
Hujan turun membasahi bumi. Sepasang kaki mulus berdiri di depan gerbang kampusnya. Dia mengeratkan kedua tangannya. Terasa dingin menusuk tulang. Tadi dia diajak pulang oleh Panji yang masih mengajar di kampusnya. Seperti biasanya dengan gengsi yang tinggi dia menolak tawaran Panji. Bukan apa-apa, dia tidak mau terlihat murah dengan masuk ke mobil laki-laki lain.
"Ya Allah, mana Elsa sudah pulang duluan pula. Coba saja tadi terima tawaran om Panji tadi. Ah, ngapain juga aku naik mobil om Panji. Yang ada dia makin Ge-er. entar dia mikir aku merespon dia pula." keluh Vira dalam hatinya. Kepalanya terus mendongak keatas langit. Berharap hujan segera berhenti.
"Masih disini?" sapa Intan.
"Iya, Intan. Aku masih disini. Menunggu hujan reda." kata Vira.
"Kalau aku bawa mobil sendiri nggak masalah. Bisa aku ajak kamu pulang bareng. Tapi sepertinya aku bakal di jemput Hans. Soalnya mau fitting gaun buat pernikahan Kayla. Kamu tahu kan almarhum mamanya Kayla itu sepupu sama mamaku." cerita Intan.
"Tapi kamu dan Kayla kok nggak dekat, ya. Kayak orang asing saja." Vira masih penasaran kenapa dunianya sempit.
"Ya nggak ngerti juga sih. Tapi memang status kami sepupu walaupun nggak dekat. Kamu sudah siap belum gaun untuk pernikahan Kayla."
"Belum. Nantilah aku siapin. Bukannya masih bulan depan ya."
"Desember sudah mau habis, Vira. Sebentar lagi bakal Januari." Intan masih mengingatkan.
"Astaga, nantilah. Apalagi kita semua jadi pagar ayu kan?" intan mengangguk kecil.
Mobil Honda jazz berwarna merah pun sudah berdiri di depan mereka. Intan pamit pada Vira karena jemputan sudah datang. Dua gadis muda itu saling melambaikan tangan. Tak lama mobil itu sudah menghilang di pelataran gerbang kampus. Lagi-lagi Vira hanya mendengus kecil. Lagi-lagi dia tinggal sendiri.
Dulu waktu dia mau di lamar Satria, tidak ada heboh satu kelas. Dia juga tidak cerita soal dia akan menikah dengan Satria. Ternyata banyak temannya tahu soal rencana pernikahannya dengan Satria. Sudah pasti Vira menebak rumor itu dari Elsa. Karena cuma Elsa yang tahu soal itu. Walaupun begitu dia tidak marah sama Elsa. Terkesan membiarkan saja apa yang dilakukan temannya.
__ADS_1
Belum lagi saat dia membatalkan rencana pernikahannya dengan Satria. Orang-orang di sekitarnya malah mendukung keinginannya. Mungkin karena banyak yang menganggap nikah muda itu tidak enak. Banyak yang harus di pikirkan.
Nikah disandingkan dengan kata "enak" maka hanyalah jawaban subjektif yang tidak terukur dan tidak dapat divalidasi selain harus dijajal sendiri. Maka jawaban-jawaban pada pertanyaan ini adalah testimoni yang mana akan membuat pembaca menerka dan memilih sendiri.
Vira tidak menyesal dengan keputusan itu. Baginya masa muda masih berharga untuk di pertahankan. Tapi yang dia sesali adalah tidak mudah menemukan lelaki seperti Satria. Lelaki yang selalu sabar sama sifatnya yang labil. Satria tidak pernah marah kalau Vira sering cuek atau tidak merasa cemburu. Lelaki itu juga selalu mengontrolnya sifat boros Savira yang suka jalan ke mall. Meskipun bukan memakai uang dari Satria. Ah, kalau dilihat dari bandingannya si Panji, Satria jauh lebih baik.
Tapi seperti kata Elsa " Kamu jangan pernah membandingkan orang lain. Dari satu lelaki dengan lelaki yang lainnya. Seribu orang yang kamu cari kesamaannya paling ada satu yang sama. Kak Satria sudah menerima kak Ana dengan tulus. Meskipun mereka sama-sama terpaksa di jodohkan.
