
"Sayang?" sapa Feri ketika mendapati istrinya mual-mual.
Tina langsung mencuci wajahnya saat Feri menyapanya. Sebisa mungkin dia terlihat segar di hadapan suaminya. Tina mendapati Feri dengan wajah pucat. Tentu jadi pertanyaan bagi nya apa yang dialami suaminya.
"Mas kenapa? tadi pas berangkat baik-baik saja." Tina menuntun Feri masuk ke kamar.
"Nggak tahu sayang, perutku terasa tidak enak. Rasanya kepalaku pusing sekali. Sepertinya aku demam." jawab Feri.
"Yasudah, Mas. Kamu istirahat biar aku carikan obat sekaligus aku ambil minum." Feri menahan tangan Tina.
"Aku mau kamu menemani disini. Entah kenapa kalau di dekat kamu pusingku berkurang. Aku pernah begini waktu Mey hamil. Apa jangan-jangan kamu hamil,sayang?"
"Aku tidak berani, Mas. Takut salah. Aku tidak mau kecewa nantinya. Lagian kita baru satu bulan menikah. Nggak mungkin secepat itu bisa hamil."
Feri menggenggam erat jemari Tina. Mungkin Tuhan memberi kepercayaan pada mereka dengan cepat. Seperti Dira dan Juna dulu. Tina menyandarkan kepalanya di dashboard ranjang. Ikut terlentang di samping Feri.
"Jika Tuhan memberikan kita anugerah yang tak terduga maka kita harus syukuri, sayang. Tuhan memberi kita kepercayaan lebih cepat apalagi di usia kamu yang mau masuk kepala tiga. Kalau kondisi tubuhku sudah mendingan, kita periksa ke dokter. Atau aku telepon Dokter Melati untuk kesini periksa kamu."
"Mas, sehat dulu. Baru kita pikirkan soal itu. Jangan bilang sama mama dulu soal kondisi aku. Takut nanti mama kecewa nantinya."
"Sayang, percaya sama aku. Kamu itu hamil, aku kan pernah punya istri yang sedang hamil. Jadi aku tahu gejalanya." Feri mencoba meyakinkan istrinya.
"Terimakasih, Mas. Kamu selalu menguatkan aku. Mey dan aku beruntung punya suami seperti kamu."
"Kenapa tiba-tiba bahas soal Mey, sayang?" tanya Feri.
"Nggak tahu, Mas. Aku tiba-tiba teringat sama Meyra. Apa mungkin dia mau kita jenguk kali, ya?"
"Sayang, nanti kita jenguk Meyra setelah keadaan membaik. Sekarang kamu disini menemani aku istirahat." Tina menyandar di bahu Feri. Tangan Feri menggenggam erat dan mereka saling bertatapan lama. Senyum merekah terbit dari keduanya. Feri pun melahap bibir istrinya pelan-pelan. Menikmati indahnya cinta halal mereka.
Tina akhirnya tertidur di bahu Feri. Di tatapnya wajah istrinya dengan lekat. Tangan Feri berpindah ke perut Tina yang masih rata. Mengusap pelan menyapa calon anak mereka.
"Halo, anak papa. Apa kabar? kamu sehat-sehat disana ya, nak. Jangan sering bikin mama kelelahan. Papa sayang sama kamu dan mama. Semoga kita bisa bertemu di dunia nyata." Feri mencium perut Tina. Pergerakan itu membuat Tina tersentak.
"Geli, mas." Tina menggeser tubuhnya karena risih perutnya dicium sama suaminya.
"Aku lagi ngobrol sama anak kita." jawab Feri.
"Modus." Tina terkikik melihat kelakuan suaminya.
__ADS_1
"Kalau kamu sakit terus siapa yang datang ke tempat opa Han?" Tina merasa tidak enak kalau dirinya di jadikan alasan.
"Aku sudah pamit sama mama tadi. Karena kondisi tubuhku yang kurang sehat, dan ternyata kamu juga kurang sehat. Jadi biar Vira saja yang pergi. Bukannya ini adalah momennya Vira. Jadi ada atau tidaknya kita, Vira yang tetap di nanti."
"Maksudnya gimana, mas?" Tina masih belum paham.
"Mama mau menjodohkan Vira dengan Panji. Karena menurut mama Panji itu sudah masuk kriteria calon mantunya. Dulu ada seorang anak yang seusia aku yang bakal jadi calon Vira. Tapi karena kakaknya lelaki itu ternyata selingkuhan papa. Jadi mama marah sekali. Perempuan yang sudah dia anggap anak ternyata berkhianat.Makanya mama sekarang menjodohkan Vira dengan Panji."
"Tapi Panji itu sudah terlalu dewasa untuk Vira. Jomplang sekali dengan Vira. Aku lihat dia juga berpikiran luas dan positif. Sepertinya pilihan mama kali ini tidak akan salah."
"Semoga, sayang. Sudahlah itu biar menjadi urusan mereka." Kata Feri sambil menuntun kepala Tina menyandar di bahunya.
