
"Kamu cantik sekali, Nduk," puji Ismi pada putrinya.
Ayla hanya menundukkan kepalanya. Sekalipun tak ada rona bahagia di wajah. Bagaimana dia bisa bahagia kalau lelaki yang akan menikahi adalah lelaki lebih tua dari ayahnya.
"Ay, ibu minta maaf kalau harus melakukan ini. Hutang kami banyak sama beliau. Ibu sudah berusaha bayar pakai uang yang di berikan sama pak Cahyadi. Tapi beliau tidak mau menerima uang kami, dia mau menikahi kamu. Maafkan, Ibu, ya, Nak,"
Ayla masih tidak bergeming. Terbayang di benaknya bagaimana hidupnya setelah ini, ketakutan terus menerangi pikirannya. Hidup satu rumah dengan lima istri pak Bahar.
"Bu, izinkan saya pergi dari sini," mohon Ayla.
Ismi tidak bisa berbuat apapun, kalaupun Ayla dia bebaskan sudah pasti Ismi yang menjadi sasaran selanjutnya.
"Ibu mohon kamu sekali ini nurut, ya, Nak. Kamu tidak mau kan kalau mereka melakukan sesuatu sama ibu," mohon Ismi.
Ayla tidak tahu harus berbuat apa. Pasrah dengan apa yang akan terjadi. Seandainya dia bisa meminta bantuan pada orang lain, sudah di lakukan sejak awal. Sejak dia dan ibunya terusir dari kontrakan karena terlambat bayar. Sejak dia mempertahankan harga dirinya di depan ayah dari lelaki yang dia cintai.
"Bu Ismi, di cari sama Bu Laila," panggil Bu Nurul.
Ismi meninggalkan Ayla di kamar pengantin. Tampak Bu Nurul menatap sinis kearah Ayla.
"Kalau kamu masih punya harga diri tolong jangan teruskan pernikahan ini. Saya tahu tujuan kamu mau menikah dengan pak Bahar karena uang kan? kamu itu masih muda, tapi sudah murahan," Ayla menggenggam erat ujung baju pengantinnya.
"Kamu mau saja di jual ibu kamu, apa kalian setipe mau jual dirinya demi hidup enak. Jangan mimpi!" Bu Nurul berbicara pelan seakan berbisik. Dia tidak mau rencananya hancur karena kehadiran Ayla.
"Anda boleh menghina saya, tapi jangan menghina ibu saya," Ayla berbicara lantang.
"Oh, kamu pikir saya takut, bukan saya saja yang akan membuat hidup kamu di neraka. Tapi kakak yang lain serta anak dan menantu kami juga akan membuat hidup kamu di neraka,"
Bu Nurul langsung meninggalkan kamar pengantin Ayla. Tampak gadis itu masih merenungkan semua ucapan Bu Nurul.
Beberapa saat kemudian terdengar teriakan dari kamar pengantin. Bu Ismi yang namanya di panggil pun mendatangi kamar pengantin. Hanya baju yang tadi di kenakan Ayla sudah terpajang di tempat tidur. Tubuh Bu Ismi lemas mengetahui kalau anaknya kabur.
Dapat dia bayangkan amukan pak Bahar karena masalah ini. Terlebih dia yang akan jadi sasaran lelaki tua itu.
"Ya Allah, Nak. Kenapa kamu malah pergi? tidakkah kamu kasihan sama ibu?" ucap Bu Ismi lirih.
"Kamu minta di kasihani sama anakmu, ismi. Tapi kamu sendiri tidak kasihan sama anakmu sendiri, dia masih muda, masa depannya cerah, dan kamu hampir menghancurkannya," kata Bu Nurul.
Bu Ismi hanya diam dan terisak-isak. Bu Nurul pun langsung mendekati wanita seumur dirinya.
"Sebelum pak Bahar marah lebih baik kamu tinggalkan tempat ini," bisik Bu Nurul.
__ADS_1
Di sebuah jalan tampak seorang gadis berhijab berlari seperti ketakutan. Tanpa alas kaki di tengah teriknya udara panas. Dia tidak peduli soal itu, yang di pikirkan saat ini pergi menjauhi tempat pak Bahar.
Lama dirinya terhenti di tengah sawangan.
Nafasnya terengah-engah, sebentar-sebentar dia menghentikan langkahnya. Tangannya merogoh kantong. Baru di sadari kalau handphone tertinggal di tempat pesta.
"Ya Allah, bagaimana caranya aku bisa tahu keadaan ibu?
Mereka pasti sudah melakukan sesuatu pada ibu. Ya Allah lindungilah ibuku dari marabahaya," Doa Ayla dalam hati. Dia merasa keadaan sudah lebih tenang dan jauh dari keramaian. Kakinya mulai lelah bersamaan dengan tubuhnya yang juga lelah.
****
Malam ini semua keluarga besar Wirya berkumpul, tentu saja minus dengan kehadiran Dira dan Juna. Opa Han mengumpulkan anak cucu dan keponakannya untuk membicarakan hubungan Dewi dan Dirga. Pasangan yang katanya sedang di mabuk cinta.
Bukan hanya itu saja, Deka dan Dawa pun di ikut sertakan dalam acara tersebut. Feri yang selama ini tidak tahu hubungan Deka dan Dawa tentu saja kaget.