Dan kamu di dekati oleh pria yang blak-blakan menyatakan perasaannya. Panji itu baik, tapi ketutup sama sifat narsisnya. Itu kalau dari mata aku, Vira.
Melihat orang itu jangan dari sisi negatif. Kalau kamu melihat dari sudut pandang seperti itu, kamu tidak akan menemukan yang baik sekalipun.
Misalnya gini, ya. Seperti kamu pernah bilang kalau calon suaminya Kayla punya maksud tertentu sama keluargamu. Tapi nyatanya sampai sekarang keluargamu baik-baik saja, kan. Kalaupun dia baik sama keluargamu bisa jadi itu bentuk dari rasa terimakasih karena mama kamu mau bekerja sama dengan perusahaannya. Itu saja sih." kata Elsa waktu itu.
"Terus, mama dan papaku bagaimana? papaku menikahi mamaku usianya 37 tahun, sedangkan mamaku 18 tahun saat itu. Baru tamat SMA, terus di jodohkan dengan papaku. Padahal om Erik adik papaku teman sekolah mamaku."
Sebuah mobil berhenti di depan Vira. Gadis itu tersenyum saat tahu siapa yang datang menjemputnya. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobil berwarna putih tersebut.
"Maaf, kalau lama. Soalnya aku ada urusan di kantor. Kamu tahu sendiri kan aku harus bagi waktu antara mengajar dan pekerjaan di pabrik." ucap lelaki itu.
"Kok tahu aku masih disini?" tanya Vira.
"Insting saja, sih. Kamu pasti lapar kan? apalagi kalau hujan seperti ini biasanya lapar lebih kuat. Daripada mengantuk." kata Panji.
__ADS_1
"Aku mau pulang. Bi Inah pasti sudah masak. Kadang aku kasihan sama Bi Inah susah payah masak orang di rumah malah banyak makan di luar."
"Oke, aku juga mau cicip masakan Bi Inah. Kayaknya enak tuh makan masakan rumahan. Kamu bisa masak?" tanya Panji.
"Enggak. Aku nggak betah di dapur. Nggak tahu kenapa, kalau kak Dira memang suka masak. Cuma ya sejak kerja dia juga jarang masuk dapur. Waktu dulu dia hamil masuk dapur saja sudah bikin dia mual."
"Biasanya kalau kayak gitu, artinya anak cowok. Sekarang pasti anaknya sudah besar, ya?"
"Kak Dira cuma bertahan satu bulan setelah itu harus di kuret." jelas Vira.
"Nanti malam jadi kan kamu datang ke acara pak Burhan?" Panji mengalihkan pembicaraan. Dia tahu apa yang tadi di ceritakan Vira tentang kakaknya sangat sensitif. Apalagi suasana langit yang sendu, pasti tidak enak rasanya.
"Kan saya cucunya, pasti datang dong. Emang Om Panji beneran di undang?" Panji mengangguk kecil. Dia di undang sama mama Dewi, katanya ada yang mau di bicarakan. Panji menebak pasti soal kerjasama perusahaan. Atau bisa jadi soal dia dan Vira. Dia mendekati Vira bukan semata urusan perusahaan saja, tapi memang dia sudah jatuh cinta pada gadis usia 20 tahun itu.
Mobil sudah memasuki pelataran rumah milik Dewi Savitri. Tampak Vira mengeluarkan kepalanya agar pak satpam tahu siapa yang datang. Secepatnya lelaki itu membuka pagar supaya mobil Panji masuk ke teras rumah.
Panji membuka pintu mobil supaya Vira bisa keluar. Vira berjalan memasuki rumahnya diikuti oleh Panji. Gadis itu masih bersikap biasa saja dengan Panji, malah sebaliknya lelaki itu yang serasa canggung di dekat Vira.
"Assalamualaikum," sapa Vira saat memasuki rumahnya.
Bi Inah baru saja keluar dari kamar Feri. Menyambut anak majikannya dengan ramah. Tampak wanita itu membawa es batu beserta handuk.
"Bi Inah ngapain di kamar kak Feri?" tanya Vira.
__ADS_1
"Itu non Tina, kayaknya demam. Tadi dia hampir pingsan. Terus bolak balik kamar mandi. Pas saya pegang badannya panas. Katanya pusing kepalanya."