"Aku keluar sebentar, Mas." Tina sudah bergeser keluar ranjang.
*****
"Mas, ini tasnya." Dira menyerahkan tas kerja suaminya.
Pagi ini seperti biasa Dira menyiapkan keperluan suaminya. seperti pakaian kerjanya, sarapan, semua aktivitas itu dia kerjakan sendiri tanpa asisten. Rumah Dira dan Mama Salma hanya berjarak dua kapling.
Setelah Juna berangkat kerja Dira pun kembali melaksanakannya aktivitas yang lain. Membersihkan rumah dan halaman. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang. Mengingat dia harus mengirimkan makan siang suaminya.
"Kak Dira lagi ngapain?" tanya Ayu.
"Lagi mau masak tahu capcay buat mas Juna." kata Dira sambil memotong bahan sayuran.
"Kamu masih suka masak ya, Ra. Aku sampai sekarang jarang masak, tapi Alhamdulillah mas Tio nggak pernah protes." cerita Ayu.
"Alhamdulillah, Yu. kamu bersyukur karena punya suami pengertian kayak Tio. Tio sama mas Juna itu 11 12 sifatnya. Jarang marah."
"Tapi, kak Dira, kak Juna sekali marah serem. Dulu dia di hajar habis-habisan sama om Abdul, kak Juna nggak takut mereka malah seramh menyerang."
"Emang masalahnya apa kok mas Juna di hajar om Shahab?"Dira sedikit penasaran.
"Ya tentang pembatalan perjodohan kak Juna dan Delia."
"Apakah ini karena aku?" batin Dira.
Ayu menepuk bahu Dira. Seketika dia terkesiap. Ucapan Ayu ternyata menembus dalam pikirannya. Setelah menyelesaikan bekal untuk suaminya. Dira menitipkan bekal kepada salah satu staf di pabrik. Tadinya dia yang mau mengantarnya langsung. Di karenakan ada Ayu sedang berada di rumah, Dira pun lebih memilih menitipkan bekal pada orang lain.
__ADS_1
"Kamu mau minum apa?" tanya Dira.
"Nggak usah, Ra. Kayak sama siapa aja." tolak Ayu.
"Ya siapa tahu kamu haus." Dira pun menyilakan karpet berbahan lembut supaya Salsa bisa main.
Ayu dan Salsa mendaratkan tubuhnya di atas karpet. Tampak bayi masuk 5 bulan itu asyik bermain.
Dira bangkit meninggalkan ruang tengah. Dia ingin mengambil handphone mengecek apakah kiriman bekal sudah sampai di tangan suaminya. Bukan dia tidak percaya sama Kusno yang di tugaskan padanya. Tapi paling tidak hatinya sedikit tenang jika pesanan sudah sampai ke tangan penerima. Baru saja dia meraih handphonenya, Dira merasa kepalanya pusing. Supaya tidak oleng dia menahan tangannya ke dinding.
Dira mencoba menghubungi Juna. Tubuhnya mulai tak bisa di kendalikan. Terdengar suara memanggil dirinya. Dira sudah tak tahu lagi, semuanya gelap.
"Kamu sudah sadar, nak?" Pertamakali membuka matanya dia melihat mama mertuanya.
"Mama," ucapnya lirih.
"Eh, jangan banyak gerak dulu. Ini minum air putih dulu." mama Salma menyodorkan minuman pada menantunya.
"Kamu pucat sekali, Ra. Apa yang kamu rasakan?"
"Kepalaku rasanya berat sekali, ma. Pusing." Dira memegang kepalanya.
"Ini," Ayu menyerahkan sebuah tongkat kecil.
"Kamu pakai ini di kamar mandi sekarang. Aku merasa kamu hamil."
Dira menggunakan alat testpack yang diberikan Ayu. Dira memejamkan matanya, masih berharap hasilnya negatif. Dia belum siap hamil lagi, setelah satu tahun yang lalu dia keguguran. Pelan-pelan dia membuka matanya.
Dira mengatupkan kedua tangannya. Garis merah berjejer dua pun terlihat sangat jelas. Dia hamil lagi, setelah satu tahun kosong. Setelah satu bulan dia kembali menjadi nyonya Arjuna Bramantyo. Tubuhnya lemas.
"Nak," suara mama Salma di balik pintu kamar mandi.
Dira meraih gagang pintu. Tubuhnya melemah tak punya daya. Ketakutan demi ketakutan kembali menghantuinya.
"Alhamdulillah, nak. Kamu hamil." Mama Salma langsung memeluk menantunya.
"Ma, Dira belum siap. Dira takut."
"Sayang, mama tahu apa yang kamu rasakan. Tapi percayalah, ini adalah amanat yang harus kalian jaga. Nanti kamu kasih tahu Juna, ya, nak." Dira mengangguk. Tapi seperti tahun yang lalu, lagi-lagi Juna bukan orang pertama yang tahu kabar kehamilan.
__ADS_1