Rasa-rasanya dunia memang sempit, di pertemukan dengan orang-orang itu saja. Sekarang dia paham kenapa Vira menentang rencana pernikahan mama Dewi dan Deka.
"Kenapa harus Pandawa yang jadi saudara tiri ku? setelah semua yang terjadi di dalam keluarga karena kakaknya, lalu om Irul, dan mama juga sempat menentang Pandawa mendekati Vira. Sekarang malah dia yang akan jadi kakak tiriku," keluh Feri.
"Mas, segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita sudah ada garis tangannya. Seperti pertemuan ini, mungkin mama di takdirkan lebih dulu dapat pasangan sebelum Vira. Ya aku juga kaget sih, Mas. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah keputusan mama," ucap Tina.
"Iya, tapi kenapa harus Pandawa, Sayang," Tina hanya menaikkan bahu. Dia tidak tahu harus berkomentar apalagi. Sambil menggendong Harry yang belum tidur. Sementara Mimi sudah pulas duluan.
"Vira mama mau bicara sebentar?" Dewi menghampiri putri bungsunya.
"Iya, Ma," dari pinggir kolam renang sekarang dia berpindah ke kursi tempat santai. Duduk di sebelah sang mama.
"Nak, mama tahu mungkin berat buat kamu atas hal ini. Tapi mama yakin, ada jalan lain untuk masa depanmu,"
"Kalau mama bahagia, Vira juga ikut senang. Mama kalau mau lanjut sama om Dirga, nggak apa-apa,"
"Kamu mau kan menerima calon dari temannya opa?"
"Calon temennya opa bagaimana?" Vira sedikit kaget.
"Masih ingat sayembara jodoh yang opa tawarkan untuk kamu, Nak. Mama ingin kamu move on dari Pandawa ataupun Panji dengan membuka hati pada pilihan opa,"
"Mama tahu siapa orangnya?" Mama Dewi menggeleng.
"Mama tidak tahu, Nak? opa pernah dengar kalau nama temannya itu Helena Abraham. Itu saja, siapa nama cucunya opa belum menjelaskan. Karena pada awalnya itu di mulai dari ibu Helena sendiri,"
__ADS_1
"Bagaimana Vira bisa mengenal orang itu, Ma. Bukankah biasanya kalau mau di jodohkan harus di pertemukan terlebih dahulu,"
"Yang pasti mama mau tahu dulu apa kamu bersedia menerima calon yang di pilihkan opa Han? kalau kamu mau kita bisa langsung bicarakan mumpung sedang berkumpul,"
Vira menarik nafas dalam-dalam, mungkin ini jalan terbaik untuk dirinya. Toh selama ini opa Han tidak pernah salah memilihkan pasangan untuk cucunya.
"Ma, kita bicarakan di depan keluarga besar saja," Dewi mengangguk lega, keduanya pergi ke ruang tamu di mana semua keluarga berkumpul.
Vira sudah berdiri di depan keluarga besarnya. Di hadapan opa Han sebagai yang tertua, di hadapan mamanya dan juga calon papanya. Di hadapan kakak lelakinya dan juga kakak iparnya.
"Kamu yakin dengan keputusan ini?" Vira mengangguk kecil.
"Assalamualaikum Opa Han dan semua keluarga besar yang ada di sini. Buat mama dan om Dirga selamat ya, sebentar lagi mama tidak sendiri lagi. Vira senang kalau mama sudah menemukan orang yang tepat untuk mendampingi di masa tua nanti. Buat kak Danu selamat datang di keluarga besar kami, keluarga Wirya Harahap.
Opa seperti tawaran terdahulu, Vira akan menerima calon yang opa berikan. Ya, setidaknya pengenalan dulu kan? tapi kalau tidak ada kecocokan, nggak apa-apa opa?"
Opa Han tersenyum senang. Sudah hampir beberapa bulan perjodohan itu di tawarkan, belum ada jawaban dari sang cucu.
"Kamu yakin dengan keputusan itu, Vira?" tanya Opa Han.
"Insyaallah yakin, Opa,"
"Bukan karena kamu kecewa kalau di langkah mamamu?"
Vira melempar pandangan ke arah Dawa, entah senyum apa yang di arahkan ke lelaki itu.
"Vira iklhas kalau itu yang buat mama bahagia,"
Opa Han dan semua yang ada di keluarga mengangguk menyetujui keinginan Vira.
"Kalau begitu saya dan anak saya pamit dulu, saya berterimakasih atas restu yang kalian berikan. Ya kan, Nak?"
"Pa, bisakah tinggalkan kami berdua?"
"Nak, papa tahu perasaanmu tapi, ..."
"Tolong aku ingin bicara empat mata sama Vira," mohon Dawa.
Deka memenuhi permintaan anaknya. Mungkin benar mereka perlu bicara dari hati ke hati. Memantapkan keputusan keduanya, walaupun sebenarnya ini sudah kerjasama antara dia dan Dewi.
"Maafkan kami semua, Nak. Kesedihanmu akan menjadi kejutan terindah buatmu," batin Deka.
__ADS_1
...*****...
Maaf ya semalam belum bisa up, lagi sibuk urus pendaftaran anak masuk sekolah inklusi, semoga part ini bisa membayar kerinduan kalian pada kisah ini.