibu dari tadi menelepon Uti tapi nggak diangkat. Jangan bilang mentang nggak ada kita malah dia bangunnya siang." kata Bu Halimah sambil memandang handphone.
Bu Halimah masuk ke dalam rumah. Memeriksa apa yang bisa diolah untuk makan siang nanti. Sungguh dia masih meraba dengan situasi disana. Selama ini yang rajin memasak di rumah adalah Uti. Sejak beranjak remaja Uti sudah suka meracik makanan di dapur. Bu Halimah tidak membatasi apa yang dilakukan anaknya selama itu positif.
__ADS_1
Sementara ini Halimah dan Pak Rohim tinggal di mess yang seharusnya di tempati Dira dan Juna. Karena katanya Juna belum sempat memboyong Dira ke Lembang. Mess sederhana terletak di area pabrik.
"Bu, ini tadi saya di suruh Bu Salma untuk datang ke rumah. Tadi Bu Salma masak banyak. Non Ayu pergi ke kota bareng suaminya untuk imunisasi Salsa."
"Aduh, saya jadi nggak enak, bantu enggak malah datang makan saja."
"Nggak apa-apa, Bu. Kan kalian keluarga Bu Salma."
Bu Halimah meminta suaminya bersiap-siap untuk ke tempat Salma. Pak Rohim meminta istrinya pergi duluan.
"Bapak ikut dong. Kan Salma itu saudara bapak. Aku nggak enak nyelonong datang saja."
"Nggak apa-apa, Bu. Kan ada Bu Wiwit yang nemenin ibu. Kerjaan bapak belum kelar."
"Maaf, Bu Wiwit saya bareng suami saya saja."
" Oh, iya, Bu. Saya permisi dulu." pamit Mak Wiwit.
*
*
*
Seorang pemuda tampan turun dari mobilnya. Tentu saja di bukakan oleh sang sopir. Langkahnya terlihat elegan masuk ke dalam cafe. Dengan kacamata hitamnya sosok itu melenggang ke dalam cafe.
Lelaki itu membuka gawainya. Tentu saja menyocokkan photo yang di kirim relasi bisnisnya. Senyumnya mengembang saat melihat sosok manis yang duduk di salah satu kursi pengunjung.
"Nona Dira," suara bariton menyapa Dira dalam jarak dekat.
"Terimakasih anda mau datang menemui saya. Oh, ya nama saya Panji dari perusahaan Madu berkah. Saya berencana bekerja sama dengan pabriknya pak Burhan.Ternyata anda cantik juga."
"Terimakasih, apa bisa dimulai meetingnya?"
"Oh iya maaf. Anda sudah pesan?"
"Belum."
__ADS_1
Panji memanggil waitres untuk memesan makanan. Lelaki itu menanyakan pesanan Dira, Dira pun mengatakan hanya ikut pesanan Panji saja. Sesaat mereka asyik dengan obrolan ringan seputar keseharian. Dira pun mulai akrab dengan Panji. Menurut Dira, sosok Panji bisa mengikuti suasana. Tidak sok dan supel. Hanya itu penilaian Dira untuk sementara ini.
Panji memandang wanita yang duduk di hadapannya. Baru kali ini dia ketemu wanita yang satu frekuensi, obrolan nyambung. Suka sastra pula. Dari jauh Awan memantau keakraban keduanya. Sebagai lelaki dia paham gestur lelaki itu bukan sekedar klien.
"Jadi bagaimana, Wan?" suara bariton di balik layar pipih itu.
"Ya bisa anda lihat dari video saya tadi. Tampak nyonya Arjuna senang sekali bertemu lelaki itu."
"Sekarang kamu dimana?"
"Aku sedang di cafe rainbow daerah Cipayung."
"Kamu tunggu disana." si penerima telepon pun mematikan ponselnya.
"Jadi kamu alumni SMA NUSA BANGSA juga? kok bisa sama ya? saya alumni disana juga tapi angkatan 2007."
"Wah, anda ternyata sudah senior, ya. Jauh diatas angkatan kakak saya pastinya." kata Dira sambil menyeruput jus alpukat.
"Iya, sudah tua. Kamu sudah menikah?"
"Sudah, Dira sudah menikah. Kenapa kamu nanya begitu?" Dira kaget ada suara yang dikenalnya di belakang.
"Boleh saya duduk?" tanpa menunggu instruksi Panji sosok itu langsung mengambil kursi di samping Dira.
"Kamu?" Dira melototi sosok di sampingnya.
"Iya, kenapa sayang?" matanya berkedip genit kearah Dira.
"Dia siapa?" tanya Panji.
"Saya suaminya Dira, Arjuna Bramantyo. Kenapa kok sikapnya begitu? kalau urusan kerja sama istri saya kan bisa biasa saja. Anggap saja saya tidak ada." Dira menyenggol kaki Juna.
"Owh, jadi kamu sudah punya suami?"
"Bisakah kita dengan tujuan awal, pak Panji?" Dira mengingatkan pada kliennya.
"Oh, maaf. Kita mulai lagi meetingnya."
__ADS_1