
"Bu Dira hamil lagi?" tanya Bidan Ratih.
"Iya, Bu bidan Alhamdulillah Tuhan kembali kasih kepercayaan pada kami,"
"Alhamdulillah, Bu. Kok waktu hamil nggak periksa sama saya? kan biar saya bantu beri catatan, setahu saya anak ibu belum satu tahun kan?"
"Saya periksa di SpOG,Bu,"
"Oh, begitu. Selamat ya Bu, masuk berapa bulan?"
"Terakhir saya periksa bulan lalu masuk empat minggu, Bu. Saya mau periksa untuk yang terbaru ini,"
Bidan Ratih mempersilahkan Dira berbaring di brankar, di tuntun oleh perawat yang ada dalam ruangan tersebut. Dira membaringkan tubuhnya menatap langit-langit, ada rasa deg-degan yang menyerang pikirannya. Takut akan pertumbuhan anaknya kalau sibuk dengan kehamilannya keduanya. Takut tidak bisa memberikan full ASI pada Fajar.
"Wah, kandungannya sehat,Bu. Ini sudah masuk tujuh minggu," kata bidan Ratih.
"Pak Juna nya mana? kok nggak ikut?" Bidan Ratih menanyakan keberadaan Juna karena biasanya lelaki itu selalu mengintil istrinya.
"Fajar tadi rewel, Bu bidan. Jadi mas Juna ngajak Fajar keliling puskesmas,"
"Ibu beruntung punya suami sigap seperti pak Juna. Beberapa bulan yang lalu pak Juna juga menolong perempuan yang terkena baby blues,
Katanya sudah kenal lama," cerita bidan Ratih.
"Siapa nama perempuan itu?" tanya Dira mulai was-was.
"Tania, Bu. Bayinya di amankan pihak dinsos kayanya sempat mau di bunuh sama ibunya" jelas bidan Ratih.
"Astaghfirullah, kok Tania gitu sih," Dira mengelus perutnya yang rata. Berucap istighfar berkali-kali dan berharap di jauhkan dari hal yang serupa.
Di sisi lain dia kesal kenapa Juna tidak cerita soal Tania. Dira tahu kalau suami emang sigap pada hal apapun, bahkan suaminya pernah jadi penjamin karena salah satu buruhnya tidak bisa bayar uang rumah sakit.
Tapi ini Tania, sosok yang enggan diingat Dira. Sosok yang pernah memporak porandakan rumah tangga Ayu. Sosok yang dulu selalu jahat padanya.
__ADS_1
Dira meninggalkan ruang praktek bidan Ratih.
"Sebenarnya saya mau nanya sama Bu bidan, apakah saya masih bisa memberikan ASI pada Fajar dalam keadaan hamil. Fajar kan masih delapan bulan, Bu. Saya tidak tega menyapih lebih cepat. Kata mama saya, kami bertiga asi sampai satu tahun,"
"Nggak masalah,Bu. Kalau memang masih bisa menyusui. Sebenarnya tidak perlu khawatir untuk menyusui selama masa kehamilan. Hal ini karena ibu tetap dapat memberikan nutrisi pada bayi di dalam kandungan dan memproduksi ASI untuk anak yang masih menyusui pada saat yang bersamaan.
Tak hanya itu, hamil sambil menyusui juga tidak akan memengaruhi kehamilan atau mengganggu pertumbuhan dan perkembangan Si Kakak maupun Si Adik. Meski demikian, menyusui dan hamil dalam waktu bersamaan dapat menyebabkan beberapa perubahan pada tubuh,
Ma
"Perubahan pada tubuh? maksudnya lebih gemuk gitu? tapi bukannya orang hamil bakal akan gemuk juga,"
"Begini bu Dira, perubahan tubuh yang dimaksud adalah Munculnya kontraksi ringan karena produksi hormon oksitosin saat menyusui yang umumnya tidak akan membahayakan janin atau menimbulkan masalah, seperti kelahiran prematur,bila kondisi kehamilan sehat.
ASI berubah menjadi kolostrum yang lebih asin dan kurang manis, sehingga bisa saja membuat anak enggan menyusui. ****** dan payudara terasa sakit
Merasa lebih mudah lelah atau mengantuk.
Nanti saat usia kandungan Bu Dira diatas lima bulan, saya akan ikutkan senam ibu hamil. Dulu saya pernah menyampaikan hal ini pada pak Juna saat ibu hamil sebelumnya. Tapi kata pak Juna Bu Dira pulang ke Jakarta karena mau melahirkan disana,
"Iya, Bu bidan soalnya mama saya ingin anaknya melahirkan di rumah, kakak saya isterinya juga hamil bareng saya. Dia mau rumahnya ramai dengan suara cucu-cucunya,
Saya sedikit tenang setelah mendengar penjelasan Bu bidan. Tadinya saya takut sekali tidak bisa memberikan ASI eksklusif pada Fajar,"
"Oh iya, Bu. Namanya juga orang tua selama kita masih mampu membahagiakannya apa salahnya diikuti,"
Dira pamit pulang pada bidan Ratih. Dia berterimakasih sudah di beri informasi untuk menambah pengetahuannya. Pandangannya beralih pada lelaki yang berjalan kearah dirinya.
Entah kenapa cerita tentang Juna membawa Tania ke rumah sakit kembali menjadi pikirannya. Meskipun dia tahu kalau Juna melakukan demi kemanusiaan.
"Sayang kamu sudah selesai periksanya?" Juna muncul sambil gendong Fajar.
"Sudah, Mas. Yuk kita pulang," Dira bersikap datar pada suaminya. Rasanya dia mau cepat pulang dan mempertanyakan apa yang di bicarakan sama bidan Ratih.
__ADS_1
Juna melongo melihat sikap istrinya yang menurutnya aneh. Lelaki itu mengekor di belakang sambil menggendong Fajar, sambil mendengar celotehan bahasa planet bayi delapan bulan.
Setelah sampai di rumah, Dira hanya melengos tanpa pamit ke kamarnya. Juna masih merasa aneh dengan sikap Dira. Pada akhirnya Juna menitipkan Fajar pada mama Salma.
Sampai di rumah mama Salma, Juna menemukan mamanya sedang asyik di dapur bersama Mak Wiwit. Kaget kan kenapa Mak Wiwit bisa bersama mama Salma. Padahal bab sebelumnya Mak Wiwit sudah berangkat ke Kalimantan tinggal sama anaknya.
Mak Wiwit beralasan dia kembali karena merasa istri anaknya menganggap dia sebagai beban rumah tangga. Dimana sang istri selalu senewen kalau anaknya membelikan barang untuk ibunya. Mak Wiwit merasa tahu diri dan meminta pulang ke Lembang.
Bahkan menantunya memberikan biaya tiket pesawat yang mahal sekalian seakan memang ingin memulangkan dirinya. Mak Wiwit tidak bisa protes karena memang menantunya lebih mampu dari anaknya.
Mama Salma mendapati dua cucunya sedang asyik bermain. Ada Juna mengawasi kegiatan dua anak beda usia tersebut. Salsa sudah mulai cerewet di usia dua tahun.
Juna akhirnya meminta tolong menitipkan Fajar, karena ada yang mau dia bahas bersama Dira. Juna menceritakan keanehan sikap istrinya setelah periksa dengan bidan Ratih.
"Emang istrimu kenapa, Nak?"
"Nggak tahu, Ma. Sejak habis kontrol ke bidan Ratih dia diam saja. Seperti ada yang di pikirkan. Makanya aku mau ngomong empat mata sama dia. Nggak biasanya dia begitu, Ma,"
"Yasudah selesaikan kalau memang ada masalah. Jangan saling pendam, nggak bagus untuk rumah tangga kalian, nggak bagus juga untuk kandungan Dira. Soal Fajar biar sama mama saja, kan rame tuh Fajar bisa main sama Salsa,"
"Maafkan Juna, ya, Ma. Datang-datang malah merepotkan mama,"
"Tidak ada orangtua yang merasa di repotkan kalau soal anak-anaknya. Sudah kamu pulang dulu kasihan istri kamu menunggu di rumah,"
"Fajar sama eyang dulu, ya. Papa mau ngobrol sama mama, nanti papa dan mama jemput Fajar," Juna melabuhkan kecupan di dahi anaknya.
Juna berdiri di depan pintu rumah mendapati rumahnya dikunci entah itu dari dalam atau dari luar. Pandangannya beralih pada kunci yang tergantung diatas pintu.
"Dira kemana kamu, sebenarnya ada apa dengan kamu?" Juna meninggalkan rumah menyusuri perkebunan.
Langkahnya terhenti saat getaran handphone terasa kuat. Tertera tulisan nama panti rehabilitasi, di tariknya nafas dalam-dalam.
"Assalamualaikum, pak Juna. Saya dari panti mau mengabarkan kalau Bu Tania mengamuk lagi. Dia berarak keliling panti dengan membawa pisau," lapor petugas panti.
__ADS_1
"Saya serahkan saja sama kalian. Maaf saya tidak bisa kesana, saya ada urusan lebih urgen,"